Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Spesial Episode


__ADS_3

🍀🍀🍀🍀 Kalau ada typo nanti aku revisi, maaf belum sempat baca ulang. Waktu makan siang sudah habis.🍀🍀🍀🍀


Derap suara sepatu pria terdengar melewati tangga. Perlahan berjalan melintasi lukisan besar yang mirip dengan wajahnya. Pemuda yang mengintip mengamati situasi.


Hingga situasi dirasakannya aman. Jemari tangannya memegang setangkai bunga, menghirup wanginya penuh senyuman.


Suara air shower terdengar, pertanda seseorang berada di dalam kamar mandi. Perlahan Rion membuka pakaiannya, berganti hanya mengenakan baju tidur berbentuk kimono saja. Duduk di tepi tempat tidur, bingung harus bagaimana. Sudah beberapa minggu mereka tidur hanya berpelukan. Alasannya? Sazi sempat mengalami kram perut.


Menunggu hingga melewati usia kandungan 3 bulan menjadi pilihan Rion dan saat ini, bisa dibilang adalah bulan ketiga. Aroma segar dari parfum yang terkesan maskulin tercium memenuhi aroma tubuhnya. Rambut pemuda itu masih sedikit basah, dengan piyama sedikit terbuka menampakan otot dada yang terlihat sempurna.


Pemuda itu tersenyum-senyum sendiri menanti kehadiran istrinya. Mawar biru masih berada di tangannya membayangkan kesenangan malam ini yang akan didapatkannya.


Hingga pintu mulai terbuka, Rion berpura-pura tidur menghadap ke arah lain. Namun, perlahan sedikit mengintip mengamati pergerakan wanita yang baru keluar dari kamar mandi.


Sinar lampu benar-benar redup saat itu. Sang wanita meraih hairdryer, hendak mengeringkan rambutnya. Hingga tubuhnya mulai dipeluk dari belakang.


Sang wanita membulatkan matanya, terkejut.


"Aku ingin..." bisik Rion. Tapi sejenak menyadari ada hal yang aneh. Benar-benar bukan ukurannya, bagaikan masih menerka-nerka apakah sandal jepitnya tertukar?


Tidak mungkin kan...


Tapi benar saja, dua orang yang merasakan keanehan, mulai saling menatap.


"A...aa.... Belinda kenapa kamu ada disini!?" teriak Rion mundur sekitar 3 langkah ke belakang.


"Dasar bos mesum!! Aku akan mengatakan ini pada Andres!!" teriak Belinda tidak kalah sengit. Walaupun Rion tidak melakukan apapun, namun tiba-tiba dipeluk dari belakang. Benar-benar membuatnya kesal.


Kegaduhan terdengar, dengan Andres yang tidak mengetahui situasi saat ini sudah bersiap-siap mengisi peluru di senjatanya. Diikuti Sazi yang baru akan naik dari ruang keluarga ke kamarnya.


"Tugasku adalah melindungimu. Tetap berada di belakangku! Mungkin saja Rion dan Belinda ada dalam bahaya saat ini. Mengingat suara teriakan mereka..." ucap Andres bersiap-siap menegang handel pintu.


Sazi mengangguk ketakutan, berada di belakang Andres saat ini.


Brak...


Suara pintu didobrak terdengar. Dua orang yang menoleh bersamaan ke arah pintu. Terlihat Andres menodongkan senjata, dengan mata menelisik mencari keberadaan musuh. Sedangkan Rion dan Belinda hanya terpaku dalam diam dan canggung.


"Ada apa? Apa ada yang menerobos masuk?" tanya Andres mengamati situasi ke balkon kamar Rion. Pria yang berkeliling bahkan mengecek ke kamar mandi.


"Ti... tidak ada apa-apa," jawaban dari Rion gelagapan. Bagikan pasangan yang kepergok berselingkuh, padahal tidak melakukan apapun.


"I...iya, tidak apa-apa," Belinda tertunduk, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, kemudian menyelipkan rambut di telinganya.


Sang kakak, salah maksudnya sang suami mengenyitkan keningnya, menyadari ada yang tidak beres dari tingkah mereka.


"Kalian berselingkuh?" tanya Andres memicingkan matanya curiga.


"Tidak"

__ADS_1


"Tidak"


Jawaban dari mereka bersamaan, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Tingkah yang benar-benar sama, ada apa sebenarnya dengan kedua orang ini?


Matanya menelisik, rambut Rion dan Belinda sama-sama setengah kering. Apa yang mereka lakukan?


"Kalian mandi bersama!?" pertanyaan lebih sensitif lagi terdengar dari mulut Andres. Membuat Sazi ikut-ikutan curiga.


"Tidak! Aku mandi di kamar mandi dekat kolam renang dan Belinda..." kata-kata Rion terhenti.


"Aku mandi disini, pakaianku kotor terkena minuman. Jadi..." ucap Belinda tertunduk ragu untuk menjelaskan.


"Jadi apa?" suara dingin menusukkan dari mulut Sazi. Benar-benar dua orang yang berada di tingkat cemburu yang tinggi.


"Aku ingin bicara berdua dengan Sazi. Kalian berliburlah malam ini ..." ucap Rion memijit pelipisnya sendiri. Bingung bagaimana harus menjelaskan, situasi yang benar-benar canggung.


Andres menatap tajam, satunya memakai jubah mandi, satu lagi memakai piyama. Dua orang yang tidak dapat dipercayai, apalagi dengan ketidak beradaan Hikaru.


Rion memang lebih rupawan dan kaya darinya. Pemuda yang hanya sibuk dengan tab dan laptop, berolahraga paling hanya joging dan sit up. Kulitnya bahkan lebih halus dari kulit wanita. Sedangkan dirinya? Andres mengamati penampilannya sendiri. Dirinya sering latihan fisik, memiliki banyak bekas luka.


Benar-benar baru menyadari, bentuk tubuh Belinda yang lebih menggoda dibandingkan Sazi. Mungkin saja, istrinya berselingkuh dengan bosnya. Haruskah dirinya membuat sinetron FTV dengan judul, Istriku ternyata adikku yang berselingkuh dengan bosku?


Sazi yang juga mulai memincingkan matanya curiga."Aku ingin tau hal yang terjadi, lebih baik jelaskan sekarang..."


"A....aku mengaku!! Ini kesalahanku! Aku kira yang berada di kamar mandi kamu. Lalu..." Rion tertunduk sesaat, bingung harus bagaimana. Dirinya tidak pernah pacaran, tidak pernah mengalami perselisihan dengan pasangannya. Dan kini situasi yang benar-benar canggung.


"A...aku juga salah, tidak seharusnya aku mandi sembarangan..." Belinda ikut-ikutan tertunduk bingung harus bagaimana. Benar-benar penuh rasa bersalah, dirinya hanya pernah dekat dengan Andres dan kali ini tertangkap basah dalam situasi yang benar-benar canggung.


Kedua orang itu menggeleng bersamaan, namun masih tertunduk.


"Kalian mandi bersama?" air mata Sazi hampir menetes, mencoba untuk tegar mendengar jawaban dari suaminya.


Kedua orang yang kembali menggeleng.


"Berciuman?" Andres kembali bertanya dengan hati yang sedikit lebih lega.


Kali ini Belinda yang lebih blak-blakan dari Rion yang menjawab."Kami tidak berciuman, tapi Rion memelukku dari belakang. Karena mengira aku adalah Sazi. Setelah itu kami berteriak bersamaan karena terkejut..."


Rion menghela napas kasar."Sandal jepitku tertukar..." gumamnya, melihat ke arah tiga orang yang menatap sinis ke arahnya."Hari ini kalian libur dari tugas mengawasi kami. Aku akan bicara pada Hikaru untuk mengganti tugas Belinda..."


Andres menatap tajam pada Rion seakan ingin menerkamnya. Inilah resiko memiliki majikan seumuran.


"Apa lihat-lihat!! Ini sudah cukup memalukan untukku!! Kamu tanya sendiri ke Belinda berapa pria yang sudah dia cium! Kamu juga! Berapa wanita yang sudah kamu rayu!!" ucap Rion komat-kamit bingung harus bagaimana lagi, mendapatkan tatapan menusuk dari tiga orang sekaligus."Aku hanya salah memeluk wanita sekali,"


"Tapi tetap saja kamu memeluknya! Dengan perutku yang masih rata saja kamu berani memeluk Belinda. Apalagi..." kata-kata Sazi terhenti.


"Aku minta maaf, aku bukan sengaja melakukannya..." Rion menghela napas kasar meninggalkan kamar.


Perlahan Andres menyadari kecemburuannya yang berlebihan. Sedikit melirik ke arah Belinda yang tertunduk. Tidak ada yang terjadi antara Belinda dan Rion. Itulah kenyataannya, namun dirinya dan Sazi yang menambah rumit keadaan. Jika semuanya, dimulai dengan bertanya baik-baik dan menganggap itu sebagai hal yang lucu, sebuah lelucon untuk ditertawakan semua tidak akan menjadi secanggung ini.

__ADS_1


Perlahan terdengar suara Sazi menangis, mengira dengan Rion meninggalkan ruangan pemuda itu tidak peduli padanya lagi. Belinda juga hanya terdiam, dan menunduk, tidak tau harus apa.


Ini adalah kesalahannya dari awal. Rion sudah berusaha untuk menjelaskan walaupun begitu canggung baginya yang tidak pernah dekat dengan wanita lain. Karena itu Andres mulai tertawa, mencairkan suasana."Jadi dia memelukmu? Aku tidak tau minus matanya ada berapa!?"


Plak...


Punggung Belinda ditepuknya."Padahal wajahmu dan Sazi jauh berbeda seperti sup buah dan sup sayur..." lanjutnya.


"Sup sayur!?" tanya Belinda.


"Sup buah!?" Sazi ikut-ikutan menoleh kesal.


Andres menghela napas kasar."Hati tergantung pada selera, aku jauh lebih menyukai sup sayur dari pada sup buah. Dan Rion lebih menyukai sup buah. Sama-sama memiliki kuah tapi memiliki rasa yang berbeda. Tanyakan pada Belinda, Rion segera mengenali dan menjauh kan? Walaupun dalam kegelapan?"


Belinda mengangguk."Rion berteriak lalu mundur, setelah mengetahui aku bukan kamu..."


"Itulah mengapa, aku bilang Rion tidak menyukai sup sayur. Dia menyukai sup buah, karena itu dia segera menghindar. Walaupun kamu tidak ada di sekitarnya. Dia menyayangimu, hanya dia yang cukup gila untuk menunggumu sembuh dari depresi bukan?" tanya Andres, membuat Sazi merasa lebih baik. Wanita yang mengangguk membenarkan, segera menghapus air matanya.


"Tapi Rion pergi dia tidak..." kata-kata Sazi terpotong.


"Rion hanya menenangkan diri, kita bersikap seolah-olah dia sengaja melecehkan Belinda. Coba kamu fikir, dari tingkah anehnya, mungkin dia sekarang sedang ada di perpustakaan, mundar-mandir menyusun kata, untuk merayumu agar tidak marah..." Andres menghela napas kasar.


***


Sementara itu di perpustakaan...


"Aku minta maaf, dia dari belakang sepertimu dan lampunya..." kata-kata sang katak terhenti menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Rion tidak marah sama sekali hanya saja pemuda yang selalu canggung berhadapan dengan istrinya. Situasi yang benar-benar mengerikan baginya. Menjelaskan saat itupun bagaimana caranya. Dirinya membutuhkan waktu untuk berfikir ulang menyusun kata-kata.


"Aku berselingkuh dengan Belinda!? Jangan bergurau. Kecantikan wajahmu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Belinda..." pemuda itu kembali menyusun kata-kata, menghela napas kasar.


Tidak menyadari Sazi yang tersenyum, menipiskan bibir menahan tawanya, menatap dari pintu perpustakaan yang terbuka. Menyangka tidak akan semudah ini, suami yang mungkin akan merajuk marah menyetir mobil meminum-minuman keras kemudian berselingkuh.


Namun, Rion tidak, walaupun dirinya tidak bersalah anak katak ini malah berusaha keras menjelaskan. Walaupun, bingung harus bagaimana, berhadapan dengan wanita yang dapat membuat jantungnya berdegup cepat.


"Akkhhmmm..." Rion mengatur suaranya, membuat gaya sedingin mungkin, pura-pura membuka buku."Aku tidak bersalah... karena itu... karena itu...aku..." kata-katanya terhenti, terlihat lebih kikuk lagi.


Perlahan tangan seorang wanita terulur memeluknya dari belakang. Menyenderkan kepalanya di belakang Rion."Aku mengerti..." hanya itu kata-kata yang terucap dari bibir Sazi menyadari kesalahannya.


Rion berbalik, menghapus air mata istrinya, tersenyum hangat menatapnya."Aku juga minta maaf..."


"Bantet...aku yang salah. Karena itu..." kata-kata Sazi terhenti, Rion menggapai tengkuknya. Memejamkan mata, sinar bulan purnama memasuki celah jendela besar yang terbuka, bayangan tautan bibir sepasang suami istri terlihat.


Pasangan yang perlahan tersenyum kembali saling mengecup memahami segalanya.


"Maaf..."


"Maaf..."

__ADS_1


Ucap mereka bersamaan, mulai tertawa kecil.


Bersambung


__ADS_2