
Banyak hal yang ada di fikiran Sazi saat ini. Terdiam seorang diri di kamar lamanya, menatap setiap sudut, tidak ada kenangan indah disana. Perlahan dirinya memejamkan matanya, dalam keadaan yang lumayan lelah.
"Rion..." gumamnya tersenyum dalam tidurnya, apa yang dimimpikannya? Entahlah, namun memeluk bantalnya, mungkin menganggap itulah si bantet, satu-satunya orang yang menyayanginya.
Hingga satu jam berlalu, dirinya telah membersihkan diri, memakai pakaian baru yang dibelikan Dini. Sazi menghela napas kasar menatap pantulan dirinya di cermin. Untuk pertama kalinya, dirinya mendapatkan pakaian dari ibu sambungnya.
Alasan sebenarnya? Tentu saja diketahui olehnya menjadikan dirinya sebagai putri boneka. Mengusir Fredric dan Alexa yang mulai angkuh. Tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Dini, tapi juga tidak mencintainya seperti dulu.
Seorang ibu yang tidak pernah memperhatikannya, menepis kasih sayangnya hanya untuk seorang putri baru yang dianggapnya sesuai dengan estetikanya sebagai wanita sempurna dalam pergaulan sosial kalangan atas.
Tapi tidak akan ada yang salah kali ini, tangannya meraba pantulan dirinya di cermin. Wajah ibu kandung yang benar-benar mirip dengannya. Ibu kandung yang ada dalam lukisan keluarganya.
Tangannya meraba perutnya yang rata, apa sudah ada janin disini? Menginginkan anak yang menyerupai suaminya. Merindukan Rion? Tentu saja, hanya satu minggu dirinya menjalani rumah tangga yang sempurna. Sebelumnya hanya bagaikan kekasih yang tinggal bersama...
Apa Rion juga merindukannya?
***
Berbagai hidangan tersedia di atas meja, semuanya adalah kesukaan Sazi, menurut koki yang telah bekerja puluhan tahun di rumah tersebut. Memperlakukan Sazi dengan baik, maka dirinya dapat dengan mudah menyingkirkan Fredric dan Alexa nantinya, itulah yang ada dalam fikiran Dini.
Semua sudah ada di meja makan terkecuali Sazi dan Alexa. Bahkan Andres sudah mulai makan terlebih dahulu.
Hingga wanita itu menuruni tangga, mulai duduk di samping Andres.
"Sazi, makan yang banyak..." Dini tersenyum, meletakkan potongan daging ayam dengan bumbu berwarna merah yang menggugah selera. Sedangkan Dave meminum air putih, diam-diam menatap wanita yang duduk cukup jauh darinya.
"Terimakasih, ibu juga makan yang banyak..." ucap Sazi mulai bangkit mengambil mangkuk kecil mengisinya dengan sup, kemudian meletakkannya di samping piring Dini.
Dini tersenyum, inilah anak yang didiknya. Anak berbakti yang dapat diperintah, bukan seperti Alexa. Anak yang bahkan kerap menyindirnya sebagai wanita mandul, wanita cacat.
Tanpa ragu Dini memakan makanan di hadapannya. Hingga suara mobil terdengar, Alexa baru pulang, entah dari mana, membawa belanjaan yang cukup banyak. Meletakkannya di sofa, bermain handphone sesekali tertawa membiarkan pelayan membukakan sepatunya. Mengganti dengan sandal selop rumahan.
"Alexa, kamu dari mana?" suara Dini terdengar.
"Apa pedulimu? Kamu juga makan dari hasil kerja kerasku!? Sudah untung tidak aku usir dari rumahku..." cibirnya semakin hari semakin keterlaluan saja, dengan mata tetap konsentrasi pada phoncellnya.
"Rumah ini diwariskan almarhum Herry kepadaku!! Kamu itu yang seperti benalu, belanja melebihi gajimu di perusahaan!! Ini hasil menggelapkan dana lagi kan!?" bentak Dini berjalan cepat penuh rasa emosional. Dirinya tidak dapat menggunakan uang dengan bebas lagi. Sedangkan Alexa? Semua bagaikan ada dalam kendalinya.
Brak...
Barang-barang belanjaan dibanting Dini, jatuh berceceran di lantai.
Sazi menipiskan bibir, berusaha tidak tersenyum, hanya menatap dari jauh. Sedang Andres mendekat berbisik padanya."Thanos (Dini) bertarung dengan Hulk (Alexa), sebaiknya kamu segera menjadi anak baik yang membela Thanos..."
__ADS_1
Sazi menggeleng, ikut berbisik."Salah, ini drama kolosal Indonesia, mak Lampir (Dini) melawan Nyi Blorong (Alexa). Tunggu sebentar lagi, baru aku akan datang memisahkan mereka..."
Si bule kesasar mengenyitkan keningnya."Nyi Blorong?" gumamnya tidak mengerti, kembali makan Escargot with tomato sauce dengan minuman semangkuk air berisikan jeruk nipis.
Sazi yang sejenak mengalihkan perhatiannya dari Dini pada Andres menatap pemuda itu makan bekicot sambal tomat, namun mengangkat air kobokan dalam mangkuk hendak meminumnya.
Plak...
Wanita itu memukul tangan Andres."Ini bukan minuman!! Ini untuk cuci tangan..."
"Untung belum aku minum..." sang playboy tanggung, kembali meletakkan mangkuk, berisikan air kobokan.
Kenapa ada air kobokan, tentu saja karena makan malam yang tersaji saat ini, sebagian besar bercitarasa nusantara mengingat itulah makanan favorit Sazi.
***
"Ibu!!" bentak Alexa.
"Kamu tidak bisa diajari etika, semakin hari semakin keterlaluan!!" Dini meninggikan intonasi bicaranya.
"Kamu yang mandul!! Karena itu wanita mandul tidak berguna sepertimu diam saja. Sudah beruntung memilikiku sebagai putrimu!!" Alexa membanting handphonenya di sofa. Tidak tahan lagi pada Dini yang kerap mencari alasan menyudutkannya.
Akhirnya ada celah, Sazi tiba-tiba mendekat, memegang lengan Dini."Ibu tenang ya? Jangan emosional, nanti ibu bisa sakit jika tekanan darah ibu naik ..."
"Ibu sudah jauh lebih tenang, ayo kita makan lagi," Dini tersenyum, menghela napas kasar menatap Sazi.
"I...ibu apa Alexa membenciku, a...aku tidak bermaksud..." kata-kata lemah gemulai ala wanita teraniaya, berlindung di balik tubuh Dini.
"Ibu yang membawa Sazi pulang! Dia masih trauma, kamu jangan coba-coba mengganggunya!!" ucap Dini yang kini memiliki Sazi, satu orang yang berpihak padanya.
Samar-samar Sazi tersenyum tipis, dengan sengaja hanya menampakan senyumannya pada Alexa.
Tangan Alexa mengepal, setelah menyingkirkannya, kenapa bisa kembali lagi? Wanita bodoh, menyebalkan yang kini tersenyum mengejek dirinya diam-diam.
"Br*ngsek!!" teriak Alexa menjambak rambut Sazi.
"Ibu... sakit..." Sazi tidak melawan, menatap Dini yang berusaha melepaskan tangan Alexa, hingga berakhir mendorong Alexa hingga tersungkur.
"Ibu? Dia mengejekku aku..." kata-kata Alexa terhenti. Menatap Sazi yang menangis dalam pelukan Dini.
"Aku ingin pulang ke desa bersama Andres..." lirih Sazi, menitikkan air matanya.
"Tidak, ibu akan melindungimu, jangan menangis ya?" Dini melonggarkan pelukannya, menghapus air mata Sazi.
__ADS_1
"Dave! Kamu lihat sendiri kan!? Sazi tersenyum tadi?" tanya Alexa menginginkan pembelaan dari suaminya.
"Yang aku lihat, kamu menjambak rambutnya. Kondisi psikologis Sazi belum begitu membaik, kamu bahkan bertindak buruk pada wanita yang masih berusaha menghilangkan traumanya? Itu artinya kamu lebih buruk daripada orang gila..." cibir Dave mulai bangkit, sudah muak rasanya melihat wajah Alexa yang telah lama membohonginya."Aku sudah kenyang..." ucapnya menaiki tangga menuju lantai dua.
Alexa tertegun diam, mengepalkan tangannya. Dirinya tidak salah lihat, Sazi memang tersenyum tadi. Apanya yang trauma, benar-benar wanita picik?
"Ayah, aku benar-benar melihat Sazi tersenyum. Dia mengejekku, karena itu aku menyerangnya, dia hanya berpura-pura masih mengalami trauma! Sebaiknya usir dia!" Alexa menoleh pada Fredric, meminta perlindungan sang ayah.
Frederick mulai bangkit."Kamu dengar sendiri kan Dini? Baru satu hari Sazi di rumah, sudah terjadi keributan. Lebih baik usir dia pergi!" tegasnya.
Dini mengenyitkan keningnya."Ini adalah rumahku menurut wasiat dari almarhum Herry. Aku yang menentukan siapa yang boleh tinggal. Lagipula Sazi putriku! Aku dapat menerima Alexa, tapi kamu tidak dapat menerima Sazi!?"
Wanita yang kini menatap tajam, dirinya sudah cukup banyak mengalah. Wasiat Herry tentang jumlah warisan miliknya memang tidak dirubah, rumah, mobil dan sejumlah uang deposit. Hanya Fredrick dan Alexa, memasukan nama mereka sendiri yang sejatinya tidak ada sama sekali. Dengan janji manis akan menyayangi Dini sebagai seorang ibu dan istri.
Tapi kini? Fredrick yang diam-diam berselingkuh, Alexa yang tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang ibu. Kini dirinya menginginkan kehidupan yang dulu, menjadi ibu sambung dari si anak penurut.
Masalah pria? Jika memiliki anak dengan status sosial tinggi, juga akan mengangkat status sosialnya. Para pria yang mungkin lebih baik dari Fredric akan mendekat.
"Dia bukan putrimu!! Dia anak Herry dengan Valentina!! Sedangkan Alexa putriku, dan sekarang menjadi putrimu!" Fredric menggebrak meja makan, membuat satu sendok bekicot sambal tomat terjatuh ke pakaian Andres.
"Sial..." umpatnya, menelan ludah, mengingat itu sendokkan terakhir. Bule yang mulai menikmati citarasa nusantara berkelas internasional. Escargot (bekicot), mungkin hanya dijual di restauran berkelas di negaranya.
"Sazi memang tidak terlahir dari rahimku sama dengan Alexa. Tapi aku yang mendidiknya untuk menjadi anak berbakti dan beretika. Bukan seperti putrimu yang pandai berbohong. Kamu melihat kejadiannya sendiri kan? Apa kamu melihat Sazi yang masih menangis, gemetaran ini tersenyum mengejek Alexa!?" bentak Dini pada Fredric yang terdiam.
Pria paruh baya yang menatap ke arah Sazi dan Alexa. Alexa yang dari dulu pandai berbohong, sedangkan Sazi? Sazi masih gemetar, menangis terisak, bagaikan mengalami trauma dan depresi.
"Kalau mempercayai orang fikir dulu!! Lihat kenyataannya..." cibir Dini pada suaminya, hendak membimbing Sazi menuju lantai dua.
"Ayo Andres!!" ucap Dini pada pria yang masih duduk di kursi meja makan.
"Tunggu! Aku ingin mengingatkan wanita yang bernama Alexa, tentang kondisi Sazi. Agar hal seperti ini tidak terjadi lagi..." Andres mulai bangkit berjalan mendekati Alexa.
Pemuda yang mendekatkan wajahnya, kemudian berbisik."Sazi sudah pulih total, dia berkata kamu adalah wanita bayaran pinggir jalan, ber IQ rendah. Ternyata memang benar,"
Alexa membulatkan matanya menatap ke arah Andres.
Andres tiba-tiba tersenyum, menepuk bahunya, berhenti berbisik."Sazi dalam kondisi mental yang tidak stabil. Sebagai psikolog, aku minta, tolong perlakuan dia dengan baik,"
"Psikolog! Jangan bergurau kamu hanya gigolo sialan!" Alexa menarik kerah kemeja Andres.
"Alexa!!" Fredric, menghentikan putrinya yang mengamuk tanpa sebab. Melerai tangan Alexa yang menarik kerah pakaian Andres.
"Aku hanya menyuruhnya untuk tidak berbuat kasar. Kenapa jadi seperti ini..." ucap Andres, bagaikan tidak bersalah.
__ADS_1
"Atur tingkah laku putrimu!" Dini menatap tajam pada Fredric, menapaki tangga menuju lantai dua. Diikuti Andres, yang berlari mendekati mereka menggantikan Dini membimbing Sazi.
Bersambung