
Hari ini adalah pertaruhan terakhir. Andres bertugas menjaga di muara sungai. Sementara Hikaru entah berada dimana saat ini. Memanjakan Hany? Tentunya bukan, dirinya berjalan mendekati area sebuah hotel.
"Aku ingin bertemu dengan petinggi," kata-kata darinya, hingga dua orang pria berpakaian rapi itu memberinya jalan.
Hikaru melangkah cepat, untuk pertama kalinya bertemu dengan ayah angkatnya setelah bertahun-tahun yang lalu mengundurkan diri dari organisasi. Pintu besar kamar hotel terlihat, di lantai paling atas. Dua orang penjaga memeriksa identitasnya kemudian mengijinkannya masuk.
Pemuda yang mulai menunduk memberi hormat, usai menatap sang ayah angkatnya.
"Duduklah..." perintah pria tua itu.
Perlahan Hikaru duduk dengan ragu, menatap aneh pada pria di hadapannya. Tidak marah sama sekali? Dirinya melarikan diri dari organisasi, memiliki banyak informasi rahasia. Tentunya harga kepalanya juga tidak murah jika dijual pada musuh yang memiliki dendam.
Pria tua itu menghela napas kasar."Apa yang kamu lakukan setelah keluar dari organisasi?" tanyanya.
"Aku menggelandang, hingga bertemu dengan seorang majikan baru dia menjadikanku asistennya," jawaban dari Hikaru.
"Rion? Dia sasaran dengan bayaran tertinggi bukan?" ucap pria di hadapannya, melempar sebuah map.
"Apa ini?" Hikaru mengenyitkan keningnya.
"Semua informasi tentang kejahatan Gerald. Organisasi menginginkan seluruh aset ilegalnya. Dia sudah terlalu sombong bertahun-tahun ini, memerintah seenaknya," jawaban sang pria tua penuh senyuman.
"Jadi organisasi ingin memotong ekornya?" tanya Hikaru.
Pria tua itu menggeleng."Kami ingin sepenuhnya terlepas darinya. Menggigit tangan yang memberi makan kadang lebih baik. Jika orang yang memberi makan *njing pemeliharaannya, kerap memukul menggunakan tongkat baseball.
"Apa imbalan untukku?" Hikaru kini jauh lebih tenang.
"Kamu berhak memilih kembali ke organisasi sebagai ketua atau hidup tenang dengan keluar dari organisasi. Kami tidak akan pernah mengusik hidupmu lagi," jawab pria di hadapannya.
"Aku ingin keluar dari organisasi..." Hikaru tersenyum menghela napas kasar, meraih map di hadapannya.
"Untuk apa? Apa uang yang kamu dapatkan kurang?" tanya ayah angkatnya.
Hikaru menggeleng."Aku ingin menikahi wanita yang aku cintai. Tinggal di rumah biasa, memiliki banyak anak dengannya," jawaban darinya tersenyum simpul.
"Akhirnya saatnya tiba juga untukmu. Ayah dulu terlalu takut menjalani hubungan. Berakhir jatuh cinta pada seorang wanita malam. Tapi sayangnya di berakhir membenci ayah, kemudian bunuh diri saat ayah memberikan segalanya padanya. Hanya dua yang tidak bisa ayah berikan status dan kebebasan." Kata-kata dari ayah angkatnya.
"Ayah tidak marah?" tanya Hikaru.
__ADS_1
Pria itu menggeleng."Kita hanya akan diberi satu kesempatan untuk merasakan benar-benar mencintai dan dicintai. Kamu lebih berani dari ayah. Nikahilah dia, ini tugas terakhirmu, lempar Gerald ke penjara! Satu lagi atasi masalah Bruno..."
"Baik ayah..." jawaban dari Hikaru, sedikit tertunduk. Bruno memang terlalu banyak sudah membuat masalah untuk organisasi. Membunuh orang di hadapan umum? Bukan hanya itu kecelakaan bis yang terjadi atas perintah Gerald hanya untuk membunuh satu orang saja. Bahkan membakar tempat kost usai melenyapkan seluruh penghuninya.
Nama baik organisasi di hadapan klien semakin buruk hanya karena seorang Bruno. Menyingkirkan benalu tidak berguna, merupakan hal biasa dalam organisasinya.
***
Tepat kala matahari terbit, informasi keberadaan Rion didapatkan oleh Bruno.
Bergerak dengan cepat penuh senyuman, sasaran target utamanya hanyalah makhluk rapuh yang akan mati dalam sekali tembakan.
Matanya menelisik, mengikuti kordinat dan benar saja. Seorang pemuda dengan jas abu-abu terlihat di pagi buta. Dirinya berusaha mengejar dengan cepat di tengah kabut yang terasa lebih tebal dan pekat dari biasanya.
Berjalan penuh napsu untuk membunuh, senjata laras panjang dipegangnya. Berjalan melintasi hutan dengan rimbunnya semak belukar.
"Kamu sudah terkepung..." Bruno tersenyum membidik tubuh yang berada di jarak 10 meter darinya.
Namun...
"Kamulah yang terkepung," Hikaru tersenyum, entah apa yang ada di fikirannya.
"Ke... kenapa?" tanya Bruno menahan air matanya yang hendak mengalir. Perhatian para tetua itulah yang dicarinya. Namun, hanya Hikaru yang mendapatkannya. Entah apa kelebihan seorang Hikaru daripada dirinya.
"Tetua ingin kamu mati, ini bukan perintah dariku..." Hikaru menghela napas kasar.
Bersamaan dengan itu senjata para pembunuh bayaran yang mengarah pada Hikaru beralih pada Bruno.
Tidak, dirinya tidak akan mati kali ini."Br*ngesek!!" teriaknya.
"Kamu tau kesalahanmu? Entah berapa orang pembunuh bayaran yang mati karena kecerobohanmu dalam menentukan tugas. Jika ingin membunuh, bunuhlah seperlunya. Kamu ingin membunuh seorang anak kecil, tapi berakhir membakar satu rumahnya," sindiran sinis darinya.
"Nyawa mereka tidak berharga!!" teriak Bruno.
Dor!!
Satu tembakan dilayangkan anak buahnya, menembus bagian bahunya.
"Hari ini kalian bertarung dengan hidden butterfly. Berapa banyak orang yang tewas?" tanya Hikaru lagi.
__ADS_1
"Mereka bodoh!! Maka pantas mati!!" ucap Bruno penuh keangkuhan.
Dor!!
Kali ini suara tembakan kembali terdengar dari orang-orang organisasi yang dulu mengikutinya, menembus bagian dada hingga punggungnya.
Darah dimuntahkannya, bernapas pun terasa sulit, tembakan yang mungkin melubangi paru-parunya.
"Ka... kalian, hanya..."
Dor! Dor! Dor!
Para bawahan yang telah muak melihat kematian rekan-rekan mereka menembak berkali-kali tiada henti.
Tubuh tanpa nyawa yang telah roboh itu, kembali bergetar menerima tembakan hujaman peluru penuh dendam.
Mata pria yang masih terbuka, seolah-olah tidak pernah puas dengan ambisinya. Kehausan akan harta dan darah.
Perlahan Hikaru berjalan mendekatinya. Apakah dirinya akan bernasib serupa jika Hany tidak muncul dalam hidupnya? Bruno merupakan bawahan yang selalu ingin sepertinya. Dulu memiliki pandangan yang hampir serupa dengannya. Satu perbedaan mendasar dirinya lebih cerdas dari Bruno.
Benar, jika Hany tidak hadir dalam hidupnya, dirinya akan terus berada dalam kendali organisasi. Berakhir mati, kala berbuat kesalahan atau tidak berguna lagi.
***
Matahari mulai terbit dari ufuk timur menyambut trio warkop yang sampai dengan kaisar aneh di muara sungai. Barulah Rion mulai terbangun sesuai jam tidurnya.
Turun dari punggung Bagege, merenggangkan otot-ototnya."Akhirnya kita sampai..." gumamnya, tanpa lelah sedikitpun.
Sedangkan ketiga prajurit sang kaisar kini duduk di pasir pinggir pantai. Merenggangkan otot-otot mereka yang lelah. Sungguh, sinar matahari pagi yang indah. Terasa hangat apalagi jika ada gadis cantik disini. Tapi sayangnya yang datang bukan Luna Maya atau Julia Perez. Yang datang hanya seorang pengantin baru, Belinda dengan Andres yang berada di sampingnya.
"Apa menyenangkan?" tanya Belinda, ketiga orang yang menggeleng bersamaan.
"Tidak menyenangkan sama sekali..." jawaban dari Bagugu.
"Ini kesalahanku. Jadi gajiku bulan ini untuk kalian bertiga," kata-kata lembut dari Belinda.
Gaji Belinda bulan ini? Gaji seorang Belinda? Itu merupakan nominal yang cukup besar, walaupun harus dibagi tiga.
Sedangkan Rion menghela napas kasar."Mereka cukup baik, ditambah bonus dariku..."
__ADS_1
"Dasar! Kalau sudah jangkrik!" gumam Bagaga berteriak, tersenyum kembali merebahkan diri di pasir pinggir pantai.