
Menempuh 30 menit perjalanan menggunakan mobil pada akhirnya dirinya sampai di villa milik Fredric. Villa yang cukup besar dengan halaman yang luas.
Dini menghela napas kasar, hanya inilah kesempatan untuk mencuri surat wasiat asli. Dirinya belum menghadiri pesta yang mungkin satu jam lagi akan berlangsung. Lebih memilih mencuri surat wasiat dari villa milik suaminya.
Matanya menelisik, mobil Fredric tidak berada di sana. Berjalan dengan cepat menuju lantai dua, setelah membuka pintu utama villa.
Kamar Fredric menjadi tujuannya, membuka pintu kamar dengan cepat. Barang-barang digeledahnya, laci, berkas diatas meja, bahkan lemari pakaian tidak lepas dari pengamatannya.
"Tidak ada..." gumam Dini yang sudah mencari lebih dari 30 menit, merebahkan dirinya di atas tempat tidur milik Frederick.
Banyak hal yang ada di fikirannya kini. Alexa yang berani membatahnya, serta perselingkuhan Fredric. Bagaimana caranya untuk membalik keadaan? Ini kesalahannya dari awal, dirinya seharusnya lebih berpihak pada almarhum Herry.
Jika saja, dirinya dulu mengatakan pada Herry tentang rencana Frederick dan sang pengacara, ini tidak akan terjadi. Semua warisan akan jatuh ke tangan putri sambungnya yang penurut bagaikan boneka. Dirinya dapat menikah lagi, dengan pria yang lebih setia.
Namun, bujuk rayu Frederick dan rasa bencinya pada almarhum Vallentina yang membuatnya melakukan segalanya. Kini Dini menyesal, bukan menyesali perbuatannya. Namun, menyesali langkah yang dilakukannya.
Pandangan mata Dini menelisik, membongkar lebih banyak tempat lagi. Hingga sebuah album foto terjatuh dari laci. Album foto yang membuatnya membulatkan matanya.
Lembar demi lembar dibaliknya. Sakit? Tentu saja, inilah alasan Fredric tidak pernah menyentuhnya lagi. Foto pernikahan Fredric dengan mantan asisten pribadinya terlihat disana. Bahkan sang asisten pribadi memiliki anak balita dengan Frederic di belakangnya.
Dua kali disakiti oleh pria, di pernikahan pertamanya dan ketiganya. Namun, jika ditanyakan, yang mana lebih baik, tidak dicintai atau dikhianati? Tentu saja di tidak dicintai.
Lebih baik tidak dicintai dari awal, seperti perlakuan almarhum Herry padanya yang menyayanginya. Namun, tidak memberikan harapan padanya untuk menggantikan almarhum Vallentina.
Lebih menyakitkan bagi Dini menatap perselingkuhan suami pertamanya yang menyebut dirinya mandul. Dan perselingkuhan Frederick dibelakangnya.
Almarhum Herry memang suami terbaik baginya. Walaupun tidak pernah memberikan hatinya, namun tidak memperlakukannya dengan buruk.
"Frederick sialan..." gumam Dini menitikkan air matanya.
Apa ini semua karena dirinya tidak dapat memiliki keturunan? Sazi adalah putrinya, walaupun memiliki wajah yang sama dengan Valentina. Jemari tangannya mengepal, semakin tidak mempercayai orang lain selain putri sambungnya.
Dirinya pernah menyia-nyiakan Sazi. Tapi kali ini tidak akan lagi...
Dini kembali membereskan semua barang ke tempat semula. Menyuap penjaga villa agar tidak mengatakan tentang kedatangannya. Kembali melajukan mobilnya ke tempat pesta.
***
__ADS_1
Sazi menghela napas kasar, bagaimana pun dirinya menjelaskan, mulut orang-orang akan terus menggunjingkannya. Hanya Erika yang kini terus menempel padanya. Itupun karena mengetahui nama ayah dari anak dalam kandungannya.
Cahaya lampu tiba-tiba redup, kemudian menyoroti panggung. Alexa yang mengatur segalanya bahkan MC, bersiap-siap dirinya yang akan naik ke panggung di bagian akhir.
Suara MC terdengar, menyambut seorang pemuda dengan nama Grimm, salah satu pengusaha yang telah memiliki nama besar. Sazi yang tengah memakan cheese cake, menjatuhkan piring kecilnya ke lantai, hingga jatuh berkeping-keping.
Nama yang begitu familiar. Dan benar saja, lampu menyorot pada sang pemuda rupawan, menaiki panggung.
Setelan jas hitam, model rambut yang membuatnya terlihat lebih maskulin. Semua orang menatapnya tanpa berkedip, pemuda yang berjalan tanpa ragu sedikitpun, menampakkan karisma di wajah rupawannya.
"Perkenalkan aku Grimm..." ucapnya tertunduk di hadapan tamu undangan."Ini tanda hadiah ucapan selamatku, atas pembukaan kantor cabang baru perusahaan ini..."
"Itu suamimu?" tanya Erika tertegun pada Sazi.
"Dia suamiku..." ucap Sazi yang mulai dapat tersenyum. Karena dialah suaminya, Rion...
Suara biola mulai terdengar, wanita itu tersenyum, air matanya mengalir. Melodi yang dimainkan Rion, 12 tahun lalu terdengar. Masih teringat jelas dibenaknya kala pemuda gemuk bagaikan roti bantet itu menghiburnya.
Wujud ulat gemuk buruk rupa, yang untuk pertama kalinya ditatapnya bagaikan malaikat. Hari dimana ciuman pertamanya diambil. Rion telah mencintainya sejak lama...
Pandangan mata Sazi hanya tertuju pada panggung, tidak teralih sedikitpun. Dini yang telah tiba 10 menit lalu mengenyitkan keningnya. Grimm, jika Sazi memilikinya tidak peduli surat wasiat almarhum Herry ada atau tidak. Sazi akan tetap memiliki segalanya.
Wajah Dini tersenyum penuh rencana busuk untuk putri sambungnya yang bagaikan boneka. Wanita yang melangkah mundur, entah kemana. Jika Sazi juga menyukai Grimm tidak akan ada masalah setelah ini.
Permainan biola terhenti, Rion berjalan menuruni panggung mendapatkan tepukan tangan dari orang-orang yang menyaksikannya. Tapi tunggu dulu, kenapa nama Alexa tidak dipanggil sama sekali. Dengan cepat Alexa berjalan mengikuti langkah sang pemuda yang kini menjadi sorotan banyak orang.
Pemuda yang melangkah menggunakan nama Grimm."Boleh berkenalan?" tanyanya pada Sazi. Tidak ingin istrinya dipandang rendah lagi. Membocorkan tentang pernikahan mereka? Sazi tidak akan setuju, kecuali semuanya sudah kembali pada dirinya.
Sazi mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Menyambut uluran tangan suaminya."Sazi," ucapnya.
"Grimm," jawaban dari mulut Rion, bagaikan memperkenalkan dirinya.
Alexa tiba-tiba datang,"Dia itu mantan pasien rumah sakit jiwa!!"
"Lalu?" Rion mengenyitkan keningnya acuh.
"Kamu tidak jijik atau takut?" tanya Alexa.
__ADS_1
Rion menggeleng kemudian tersenyum."Jangan sok suci, kamu sudah memiliki suami. Tapi tetap berusaha menggodaku, mencari jalan untuk naik ke ranjangku. Lagi pula aku menyukainya, tidak menyukaimu"
Beberapa orang mulai berbisik tentang Alexa yang menggoda Grimm. Membuat wanita itu terdiam melangkah pergi penuh kekesalan.
"Mau menjadi pasanganku malam ini?" tanyanya pada Sazi.
Sazi mengangguk, mengiyakan berjalan pergi bersama Rion. Mendapatkan sorakan dari beberapa orang.
Orang-orang yang membicarakan hal buruk tentang Sazi, kini mulai mengatakan tentang betapa cantiknya wanita itu malam ini, hingga dapat membuat Grimm tertarik.
Alexa terdiam sejenak, mengepalkan tangannya, menatap kepergian Rion, bersama Sazi...
***
Pesta yang hampir berakhir. Menampakkan Dini yang baru saja datang entah darimana. "Kerjakan..." ucapnya pada salah seorang pelayan memberikan instruksi.
Sang pelayan berjalan mendekat, menawarkan minuman pada Rion. Pemuda yang meraihnya tanpa curiga sedikitpun.
Dini menghela napas kasar berjalan mendekati Sazi yang berdiri di samping Rion."Sazi, ibu memiliki gaun baru, kamu mau mencobanya?" tanya sang ibu pada putri sambungnya.
Sazi mengangguk, mengikuti keinginan sang mak lampir. Menjadi putri penurut untuk sementara waktu.
***
Dan disinilah dirinya kini, ditinggalkan dalam sebuah kamar hotel. Bahkan dikunci dari luar.
Sazi mengenyitkan keningnya kesal. Kepada monster jelek seperti apa lagi Dini akan menjualnya setelah perjodohannya dulu, batal.
Vas bunga diraihnya, bersiap-siap memukul kepala pria mesum yang akan masuk. Merasakan aroma wewangian tertentu di ruangan ini. Aroma wewangian yang meningkatkan h*srat.
Sudah pasti dirinya akan dijual, tapi entah pada siapa. Hingga pintu terbuka, seseorang didorong masuk, kemudian pintu kembali dikunci dari luar.
Sazi sudah bersiap memukul kepala sang pria mesum. Namun...
"Kamu ingin membunuh suamimu sendiri?" tanya Rion pada istrinya.
Bersambung
__ADS_1