
Rion menatap ke arah jendela berembun. Setelah menjelaskan masa lalu Sazi, sedetail-detailnya, pada bawahan Hikaru. Dirinya menunggu di depan pintu, tidak melihat ke dalam secara langsung.
Sedetail-detailnya? Hanya sepengetahuan Rion saja, sejatinya. Dan keterangan perawat rumah sakit jiwa, dimana Sazi diceraikan setelah malam pertama. Pemuda yang menunggu dengan sabar, ingatan apa saja yang dipotong dan ditanamkan ke dua orang br*ngsek itu. Kedua orang yang sudah berada berjam-jam di dalam kamar Rion bersama Sazi.
Hingga...
Pintu perlahan terbuka, Aran (mantan bawahan Hikaru) menghela napas kasar keluar dari ruangan. Menatap ke arah Rion.
"Apa Sazi sudah sembuh?" tanyanya, terlihat antusias.
"Seharusnya sudah, sebentar lagi dia akan bangun..." jawaban dari Aran, pria yang memakai setelan jas hitam.
"Terimakasih, seperti janjiku, paspor, visa, dan sebuah kediaman serta uang tunai," ucap Rion meraih sebuah koper yang memang sudah disiapkannya. Sebagai syarat membantunya menyembuhkan Sazi. Menyediakan akomodasi bagi Aran yang ingin melarikan diri dari kelompoknya.
Aran meraihnya, bersamaan dengan Rion yang mulai melangkah menuju kamarnya, meninggalkan mereka.
Dua orang pria berjalan pergi menelusuri lorong rumah yang tidak begitu besar...
Aran menghela napas kasar."Ingatan tentang pernikahannya sulit untuk di hapus. Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kita menggunakan fotonya (Rion) sebagai pengganti mempelai pria dalam pernikahan?"
Hikaru masih setia tersenyum cerah namun terlihat ganjil."Kejutan untuknya, aku ingin tau, apa dia dapat bertahan digoda seorang wanita setiap malamnya, untuk berhubungan badan..."
"Ketua, kamu banyak berubah..." Aran tertawa kecil, menepuk bahu Hikaru.
Hikaru tiba-tiba menatap tajam padanya dengan senyuman yang memudar. Tatapan yang bagaikan ingin menelannya bulat-bulat.
"Maaf..." ucap Aran ketakutan, lebih menjaga sikapnya.
Kedua orang pemuda itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Mengantar Aran menuju bandara. Pemuda yang dahulu juga bagian dari kelompok yang diketuai oleh Hikaru. Kini setelah Hikaru memutuskan untuk berhenti membunuh, keluar dari kelompoknya, kelompok itu kini diketuai oleh orang lain.
Ketua yang memiliki ideologi sendiri, bertentangan dengan Aran, yang ingin melarikan diri atas bantuan Hikaru.
***
Ingatan baru yang ditanamkan? Mimpi indah yang menjadi nyata. Dirinya menikah dengan seorang pemuda bernama Rion, nama yang sama dengan sahabatnya yang telah tiada.
__ADS_1
Ingatan seusai pernikahan memudar, hanya satu yang diingatnya. Dirinya tengah menunggu mempelai prianya di dalam kamar.
"Sazi..." suara lembut seseorang membangunkannya.
Perlahan matanya terbuka, seorang pemuda rupawan terlihat disana, tersenyum menatapnya.
"Kamu sudah bangun?" ucap pemuda itu lagi, wajah yang sama dengan mempelai pria dalam ingatannya.
Wajah Sazi tiba-tiba memerah, segera bangkit, menatap ke arah lain. Takut dan tegang, ini malam pertamanya bukan?
"Apa kamu sakit?" Rion kembali bertanya, menyentuh dahi Sazi dengan tangannya, mengamati tingkah dan wajannya yang memerah.
"A ...a...aku aku tidak tau caranya. Jadi..." wanita itu terlihat tertunduk ragu, masih malu-malu.
Sedangkan Rion mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar. Ingatan macam apa yang mereka tanamkan hingga wajahnya memerah... batinnya.
"Cara apa?" Rion semakin mendekatinya.
"Kamu membuatku malu," Sazi berteriak, tersenyum, menggulung dirinya dengan selimut.
Jantung Sazi berdegup cepat, keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Tapi dirinya benar-benar tidak dapat mengingat bagaimana dapat berakhir menikah dengan pemuda ini. Yang diingatnya hanya mengucapkan janji suci dengannya.
Pemuda yang merangkak semakin mendekatinya. Hingga kini berada di atas tubuhnya. Dua pasang mata yang saling menatap."Cara apa?" tanya Rion lagi.
"Ki...kita baru saja menikah, jadi wajar saja kalau kamu meminta hakmu. Ayo lakukan..." Sazi melepas selimutnya, menutup matanya, memanyunkan bibirnya.
Tapi tidak ada yang terjadi, Rion hanya diam, mengenyitkan keningnya."Dua b*jingan itu..." geramnya, mulai bangkit dari tempat tidur.
Namun baru selangkah, tangan halus seorang wanita menghentikannya.
"Maaf, tapi aku benar-benar takut dan tidak berpengalaman. Aku ingin belajar..." Sazi tertunduk, masih duduk di atas tempat tidur, rambut hitam lurusnya yang tergerai, kulit putih mulusnya. Serta bagian mini dress yang sedikit berantakan, memperlihatkan bahu dan pahanya.
Rion terdiam sesaat, jemari tangannya gemetaran."A...aku harus pergi..." ucapnya gelagapan, jantungnya berdegup cepat, adrenalin yang benar-benar terpacu kala menatap pemandangan yang benar-benar membuatnya kehabisan kata-kata.
Tempat tidur dengan sprei putih, dengan wanita cantik memohon untuk diterkam di atasnya.
__ADS_1
Sazi tertunduk air matanya mengalir entah kenapa. Mungkin karena merasa terluka, tentang kata-kata tidak mencintai yang masih terbayang. Walaupun dirinya tidak dapat mengingat, siapa orang-orang yang tidak mencintainya."Kamu tidak mencintaiku? Karena aku tidak berpengalaman dan sempat menolakmu?"
Rion menghela napas kasar kembali duduk di tepi tempat tidur kemudian tersenyum. Mengikuti apapun yang diucapkannya."Aku mencintaimu, karena itulah aku menikah denganmu. Malam pertama adalah sesuatu yang menyakitkan, karena itu aku tidak ingin kamu terluka..." alasannya memeluk tubuh Sazi, merebahkan dirinya bersama dengan wanita itu.
"Kamu tidak marah?" tanya Sazi lagi.
Rion menggeleng, menghapus air matanya."Tidak, tidurlah..." ucap Rion mengecup pipinya.
Seseorang yang berstatus janda tidak tersentuh. Itulah sejatinya identitasnya, identitas yang tidak diketahuinya. Mendekap tubuh Rion erat, menganggap pria ini adalah suaminya. Menghirup aromanya sebanyak-banyaknya ingin merasakan kenyamanan dalam dekapannya.
Dia memelukku, bagaimana ini... batin si anak katak, merasakan celananya mulai sempit. Benar-benar sial baginya, hanya karena kedua orang br*ngsek, yang membuatnya ada dalam situasi hidup dan mati.
***
Matahari belum juga terbit dari ufuk timur. Harum aroma kopi tercium, serta pan cake dengan parutan keju, dilumeri mapple sirup. Sarapan yang sudah berada di atas meja, samping tempat tidur.
Pintu lemari dibuka, setelah jas disiapkan dengan warna senada. Ditambah dasi dan aksesoris berupa jam tangan yang diambilnya dari rak. Memilih yang sesuai dengan rupa suaminya.
Perlahan mata Rion terbuka, tempat tidur di sebelahnya kosong. Dengan cepat dirinya bangkit, hingga menghela napas lega. Wanita yang dicintainya kini tengah mengemasi laptop serta mouse-nya memasukkan ke dalam tas, tersenyum menatap ke arahnya.
"Rion, kamu sudah bangun!?" Sazi tersenyum padanya.
Dengan cepat Rion segera bangkit, mendekati wanita yang tersenyum padanya, kemudian mencium pipi Sazi."Apa yang kamu lakukan? Aku panik, mencarimu, mengira kamu menghilang..."
"Mempersiapkan segala keperluanmu ke kantor. Asistenmu yang bernama Hikaru, mengatakan kamu harus segera kembali ke dunia nyata, setelah dengan puas menyemai benih..." kata-kata polos dari Sazi.
"Br*ngsek..." gumam Rion dengan suara kecil.
"Kamu bilang apa?" tanya Sazi tidak mendengar dengan jelas.
"Aku bilang, aku mencintaimu, hanya mencintaimu..." jawabannya, mengecup bibir Sazi. Kemudian bersiap melarikan diri, menerima amarahnya."Maaf!!" ucap Rion mengambil handuk dan jubah mandi, berlari ke dalam toilet. Takut akan amukan Sazi.
Sementara wanita itu tertegun diam, meraba bibirnya."Dia menciumku?" gumamnya melompat-lompat kegirangan, bagaikan menemukan stiker berhadiah mobil dalam bungkus deterjen.
Bersambung
__ADS_1