
Andres menetralkan tawanya, menatap Sazi yang berusaha mengurai pelukan yang terasa tidak nyaman baginya. Mimpi untuk setia dan hidup bahagia dengan Dave sudah menghilang, semenjak kenyataan buruk itu ditemukan olehnya.
Mungkin, bantu aku, dua kata itu yang terlihat dari raut wajah Sazi yang menoleh pada Andres berusaha keras mendorong tubuh Dave.
"Lepas! Aku tidak ingin Alexa salah paham..." kata-kata yang keluar dari mulut Sazi, berpura-pura bagaikan wanita dengan hati sebaik dulu.
Dave menggeleng, mengeratkan pelukannya."Aku tau ini hanya imajinasiku! Tapi kamu terasa nyata! Aku tidak akan melepaskanmu! Jika aku melepaskanmu, maka kamu akan menghilang..."
Andres menghela napas kasar, mungkin bagi pemuda ini kehadiran Sazi sangat berarti. Apa mungkin ada cinta segitiga antara Rion, pemuda ini dan Sazi?
Entahlah...tapi jika hal seperti ini terjadi dan Rion mengetahuinya. Maka habislah sudah, Hikaru tidak akan segan lagi untuk menyiapkan acara pemakaman untuk Andres.
"Hentikan, aku psikolog, dia pasienku. Sazi masih mengalami beberapa trauma psikologis..." kata-kata dari Andres membuat Dave melepaskan pelukannya, menonggakan kepalanya menatap ke arah asal suara.
"Apa yang terjadi padanya 5 tahun ini?" tanya Dave berdiri di hadapan Andres.
Sazi mengalami depresi selama tiga tahun, kemudian berangsur pulih akibat mengalami trauma perlakuan bucin akut pada suaminya. Obatnya, kembali ke Eropa, maka dia dapat kembali menjadi bucin sejati... batin Andres berusaha untuk tidak tertawa.
"Dia mengapa depresi selama tiga tahun, kemudian berangsur pulih akibat beberapa metode pengobatan," jawaban wajar dari mulut Andres.
Dave terdiam sejenak menghela napas kasar."Kamu psikolog yang menanganinya? Kenapa aku tidak dapat menemukan data informasi tentang keberadaan Sazi di rumah sakit jiwa Bakti," kata-kata yang bagaikan tidak percaya begitu saja pada Andres.
Pria yang terlihat ceroboh dari luar, tapi memiliki kecerdasan yang lumayan dan ketajaman intuisi. Walaupun tidak sesulit menebak jalan fikiran Rion, tapi pemuda ini cukup sulit diatasi.
"Apa kamu saudaranya?" kesimpulan yang diambil Andres, belum menyadari yang ada di hadapannya adalah Dave. Tunangan, salah lebih tepatnya mantan suami yang katanya tidak peduli lagi pada Sazi.
"Aku Dave... mantan suaminya," jawaban dari Dave menatap tajam padanya.
"Andres, aku ingin pergi ke kamar..." ucap Sazi tertunduk dengan air mata mengalir.
Andres mengenyitkan keningnya, perlahan membantu Sazi bangkit dari sofa.
"Biar aku saja," ucap Dave berusaha melepaskan tangan Andres.
__ADS_1
"Aku takut padanya..." Sazi menangis terisak, mengeratkan tangannya memegang jemari Andres.
"Tenang ya?" Andres tersenyum menuntunnya menaiki tangga. Tanpa mempedulikan Dave.
"Tunggu dulu!! Apa hubungan kalian hanya psikolog dan pasiennya!?" bentak Dave tidak menyukai kedekatan mereka.
"Tuan Dave, kamu hanya seorang mantan suami, tidak perlu ikut campur. Selain itu walaupun psikolog dilarang memiliki hubungan dengan pasiennya. Aku akan sangat rela meninggalkan profesiku, atas nama cinta..." kata-kata penuh senyuman dari bibir Andres, mencium punggung tangan Sazi.
Sialan! Aku akan mengadu pada Hikaru... umpat Sazi dalam hatinya memendam kekesalannya, sempat-sempatnya playboy tengil ini mencuri kesempatan darinya.
Sementara Dave mengepalkan tangannya, menatap ke arah mereka. Wajah Sazi terlihat pucat dengan tangan gemetaran, bagaikan tidak nyaman akan keberadaan dirinya.
Menyakitkan? Tentu saja, entah dimana Sazi yang selalu tersenyum, bersemangat setiap dekat dengannya, memberikan perhatian yang benar-benar norak. Perhatian yang dirindukannya. Dirinya harus mengalah sementara waktu hingga Sazi kembali mencintainya seperti dulu. Mengatur perceraiannya dengan Alexa. Kemudian pergi membawa Sazi.
"Sazi aku ingin meminta maaf, aku mencintaimu. Aku sudah ingat semuanya, kita berkemah bersama paman Herry selama tiga hari bukan? Dari sana kamu akan tau betapa aku memperhatikan dan menyayangimu..." dustanya, kembali menggunakan nama seorang anak laki-laki, sosok masa kecil wanita itu. Sosok yang dulu digunakan Dini untuk mengatur perjodohan dirinya dan Sazi.
Seberapa berharga anak berusia lima tahun itu? Siapa yang tau...di hari pertama dan kedua anak laki-laki itu membuatkan banyak mainan dari akar dan daun. Bahkan membuatkannya mahkota kecil.
Namun hari terakhir perkemahan lah yang seumur hidupnya tidak pernah dilupakan Sazi. Anak laki-laki cerdas yang mengikat kaki Sazi, menghisap darah bekas gigitan ular, kala dirinya dan sang anak bermain terlalu jauh dari tempat Herry membuatkan makanan.
Itu juga menjadi alasan mengapa Sazi tidak dapat mengantar kepulangan sang anak yang bagaikan peri rupawan untuknya. Dirinya dirawat di rumah sakit, untuk menetralkan sisa racun ular.
Sedangkan anak laki-laki itu diijinkan pulang setelah dokter memastikan tidak ada sisa bisa dari darah Sazi yang beracun di mulutnya, atau pada darah dan pencernaan sang anak laki-laki mengingat anak itu menghisap darah di tempat luka gigitan ular.
Anak yang melakukan hal berbahaya untuk menolongnya, memberikan pertolongan pertama yang mungkin dapat membunuhnya. Anak cerdas yang benar-benar bodoh, hampir mengorbankan nyawanya untuk Sazi.
Mungkin karena itulah Sazi berusaha mendekati, mengingatkan dan mengejar Dave. Dirinya tetap setia pada tunangannya dan menolak Rion di masa SMU-nya. Sebuah kebodohan yang membuat dirinya terpuruk.
Apa Dave kini benar-benar sudah mengingat masa kecilnya? Apa Dave dapat kembali menyayanginya seperti saat berusia 5 tahun?
Sazi mengepalkan tangannya, Rion begitu menyayanginya. Berbalik kembali pada Dave hanya untuk hutang budi di masa kecilnya, tidak akan dilakukannya. Walaupun hatinya cukup merasa sakit, tidak dapat mengingat dengan jelas wajah sang anak laki-laki yang menemaninya berkemah.
Apa itu Dave? Entahlah... dirinya memang sempat goyah dengan kata-kata Dave. Namun, tangannya mengepal, mengingat ketulusan Rion menjaganya selama ini.
__ADS_1
"Andres, aku takut..." hanya itu kata-kata dari mulut Sazi, terlihat selemah mungkin.
"Kita kembali ke kamar ya? Ibumu mungkin sudah selesai menyiapkan kamar untukmu..." Andres tersenyum mengejek pada Dave, kembali membimbing Sazi menuju lantai dua.
Sedangkan Dave terdiam, mengepalkan tangannya. Terlihat jelas Sazi ragu, sedikit luluh jika dirinya menggunakan nama anak laki-laki tersebut.
Siapa anak yang berkemah bersama Sazi dan Herry? Mungkin hanya almarhum Herry yang tau. Orang mati tidak akan dapat bicara, karena itu dirinya dapat memanfaatkan nama sang anak laki-laki tersebut untuk kembali bersama Sazi.
***
Hari sudah mulai sore, Sazi dan Andres berada di kamar mereka masing-masing. Sedangkan Fredric yang baru datang menatap tajam pada istrinya."Kenapa kamu seenaknya saja membawa Sazi pulang!? Bagaimana kalau surat wasiat yang asli ditemukan lalu..."
Dini tersenyum, memang itulah keinginannya, menendang pergi Fredric dan Alexa yang arogan padanya. Memiliki putri penurut bagaikan boneka tali seperti Sazi. Dirinya hanya tinggal menunggu Fredric tidak waspada, untuk mengambil surat wasiat asli.
"Ini rumahku, dalam surat wasiat asli, Herry mewariskannya padaku. Aku ingin menjadi ibu yang baik bagi Sazi. Tiba-tiba aku merindukannya, tidak apa-apa kan aku membawa putri yang aku besarkan pulang. Lagipula, dia terlihat penakut saat ini. Putriku yang malang, aku masih ingat saat Sazi bayi...aku..." kata-kata Dini yang berurai air mata terhenti. Mendengar suaminya yang mengalah.
Fredric memijit pelipisnya sendiri."Baik, tapi biayai dia menggunakan uang bulananmu. Dan awasi dia baik-baik..."
Dini tersenyum kemudian mengangguk. Fredric benar-benar tidak begitu memperhatikan dirinya lagi. Lebih gemar bersenang-senang dengan wanita muda yang diberikan secara gratis oleh partner bisnisnya, sebagai kompensasi kerjasama.
Pria yang kini sok berkuasa, arogan di hadapannya, memberikan uang bulanan yang jumlahnya tidak seberapa bagi seorang Dini. Karena itulah mengendalikan Sazi sang pewaris sah akan lebih baik nantinya.
Dini tiba-tiba mendekat, kembali ke rencana awalnya. Mengatur perjodohan baru untuk Sazi, mengingat dirinya kedepannya akan sangat bergantung pada status sosial anak dari almarhum Herry tersebut.
"Fredric, apa kamu mempunyai partner bisnis yang masih singgel? Status sosialnya tinggi, jika dinikahkan dengan Sazi dapat berguna untuk perusahaan?" tanyanya penuh harap.
Fredric mengalihkan pandangannya menatap ke arah Dini."Kamu ingin menjodohkan Sazi?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Dini.
"Sebenarnya ada, dia orang yang tidak mudah didekati. Alexa saja tidak dapat mendekatinya. Memiliki kesetabilan finansial, memiliki aset yang lebih banyak dari pada keluaga kita. Tapi dia sedang berada di Eropa saat ini, usianya mungkin sama dengan Sazi..." Frederick mulai melepaskan sepatunya, duduk menyender di sofa ruang keluarga.
"Siapa? Jika dijodohkan dengan Sazi mungkin ..." kata-kata Dini disela.
Frederick menggeleng."Namanya Grimm, terakhir kali karena Alexa tidak bersedia keluar dari kamar hotel tempatnya menginap, setelah diusir. Alexa hampir dilempar dari jendela lantai 15 oleh asistennya,"
__ADS_1
"Mungkin aku terlalu banyak berfikir, dia terlalu sulit untuk Sazi. Aku akan mencarikan anak laki-laki dari beberapa klien," lanjut pria paruh baya itu.
Bersambung