
Menyembunyikan kehamilannya, itulah yang dilakukan Sazi. Wajahnya tersenyum, sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu. Namun, dirinya harus mengumpulkan kekuasaan sedikit demi sedikit, mencari seseorang yang memiliki kemampuan di bidang bisnis.
Jemari tangannya bergerak cepat mengetikkan sesuatu di komputernya. Hingga..."Hah.... membosankan..." gumamnya, inilah yang mungkin terjadi saat anak IPS, masuk ke kelas anak IPA.
Dirinya tidak mengerti kenapa Rion dapat bekerja dengan begitu serius. Dapat menghasilkan uang dalam jumlah yang besar. Pria yang selalu mengerjakan segalanya dengan cepat. Mata tajam yang serius, tidak terlihat senyuman sedikitpun. Wajahnya tiba-tiba memerah, merindukan wajah tampan suaminya kala sedang serius bekerja.
Apa dirinya sudah ketahuan? Entahlah, tapi yang jelas Rion akan bahagia mengetahui anak kataknya sudah berkembang.
"Ini..." ucap Gigi tersenyum, seorang wanita paruh baya yang satu bulan ini bekerja menjadi office girl."Kamu menyukai manisan buatan ibuku kan?"
"Suka sekali..." dengan cepat Sazi mengangguk, manisan yang entah kenapa cita rasanya dengan mudah menghilangkan rasa mualnya."Ibu bibi, pasti sudah sangat tua,"
Gigi tersenyum, membelai rambut Sazi."Dia sudah tua, tapi cukup sehat. Ini resep turun temurun keluarga kami. Ayahku sangat menyukainya. Ibuku berkata semua generasi pria yang mewarisi keluarga akan menyukainya..."
"Aku tidak boleh memakannya lagi," Sazi meletakkan kembali, menelan ludahnya menatap manisan yang begitu menggoda.
"Itu hanya legenda keluarga, aku juga tidak percaya. Saat aku hamil bahkan melahirkan anak perempuanku, aku tidak menyukai ini..." ucap tertawa kencang, kembali menyodorkan manisan pada Sazi.
"Kalau begitu aku tidak sungkan," ucap Sazi mengambil kotak bekal yang dipenuhi manisan."Bisa buatkan lebih banyak lagi, aku akan membayarnya,"
Gigi tersenyum mengangguk pelan. Sejenak perhatiannya beralih pada komputer milik Sazi."Belum selesai juga?" tanyanya.
Sazi mengangguk, memakan manisannya."Aku tidak suka mengerjakan pekerjaan membosankan setengah mati seperti ini! Aku lebih suka melukis..."
Gigi menghela napas kasar,"Konsep proposal pemasaran yang kamu buat salah. Aku bisa membantumu. Tapi hanya saat waktu istirahat makan siang,"
Dengan cepat Sazi mengangguk, membayar berapapun tidak apa-apa. Yang jelas tangannya sudah gatal ingin memegang kuas."Begini saja, jika bibi bisa mengerjakannya. Bibi boleh berhenti menjadi office girl. Kerjakan semua pekerjaanku, di apartemen milikku. Ajak ibu bibi sekalian tinggal di apartemenku, khusus membuatkan manisan untukku. Aku akan membayar kalian dengan gaji tinggi..."
Akal bulusnya keluar, dirinya dapat mencari alasan kondisi psikologisnya pada Dini nantinya untuk bekerja melalui apartemen. Padahal, Gigi mengerjakan pekerjaan kantornya. Sedangkan dirinya melukis sambil memakan manisan. Benar-benar kehidupan yang sempurna.
Tapi kenapa dirinya begitu menyukai manisan ini? Entahlah, yang jelas semenjak memakannya dirinya tidak mual dan bisa makan. Bayi katak yang mungkin juga tumbuh sehat di rahimnya.
***
__ADS_1
Sore menjelang, Gigi benar-benar dapat mengerjakan segalanya. Wanita yang hampir menginjak usia paruh baya itu terlihat ragu sejenak.
"Bagaimana, gaji satu bulan dimuka? Manager sangat puas dengan rencana pengembangan produk yang aku susun. Tidak akan ketahuan, apartemen tempatku tinggal cukup luas, memiliki tiga kamar. Asal bibi jaga rahasia," ucap Sazi penuh harap, menyodorkan cek senilai puluhan juta.
Tangan Gigi gemetar dirinya memang sangat memerlukan uang dan tempat tinggal tetap saat ini, meraih nilai cek yang jauh lebih tinggi dari gaji staf biasa."Tapi kamu dapat uang darimana untuk menggajiku?" tanyanya, mengingat gaji Sazi yang tidak seberapa.
"Aku mempunyai beberapa galeri di negara lain. Harga lukisanku juga tidak buruk..." ucapnya tersenyum, membukakan pintu mobilnya untuk Gigi.
"Kalau begitu, kenapa memaksakan diri bekerja di kantor?" Gigi bertambah tidak mengerti.
"Perusahaan ini adalah milik almarhum ayahku. Karena itulah aku ingin merebutnya kembali," kata-kata dari Sazi, mulai melajukan kendaraannya dalam kecepatan sedang. Tidak sabaran rasanya, memiliki seseorang di apartemennya yang sepi."Aku berharap ini akan selesai sebelum anakku lahir..." gumamnya mengelus perutnya yang rata.
"Apa orang Spanyol itu suamimu?" Gigi yang beberapa kali melihat keberadaan Andres mengenyitkan keningnya, curiga.
Sazi menggeleng."Suamiku hanya si bantet sederhana, yang baik hati..."
***
Inilah yang dilakukan Andres saat ini, melajukan mobilnya sambil menyesap permen dengan harum dan aroma kopi asli. Berusaha menghilangkan kantuk yang menderanya. Permen kopi dengan rasa yang membuat kantuk perlahan menghilang.
Dua mobil yang melaju bersamaan memasuki gerbang rumah yang cukup besar.
Andres perlahan menyusul langkahnya."Aku sudah mencari data tentang pengacara perusahaan milik almarhum ayahmu. Hasilnya dokumen korupsi yang dilakukan Alexa tidak ada sama sekali. Surat wasiat yang asli juga kesulitan aku temukan,"
"Tidak ada hasil?" tanyanya, menahan rasa kecewa dirinya tidak dapat kembali ke Spanyol dengan cepat.
Hingga Sazi melangkah memasuki rumah, langkahnya terhenti menatap ke arah ibunya yang duduk berbincang dengan seorang pemuda. Benar-benar seorang ibu yang berniat menjual anaknya... itulah yang ada di fikiran Sazi saat ini, berusaha untuk tersenyum.
Anak dari pengusaha yang lumayan terkemuka. Duda satu anak yang bercerai karena kasus kekerasan dalam rumah tangga pada mantan istrinya. Kini tengah berbincang dengan Dini. Selisih usia? Jangan ditanya lagi, pastinya belasan tahun lebih tua dari Sazi.
"Bagaimana ini...?" gumam Sazi bingung, yang masih berada di pintu utama. Belum sepenuhnya masuk.
Andres yang berada di sampingnya menghela napas kasar."Biar aku saja..." gumamnya tersenyum, menarik Sazi keluar kembali ke teras. Kemudian mengambil foto selfi, mereka berdua."Jika ingin selamat, kita harus terlihat mesra..." ucapnya, menatap Sazi yang ragu.
__ADS_1
Akhirnya Sazi berusaha tersenyum, dengan pipi yang menempel pada pipi Andres. Mengambil foto ala remaja yang pacaran."Bagus..." ucap Andres, mengirim foto pada Dave, dengan pesan,'Sazi-ku tersayang,'
Wajahnya menahan senyuman, sudah dipastikan ketika menyalakan kompor, air akan memanas.
"Kamu mengirim pada Rion? Bagaimana jika dia kesini. Satupun rencanaku belum berhasil..." keluh Sazi, berusaha merebut phoncell Andres.
"Tidak, sebaiknya kita masuk. Akan ada pertarungan baru, antara Ge...ge..." kata-kata Andres terhenti dirinya benar-benar lupa.
"Grandong? Kamu mengirim pada Dave? Sudah aku bilang dia tidak akan peduli, dari dulu yang disukainya Alexa..." Sazi memijit pelipisnya sendiri.
"Kita lihat saja, bagaimana Thanos melawan Grandong..." tawa Andres terdengar, menarik tangan Sazi masuk.
***
Sementara itu di area kedatangan penumpang. Seorang pemuda melewati post keamanan, menarik koper kecil. Melangkah cepat, menunduk menggunakan topi hitam, serta kacamata hitam.
Pemuda yang berjalan dengan wajah pucatnya. Menggunakan paspor aslinya sebagai Rion, bukan paspor dengan identitas Grimm yang kini masih dibawa Hikaru.
Dirinya mengetahui ini berbahaya, menunggu bualan Hikaru yang akan membawanya kesini? Itu hanya janji palsu, dirinya akan dikurung di Malaysia. Kemudian Hikaru pergi seorang diri, menyeret paksa Sazi ke hadapannya.
Sesuatu yang sudah diduga olehnya. Memastikan dengan mata kepalanya sendiri Sazi sudah bahagia? Hanya itu tujuannya kembali. Tidak ingin Hikaru menyeret paksa Sazi ke hadapannya, memaksakan mereka untuk bersama.
Beberapa orang memakai pakaian serba hitam terlihat, membawa foto seorang pemuda. Membandingkan wajahnya dengan para penumpang yang baru turun dari pesawat.
Rion tertunduk, bergerak dengan cepat menuju toilet pria. Mengganti pakaiannya, dengan pakaian kasual, meninggalkan kopernya yang hanya berisikan pakaian.
Melangkah dengan pasti, melewati orang-orang yang tengah membawa foto dirinya ketika SMU. Kenapa harus meninggalkan kopernya, karena dirinya ingin bergerak seolah-olah tengah menjemput seseorang, bukan baru saja turun dari pesawat.
Melambaikan tangannya pada warga negara asing yang baru datang. Berkenalan dan berjalan dengannya, menghindari kecurigaan orang-orang.
Perbedaan wajah, perbedaan tujuan seolah menjemput seseorang, membuat dirinya sama sekali tidak diperiksa dan dicurigai oleh pembunuh bayaran yang mendapatkan informasi kedatangan seseorang bernama Rion. Informasi yang mungkin didapatkan dari data maskapai yang diretas.
Pemuda yang kini berpisah dengan warga negara asing yang baru dikenalnya, di area depan bandara. Menyewa taksi, mencari tempat tinggal sementara.
__ADS_1
Bersambung