Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Kabut


__ADS_3

Jemari tangannya mengepal benar-benar takut dengan keadaan dirinya saat ini. Tidak langsung dihabisi, dirinya benar-benar disiksa."Bunuh aku..." pinta Dini lirih, merasakan beberapa kali tendangan. Tubuhnya diinjak bagaikan sampah.


Mengapa takdirnya harus seperti ini? Jemari tangannya mengepal. Air matanya mengalir, merasakan beberapa tulang yang patah, tidak memiliki tenaga untuk berteriak lagi. Setiap kata terasa semakin menyakitkan saja, bahkan hembusan napas. Apa mungkin tulang rusuknya patah? Entahlah...


Hingga di bagian akhir, salah seorang dari mereka mengeluarkan samurainya. Bersiap untuk menebas tubuh Dini.


Tidak disangka aku akan mati hari ini. Nona Vallentina, Herry.... maaf.... batinnya memejamkan mata, bertahun-tahun terhanyut akan dendam dan keserakahannya. Menginginkan memiliki seorang suami yang mencintainya.


Srash....


Suara ayunan samurai menyentuh kulit terdengar. Diiringi dengan suara tembakan, pedang yang terjatuh menyayat sedikit lengan Dini yang gemetar.


Dor...dor...dor...


Suara letupan senjata api terdengar dari arah jendela balkon yang terbuka. Tubuh para preman terjatuh satu-persatu, terbujur kaku bersimbah darah.


Dini hanya dapat terdiam, bicarapun sulit. Dirinya hanya menatap kait yang dilemparkan dari bawah. Kait yang terhubung dengan tali, seseorang sedang berusaha naik, melalui tralis balkon.


Wanita cantik berpakaian ketat terlihat, rambut coklat digerai dengan senjata laras panjang yang terikat di punggungnya. Menaiki balkon, mungkin wanita ini yang menembak para preman dari atas pepohonan dekat villa.


Wanita cantik berkebangsaan Eropa dengan mata coklat keemasan mendekatinya."Cukup parah juga, mereka menghajarmu sampai habis..." ucapnya tersenyum.


Brak....


Suara pintu didobrak terdengar. Dini hanya dapat sedikit melirik tanpa tenaga sedikitpun. Satu orang yang masuk cukup dikenalnya. Seorang pria dengan wajah terkena sedikit cipratan darah segar. Menyeret mayat seorang preman.


"Sudah mati? Sialan..." cibir sang pemuda yang ingin mendapatkan informasi lebih banyak lagi tentang hal yang sebenarnya terjadi dari preman yang diseretnya. Preman yang pada akhirnya mati akibat kehabisan darah.


Andres? Dini mengenali wajah itu, psikolog putrinya. Namun, tangan dan wajah berlumuran darah segar. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa psikolog pendiam itu menyeret mayat salah satu preman.


Wanita yang hanya dapat terdiam menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Takut pada dua sosok yang baru datang, tidak mengerti dengan tujuan mereka kemari.


"Rion yang memberimu perintah? Apa Rion ada di tempat yang aman?" tanya Andres berjalan mendekat, pemuda yang mengikuti mobil Belinda. Tidak ingin wanita itu mendapatkan misi berbahaya dari Rion.


"Iya, lebih baik kembali pulang, jaga majikanmu..." kata-kata dari mulut Belinda, mulai berusaha mengangkat tubuh Dini.


Andres mengenyitkan keningnya,"Biar aku saja..." ucapnya merebut tubuh Dini yang mulai tidak sadarkan diri.


Belinda hanya terdiam mengepalkan tangannya. Menatap punggung Andres, kenapa harus bersikap baik padanya? Hal yang semakin menyakitkan bagi Belinda. Wanita yang mengalirkan air matanya.


"Aku tetap mencintaimu, bukan sebagai adik pada kakaknya..." gumamnya menatap punggung Andres.


***

__ADS_1


Operasi mulai dilakukan, tulang punggung yang cidera berat. Kemungkinan besar Dini tidak akan dapat berjalan lagi seumur hidupnya, jika dapat selamat.


Wanita yang kini dalam pengaruh anastesi, selang terpasang di area mulutnya. Pisau bedah dokter bergerak, guna menyelamatkan nyawanya.


Dini terdiam dalam mimpinya...


Mimpi yang benar-benar tidak dimengertinya. Menatap ke arah hutan berkabut. Seseorang berpakaian merah melintas diantara rimbunnya pepohonan. Wanita cantik dengan rambut panjang.


Entah kenapa Dini berjalan mengikutinya, hingga langkahnya terhenti.


"Sazi...?" gumamnya saat wanita itu berbalik, wajah yang dikenalnya.


Namun sejenak dirinya terdiam, Dini menatap lebih lekat lagi, kemudian mundur selangkah, ketakutan. Sazi memiliki tanda lahir di lengannya, sedangkan wanita bergaun merah di hadapannya tidak."Nona Vallentina?"


Wanita berwajah rupawan itu mengangguk, mengiyakan. Kemudian tersenyum, menarik paksa tangan Dini, memberikan sebuah sisir untuknya."Sisirkan rambutku..." pintanya.


Aneh? Ini benar-benar aneh, dirinya menurut begitu saja. Menyisir rambut Vallentina yang duduk di sebuah bangku taman putih tengah hutan.


"Maaf..." satu kata dari mulut Vallentina.


Dini terdiam, jemarinya masih bergerak menyisir rambut Vallentina. Namun, entah kenapa air matanya mengalir. Hanya dengan satu kata maaf saja.


"Herry tipikal orang yang konsisten, dia kaku, hingga akhir hidupnya. Membiarkanmu menjadi istri pajangan yang tidak tersentuh. Ini salahku, karena memiliki fisik yang lemah saat melahirkan..." lanjut Vallentina menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.


Rasa iri, yang dilampiaskannya pada Sazi. Tidak menganiayanya, namun tidak dapat memberikan kasih sayang yang tulus padanya.


"Semua anak adalah titipan Tuhan. Dari rahim siapapun dia dilahirkan. Tuhan memberikanku tugas untuk melahirkan Sazi, karena hanya itu kemampuanku. Aku tidak memiliki kemampuan untuk membesarkannya,"


"Sedangkan kamu memiliki kemampuan dan waktu untuk membesarkannya. Tapi tidak memiliki kemampuan untuk melahirkannya. Karena itu, Sazi adalah anak kita..." kata-kata yang terucap dari bibir Vallentina, masih menatap lurus ke depan.


Dini mengepalkan tangannya, air matanya mengalir tidak terkendali."Kamu tidak membenciku?" tanyanya.


Vallentina tersenyum, kemudian menggeleng."Aku sudah mati, tidak ada yang dapat dilakukan orang mati. Terimakasih..."


"Terimakasih?" tanya Dini kembali menyisir rambut Vallentina.


"Walaupun tidak mencintainya (Sazi), tapi kamu tidak menyakitinya dari kecil. Aku mengerti... istri yang tidak dicintai... pasti juga sulit untukmu..." jawaban dari Vallentina, majikannya yang telah lama tiada.


"Nona!!" teriak Dini berlutut, menangis, menjerit terisak. Ini kesalahannya, dirinya yang salah."Aku membenci anakmu. Aku yang mendorongnya memasuki rumah sakit jiwa! Itu aku...itu aku... nona!!"


Vallentina mengangguk."Jika ada yang membencinya, maka akan ada orang yang mencintainya. Aku pergi tanpa rasa dendam, orang yang sudah mati. Karena itu, kamu satu-satunya ibu dari putriku. Kamu ibunya...aku hanya ibu yang sudah termakan tanah. Tolong jangan membencinya, sayangi putri kita..."


Dini menonggakkan kepalanya,"Maaf!! Nona benar, dia putri kita!!" teriaknya, dalam tangisan.

__ADS_1


Wanita bergaun merah itu bangkit, memeluk Dini."Walaupun Herry tidak dapat mencintaimu. Tapi Sazi mencintaimu dari awal. Dia akan memaafkanmu, jangan ragu untuk membalas cintanya kali ini. Ingat, dia putri kita..."


"Aaa...aanng....nona!!" jerit Dini dalam tangisnya. Menyadari mahkota indah yang dimiliki seorang ibu bukan seberapa besar kasih sayang suaminya. Namun, seberapa besar kasih sayang anak-anaknya.


Satu-satunya putri yang mungkin dititipkan Tuhan pada wanita mandul sepertinya. Sazi... yang dulu selalu mencintainya.


Herry? Hanya menganggapnya sebagai baby sitter atau ibu pengganti. Mantan suami pertamanya? Membuangnya hanya karena tidak dapat memiliki anak. Sedangkan Fredric? Mendekati dan menikah dengannya, hanya agar dirinya membantu merebut semua yang dimiliki Sazi.


Vallentina benar, hanya Sazi yang mencintainya. Mahkota dari seorang wanita mandul, kasih sayang seorang anak yang ditepisnya."Aku akan mencintainya, sebanyak dia mencintaiku..." gumamnya.


Sebuah mimpi kala dirinya masih dalam proses operasi. Anastesi yang membuatnya tidak sadarkan diri. Air mata mengalir di sudut matanya. Sebuah tangisan penyesalan dari tubuh yang tengah tenggelam dalam sebuah mimpi. Melegakan rasa sakit dan dendam di hatinya selama ini.


***


Sementara itu di tempat lain...


Tepatnya dalam salah satu bilik kamar mandi rumah sakit.


"Jangan!!" bisik Andres di telinganya.


Belinda menggeleng,"Aku akan menerima misi dari Hikaru. Kita tidak memiliki hubungan, jadi jangan melarangku untuk mendekati Jameson,"


"Dia terbiasa dengan pergaulan luar!! Dia kuliah di luar negeri!! Tidak seperti penganut pergaulan timur!! Berhubungan di luar nikah sudah biasa!! Seperti kita!!" bentak Andres.


"Kamu tidak pernah bersedia menikah denganku. Tidak pernah bersedia berhubungan denganku. Di usia ini, lebih baik aku memberikan keperawananku pada Jameson. Hikaru dan Rion akan memberikan kompensasi yang sepadan..." kata-kata dari bibir Belinda, menunjukkan senyuman palsunya.


Meninggalkan Andres yang tertunduk seorang diri.


Wanita yang menangis, berjalan cepat menelusuri lorong. Mencari cara melupakan cinta pertamanya, Andres...


"Aggh...!!" teriak Andres memukul ke arah dinding. Hingga tangannya terluka mengeluarkan darah segar.


"Aku mencintaimu!! Aku mencintaimu..." gumam Andres dalam tangisannya, kakinya melemas, duduk di lantai, tertunduk, menjambak rambutnya sendiri.


Bersambung


...Saat kabut menghilang, maka aku akan muncul. Menarik tanganmu, tersenyum bersamamu......


...Tapi apabila kabut ini tidak menghilang, aku tidak akan menemukanmu. Berakhir mati menikam jantungku sendiri, dalam gelapnya hutan berkabut......


...Mengakhiri dunia yang terlalu menyakitkan bagiku. Berharap Tuhan mempertemukan kita dalam kehidupan selanjutnya......


Andres...

__ADS_1


__ADS_2