Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Kita Pacaran


__ADS_3

Kali ini juga sama, Margaretha mengeluarkan uang di dompetnya memberikan pada Fino."Jangan katakan pada siapapun!" tegasnya.


Fino mengangguk."Kalian lanjutkan saja ..." pria berwajah pucat itu kembali melangkah pergi. Meninggalkan Margaretha dengan sang guru honorer.


"Dia pasti sengaja mengikuti kita untuk mendapatkan uang darimu," sang guru menghela napas kasar.


Namun Margaretha mengenyitkan keningnya, menyipitkan matanya menatap ke arah punggung Fino yang melangkah pergi, wanita yang tersenyum menemukan alasan berbeda dari kemunculan Fino.


***


Hari demi hari berlalu, pria berwajah pucat masih mengikutinya. Isi dompet yang dipenuhi uang, wajah pucat, picik yang tersenyum. Walaupun dua hari ini tidak memergoki Margaretha dengan sang guru lagi. Tapi selagi masih ada kesempatan, percayalah sepasang kekasih akan bertemu lagi.


Hingga tiba hari itu...


Dirinya kini memakai seragam SMU, menatap dari jauh sang guru honorer dan Margaretha tengah memakan bakso di kios pinggir jalan. Tertawa bersama, saling bercengkrama. Pria yang menunggu dengan sabar adegan mesra yang akan terjadi, hingga tangan sang guru merayap menggenggam jemari Margaretha.


Menunggu celah untuk muncul dengan berbagai alasan sebagai figuran yang kebetulan lewat. Sangat kebetulan, teramat sangat kebetulan, harus kebetulan.


Plak...


Satu tamparan mendarat di pipi Margaretha, kulit tangannya di cakar, rambutnya dijambak.


"Rupanya gara-gara siswa tanpa harga diri sepertimu, Oka (guru honorer) sering keluar malam. Siang juga tidak ingin menemuiku. Br*ngsek! Dasar wanita murahan! ABG tidak laku!!" bentak seorang wanita yang mungkin, lebih dewasa 5 tahun dari mereka.


"Seli berhenti!! Kamu cuma salah paham, aku hanya mencintaimu. Kami..." kata-kata Oka disela.


"Salah paham!? Aku mengikuti kalian beberapa hari ini. Kalian berkencan, berpegangan tangan, bahkan hampir berciuman! Wanita murahan br*ngsek!!" geram Seli (pacar Oka) menyerang dengan lebih beringas lagi. Semua orang di kedai bakso itu mulai mencibir.


Kenapa Oka tidak mengatakan sudah memiliki kekasih? Hanya seorang pria yang ingin mempermainkannya. Jemari tangannya mengepal tidak dapat menerima penghinaan lagi. Seorang nona muda yang mulai dicibir sebagai pelakor.


Fino yang sudah berjalan mendekat sekitar tiga langkah mengurungkan niatnya, menghela napas kasar. Mesin ATM berjalannya tidak dapat menghasilkan uang lagi. Mengingat perseteruan yang terjadi.


Pemuda yang berbalik hendak pergi...


"Aku bukan perebut pacar orang! Aku hanya meminta bantuan kak Oka, agar pria yang aku cintai cemburu dan mengakui perasaannya..." alasan yang diucapkan Margaretha, menepis tangan Seli.


Oka mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Sedangkan Seli, mulai terdiam mendengarkan alasan Margaretha.


"Muka pucat! Sampai kapan kamu mengikuti kami dan tidak berani mengatakan perasaanmu!?" bentak Margaretha, membuat langkah Fino terhenti.


"Aku?" Fino menunjuk dirinya sendiri tidak mengerti.


"Itukan alasanmu mengikutiku!? Kamu menyukaimu! Aku ingin kamu mengakui perasaanmu! Karena itu aku pura-pura pacaran dengan kak Oka!!" dustanya menatap penuh kesungguhan. Dirinya benar-benar pacaran dengan Oka. Tapi Fino pasti menyukainya itulah keyakinannya. Pria yang tidak mungkin menolaknya, atau mempermalukannya di depan umum.


Seli terdiam sejenak, pemuda itu memang muncul setiap saat, menghentikan Oka dan Margaretha yang akan tengah bermesraan. Figuran!? Dia bukan figuran yang numpang lewat. Kini semua jelas bagi Seli. Oka membantu siswinya, berpura-pura pacaran, untuk membuat siswa yang disukai siswi ini, cemburu.

__ADS_1


Tapi ini tidak membuktikan apapun. Bukti yang kurang meyakinkan."Kamu benar-benar menyukainya?" tanya Seli pada Margaretha, menunjuk ke arah Fino.


Margaretha mengangguk, ingin menyelamatkan harga dirinya. Benar-benar guru play boy sialan, dirinya akan membuat perhitungan secara pribadi nanti.


"Menyukai? Sejak kapan aku akrab dan menyukai..." kata-kata Fino terhenti, mulutnya disumpal dengan ciuman. Inilah ciuman pertama bagi Margaretha, nona muda yang mencium figuran yang hanya numpang lewat.


Matanya memaksakan diri terpejam, saat bibir mereka bersentuhan. Tangan Fino melemas, ada perasaan berdebar yang aneh. Perasaan yang membuatnya nyaman. Lidah pemuda itu bergerak menerobos bibir yang sedikit terbuka. Entah mengapa gadis yang untuk pertama kali berciuman itu, mencengkram erat kemeja yang dikenakan Fino.


Suara tepukan tangan terdengar dari pengunjung kedai bakso. Pandangan mereka berubah, dari yang semula mencibir Margaretha sebagai pelakor, menganggap ini adalah kisah cinta yang manis dari sepasang remaja SMU.


Kesadaran Fino kembali, melepaskan ciuman mereka. Meraba bibirnya sendiri.


"Jangan membohongi perasaanmu lagi, kamu tidak pernah menyatakan perasaan padaku. Tapi selalu mencegah aku berdekatan dengan pria lain. Kamu mencintaiku..." kata-kata dari Margaretha, penuh dusta. Namun, rasa percaya diri sang nona muda, tetap menganggap Fino memang menyukainya dari awal. Hingga mencegah hubungannya dengan Oka.


"Aku? Mencintaimu?" gumam Fino.


"Maaf, sudah salah paham. Sudah mencakarmu," Seli tersenyum pada kedua remaja."Oka ayo kita pulang, jangan ganggu mereka,"


Margaretha tersenyum, memeluk lengan Fino. Oka yang berjalan dengan Seli melirik padanya diam-diam. Tiba-tiba Margaretha menatapnya tajam penuh kebencian, senyumannya menghilang.


Apa lihat-lihat! Aku pastikan ayahku akan membuat perhitungan padamu... batin Margaretha benar-benar membenci cinta pertamanya yang pahit.


"Cinta?" Fino tertawa kecil, menggelengkan kepalanya heran. Berjalan meninggalkan Margaretha.


"Iya, kamu menyukaiku kan?" tanya Margaretha, berjalan mengikutinya. Remaja yang penuh rasa ingin tau dan percaya diri. Ingin mengetahui perasaan berdebar saat mencium Fino. Apa itu cinta?


***


Bukan tempat yang luas, hanya tempat kost kecil, bahkan tidak ada kursi. Luka di leher dan lengan Margaretha mulai diobatinya, pemuda yang tertunduk sejenak.


"Jadi kamu menyukai, tapi tidak mau mengaku kan?" tanya Margaretha memincingkan matanya curiga. Menyakinkan asumsi awalnya, Fino menyukainya karena itu terus mengikutinya.


Dengan cepat Fino menggeleng."Kembalilah bersama pak Oka..." ucapnya tidak ingin kehilangan sumber mata pencarian.


"Pintar berbohong..." Margaretha tersenyum gemas, mencubit pipi wajah pucat tersebut.


"Aku tidak berbohong, sebaiknya kembali dengan..." kata-kata Fino terpotong, Margaretha tiba-tiba menciumnya, menahan tengkuk sang pemuda.


Dua remaja yang dipenuhi rasa ingin tau, terdiam sesaat, hanya suara decapan bibir yang terdengar diantara mereka. Menikmati? Perasaan berdebar ini nyata. Memangut dalam berbagai gerakan. Hingga tiba-tiba Fino yang mulai serakah, mencium dengan lebih dalam lagi.


Bug...


Tubuh Margaretha yang kehilangan keseimbangan jatuh keatas tempat tidur. Dengan Fino yang kini ada di atasnya, masih mencumbui bibirnya. Dua orang remaja yang masih mengenakan seragam putih abu-abu.


Napas mereka tidak teratur menghirup udara dengan serakah. Di tengah debaran aneh yang baru pertama kali mereka rasakan.

__ADS_1


"Kamu merasakannya? Perasaan yang aneh, aku menyukaimu..." kata-kata aneh dari bibir Margaretha membuat kesadaran Fino kembali. Segera bangkit dari tubuh gadis itu.


Orang ini mencintainya? Mengatakan mencintainya hanya karena sebuah ciuman?


"Bertanggung jawablah!! Karena sudah berciuman denganku! Bagaimana jika aku hamil karena kita berciuman!? Walaupun pelajaran biologi di sekolah mengatakan itu mitos, tapi jika aku benar-benar hamil karena berciuman..." kata-kata dari remaja yang awam, tapi penasaran. Ingin membuat Fino tersudutkan.


"Ki... kita mencoba pacaran. Tapi aku bukan orang kaya, jadi..." ucap Fino tertunduk ragu, dunianya yang abu-abu bagaikan campur aduk.


Ada perasaan bahagia yang meledak-ledak hingga dirinya ingin berguling-guling di tempat tidur dan berteriak, karena ada wanita yang menyukainya. Sebelumnya dirinya bagaikan transparan, tidak terlihat, tidak pernah ada yang memperhatikannya.


Namun juga bercampur perasaan takut karena memiliki kekasih seorang nona muda.


Nona muda aneh yang menyukainya."Tidak apa, kaya atau miskin sama saja. Yang terpenting saling menyukai..."


Kata-kata dari remaja yang tidak menyadari betapa sulit hidup yang menantinya. Menjalani hubungan, menikah di usia muda dengan suami sakit-sakitan.


Kesenangan akan cinta yang mungkin akan tertutup ego atas cibiran orang. Nasi dan kerupuk lebih baik? Pada akhirnya wanita itu akan kembali menganggapnya, menemukan jalan untuk kembali pada Fino.


Sempat mengabaikan segalanya. Karena kata-kata dari orang-orang dan dirinya yang belum cukup beradaptasi dengan hidup yang serba kekurangan.


"Benar kamu menyukaiku?" tanya Fino lagi.


Margaretha mengangguk, remaja polos yang baru mengenal apa itu sebuah perasaan. Belajar perlahan...


Aku akan menghargai dan belajar menyukaimu. Sebagai satu-satunya keluarga dan tujuan hidupku... itulah yang ada di benak Fino. Tidak memiliki orang tua, saudara, bahkan teman. Menggenggam jemari tangan Margaretha, ingin membahagiakannya di sisa umurnya yang entah kapan akan berakhir.


***


Saat ini...


Fino terdiam sejenak, wajahnya tersenyum."Aku hanya memilikimu dan Rion. Karena itu, lakukan hal yang membuatmu bahagia. Aku akan menjadi perisai untuk melindungimu..." kata-kata ambigu dari pria bodoh.


Bodoh? Dirinya memang bodoh, tetap mencintai wanita yang telah mengkhianatinya. Tepatnya bukan mengkhianatinya, karena hubungan Margaretha dan Gerald terjadi kala palu perpisahan telah di ketuk.


Namun, itulah tujuan terakhir hidupnya. Membahagiakan wanita yang memberi warna di hidupnya. Wanita pertama yang mengubahnya dari makhluk transparan menjadi terlihat.


"Kamu dan Rion harus bahagia..." kata-kata darinya penuh senyuman tulus, membelai rambut Margaretha.


Bersambung


...Daun yang menguning, perlahan akan kecoklatan. Gugur berjatuhan di tanah......


...Namun daun itu mungkin akan dapat tersenyum. Tubuhnya yang rapuh dapat beristirahat......


...Cahaya matahari, yang hangat akan membahagiakannya. Membaringkan dalam makam indah di tengah hutan......

__ADS_1


Fino...


__ADS_2