
"Bertemu malaikat kematian di tengah hutan?" tanya Dave memastikan pendengarannya. Apa ini bagian dari imajinasi akibat obat yang dikonsumsi wanita itu?
Wanita yang enggan menjelaskan, menghela napas kasar."Kamu bisa ikut tinggal dengan Alexa di villa atau rumah pribadinya..."
"Apartemen diamond, unit 235D, tower kedua. Kamu bisa menemuiku disana, kita bisa melarikan diri bersama dari Grimm..." kata-kata dari Dave penuh senyuman. Melangkah ke kamarnya, guna mengemasi barang-barangnya.
Memiliki beberapa aset pribadi? Tentu saja, status keluarganya hampir setara dengan status keluarga Herry. Namun, Dave hanya anak bungsu yang memiliki beberapa orang kakak laki-laki. Mungkin tidak banyak, tapi dirinya sudah menyiapkan segalanya, untuk lepas dari pernikahannya dengan Alexa. Melepaskan diri dari keluarganya.
Sazi mulai duduk, meraih teh hangat yang disuguhkan pelayan, memberikannya pada Dini. Beberapa belas menit kemudian, Dave turun menyeret tas dengan ransel besar di punggungnya. Mungkin berisikan laptop pakaian dan beberapa berkas miliknya.
"Aku menunggumu di apartemen..." ucap Dave melangkah meninggalkan rumah melalui pintu utama.
Dini terdiam sejenak, menghela napasnya."Pergilah, temui Dave. Grimm tidak akan melepaskanmu dengan mudah. Jadi lebih baik melarikan diri sekarang. Kamu hanya mencintai Dave bukan? Karena ibu membiarkan Alexa mendekatinya, kalian berpisah. Dia berakhir menyakitimu, karena kesalahan ibu..."
"Aku akan tetap disini..." Sazi tersenyum.
"Jika ini karena peninggalan ayahmu. Ibu akan berusaha merebutnya sendiri. Kembalilah saat situasi sudah aman, pergilah bersama Dave untuk menghindari Grimm," ucap Dini mengusap rambut Sazi, mengkhawatirkan putrinya.
"Pergi bersama Dave!? Tidak boleh! Rion yang menggajiku untuk mengawasimu. Maaf salah! Maksudnya Grimm yang menggajiku, jika kalian ingin melarikan diri bersama, aku akan menghalangi dengan tubuhku!" bentak Andres, tidak ingin dirinya dipukuli Hikaru.
"A...apa maksudnya? Sebagai psikolog pribadi Sazi, aku yang menggajimu..." Dini tidak mengerti situasi saat ini. Mengapa Andres menyebutkan nama Grimm? Bagaimana dapat mengenalnya?
"Selama ini aku tinggal di Spanyol, bukan di desa. Grimm yang mengeluarkan ku dari rumah sakit jiwa. Mencari cara untuk menyembuhkanku, kemudian menikahiku. Andres dari awal digaji olehnya untuk menjagaku..." Sazi menyuapi Dini dengan kue kering, tersenyum padanya.
"Tapi Grimm..." kata-kata Dini dengan mulut dipenuhi kue kering dipotong.
"Nama aslinya Rion, dia teman SMU-ku dulu. Sekaligus anak sebenarnya yang berkemah denganku bersama ayah. Kami hanya bersandiwara untuk membuat Fredric tidak waspada," Sazi mulai bangkit, manggil beberapa pelayan dari dapur. Guna mengemasi barang-barang Alexa dan Fredric.
__ADS_1
Sedangkan Dini masih berusaha menelan kue kering di mulutnya. Sedikit melirik pada Andres."Siapa majikanmu?" tanyanya memastikan.
"Suami Sazi, kamu tidak lihat cincin di bandul kalungnya!? Cincin yang hampir serupa ada di jari manis Grimm. Dua tahun ini Sazi menjalani hidupnya dengan cukup baik ..." jawabnya.
"Dengan cukup baik?" Dini kembali bertanya.
Penasaran? Tentu saja dirinya benar-benar ingin mengetahui segalanya. Bukan lagi karena harta dan kekuasaan, namun karena hanya Sazi yang kali ini dimilikinya. Tanpa satu orang pun disisinya.
"Grimm atau bisa dipanggil Rion yang membiayai kuliah Sazi hingga meraih gelar master of art. Membuatkan sebuah galeri lukisan untuknya. Hidup sesuai impiannya, bahkan beberapa bulan yang lalu, salah satu lukisan Sazi dilelang dengan harga belasan juta dolar. Apa kamu bangga memiliki anak sepertinya?" tanya Andres pada Dini.
Dini menitikkan air matanya, dirinya yang menentang Sazi untuk melanjutkan pendidikannya di bidang seni. Mencibir tentang pekerjaannya sebagai pelukis dengan penghasilan tidak tetap.
Tapi hanya dengan dorongan, Sazi yang tidak begitu pandai di bidang akademis dapat meraih segalanya."Aku...ini salahku..." gumam Dini.
"Almarhum ibuku selalu bangga padaku walaupun aku tidak pernah meraih prestasi apapun. Hingga hari kematiannya, aku tidak pernah membuatnya bangga ..." kata-kata dari bibir Andres berusaha tersenyum, air mata tertahan di pelupuk matanya.
Apa yang dilakukan Belinda saat ini? Dirinya tidak mengetahui apapun. Berusaha tidak mengetahui, walaupun terkadang mencuri waktu untuk mengikutinya. Menatap pertemuan pertama Belinda dengan Jameson, dari lantai dua mall.
Cambuk berduri yang menggenggam hatinya. Rasanya yang lebih buruk daripada tembakan di dadanya. Hanya terdiam dalam penyesalan, berharap rasa sakit ini menghilang. Mungkin hanya saat kematiannya saja...
Sudah hampir sepuluh tahun, namun dirinya tidak dapat merubah status Belinda sebagai adik, tetap sebagai satu-satunya wanita dalam hatinya. Tindakan dan bibir yang berbohong, seakan tidak menginginkannya. Apa akan berakhir seperti ini?
Mungkin jika, tiba hari Belinda mencintai pria lain. Dirinya akan kembali menjalani misi berbahaya, menyerahkan nyawanya, hanya untuk meredam rasa sakit dalam penyesalan. Karena tidak ada lagi yang tersisa untuknya...
***
Hari semakin sore, mobil milik Alexa dan Fredric tiba hampir bersamaan. Terparkir di garasi, dengan deretan mobil mewah yang ada disana.
__ADS_1
Dua orang yang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Jadi ada yang menyelamatkan Bibi?" tanya Alexa sudah muak rasanya pada Dini yang dianggapnya sebagai benalu.
Fredric mengangguk."Tidak akan lama, setelah ini kita tinggal menyingkirkannya saja. Surat wasiat asli juga sudah hancur. Walaupun dia berakhir selamat, apa yang bisa dilakukan wanita penghibur itu!? Bagaimanapun kita memiliki semua aset, villa hotel, juga perusahaan. Tidak ada yang perlu dicemaskan..."
Sepasang ayah dan anak melangkah penuh senyuman. Hingga menyadari satu hal, semua barang-barang mereka berada tepat di ruang tamu. Sudah dikemas rapi dalam koper.
"Ada apa ini!?" teriak Alexa murka.
Sazi melangkah dari sofa ruang tamu. Mendorong kursi roda milik Dini.
"Ini rumah ibuku, ibuku ingin kalian pergi..." kata-kata penuh senyuman diucapkan Sazi dengan tenang.
"Aku sudah mengajukan perceraian. Kamu berselingkuh, bahkan memiliki anak dari selingkuhanmu. Karena itu, lebih baik kita berpisah saja," kata-kata yang terucap dari bibir Dini yang terlihat pucat pasi.
"Kalau ada yang harus pergi, kalian yang harus pergi!!" teriak Alexa emosi hendak menampar Sazi. Namun jemari tangannya terhenti, merasakan darah menetes dari pipi kanannya.
"Meleset..." gumam Andres tersenyum, masih memegang dua pisau belati lagi. Dua pisau belati lagi? Seharusnya tiga pisau, salah satunya baru saja dilemparkannya. Menggores pipi Alexa. Berakhir menancap pada bingkai kayu lukisan abstrak yang berjarak sekitar 2,5 meter dari tempat Alexa berdiri.
Jemari tangan wanita itu gemetar, menengok ke belakang. Tepat ke arah pisau belati yang menancap pada bingkai. Mengusap pipinya sendiri yang tergores, dengan darah mengalir.
"Dasar psikolog br*ngsek!! Aku akan melaporkanmu pada kepolisian!!" bentak Fredric, mendekati Andres, hendak melumpuhkannya. Pria yang memiliki sedikit basic beladiri, dengan tubuh yang tegap di usianya yang tidak lagi muda, itulah Fredric.
Hendak menghajar Andres yang telah melukai putrinya. Namun, dengan cepat Andres menjegal kakinya, mengunci pergerakan tangannya. Merubuhkan Fredric ke lantai. Membenturkan kepala pria paruh baya itu pada lantai marmer yang keras, sekitar tiga kali.
Wajah Andres yang tersenyum, memainkan pisau belatinya."Pak tua sepertimu, ingin melukai istri majikanku? Kamu ingin mati dengan cara apa?"
__ADS_1
Bersambung