Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Bucin Tingkat Dewa


__ADS_3

Senyuman menyungging di wajah seorang wanita. Beberapa tamu undangan telah tiba memberi selamat padanya. Inilah pesta penyatuan dua perusahaan. Perusahaan milik Gerald dan perusahaan keluarga yang diwariskan padanya.


Matanya menelisik mengamati kedua adiknya yang berada berdua di sudut ruangan. Sedangkan dirinya kini dielu-elukan, bahkan hari ini adalah pengumuman rencana pernikahannya dengan Mark. Mengingat tentang perutnya yang cepat atau lambat akan membesar.


Benar, dirinya tengah mengandung saat ini. Wajahnya tersenyum, hidup yang sempurna telah menantinya. Memiliki calon suami dengan wajah rupawan dari keluarga konglomerat.


Cepat atau lambat Gerald juga akan mewariskan perusahaan untuk dirinya dan Jameson. Hingga dirinya mendekat menatap ke arah kedua adiknya yang tengah berbicara dengan seorang wanita.


"Kamu dari keluarga mana?" tanya Leony menatap ke arah Sazi yang memakai pakaian desainer ternama. Hasil karya salah satu sahabatnya saat tinggal di Eropa.


"Aku Sazi, anak kandung Herry pemilik F&S company," jawabnya tersenyum.


Leony menghela napas kasar memijit pelipisnya sendiri."Siapa yang memberimu undangan? F&S company, aku hanya mengundang Alexa sebagai basa nasi. Alexa yang pewaris asli perusahaan keluarga kalian saja, tidak pantas hanya sekedar mengelap sepatuku. Ini? Pasien rumah sakit jiwa yang datang..." cibirnya, mengetahui semua tentang Sazi. Yang dulu sempat menjadi bahan pembicaraan kalangan atas.


"Kakak jangan menghina orang! Kakak sendiri menjualku untuk..." kata-kata yang ingin keluar dari mulut Queen dihentikan Sazi.


Wanita yang tersenyum dengan tenang."Aku datang sebagai pendamping Grim, pengusaha yang memiliki perusahaan di Eropa. Ini undangan yang datang ke perusahaan milik pasanganku. Dia terlalu sibuk, jadi akan datang di pertengahan acara."


"Grim? Aku hanya pernah mendengar namanya. Dia baru merintis perusahaannya, lumayan juga dengan wajah dan tubuhmu menjadi gundik pengusaha muda..." cibir Leony kembali.


Status? Dirinya tidak pernah bertemu dengan Grim. Namun yang pasti apa yang dimiliki keluarganya mungkin 4 kali lipat dari yang dimiliki Grim saat ini. Pasalnya dinasti keluarga pengusaha yang telah merintis usahanya secara turun temurun. Tidak dapat dibandingkan dengan seseorang yang merintis usaha kurang dari 10 tahun.


Hingga Alexa yang baru datang mendekati mereka. Menjadi penjilat kalangan atas? Memang itulah yang dari dulu dilakukannya. Status Leony yang jauh lebih tinggi darinya, mungkin dapat menjanjikan kerjasama dan kedudukan padanya.


Perlahan dirinya mendekat."Nona Leony? Anda mungkin tidak mengingatku, aku Alexa..." ucapnya penuh senyuman.


"Aku ingat, kamu yang datang ke kantorku bersikeras kita saling mengenal, membuat keributan untuk melancarkan tender bisnis kan?" Leony menghelat napas kasar.


Alexa mengepalkan tangannya. Benar-benar sombong, namun statusnya yang hanya pemilik perusahaan almarhum Hery memang lebih rendah. Hanya dapat tersenyum."Iya, mau minum di sana? Kita dapat berbincang tentang tempat kuliner di Singapura, dan ..."


"Kamu mengenalnya? Kalian saudara sepupu bukan?" tanya Leony pada Alexa, menunjuk ke arah Sazi.


Perhatian Alexa beralih menatap tajam ke arah Sazi."Aku mengenalnya, dia mantan pasien rumah sakit jiwa. Wanita yang durhaka pada ayahnya hingga tidak mendapatkan warisan. Tidur dengan banyak pria, hingga diceraikan di malam pertama..." dustanya.


Sazi berusaha tersenyum, dirinya benar-benar kesal saat ini. Namun dirinya harus tetap terlihat bermartabat, bukan?


"Dia mengaku sebagai pasangan dari Grim. Jadi benar-benar hanya gundik?" Leony menghela napas kasar kemudian tersenyum."Kedua adikku memang pintar memilih teman. Cepat atau lambat kalian tidak akan berguna lagi bagi ayah ..."


"Omong-omong ada beberapa pengusaha kaya yang ingin menghabiskan malam dengan Desi. Hanya makan malam, balas budilah pada ayah yang sudah menjadikan kalian yang bodoh hidup seperti bangsawan..."lanjut Leony.


Desi yang masih di bawah umur 20 tahun gemetaran. Dirinya ketakutan, bayangan tentang kelamnya dunia artis tanpa bakat terasa. Kala beberapa agensi menjual tubuh selebriti baru yang ingin populer dengan cara instan. Sedangkan dirinya yang memiliki bakat sejak lahir dan dengan dukungan Margaretha dapat menempuh jalan lebih mudah tanpa melewati jalan suram.

__ADS_1


Dan kini dirinya harus menjual tubuh pada pengusaha demi perusahaan keluarga? Tidak dapat melawan, berusia terlalu muda. Wanita itu hanya tertunduk dengan air mata menggenang.


Sazi melirik ke arah adik iparnya yang memang sempat dikenalkan Rion sebelum pesta berlangsung. Dirinya anak tunggal, memimpikan memiliki saudara. Namun Leony menjual adiknya untuk perusahaan. Jemari tangannya mengepal, namun wajahnya tersenyum.


Queen tiba-tiba menggenggam jemari tangannya, kemudian menggeleng. Agar Sazi tidak membuat keributan.


Otak yang panas, jika tidak dapat didinginkan akan meledak. Wanita itu menghela napas kasar. Berniat mencuci wajahnya di toilet wanita, guna mendinginkan otaknya yang panas.


"Aku permisi ke toilet sebentar, nona Leony..." ucapnya tersenyum.


"Em..." hanya itu jawaban dari Leony, tersenyum menghina pada kedua adik perempuannya. Pihak yang berseberangan kedua adik yang selalu membela ibu mereka dan dirinya yang selalu berpihak dan dimanjakan Gerald.


***


Suara air keran wastafel terdengar, Sazi mencuci wajahnya berkali-kali. Benar-benar mendinginkan otaknya. Dua orang yang dibencinya ada di sana. Bagaimana bisa dua orang keji berkumpul?


Tidak dapat melawan. Status sosial Leony memang jauh lebih tinggi. Tidak juga memiliki keberanian, mengingat puluhan bodyguard ada di sana di setiap pintu. Dirinya hanya akan berakhir disiram air, kemudian diseret bodyguard milik keluarga Leony.


Hingga...


"Emggh....hah..." suara yang cukup kencang terdengar dari dalam salah satu bilik."Hikaru sudah ini tempat umum..." pinta seorang wanita.


Duduk di toilet yang tertutup, bahkan menahan napasnya sendiri agar keberadaannya tidak ketahuan.


Brak ...


Suara pintu bilik terdengar, pemuda rupawan tersenyum menyeringai keluar. Menyeka sisa lip gloss dari bibirnya, hanya ciuman panas? Mungkin itulah yang dilakukannya pada Hany yang tengah memakai pakaian pelayan.


Tidak membiarkan wanita itu melarikan diri lagi. Membawanya kemanapun, termasuk saat bekerja. Wanita yang masih takut dan ingin kabur dari Hikaru.


Tapi namanya juga, 'untung masih cinta.' Mau, maunya saja diciumi, bahkan saat malam datang tidak kuasa menolak kala pria itu menginginkan anak ke dua. Kenapa belum menikahinya? Hikaru menunggu situasi benar-benar dapat dikendalikannya. Tidak ingin nyawa Hany dan putranya terancam lagi.


"Hanya ciuman, dasar pelit..." candaan dari Hikaru tersenyum pada seorang wanita yang kini berpakaian pelayan.


"Ini toilet wanita. Tempat umum! Jika ketahuan bagaimana!? Walaupun hanya berciuman, aku malu!! Dasar muka kaku..." cibir Hany kesal.


"Walaupun kaku kamu tetap menyukaiku kan? Mau menonton video dewasa nanti malam? Sekalian kita praktek..." ucap Hikaru gemas.


Sazi sedikit mengintip, tulang kering Hikaru di tendang sang wanita berpakaian pelayan. Namun pemuda itu tertawa lepas, tidak bergeming sedikitpun."Jangan marah..." tawanya terdengar bercanda dengan Hany.


Sazi yang berada dalam salah satu bilik toilet membulatkan matanya. Inikah gaya Hikaru saat bertemu dengan kekasihnya. Dari pria kejam dan dingin menjadi Teletubbies jinak.

__ADS_1


Dan apa itu, ditendang pun pria itu tidak marah. Malah terlihat semakin manja."Bucin tingkat dewa ..." gumam Sazi dengan suara kecil.


"Siapa itu!?" suara bentakan Hikaru, merasa ada seseorang disana. Benar-benar intuisi yang kuat.


Hingga Hany menariknya, memegang lengannya."Kenapa!? Kalau ada orang kamu mau membunuhnya!? Kamu yang salah masuk ke toilet wanita mengikutiku!! Sebaiknya kita pergi!! Aku tidak ingin lebih malu lagi ..." geramnya melangkah diikuti Hikaru.


Sazi yang berada dalam bilik toilet mati-matian menahan tawanya. Sejenak tersenyum, menemukan ide membalas penghinaan Alexa dan Leony.


***


Matanya menelisik mengamati Leony masih berada di sana di dekat adiknya dan Alexa. Tengah berbicara dengan beberapa investor asing.


Dirinya mulai melangkah mendekati Hany yang memakai pakaian pelayan."Tolong ambilkan selusin gelas red wine. Antarkan ke sana. Harus kamu yang mengantarkannya, nanti aku beri imbalan..." pintanya, menyodorkan lima lembar uang ratusan dollar.


Hany yang tidak mengenal Sazi mengangguk, tidak mengerti maksud wanita ini. Yang jelas uang sudah di tangan. Dapat dipergunakannya nanti untuk melarikan diri dari Hikaru.


Beberapa saat kemudian Sazi telah berada di sana, dekat dengan Leony. Sedangkan Hany berjalan mendekat membawa sebuah nampan, berisikan selusin gelas red wine.


"Taruh di sana!" perintah Sazi yang berada di dekat Alexa dan Leony tersenyum. Menunjuk ke arah meja didekat mereka.


Hany berjalan beberapa langkah hingga kaki panjang Sazi menjegalnya. Membuatnya terjatuh, menumpahkan red wine ke gaun yang dikenakan Alexa dan Leony.


Dengan cepat Sazi menoleh ke arah lain, menjauh menahan senyumannya."Yes!" gumamnya dengan suara kecil, berhasil menjalankan rencana awal.


Dan kini drama wanita teraniaya dimulai...


"Maaf, aku tidak sengaja ada yang menjegalku..." ucap Hany meminta maaf, berusaha membersihkan pakaian Leony menggunakan tissue.


Plak...


Satu tamparan melayang ke arah pipinya, memunculkan bekas kemerahan di sana. Leony tersenyum, meraih tissue membersihkan tangannya seolah jijik setelah menampar Hany.


"Wanita tidak tau diri!!" bentak Alexa menjambak rambutnya."Kamu tau harga gaunku dan gaun nona Leony!? Bekerja seumur hidup juga kamu tidak dapat membayar!! Bahkan jika menjual ginjal dan kornea matamu! Tidak akan bisa mengganti gaun kami..."


Sazi terdiam penuh rasa bersalah, dirinya hendak mendekat menghentikan segalanya. Mengingat Hikaru yang tidak terlihat berada di sana.


Namun, langkahnya terhenti...


Seorang pemuda melangkah dengan raut wajah bagaikan ingin mencabik-cabik mangsa di hadapannya."Ginjal dan kornea ya? Mungkin jika jantungmu di congkel harganya lebih mahal..." ucapnya tersenyum ganjil.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2