
Hari sudah hampir malam, kekacauan masih dibersihkan para pelayan. Sisa beberapa bercak darah dan dua jenis urine, tengah dipel pelayan menggunakan mob dan sarung tangan, dengan cairan anti bakterial yang kental. Menahan rasa jijik mereka, bahkan mengenakan masker.
Beberapa pelayan wanita, menatap kagum sekaligus takut pada pria berdarah Spanyol yang mereka kira seorang psikolog sebelumnya. Sangat keren seperti adegan di film-film action. Dengan aktor pria berdarah Eropa, kini terpampang jelas di hadapan mereka.
Brak...
Suara pintu utama yang terbuka terdengar.
"Sudah aku bilang tidak akan ada yang terjadi..." Hikaru tersenyum ganjil, menepuk pundak Rion."Seharusnya kita lanjutkan rapat kerjasama dengan perusahaan pengembang taman bermain. Beberapa peralatan harus diganti,"
Dengan cepat Rion menghampiri Sazi memperhatikan istrinya yang tengah mengandung baik-baik."Kamu tidak terluka kan? Apa mereka memukulmu?"
Sazi menggeleng."Andres yang menjagaku. Memukul dan menembak mereka tanpa ampun,"
"Bos ... bonus..." pinta Andres penuh senyuman pada Rion.
"Minta pada Hikaru," jawaban Rion membalas senyuman Andres.
"Ke...ke ... ketua bonus..." pinta Andres lagi, kali ini pada Hikaru, namun dengan nada suara bergetar.
"Aku belum memberimu pelajaran yang cukup, karena tidak melaporkan Sazi yang kembali ke negara ini. Dan sekarang minta bonus?" tanya sang jenderal pada ikan hiu yang menciut menjadi ikan koi tidak berdosa.
"Ampuni aku..." ucap Andres tertunduk ketakutan, beberapa saat.
"Apa ini cukup?" tanya Hikaru memberikan sobekan kertas kecil padanya.
Andres membulatkan matanya. Dirinya benar-benar mendapat bonus. Nominal yang cukup besar, baginya. Meraih selembar cek yang dapat dicairkan menjadi uang.
"Berterimakasih lah pada Rion, ini uangnya..." lanjut Hikaru.
"Terimakasih, aku bisa makan malam romantis dengan Belinda. Menyewa kamar hotel bintang lima, berkencan, kemudian..." gumamnya keceplosan.
Sejenak suasana menjadi hening. Andres melirik ke arah semua orang yang terdiam, menyadari dirinya salah bicara."Maksudku, wanita selain Belinda..."
Rion menahan senyumannya, menghela napas kasar."Malam ini Belinda akan makan malam dengan Jameson di star hotel. Kamu tidak ingin bertemu dengan saingan cintamu?"
Andres menggeleng dengan cepat."Jika Belinda menyukainya aku tidak dapat berbuat apa-apa. Dia adalah adikku, tugasku hanya menjaganya..." kata-kata bagaikan seorang kakak setegar batu karang. Padahal dalam hatinya baru tertancap satu pisau.
"Bagaimana jika dalam minuman Belinda dicampur obat. Jika Belinda terjerat mungkin mereka akan tidur bersama..." kata-kata dari Hikaru dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
"Aku...aku akan..." satu pisau lagi bagaikan tertancap di hati Andres. Hikaru dan Rion memang tidak segan-segan menikamnya dengan pisau tidak terlihat.
__ADS_1
"Tenang saja, jika Jameson menidurinya aku akan memberikan kompensasi yang cukup untuk Belinda. Tapi lain halnya....Hati manusia dapat berubah, bila Belinda mencintainya, maka aku tidak dapat mengatakan apapun lagi. Belinda akan mengandung anak dari Jameson, membangun keluarga bersamanya. Saat itu kamu akan menjadi pendamping pengantin yang mengantarkan adikmu pada Jameson..." Rion dengan imajinasi tingkat tingginya. Melirik ke arah Andres, terlihat kilatan emosi tertahan di sana. Mungkin sedikit lagi akan meledak.
Satu pisau besar mendarat, pendarahan hebat terjadi. Hatinya terasa remuk, membayangkan jemari tangan kecil memanggilnya paman.
"Dia adikku tentu aku harus mengantarnya ke altar suatu hari nanti," ucap Andres dengan keringat dingin yang mengalir, gigi putihnya terlihat tanda senyuman yang dipaksakan.
Hikaru menghela napas kasar."Berhubungan badan..." dua kata penuh penekanan. Menjadi pisau kecil terakhir, membuat hati pemuda itu remuk berceceran.
Air matanya mengalir. Menyakitkan? Tentu saja, perasaan yang ditahannya, disimpan hanya karena sebuah janji. Janji sialan yang masih dipegangnya. Tapi apa bisa... hanya dirinya... hanya dirinya yang cukup pantas untuk bersanding dengan Belinda.
"Aku akan menjaga adikku!!" tegas Andres tiba-tiba. Berjalan pergi dengan cepat, meraih cek di atas meja.
"Dia akan kemana?" tanya Dini pada Sazi.
"Beternak kecebong..." namun Rion-lah yang menjawab. Membuat semua orang menoleh padanya.
***
Situasi yang tidak diketahui olehnya, tidak dimengertinya. Dini hanya tersenyum menghela napasnya menatap senyuman di wajah Sazi.
Seorang pria yang terlihat penyayang, menumpuk lauk di piring putrinya. Sazi yang terisak seakan dilecehkan? Grimm yang kasar di tempat tidur? Semua tidak terlihat saat ini.
Sazi menghentikan aktivitas makannya, mengingat masa kecilnya yang begitu bodoh, melempar akar yang sudah dijalinnya hingga terseret arus."Memalukan... saat itu..." kata-katanya disela.
"Saat itu aku jatuh ke sungai terseret arus. Berakhir duduk di atas batu tengah sungai, tidak dapat menyeberang. Ada malaikat pintar yang memanggil ayahnya untuk menyelamatkanku..." jawaban dari Rion, tersenyum sedikit melirik ke arah Sazi.
"Lalu?" tanya Dini antusias.
"Kami bertemu kembali ketika sekolah menengah pertama. Tapi Sazi tidak mengenaliku, mungkin karena sifat bodohku saat itu, dan berat badanku yang mencapai 90 kg..." Rion kembali meletakkan beberapa jenis sayuran ke atas piring istrinya.
"Itu karena kamu yang biasanya sok pintar menjadi bodoh!! Mana aku tau itu kamu!! Kalau kamu tidak mengatakannya!!" ucap Sazi menyendok nasi dan daging dari piringnya sendiri menyuapi Rion.
"Kamu menolakku beberapa kali ketika SMU. Bahkan saat aku mengajak kawin lari kamu tidak mau!!" Rion membela diri dengan mulut dipenuhi makanan.
"Ini bukan kesalahan Sazi. Ini kesalahanku... maaf membohongimu tentang Dave. Ibu tidak tau anak itu benar-benar ada, atau akan muncul. Memanfaatkan kesempatan untuk menjalin hubungan dengan orang tua Dave. Maaf..." Dini tertunduk, jemari tangannya mengepal. Ini benar-benar kesalahannya.
"Apa ibu menyayangiku?" tanya Sazi dengan bibir bergetar.
"Aku sempat membenci ibumu. Karena hanya dia yang dicintai ayahmu. Satu tahun pernikahan aku dapat menahannya. Tapi dua tahun, tiga tahun, bahkan belasan tahun...dia hanya mencintai nona Vallentina. Aku iri pada wajahmu yang mirip dengan Vallentina. Karena itu maafkan ibu..." jawaban jujur dari Dini yang tertunduk. Dirinya tidak berdaya, bukan tidak berdaya secara finansial. Rumah beberapa mobil dan sejumlah uang tabungan masih dimilikinya.
Tapi dirinya kini tidak berdaya secara psikis. Uang tidak ada artinya, dirinya kini hanya tidak ingin hidup sendiri.
__ADS_1
Sazi mengangguk."Aku memaafkanmu!! Ibu tiri jahat..."gumamnya terisak, memeluk Dini.
Apa memaafkan adalah perbuatan bodoh? Entahlah, Sazi tidak mengetahuinya. Hanya saja memaafkan membuatnya kembali memiliki Dini. Hanya itu...
***
Sementara itu di tempat lain...
"Ibu kita akan kemana?" tanya Hiruma menatap Hany yang mengemasi barang mereka sore ini.
Wanita yang berharap Hikaru belum akan kembali. Dua tas jinjing besar dibawanya. Menarik tangan putranya."Kita harus pergi, sebelum ayahmu menahan ibu kembali dalam villa pribadi miliknya. Kamu tidak tau, tempat itu seperti Harem. Dipenuhi dengan wanita berpakaian terbuka,"
"Wanita berpakaian terbuka?" tanya Hiruma polos.
Hany mengangguk."Mereka merindukan ayahmu setiap saat. Bahkan ada yang mencoba menyerang ibu tanpa alasan,"
"Lalu apa yang terjadi pada wanita yang mencoba menyerang ibu?" tanya anak itu kembali.
Hany menggeleng."Tidak tau, yang jelas katanya dia dikirim untuk berlibur oleh bawahan ayahmu," kata-kata ambigu yang memiliki arti mengerikan sesungguhnya.
Memang benar-benar aneh. Hanya Hany yang tengah hamil muda dan mengalami luka tembak diacuhkan Hikaru. Dikurung dalam penjagaan ketat. Tapi wanita lain yang tinggal disana didandani, dibawa dalam setiap pesta kelas atas.
Wanita-wanita yang membenci Hany tanpa alasan. Padahal mereka yang selalu menemani Hikaru setiap hari, bahkan pria itu sendiri yang sering membawa mereka bergantian ke kamarnya.
Tapi tetap saja, Hany lah yang paling dibenci...
Wanita yang melarikan diri, dengan susah payah. Bertekad menjauhi tukang antar makanan yang dicintainya selama 2 tahun. Pria sederhana yang tersenyum ramah.
Penyebabnya? Bukan pria yang baik, pria yang mengurungnya tanpa menemuinya yang tengah mengandung dengan luka tembak karena melindungi Hikaru dulu. Pria br*ngesek yang memiliki banyak gundik.
Karena itu selagi Hikaru tidak ada, dan otak Hany masih waras. Tidak terbuai olehnya lagi, dirinya akan melarikan diri lagi kali ini. Membawa Hiruma, menjalani hidup yang tenang di perkebunan kelapa sawit.
Menikah dengan salah satu pekerja, mungkin supir truk kalau beruntung. Keinginan janda bukan, gadis juga bukan dalam imajinasinya.
Wanita yang mulai menaiki taksi online, bersama putranya penuh senyuman."Adios..." gumamnya, lagi-lagi melarikan diri, melambaikan tangan ke arah jalan raya.
Bersamaan dengan mobil mewah yang baru melewati jalan raya dekat tempat kost Hany. Seorang pria yang baru turun dari mobilnya, mengetuk pintu kamar kost beberapa kali.
"Hany sudah pindah..." ucap duda tetangga sebelah.
Bersambung
__ADS_1