Bisu Tawanan Hartawan

Bisu Tawanan Hartawan
Kekesalan Aaron


__ADS_3

Setelah selesai mengancing kemeja Aaron, Angelina ingin meninggalkan ruangan ganti akan tetapi dia ditahan oleh Aaron.


"Pakaikan jam tanganku!" perintah Aaron yang memberikan jam tangan miliknya kepada Angelina.


"Sebelum selesaikan tugasmu, jangan berharap bisa pergi, setiap pagi kau harus ingat apa tugasmu!" kata Aaron tegas.


"Memang pria aneh, kenapa tidak pakai sendiri," batin Angelina.


Selama beberapa hari Angelina melakukan pekerjaannya dengan disiplin. ia tidak pernah bermalas-malasan sama sekali. sementara Aaron tetap bersikap tegas dan dingin terhadap Angelina sehingga membuat gadis itu selalu berhati-hati dan cemas.


Siang itu Angelina sedang menyiram tanaman dengan mengunakan selang air sambil melamun. dan di saat yang sama dokter Darwine datang menghampirinya.


"Angelina," sapa Darwine.


Angelina yang masih belum bisa bicara ia hanya menyapa dengan senyuman. dan kemudian ia mematikan kran selang air.


"Bagaimana dengan kabarmu?"


"Aku baik-baik saja, terima kasih. Dokter!" ucap Angelina yang sedang menulis.


"Senang melihatmu baik-baik saja, apakah si batu itu menindasmu?" tanya Darwine.


"Ti...dak," jawab Angelina yang berusaha bicara.


"Apa katamu? kamu sudah bisa bicara?" tanya Darwine yang tidak menyangka.


"Sedi...kit," jawab Angelina.


"Ini adalah permulaan, sangat bagus sekali. kamu akan pulih secara perlahan. ayolah...coba lagi. coba sebut namaku!"


"Dar...wine," ucap Angelina yang masih sulit mengeluarkan suaranya.


"Bagus sekali!" kata Darwine dengan gembira dan memeluk gadis itu. ia tidak menyadari Aaron sedang melihat mereka dari ruangan lantai dua.


Tatapan pria itu berubah menjadi menakutkan saat melihat sahabatnya sedang berpelukan dengan gadis itu.

__ADS_1


Sesaat kemudian Darwine melepaskan pelukannya, dan memegang tangan Angelina melangkah masuk ke dalam rumah. dokter itu membawa gadis itu menuju ke ruang pribadi Aaron.


Klek.


"Aaron, ada berita baik," seru Darwine yang melangkah masuk bersama Angelina.


"Ada berita baik apa sehingga harus begitu heboh?" tanya Aaron dengan dingin.


"Aaron, kamu berhasil, Angelina sudah bisa bicara," kata Darwine.


"Bicara? bagaimana kamu bisa tahu kalau dia sudah bisa?" tanya Aaron yang berdiri di hadapan Darwine.


"Dia bisa menyebut namaku," jawabnya.


Aaron yang mendengar kata Darwine bukannya merasa senang malah menatap dingin terhadap gadis itu.


"Hebat sekali, sudah bicara rupanya. kenapa aku tidak mendengarmu bicara? dan seperti biasa menjadi bisu di hadapanku?" tanya Aaron dengan sedikit kesal.


"Mungkin dia belum bisa, tentu tidak mudah, sudah menelan cairan itu selama ini. pasti tidak bisa begitu cepat untuk bicara," jelas Darwine.


"Lalu, untuk apa kau datang hari ini?" tanya Aaron yang kembali duduk di kursinya.


"Melihatku atau ada niat lain?" tanya Aaron yang melihat ke arah Angelina dengan tatapan tajam sehingga membuat gadis itu tidak berani memandangnya.


"Apa yang kamu katakan? memangnya apa niatku? itu hanya pemikirkanmu saja," kata Darwine.


"Keluar lakukan kerjamu!" perintah Aaron pada Angelina.


Sesaat kemudian Angelina meninggalkan ruangan itu.


"Aaron, apakah kamu benar-benar menganggapnya sebagai pembantumu?" tanya Darwine yang memandang gadis itu melangkah pergi.


"Apa kau sudah puas melihatnya?" tanya Aaron yang sedikit kesal.


"Apakah kau cemburu?" tanya Darwine sengaja mengusik sahabatnya.

__ADS_1


"Siapa yang cemburu? apakah dia layak?"


"Dasar batu, kalau kau tidak cemburu untuk apa kau marah? lagi pula di matamu dia hanyalah pembantu. selain itu tidak ada hubungan istimewa," kata Darwine.


"Kalau kau datang hanya untuk ini, lebih baik kau pergi saja!"


"Kau sombong sekali, kalau sifatmu masih tidak berubah dia pasti ketakutan saat berhadapan denganmu!"


"Dia adalah asisten pribadiku, sudah seharusnya aku tegas padanya," jawab Aaron.


"Kau masih ingin tegas dengannya? Aaron, apakah kamu tidak memiliki perasaan padanya?"


"Aku tidak mungkin tertarik pada seorang pembantu," jawab Aaron.


"Iya, aku tahu sifatmu, kau hanya suka pada barang yang menurutmu berkualitas. sementara di matamu Angelina hanya barang murahan, bukankah begitu?"


"Memang benar!" jawab Aaron.


"Walau dia bukan putri orang kaya kau juga tidak boleh merendahkan dia,.bagaimana pun dia adalah korban kekerasan yang hampir menjadi pasien jiwa," ujar Darwine.


"Apakah sudah selesai bicara?"


"Belum! aku datang karena aku sedang libur, jadi jangan mengusirku," jawab Darwine.


Angelina yang berdiri di luar telah mendengar pembicaraan dua pria itu.


"Di matanya aku hanya barang murahan, pantas saja selama ini tatapannya begitu menakutkan. hanya terhadapku dia mengunakan tatapan itu. Angelina, seumur hidupmu hanyalah seorang yang tidak ada harga diri. dirimu tidak memiliki apapun. dan hanya seorang anak yang dibuang oleh orang tua sendiri.bahkan pria yang pernah menidurimu hanya menganggapmu sebagai barang murahan," batin Angelina.


"Selain bersabar aku tidak bisa apa-apa lagi, karena dia yang menyelamatkanku. oleh karena itu aku harus bersabar," batin Angelina.


Malam hari.


Angelina membawakan minuman ke ruang pribadi Aaron. saat itu tidak terlihat siapapun di ruangan itu. Angelina meletakan minuman ke atas meja majikannya.


Tidak lama kemudian Aaron melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintunya.

__ADS_1


Klek.


Angelina yang melihat Aaron yang berjalan menghampirinya, ia memundurkan langkahnya. rasa cemas saat melihat tatapan pria itu yang seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.


__ADS_2