Bisu Tawanan Hartawan

Bisu Tawanan Hartawan
Pertemuan Aaron dan Chris


__ADS_3

Aaron masih sedang melihat cincin pernikahan yang gantung di kalungnya.


"Lima tahun sudah berlalu, Apakah dia sudah menemukan hidup barunya?" gumam Aaron.


"Bos, Apakah Anda ingin kembali ke London?"


"Tidak! Aku ingin tinggal di sini untuk sementara ini, Tidak tahu kenapa...perasaanku tetap ingin di sini," jawab Aaron.


"Baik, Bos," jawab Louis.


Keesokan harinya.


Mansion Christoper.


"Hore...hore...hore...kita akan berangkat lagi...," teriak Nick yang kegirangan sambil melompat-lompat.


"Nick, Jangan melompat terus, Bawa tas kalian ke bagasi!" titah Cecillia.


"Iya, Ma," jawab Nick dengan patuh.


"Adik, sampai di sana jangan lari-lari, Nanti kamu sesat!" kata Chris yang ikuti langkah adiknya menuju ke mobil.


"Aku tidak sabar ingin bertemu dengan papa angkat," ujar Nick yang memasukan tas pakaiannya ke dalam bagasi.


"Bukan pertama kali kamu liburan, Kenapa seperti orang desa saja," ejek Chris sambil tertawa.


"Kalau tidak punya papa kandung, Bisa punya papa angkat juga tidak ada ruginya. Aku bisa meminta papa angkat bermain denganku," jawab Nick.


"Yang kamu tahu hanya bermain," ujar Chris.


"Kakak hanya tahu menulis dan membaca," balas Nick yang tidak mau kalah.


"Lebih baik banyak membaca dari pada bermain," jawab Chris.


"Setelah dewasa aku ingin mendirikan pabrik robot, Agar bisa produksi main-mainan elektrik," ujar Nick.


"Kalau kamu tidak belajar mana bisa menjadi bos besar," kata Chris.


"Kakak yang sudah belajar menulis dan membaca saja belum bisa menjadi bos besar," balas Nick.


"Aku kan masih kecil, Saat masih kecil kita harus belajar," jawab Chris.


"Anak-anak! Jangan berdebat lagi! Masuk ke dalam mobil!" titah Calvin yang menarik koper menghampiri mobilnya.


"Iya, Paman!" jawab Chris dan Nick dengan patuh.


"Cecillia, kalian bersenang-senanglah di sana, Liburan sepuasnya. Selama ini kamu dan kakakmu selalu saja sibuk dengan urusan kerja," kata Nella.


"Baik, Ma. Mama juga harus jaga diri baik-baik. Dengar apa yang dikatakan suster!"


"Mama dan papamu bisa jaga diri, Untuk apa kalian harus mengupah suster lagi!"


"Ma, ada suster yang merawat kalian, Aku dan kakak lebih tenang. Dokter juga akan datang setiap seminggu," jawab Cecillia.


"Baiklah, Jangan khawatirkan kami!" jawab Ronald.


Beberapa jam kemudian


Cecillia dan Calvin tiba di bandara Los Angeles.


Zean sedang menunggu mereka.


Di sisi lain Aaron mendatangi bandara untuk menyambut seorang Klien asal korea.


Ia bersalaman dengan pria asal korea itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Cecillia bersama Calvin dan sikembar keluar dari airport.


"Papa...Papa...," suara Nick yang berlari menuju ke arah Zean yang sedang berdiri di sana.


"Jagoanku," sahut Zean yang mengendong Nick dan mencium pipinya.


"He he he," suara tertawa Nick yang begitu gembira.


"Apa kabarmu, Anak Tampan?" tanya Zean.


"Aku merindukan Paman, sebagai gantinya, Paman harus membelikan aku mainan!" jawab Nick dengan senyum.


"Baiklah, Mainan apa yang kamu suka?" tanya Nick.


"Pesawat!" jawab Nick.


"Paman akan belikan untukmu," ujar Zean.


"Cecillia, kalian tunggu di mobil, Aku ingin bertemu seorang teman. Sebentar saja!" kata Calvin.


"Baik, Kak!" jawab Cecillia.


Chris yang melihat seorang pria ia langsung berlari ke arah pria itu.


"Chris, kamu ingin ke mana?" tanya Cecillia.


"Aku ingin ikut paman," jawabnya dengan alasan. Ia menuju ke arah yang sama dengan pamannya. akan tetapi ia ingin menghampiri seseorang.


Cecillia menghampiri Zean yang adalah sahabat baiknya.


"Zean," sapa Cecillia.


"Hai, Cantik," balas Zean yang memeluk wanita itu.


"Lama tidak bertemu, Kamu semakin cantik dan sukses," ujar Zean.


Aaron yang sedang berbicara dengan kliennya, Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya karena matanya berfokus pada seorang wanita yang di sana. Ia melihat punggung wanita itu yang tidak asing baginya.


Cecillia yang sedang berbicara dengan Zean, ia kemudian memandang ke kanan sehingga Aaron melihat wajahnya dengan jelas. Pria itu tentunya hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Angelina?" gumam Aaron.


"Tuan, apakah Anda ada waktu siang ini?" tanya Klien itu.


"Tentu saja ada," jawab Aaron yang masih memandang wanita itu.


"Papa, mari kita makan siang!" Suara Nick yang didengar oleh Aaron. Aaron hanya melihat punggung anak itu.


"Papa? Apakah Angelina menikah dengan pria itu dan melahirkan seorang anak laki-laki?" batin Aaron.


"Mari kita ke mobil dulu!" ajak Cecillia yang mengandeng tangan Zean.


Zean yang dulunya telah membantu Cecillia, selama ini hubungan mereka sangat akrab dan bagaikan pasangan di mata orang.


"Papa," seru seorang anak kecil yang memegang tangan Aaron.


"Tuan, apakah anak ini adalah anak Anda? Dia sangat mirip dengan Anda," tanya klien itu yang menyentuh kepala anak kecil itu yang tak lain adalah Chris.


"Adik kecil, kamu salah orang, Aku bukan papamu," jawab Aaron.


"Kenapa anak ini membuatku merasa sangat dekat, Kenapa dia mirip denganku?" batin Aaron.


"Paman, Apakah kita saling kenal?"


"Tidak!"

__ADS_1


"Kenapa aku merasa tidak asing," kata Chris.


"Di mana orang tuamu?" tanya Aaron


"Mereka menunggu di mobil," jawab Chris.


"Kembalilah pada orang tuamu, di sini sangat ramai dan jangan sampai mereka kehilanganmu!" ujar Aaron.


"Papa...," ucap Chris yang memegang tangan Aaron dengan erat.


Aaron merasakan kehangatan saat tangan mungil itu memegang tangannya.


"Adik, kembali ke orang tuamu, Jangan membiarkan mereka menunggumu!"


"Papa...."


"Adik, aku bukan papamu, Kamu sudah salah orang," jawab Aaron.


"Tapi, aku ingin memanggilmu papa!" jawab Chris.


"Di mana papamu?"


"Tidak tahu, sejak kami dilahirkan, papa tidak ada di samping kami, kami juga tidak pernah melihatnya."


"Kami?"


"Aku memiliki seorang adik kembar," jawab Chris.


"Chris, ternyata kamu di sini," suara Calvin yang sedang menghampiri mereka.


"Calvin," sapa Aaron.


"Aaron, tidak sangka kita bertemu di sini," sapa Calvin dengan ramah.


"Iya, Kita akan makan bersama besok," jawab Aaron


"Baiklah, sampai jumpa besok," ucap Calvin.


"Chris, Lepaskan tanganmu, Jangan tidak sopan!" titah Calvin.


"Papa, apakah kita akan bertemu besok?" tanya Chris yang berharap.


"Maaf, Chris selalu merindukan papanya sehingga dia menganggap kamu adalah papanya," ucap Calvin.


"Tidak apa-apa!" jawab Aaron yang kemudian melangkah pergi. Matanya masih mencari keberadaan istrinya.


"Angelina, ternyata kamu sudah menikah dan hidup bahagia. Tapi, bukan berarti aku diam dan mengalah. Suatu saat nanti aku akan merebutmu kembali," batin Aaron.


Chris masih memandang kepergian Aaron yang sudah semakin jauh. tanpa disadari mata anak itu mengeluarkan cairan bening.


"Chris, ada apa?"tanya Calvin.


"Paman, Apakah kita masih bisa bertemu dengan paman itu?" tanya Chris dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Kenapa anak ini menangis saat melihat Aaron? dia bahkan ingin memanggilnya papa. Selama ini Chris sudah sering bertemu dengan temanku. Tapi, baru kali ini dia begitu akrab dengan Aaron," batin Calvin.


"Besok kita akan makan bersama dengan paman tadi," jawab Chris.


"Tapi, kenapa kamu memanggilnya papa?" tanya Calvin yang menyeka air mata anak itu.


"Tidak tahu, Paman. aku hanya ingin memanggil, dan perasaanku dia seperti papaku. walau pun bukan. aku tetap ingin bertemu dengan paman itu lagi," jawab Chris yang meneteskan air mata.


Calvin yang kasihan pada keponakannya, Ia langsung memeluk tubuh mungil itu.


"Jangan sedih! Chris begitu merindukan papa, Suatu saat pasti akan bertemu." Calvin berusaha membujuk anak kecil itu.

__ADS_1


"Apakah benar?" tanya Chris.


"Benar, Chris begitu berbakti. pasti bisa bertemu dengan papamu suatu saat nanti," jawab Calvin yang berusaha menenangkan keponakannya.


__ADS_2