Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Siapa Pelakunya


__ADS_3

Rion menghela napas kasar, tubuhnya sudah terasa lebih baik, usai meminum obat penurun panas, tidur beberapa jam dan memakan bubur yang dibawakan istrinya, menatap Sazi yang tersenyum padanya. Cuaca kini terlihat mendung menutupi langit, kala pemuda itu terbangun.


"Terimakasih..." ucap Rion tersenyum memakan manisan pemberian istrinya. Dua orang yang kini sama-sama duduk di atas sofa.


"Kenapa tidak membawa Hikaru!?" Sazi menghela napas kasar, menyadari hidup suaminya yang selalu dalam bahaya entah apa alasannya.


Rion menggeleng."Aku membohonginya, membuat seolah-olah aku terjun ke sungai. Jika mengatakan aku akan kemari menyusulmu, dia akan mengurungku di Malaysia, kemudian menyeretmu ke hadapanku..."


Wanita itu membulatkan matanya, masih takut pada asisten suaminya sampai saat ini. Pria yang selalu berpakaian rapi, namun mengeluarkan aura mengerikan mendominasi di setiap senyumannya. Apa yang terjadi jika Hikaru tidak tersenyum? Entahlah...


"Kenapa kamu pulang? Kamu merindukan ibumu?" tanya Rion berhati-hati.


"Aku...aku ingat segalanya. Dini bukan ibu kandungku. Ibuku sudah meninggal," Sazi tertunduk berusaha untuk tersenyum, namun air matanya mengalir, menangis sesenggukan.


Rasa sakit yang masih ada hingga kini, mengingat perlakuan wanita yang dicintainya dengan tulus, wanita yang selalu menepis kasih sayangnya. Bukan ibunya? Mungkin ini lebih baik, dirinya dapat mengetahui segalanya.


Rion menarik tubuh istrinya, memeluknya."Masih, ada aku..."


Tiga kata yang membuat Sazi menangis semakin kencang, mengeluarkan semua rasa sakitnya.


Semuanya sama, lima tahun yang lalu dan sekarang, mungkin hanya satu perbedaan yang membatasi. Membuat dirinya merasa lebih tenang dengan kondisi kejiwaan yang stabil. Dirinya kini memiliki satu orang yang benar-benar mencintainya. Itu sudah cukup, sebagai tempatnya berlindung, bersandar di dada bidang suaminya. Jemari tangannya mencengkram sweater yang dikenakan Rion.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" suara hangat pemuda itu kembali terdengar, membelai rambutnya perlahan.


"Aku, berusaha menjadi keluarga dan tunangan yang baik selama bertahun-tahun. Di hari pernikahanku, pengantin pria tidak datang. Dia tidur dengan Alexa, aku yang seharusnya marah dan mengumpat. Tapi, mereka menampar dan menyalahkanku. Aku..." kata-kata Sazi mengatakan semua isi hatinya, terhenti.


Rion menghela napas kasar, ini sudah diduga olehnya. Alexa dan Dave akan menunjukkan hubungan mereka. Namun setelah tujuh tahun kepergian Rion? Bahkan di malam pertama?


Jika ingin dibuang, mengapa tidak saat dirinya ada? Kala masa SMU mereka. Jika saja dulu pertunangan itu tidak ada, atau Dave memutuskan pertunangannya lebih awal, mungkin Sazi tidak akan menolak untuk pergi dengannya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, seharusnya aku mau mengikuti rencana gilamu untuk melarikan diri..." ucap Sazi menatap mata suaminya.


"Kamu mencintaiku yang gemuk?" Rion berusaha menahan tawanya. Namun, wanita itu mengangguk terlihat serius.


"Aku mencintaimu, dasar bantet!! Setelah kamu menghilang aku mencarimu kemana-mana!! Seperti orang gila, menurunkan harga diriku!!" bentak Sazi memukul suaminya.


"Masih marah jika aku menciummu seperti dulu. Haruskah aku berusaha melarikan diri?" tanya Rion mengenyitkan keningnya.


Sazi menggeleng."Bantet..." gumamnya, menarik tengkuk Rion, meraih bibirnya. Perlahan mata pemuda itu terpejam, membalas pangutannya. Ciuman yang perlahan turun ke area leher.


"Nakal..." bisik Rion, tidak dipedulikan oleh Sazi. Pemuda yang tersenyum, menyesap gemas membuat beberapa tanda keunguan di leher istrinya.


***


Suasana makan malam terlihat tenang, Sazi mengiris daging di hadapannya, memakannya perlahan. Sesuatu yang tidak lepas dari pandangan Alexa, mencari celah untuk menghinanya, mengusirnya dari rumah ini, itulah tujuannya.


Hingga, matanya menatap hal yang aneh."Janda murahan, akan tetap menjadi janda murahan..." sindirnya melirik tanda keunguan di leher Sazi.


"Sazi ada apa dengan lehermu? Kenapa ada warna keunguan?" tanya Dini, menatap putri sambungnya, berharap dugaannya salah. Dave menyelinap ke kamar Sazi kemudian melecehkannya.


Sazi menyuapi mulutnya dengan daging, kemudian berucap."Rion yang melakukannya,"


Satu jawaban yang membungkam mulut semua orang sejenak, tidak dapat berkata-kata dengan jawaban mantan pasien rumah sakit jiwa.


"Apa Dave?" tanya Dini perlahan.


"Bukan aku, apa Andres? Dasar psikolog b*jingan!" bentak Dave, hendak menyerang Andres.


Andres menelan makanannya, melirik ke arah Sazi. Entah dengan b*jingan dari mana istri kaisar bucin berselingkuh. Namun, melindungi wanita busuk ini adalah tugasnya, jadi...

__ADS_1


"Sabar dulu, Sazi baru mengkonsumsi obat dua jam lalu. Obat yang harus dikonsumsi dalam kondisi mental tertentu, tanda keunguan biasanya karena efek obat. Memperlambat aliran darahnya, jadi beberapa tanda keunguan memang akan timbul, terkadang di punggung bahkan tangannya. Efek lain dari obat tersebut juga delusi, mungkin karena itu dia mengatakan tentang Rion..." ucap Andres meyakinkan, bagaikan playboy yang ketahuan berkencan dengan wanita lain. Membuat alasan kerja kelompok, agar pacarnya tidak marah.


Dan benar saja kedua pacar Andres, maaf salah Thanos dan Grandong, maaf salah lagi Dini dan Dave mulai jauh lebih tenang. Dave melepaskan Andres mulai kembali duduk di kursi meja makannya.


Alexa tiba-tiba menatap tajam pada Andres dan Dave."Ini cuma kebohongan kan!? Salah satu dari kalian berdua sudah digoda oleh wanita ular tidak tau diri ini! Dia seperti wanita bayaran yang tidur dengan setiap pria!"


Andres terdiam sejenak, meletakkan garpunya."Coba kamu fikirkan baik-baik. Supir dan pelayan pria ada di lantai satu. Aku latih tanding tenis meja seharian, sedangkan Dave di ruang kerjanya, juga di lantai satu, hanya keluar untuk minum,"


"Hanya Sazi, ibumu dan pelayan wanita yang ada di lantai dua!! Kamu fikir, ada hantu tampan yang melakukan kontak fisik dengannya? Atau kamu juga ikut-ikutan mengalami delusi, menganggap hantu orang bernama Rion menyelinap ke dalam kamar Sazi!?" sindir Andres, menggelengkan kepalanya heran.


"Aku..." kata-kata Alexa terhenti sejenak, dirinya memang tidak memiliki pembelaan. Tapi tanda di leher itu nyata, seseorang telah membuatnya entah siapa.


"Sudah-sudah! Jangan fikirkan, besok adalah acara pembukaan kantor cabang. Kalian semua harus hadir, termasuk Sazi, dia akan aku dandani..." Dini tersenyum, membelai pucuk kepala wanita itu."Sazi, sekarang saatnya, kamu memasuki pergaulan kalangan atas. Temukan pria yang dapat membahagiakanmu,"


Senyuman yang sejatinya aneh, tujuan Dini? Besok adalah saat terbaik baginya menggeledah villa pribadi milik Fredric dan sang pengacara. Mencari tempat surat wasiat asli tersimpan.


Setelah semuanya kembali, maka dirinya dapat dengan mudah menyingkirkan Alexa dan Fredric yang mulai tidak berpihak padanya. Tinggal dengan Sazi sang putri penurut yang hanya dimilikinya.


"Ibu, aku ingin kembali ke kamar, Rion sudah lapar..." gumam Sazi tertunduk, meraih piring mengambil nasi lauk dan sayuran.


Semua orang menghela napasnya dalam-dalam, protes pada orang tidak waras juga tidak bisa. Yang waras harus banyak-banyak bersabar dan mengalah, mungkin moto itu masih ada di benak mereka kini.


Tapi tidak dengan Andres, pemuda itu menatap tajam. Efek obat? Mengalami Delusi? Sazi telah sembuh total, tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan. Jadi perselingkuhan macam apa yang dijalani wanita sialan ini.


Jika Rion dan Hikaru mengetahui hubungan perselingkuhan Sazi, mungkin dirinya harus bersiap-siap melarikan diri. Sebelum menerima siksaan fisik dari Hikaru.


Wanita yang berjalan menuju lantai dua, membawa sepiring makanan dan air putih. Langkahnya diikuti Andres, hingga wanita itu memasuki kamarnya, menutup pintu rapat-rapat.


Andres menempelkan telinganya mendengar baik-baik, mencari kebenaran suara perselingkuhan. Suara dari adegan panas yang diharapkannya. Bagaikan seorang suami yang harap-harap cemas, berharap istrinya tidak berselingkuh, namun juga penasaran ingin mendengar suara perselingkuhan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2