Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Mati Atau Tidak


__ADS_3

Apakah tidak mencintainya? Itu masih terbersit dalam fikirannya. Hari ini tetap sama tanpa kehadirannya. Semangkuk sup yang mendingin berada di hadapannya.


Ini lebih sakit dari sebelumnya. Semakin dalam perasaannya, akan semakin menyakitkan. Foto pernikahan berukuran besar yang terpasang di kamarnya. Foto dirinya tersenyum saat itu, sebagai orang bodoh yang memanfaatkan Sazi.


Ini kesalahannya, seharusnya dirinya tidak berharap terlalu banyak. Memiliki anak? Bahkan Sazi saat ini tidak ingin bersamanya.


Semua kenangan yang menghilang begitu saja bagaikan debu. Bibirnya terlihat semakin pucat saja, bagaikan tidak ada aliran darah disana. Pemuda yang bahkan masih merasakan sakit di area kepalanya berjalan meraih kunci motornya. Meninggalkan laptop yang masih menyala.


Melewati area ruang tamu, dengan Belinda yang tertidur di sofa. Didampingi gelas kotor, bekas coklat hangat yang telah tandas.


Tidak memiliki tujuan, itulah dirinya saat ini. Ingin menghilang secepatnya, motor miliknya terhenti di jembatan yang lumayan besar. Rion mulai menaiki tralis, masih berpegangan dengan angin menerpa rambutnya. Menatap aliran sungai yang ada tepat di bawahnya.


Aliran air yang mungkin mulai terasa dingin, musim gugur sebentar lagi tiba. Hati yang masih terasa semakin berat. Merelakan segalanya? Apa bisa?


Tidak dapat dilakukannya, air matanya mengalir, wajah dingin, pucat pasi yang terdiam tanpa ekspresi. Perlahan menetes melewati pipinya, bermuara di dagu. Jatuh tepat di aliran sungai yang ada di bawahnya.


Putri rupawan yang kembali mencinta sang pangeran. Sementara dirinya? Hanya seekor katak yang mengisi hari-harinya. Pertemuannya pertama yang kembali teringat dibenaknya kala menatap aliran sungai yang menampakkan sinar keperakan. Dirinya duduk di atas batu besar tengah sungai, berusaha untuk bertahan hidup. Bertemu dengan anak perempuan menyebalkan, yang melempar tali jalinan akar.


Dirinya ingin melihat wajah Sazi sekali lagi, hanya sekali lagi. Sebelum benar-benar kembali bersembunyi, menghilang mencari uang dan kekuasaan bersama Hikaru...


Rion menjatuhkan jam tangan dan phoncellnya, meninggalkan sedikit robekan pakaiannya di kawat pinggir jembatan. Phonecell dan jam tangan yang terjatuh perlahan dalam dingin dan gelapnya air sungai. Kembali melanjutkan perjalanan seorang diri, entah apa yang dicarinya. Berjalan kaki meninggalkan motornya di tepi jembatan.


Mati di tangan ayah tirinya, cepat atau lambat akan terjadi. Sudah sebulan kepergian Sazi, pekerjaannya di negara ini telah usai. Kali ini Rion akan pergi pulang, tanpa sepengetahuan Hikaru.


Tempat yang paling berbahaya baginya. Kekuasaan finansial yang cukup belum dimilikinya. Tapi dirinya hanya ingin melihat wajah bahagia Sazi untuk terakhir kalinya, walau tidak mengetahui berapa orang yang akan dipergunakan untuk berusaha membunuhnya.


Rion menonggakkan kepalanya, dalam perjalanannya air matanya mengalir. Sebuah perasaan sayang yang bodoh, membuat rasa cinta itu tumbuh.

__ADS_1


Sempat terbersit di benaknya, kenapa dirinya bersedia menghisap racun ular dari pergelangan kaki anak yang baru tiga hari dikenalnya?


Cinta? Bukan, mungkin dirinya memang sudah menemukannya. Seseorang yang ditakdirkan untuknya, namun seseorang itu, mencintai pria lain.


Seberapa pun sakitnya, mungkin hatinya akan tetap sama, tetap mencintai Sazi. Hikaru tidak akan benar-benar mengijinkannya untuk menyusul mengantar nyawanya. Hanya sebuah kata-kata bujukan padanya agar dirinya bersedia makan. Karena itu pergi seorang diri mungkin akan lebih baik.


IQ 193 yang membantunya, meninggalkan jejak pada Hikaru seolah dirinya menjatuhkan dirinya di sungai. Mungkin butuh waktu sekitar 3 hari sebelum Hikaru menyadari dirinya menyusul Sazi.


Saat itu semua terjadi, sudah terlambat, dirinya telah menginjakkan kaki untuk kembali. Melihat kebahagiaan Sazi adalah tujuan satu-satunya.


Aneh bukan? Membohongi Hikaru untuk mengantar nyawanya. Hanya untuk dapat melihat Sazi bahagia dengan pria lain.


***


Di tempat lain, Belinda menginjak pedal gasnya dalam-dalam, menatap GPS lokasi alat pelacak yang berada di jam tangan Rion. Mengingat Hikaru yang memperketat penjagaan pada majikan tersayangnya.


Tapi sialnya, sang kaisar ber-IQ terlalu tinggi. Memberi obat tidur pada minumannya. Dan disinilah Belinda saat ini, berada dalam kepanikan, mengetahui ketidak beradaan motor Hurley Davidson yang biasa dikendarai Rion.


Panik? Tentu saja, singal GPS alat pelacak yang terhenti di area jembatan gantung."Apa dia bunuh diri?" gumam Belinda dengan wajah pucat ketakutan.


Membayangkan apa yang akan dilakukan Hikaru padanya jika mesin penghasil uang dan kekuasaan ini mati. Mungkin dirinya akan dijual ke kelompok mafia menjadi bahan pemuas napsu, kemudian dibunuh, organnya dijual.


Tidak, ini tidak boleh terjadi. Belinda hanya akan menjadi calon istri masa depan dari Andres. Memiliki anak-anak bagaikan agen rahasia yang cerdas dan lucu, hidup dengan tenang bersama keluarga kecilnya, bekerja dalam perlindungan jendral gila (Hikaru). Mendapatkan gaji besar dari kaisar bucin (Rion).


Tapi apa akan bisa? Sinyal GPS jam tangan Rion, bergerak mengikuti aliran sungai."Orang gila itu benar-benar bunuh diri! Hikaru akan menguburku hidup-hidup!!" teriaknya sembari menangis, menginjak pedal gasnya lebih dalam lagi.


Hingga pada akhirnya mobil Belinda tiba di area jembatan gantung. Motor Hurley Davidson terlihat disana, terparkir di tanpa seorang pun didekatnya.

__ADS_1


Belinda memarkirkan mobilnya asal. Segera berlari ke area jembatan samping motor Hurley Davidson yang terparkir.


Hingga suara orkestra kematian terdengar. Suara orkestra kematian? Tentu saja suara phoncellnya dengan nama pemanggil Hikaru.


Belinda menghela napas kasar, apa sebaiknya dirinya melompat saja, ikut mati bersama Rion? Tapi dirinya terlalu enggan untuk ikut mati masih merindukan Andres.


"Hikaru..." akhirnya Belinda memberanikan diri mengangkat panggilan phoncellnya.


"Kalian dimana? Kenapa tidak ada di rumah? Aku membeli pizza dan bir. Untuk Rion jus ginseng, agar dia lebih cepat sembuh..." ucap Hikaru dari seberang sana.


Aku akan melompat, lalu mati menjadi hantu perawan. Menghantui Andres, ingin melakukan hubungan badan dengannya saat dia tertidur... batinnya dalam kebimbangan dan kepanikan.


"Hikaru, jika ada jurang dan kamu memegang tanganku dan Rion. Kamu hanya dapat menyelamatkan salah satu dari kami. Siapa yang akan kamu selamatkan?" tanya Belinda sembari menangis sesenggukan.


"Kenapa menangis? Apa Andres merayu wanita di hadapanmu lagi? Tapi jika harus menyelamatkan antara dirimu dan Rion. Aku akan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan kalian berdua..." jawaban dari Hikaru, membuat Belinda sedikit menghela napas lega.


"Rion jatuh dari jembatan," ucap Belinda cepat dengan suara kecil, mematikan panggilannya dengan cepat, sebelum mendengar amukan Hikaru.


"Aku lompat saja ..." gumam Belinda ketakutan akan kedatangan Hikaru.


***


Sazi menghela napas kasar. Sudah satu bulan dirinya meninggalkan Spanyol. Kini mulai bekerja di perusahaan, memegang jabatan sebagai karyawan biasa.


Wanita yang tengah tersenyum, mengelus perutnya yang rata."Aku hamil!!" teriaknya, sembari menyetir salah satu mobil milik Dini.


Bagaimana kabar Rion? Apa suaminya merindukannya? Dirinya nanti akan kembali ke Spanyol membawa malaikat kecil yang mirip dengan suaminya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2