Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Tensi


__ADS_3

Berkas yang menumpuk kembali menjadi pemandangan sehari-harinya. Jika ingin menentukan pilihan hidup sendiri memang harus tetap seperti ini, bukan?


Matanya menatap mejanya yang kosong, tempat alat tulis dari porselen telah lama pecah, tepatnya dua tahun lalu. Saat dirinya menyadari betapa berharganya pajangan norak yang berada di sana.


Jemari tangannya bergerak, meraba tempat sebelumnya pajangan tempat alat tulis itu berada. Kekanak-kanakan? Itulah kata menyakitkan yang dahulu dibayangkannya tentang Sazi.


Kini terasa menyakitkan, kala dirinya mengetahui tidak ada jalan untuk kembali. Bukan hal yang singkat, 9 tahun saling mengenal. Hingga Alexa hadir diantara mereka.


Mempercayai segala bujuk rayunya, hanya berimbalkan sebuah tubuh yang telah dimiliki banyak pria. Dirinya mengkhianati Sazi, bodoh bukan?


Wajahnya tersenyum, namun air matanya mengalir. Mungkin jika dulu Rion masih hadir diantara dirinya dan Sazi. Pemuda itu akan membuatnya sadar, betapa berharganya wanita yang diabaikannya, sebelum semuanya terlambat seperti ini.


Apa Sazi masih hidup? Atau sudah mati, dirinya tidak mengetahui apapun. Hingga phoncellnya berbunyi, Dave segera menghapus air matanya. Mengangkat panggilan dengan cepat.


Suara seseorang dari seberang sana terdengar."Kami dari rumah sakit Mitra Bakti, pagi ini tubuh seorang wanita berusia antara 25-30 tahun ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Dekat tempat pembuangan sampah, diduga wanita yang mengalami gangguan mental, kemudian mengalami pelecehan hingga mayatnya dibuang ..."


Dave menjatuhkan phoncellnya, tangannya terasa lemas. Pijakannya bagaikan menghilang. Gangguan mental? Berusia antara 25-30 tahun?


"Sazi..." gumamnya, dengan air mata mengalir.


Ini sudah berakhir, bahkan untuk meminta maaf pun dirinya tidak akan sempat.


***


Dalam keadaan emosional, mobil mulai dilajukannya. Menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Penglihatannya bagaikan buram, tertutup air mata yang mengalir tidak dapat dikendalikan olehnya.


Sazi mati karena dilecehkan? Apa itu pantas? Dirinya baru menyadari kini, yang mana sinar kunang-kunang dan yang mana sinar lampu. Sinar kunang-kunang yang sederhana, sesuatu yang kini dirindukannya. Tidak mempedulikan sinar menyilaukan dari kelap-kelip lampu club'malam. Hanya hambar yang ada di sana.


"Aaggh...!!" teriaknya memukul stir, menatap kemacetan di hadapannya.

__ADS_1


Gila? Dirinya mungkin sudah gila, meninggalkan mobil miliknya di tengah kemacetan. Berlari menuju rumah sakit yang berjarak 1 km dari traffic light.


Berharap cahaya kecil itu belum padam. Harapan palsu yang diciptakannya. Mayat Sazi yang mungkin berada di sana. Apa setelah ini dirinya masih tetap dapat bertahan hidup?


Kesalahan terbesar dalam hidupnya, kala menyakiti tangan yang memberikan perasaan kasih tidak bersyarat padanya. Napasnya tersengal-sengal, berjalan cepat, berusaha lebih cepat.


Hingga rumah sakit itu terlihat juga. Berjalan menuju resepsionis."Kamar mayat...aku ingin menemui Sazi..." ucapnya dengan mata memerah, air mata yang sulit dibendungnya, mengalir membasahi pipinya begitu saja.


"Kamar mayat, lorong kiri sebelah kanan, ikuti saja..." jawaban dari sang resepsionis yang sejatinya tidak mengenal nama itu.


Dave kembali melangkah mengatur napasnya kini dengan lebih pelan. Petugas kamar jenazah berada di sana. Jemari tangan mengepal, apa hari ini dirinya akan bertemu dengan Sazi? Meminta maaf di hadapan mayat yang telah mendingin?


"A...aku ingin melihat mayat tanpa identitas yang ditemukan pagi ini..." ucapnya, lirih.


Hingga pintu besar dihadapannya mulai terbuka. Sang pria paruh baya membimbing jalannya, melewati beberapa mayat.


Hingga remaja, perasaan itu berubah menjadi ambisi, kala Sazi merengek pada Herry untuk perjodohan mereka, kala keluarganya mulai mengagungkan dirinya yang berhasil bertunangan dengan sang nona muda. Rasa yang menjadi membosankan di masa dewasanya, saat di hadapkan dengan tubuh menggoda seorang Alexa. Berkhianat di belakang Sazi...


Tubuh mendingin dengan selimut putih yang menutupinya itu, terlihat. Akhirnya setelah lima tahun dirinya menyadari perasaan sebenarnya dengan cara seperti ini.


Tangannya gemetar, menyingkap kain putih yang menutupi mayat sang gelandangan."Bukan Sazi..." kata-kata dari bibirnya, entah harus senang atau kecewa.


"Sazi..." ucapnya lirih, satu-satunya tempat untuknya pulang bagaikan sebuah rumah. Tidak pernah ada wanita yang ada di hatinya kecuali Sazi dan Alexa. Sebuah perasaan pada Alexa yang bagaikan hanya sebuah kabut, perlahan menghilang, kala menyadari betapa dirinya merindukan sinar matahari.


***


Malam mulai menjelang dirinya kembali pulang ke rumah milik almarhum Herry tepat pukul 12 malam. Matanya menelisik, jemari tangannya mengepal, menatap tempat yang benar-benar tidak beres. Dini kali ini bertengkar kembali dengan Alexa. Alasannya? Entahlah dirinya juga tidak begitu peduli.


Hal yang harus dilakukannya saat ini, hanya mengumpulkan kekuasaan untuk terbebas dari belenggu keluarganya. Menapaki tangga menunju lantai dua. Membersihkan diri kemudian tidur. Tidak peduli dengan pertengkaran yang terjadi di lantai satu.

__ADS_1


Pertengkaran yang terjadi di lantai satu? Masalah lama yang selalu saja berulang. Uang, itulah pangkal segalanya, Dini tidak dapat menggunakan warisan Herry dengan bebas, seperti kala Sazi masih hidup. Bahkan isi dalam rekeningnya diatur.


"Kamu bahkan sudah membelinya!! Kenapa ibu tidak boleh!?" bentak Dini, membanting tas yang dipakai Alexa.


"Tentu saja karena ibu sudah tua!! Ingat umur bu!! Sebentar lagi, kamu akan punya cucu!!" geram Alexa kesal.


"Cucu!? Dasar mandul!! Ayahmu sudah menceritakan segalanya!! Mengapa kamu belum bisa memiliki anak dari Dave..." cibir Dini, tersenyum acuh, tidak peduli pada apapun lagi.


"Aku memang mandul!! Tapi apa bedanya denganmu!? Kamu juga mandul!! Sebagai sesama wanita tidak berguna!! Lucu sekali berani menghinaku... setidaknya aku wanita karier yang sukses!! Berbeda denganmu, hanya benalu sejati..." Alexa menarik rambut ibu sambungnya, menatap matanya lekat."Aku bukan Sazi yang buta akan kasih sayang dan mudah diintimidasi," tegasnya, mulai melepaskan rambut Dini, berjalan pergi meninggalkannya.


Sedangkan Dini mengepalkan tangannya. Alexa? Dia hanya baik di awal, memberinya banyak hadiah, berbelanja dengannya seolah memahaminya. Tapi apa? Sekarang semuanya berubah.


Anak yang didiknya memang lebih baik, dapat hanya mencintainya bagaikan boneka. Bahkan mengalah tidak memikirkan kehidupannya sendiri. Boneka indah yang telah dibuangnya. Wajahnya tersenyum samar, Fredric yang kini tidak begitu peduli padanya. Membuat dirinya menginginkan mengambil sebuah tindakan, menjemput Sazi di rumah sakit jiwa. Serta mencuri surat wasiat asli dari pengacara.


Dirinya dapat mengendalikan rumah ini seperti semula. Hanya perlu mencari perawat untuk Sazi yang menderita gangguan jiwa, serta bercerai dari Fredric, mencari pria yang lebih muda, rupawan, serta perhatian pada dirinya. Mungkin dari sanalah semua kehidupan tenangnya akan dimulai, memiliki suami muda, dan rupawan. Serta putri dengan gangguan kejiwaan, yang hanya diurus perawat.


***


Kecupan singkat diberikannya, sepasang lidah yang mulai bermain perlahan. Cemburu? Tentu saja, tidak rela jika suaminya memiliki sekretaris rupawan. Hingga, Sazi mencium suaminya di depan sekertarisnya.


Bagaikan berkata dengan prilakunya. Ini milikku!! Dasar wanita murahan!! Kata-kata yang tidak terucap, tapi terlihat di mata Sazi yang sesekali melirik Belinda, kala Rion masih memangut bibirnya dengan agresif.


Sampai kapan rasa cemburumu ini akan mereda? Kamu bahkan pernah cemburu pada cleaning service, mengatakan dia mungkin pernah memuaskan suamimu di ranjang. Dan sekarang tiba-tiba cemburu padaku... keluh Belinda dalam hati, masih berusaha tersenyum. Menatap prilaku agresif Sazi, memang mungkin wajar saja.


Jika bukan sang istri, siapa yang memuaskan suaminya di ranjang? Rion bagaikan sudah terbiasa menghadapi kecemburuannya. Kali ini berciuman di hadapan Belinda menjadi pilihan si anak katak untuk membuktikan bukan Belinda wanita pemuas ranjangnya.


Benar-benar bos yang membuat sang sekretaris naik darah...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2