
Mencari informasi tentang Margaretha? Itulah yang dilakukannya. Berjalan antara ramainya anak SMU. Hingga matanya menelisik, seorang wanita tersenyum, duduk berdampingan dengan seorang pria berwajah pucat.
Foto yang dibandingkannya, kemudian tersenyum. Mencari kesempatan untuk membunuhnya.
***
Kegiatan yang dilakukannya setelah ini? Mengikuti langkah Margaretha, perlahan. Wanita yang tengah mengikuti kekasihnya, Fino yang menjajakan sosis dagangannya.
Jemari tangannya memegang pisau dapur, bersiap hendak menikam. Hingga mulutnya tiba-tiba dibekap dari belakang. Bagian belakang lehernya bagaikan disuntik. Perlahan kesadarannya menghilang.
Pemuda yang tiba-tiba terbangun di ruangan yang cukup terang. Berbaring di bawah selimut, matanya menelisik, ruangan yang luas. Dengan seorang pria paruh baya duduk memperhatikannya.
Lukisan besar berada di ruangan yang mungkin merupakan bagian dari sebuah villa. Lukisan besar yang mirip dengan wajah sang pria paruh baya. Wajah yang mungkin telah termakan usia. Dialah Anggara, ayah dari Margaretha, duduk tenang membaca beberapa berkas.
Perlahan Gerald bangkit."Aku...aku harus pergi..."
"Tunggu! Kamu mau mati atau membuat perjanjian denganku?" tanya pria yang meletakkan berkasnya. Menyadari pria di hadapannya yang telah siuman.
"Anda siapa?" pertanyaan yang terdengar dari bibir Gerald.
"Namaku Anggara," ucap sang pria paruh baya, tersenyum dengan seorang pengawal profesional di belakangnya."Katakan apa yang membuatmu menyimpan dendam pada putriku, Margaretha?"
"Kamu ayahnya!? Ayah dari wanita murahan kecil itu!? Membuka pangkal pahanya untuk semua pria!!" bentakan Gerald terdengar menggema di setiap sudut ruangan.
Anggara menghela napas kasar."Pegangi dia!!" perintahnya.
Sang pengawal segera mendekat, menendang perut Gerald. Kemudian menginjak pergelangan kakinya hingga tersungkur tidak dapat berdiri beberapa saat. Teriakan memekik terdengar, kala jemari tangannya juga diinjak dengan kencang.
Wajah ramah penuh senyuman dari Anggara yang sejatinya benar-benar mengerikan baginya."Jangan menjelek-jelekkan keluargaku. Seburuk apapun prilaku mereka. Karena jikapun aku mati, aku akan bangkit kembali membalas penghinaanmu. Bahkan menginjak kepalamu..." kata-kata yang mengerikan terucap dari pria paruh baya.
Aura cerah yang mendominasi, namun dapat berucap dengan begitu mengerikan. Apakah kaki dan tangannya patah? Entahlah, dirinya kesulitan untuk bergerak saat ini.
__ADS_1
"Aku masih sibuk bekerja, katakan apa kesalahan putriku. Maka aku akan memberikan kompensasi yang sesuai. Setelah ini jangan menyimpan dendam lagi..." ucap Anggara, meminum secangkir teh di hadapannya.
Jemari tangan Gerald mengepal, kompensasi atas kematian ibu dan adiknya? Dirinya tidak dapat menerima segalanya. Namun bibirnya berucap mengatakan segalanya."Putrimu Margaretha menggoda gurunya, menjalin hubungan dengan Oka. Membuat Oka memutuskan adikku, hingga adikku bunuh diri dan ibuku terkena serangan jantung karena kematiannya. Itulah putrimu yang lebih rendah dari wanita penghibur!" teriaknya dalam tangisan.
Anggara, menghentikan pekerjaannya sejenak berjalan mendekati Gerald."Aku tidak mengetahui putriku ada di pihak yang benar atau salah. Namun, yang aku tau dari bodyguard yang mengawasi putriku diam-diam, pemuda bernama Oka hanya memanfaatkan uang Margaretha saja. Satu lagi, beberapa hari ini putriku menjalin hubungan dengan teman sekelasnya bernama Fino,"
"Jadi tentang Oka, aku bersyukur dia tidak masuk dalam keluargaku. Tapi satu hal yang pasti, Margaretha putriku satu-satunya tidak boleh terluka sedikitpun. Karena itu, aku memberimu dua pilihan, mati disini atau pergi dengan kompensasi, lupakan dendammu pada putriku," ancaman dari Anggara, memberikan sebilah pisau pada pengawal pribadinya.
Jemari tangan Gerald mengepal, ketakutan pada pria dengan senyuman cerah di hadapannya. Pria yang tidak gentar sama sekali, seakan memberi pilihan. Menyerah akan dendam atau mati disini.
"Dia membuat mati...adikku!! Ibuku juga!!" kata-kata teriakan dari mulut Gerald, mengepalkan tangannya dalam tangisannya.
Anggara menghela napas kasar berjalan mendekatinya."Keluarga kaya lain akan memanfaatkan segala cara untuk membunuh makhluk pendendam sepertimu. Tapi berbeda denganku, aku lebih memilih tangan bersih dan kotor untuk melindungi keluargaku. Tangan bersih, jika kamu bersedia menerima kompensasi dan melupakan apapun dendammu pada putriku. Dan tangan kotor, saat aku mencabik-cabikmu karena berusaha membunuh putriku untuk yang kedua kalinya..."
Tatapan penuh senyuman, namun tersirat berbagai hal yang mengerikan dapat dilakukannya. Gerald mengepalkan tangannya ketakutan. Wajah pria yang benar-benar ditakutinya. Lukisan seorang pemuda masih tergantung di ruangan besar itu. Lukisan Anggara ketika masih muda.
Brak...
Tangannya tiba-tiba dipukul menggunakan tongkat kecil miliknya. Mata Anggara menatap tajam akan melakukan apapun untuk keluarganya.
"Katakan ingin balas dendam atau menerima kompensasi!?" pertanyaan dari mulut Anggara.
Gerald menitikkan air matanya tidak dapat membalas perbuatan Margaretha. Perbuatan? Sejatinya Gerald tidak mengetahui apapun, melihat segalanya dari satu sisi. Sedangkan Anggara, melakukan segalanya sebagimana mestinya. Dirinya tidak peduli, dendam adalah dendam. Jika Gerald berniat membunuh Margaretha, maka Gerald harus mati terlebih dahulu. Tapi jika menyerah akan dendamnya itu lebih baik baginya.
"Aku memilih kompensasi..." ucap Gerald tertunduk.
Anggara masih setia tersenyum kembali duduk dengan tenang di sofa."Bersumpahlah, demi nama ibu dan adikmu kamu tidak akan menyentuh atau membunuh putriku dan keturunannya,"
"Aku bersumpah..." kata-kata dari Gerald dengan mulut bergetar. Masih merasakan sakit kehilangan ibu dan adiknya.
"Asistenku akan memesan tiket pesawat tujuan USA padamu. Kamu tidak memiliki keluarga di negara ini, karena itu aku tinggallah disana! Bangun keluarga yang baik, buka perusahaan kecil, jangan kembali lagi ke negara ini..." ucap Anggara mengeluarkan buku ceknya. Menuliskan nominal uang dengan jumlah yang tidak sedikit padanya.
__ADS_1
Pria yang berjongkok, memberikan cek penuh senyuman."Ini adalah kompensasi dariku. Walaupun aku sudah mati nanti, jika kamu berani melukai keturunanku sedikit saja. Aku akan bangkit, hidup kembali untuk melihat kematianmu, berlumuran darah segar, seluruh tulangmu remuk..."
Gerald masih tidak dapat bangkit, menatap sepasang sepatu kulit dari sang pria yang meraih berkasnya berjalan meninggalkan ruangan.
"Sial!!" teriaknya dalam tangisan. Dirinya tidak dapat berbuat apapun. Tidak dapat membalas semua perbuatan Margaretha.
***
Beberapa tahun berlalu, Gerald tinggal di negara lain, menikahi wanita yang berusia jauh lebih tua darinya, memiliki seorang putra bernama Jameson. Wanita yang akhirnya, diceraikannya usai berhasil mendapatkan seluruh asetnya.
Uang yang diberikan Anggara? Memang digunakannya untuk membuka perusahaan kecil. Perlahan berkembang dengan aset yang berhasil direbutnya, dari mantan istrinya.
Dirinya masih takut dan gentar mengingat Anggara hingga saat ini. Perlahan mulai mengembangkan usahanya mendirikan bisnis ilegal. Benar-benar ingin mengalahkan Anggara, untuk melanggar sumpahnya.
Hingga satu celah ditemukannya untuk kembali, yaitu kematian Anggara dan perceraian Margaretha. Pria yang paling ditakutinya sudah tidak ada di dunia lagi.
Karena itulah dirinya kembali, menikahi Margaretha. Menyiksanya perlahan setiap hari, merebut semua milik Anggara. Seolah berkata pada sang pria yang memberikannya pilihan.
"Aku melanggar sumpahku, seluruh keturunanmu akan aku lukai. Semua milikmu akan ku miliki. Kamu sudah mati, memang bisa apa? Orang mati tidak akan dapat bangkit kembali..." umpatan darinya, setiap menatap lukisan Anggara, lukisan yang terkadang membuatnya ketakutan, merasa tidak nyaman.
***
Jemari tangan Gerald mengepal, wanita bayaran masih berada di pangkuannya. Wajah Rion yang berjalan di ballroom hotel masih terlintas di benaknya. Bagikan Anggara yang kembali hidup mengetahui dirinya melanggar sumpahnya.
"Jadi apa rencanamu?" tanya sang wanita.
"Membunuh Rion...dia harus mati. Jika tidak bisa membunuhnya maka aku akan menyeretnya ke neraka bersamaku..." gumamnya, kata-kata bagaikan mantra kutukan dari Anggara masih terngiang dalam benak Gerald.
Anggara akan kembali datang, menyaksikan sendiri kematian Gerald dengan darah yang bersimbah dan tulang yang remuk. Tapi dirinya memiliki segalanya kini. Membunuh atau membawa Rion ke neraka bersamanya adalah tujuannya.
Kemana arah dendam ini? Gerald bagaikan tidak menginginkan pembalasan dendam lagi, tapi bagaikan makhluk haus darah. Bahkan dendam yang menimbulkan dendam lainnya.
__ADS_1
Keserakahan akan harta, berlapis dendam untuk membenarkan semua tindakannya. Kematian Seli? Mungkin adiknya akan menangis dari sisi-Nya. Kala sang kakak mengatasnamakan dirinya untuk berbuat keji.
Bersambung