
Hujan mengguyur di outlet miliknya. Kaca berembun menutupi pemandangan di hadapannya. Orang-orang terlihat berlari menghindari hujan.
Hal yang benar-benar bodoh, Fino berusaha tersenyum, meraba tiket yang sudah disiapkannya. Menyerahkan pengelolaan outlet pada karyawan kepercayaannya.
Hanya karena merindukan Margaretha, dirinya dapat seperti ini? Mungkin itulah yang terjadi. Apa Margaretha masih tetap merindukannya? Mengapa dirinya dapat segila ini, hanya karena wanita yang mengkhianatinya?
"Karena aku mencintaimu... menjadi satu-satunya tempat untukmu pulang seperti janjiku..." gumamnya, meneteskan air mata yang segera diseka olehnya.
Tidak memberitahukan pada putranya mungkin lebih baik.
Masih teringat jelas di benaknya kala remaja SMU yang paling populer itu mendekati dirinya. Tidak pandai di bidang olahraga, bahkan sering terisolasi dari siswa lainnya.
Mengapa Margaretha mendekatinya? Dirinya juga tidak mengetahui alasannya. Fisiknya yang lemah sedari kecil, membuat Fino terbiasa meminum beberapa jenis obat.
Ayah dan ibunya telah lama meninggal, hanya memberinya sedikit warisan untuk sekolah dan bertahan hidup. Hanya seorang diri, bahkan sempat memiliki niatan mengakhiri hidupnya di masa remajanya. Hingga menemukan Margaretha yang peduli padanya.
Dirinya kini tidak mengetahui akan dapat hidup sampai kapan. Leukimia, ternyata itulah penyakitnya saat ini. Dulu mungkin hanya fisik yang lemah, tanpa ada gejala apapun.
Masih stadium awal, namun jika hidupnya berakhir kini, dirinya hanya ingin menemui orang-orang yang dicintainya di penghujung usianya. Seorang ayah yang tidak memberitahukan penyakitnya pada putranya.
Seorang pria yang hanya terdiam seorang diri menyaksikan hujan dari kaca jendela berembun.
Apa Margaretha sudah bahagia? Jika sudah, dapatkah dirinya bertemu sekali saja, hanya sekali saja...
Wanita yang berjalan dengan payung yang sama dengannya. Melewati kegilaan masa remaja, membuat dirinya yang depresi akibat kematian kedua orang tuanya dan tubuhnya yang sakit-sakitan, menjadi memiliki semangat untuk bertahan hidup.
Karena itu... karena itulah dirinya hanya dapat mencintai Margaretha. Wanita pertama yang membawanya ke taman bermain, memintanya memenangkan boneka. Menaiki kincir ria, membuat dirinya sadar akan betapa berharganya hidup ini.
Menikah dengannya, bahkan melamar secara resmi di depan kedua orang tuanya. Hingga membawanya tinggal di kost-kostan kecil. Bulan-bulan pertama yang indah dalam pernikahan mereka terkenang.
__ADS_1
Melewati malam pertama dengan gaun dan jas sewaan yang kotor. Berlari memindahkan baskom karena atap yang bocor. Sepasang pengantin yang tertawa bersama di atas tempat tidur murah, menertawakan malam pertama mereka yang kacau.
Hingga pada akhirnya tawa itu terhenti, pasangan muda yang menanggalkan pakaian mereka mencari kehangatan. Ditengah suara air yang jatuh ke baskom, dari atap tempat kost sempit yang bocor.
Ingatan yang selalu membuatnya tersenyum, apakah Margaretha mengingatnya?
Fisik yang lemah, pendidikan hanya SMU, membuat dirinya tidak dapat membahagiakan istrinya. Istri yang pada awalnya selalu bersabar merawatnya. Namun, kebutuhan yang terlalu banyak saat Margaretha mengandung membuat mereka hanya terkadang memakan kerupuk dan nasi putih.
Wanita yang mulai iri menatap tetangga kost mereka yang juga hamil begitu dimanjakan suaminya. Hanya kata maaf yang saat itu terucap dari bibir Fino. Margaretha tidak mengatakan apapun, namun dirinya mengetahui segalanya.
Wajah yang ceria hanya dengan martabak manis yang dibelikannya sepulang dari menjadi kuli angkut di pasar. Mereka baru dapat tersenyum bersama, di tengah segala keterbatasannya.
Hingga hari persalinan tiba, putra yang dilahirkan dalam keadaan normal di bidan dekat tempat mereka tinggal. Rion, itulah namanya, tapi dari sanalah semuanya berawal. Mereka terlalu muda untuk memiliki seorang anak.
Margaretha yang biasa diperlakukan layaknya nona muda, harus mengganti popok bayi, terkadang pakaian kebasahan karena Fino kehabisan uang untuk membelikan popok.
Egois? Sejatinya tidak, hanya kurang dapat beradaptasi dengan kehidupannya yang seketika berubah 180 derajat. Nona muda kaya yang belanja pun harus diikuti pelayan, kini memakai daster lusuh menggendong bayi. Memiliki suami yang sakit-sakitan, ini sepenuhnya bukan kesalahan Margaretha.
Hingga, dirinya yang mendapatkan pekerjaan serabutan dari pagi hingga malam, pulang dalam kondisi fisik yang lelah. Mencari keberadaan istri dan anaknya.
Mendapati, Rion yang dititipkan pada tetangga oleh Margaretha, ditinggalkan begitu saja tanpa mandi dan makan. Anak yang menangis, dilepaskan di depan teras oleh tetangganya yang pergi entah kemana.
Fino menitikkan air matanya saat itu, segera menghapusnya. Kemudian meraih Rion memberi makan dan memandikan anak yang telah berusia dua tahun itu.
Berusaha menenangkan putranya dalam tangisan.
Malam semakin larut, barulah Margaretha pulang. Wanita yang belum mengetahui nasib putranya yang dititipkan pada tetangga. Dari sanalah awal pertengkaran mereka, untuk pertama kalinya Fino membentak istrinya yang memang belum beradaptasi dan masih terlalu muda.
Wanita labil yang mengemasi barang-barangnya, menarik kopernya. Mengatakan tentang betapa murahnya cinta. Sesuatu yang tidak akan membuat kenyang.
__ADS_1
Wanita labil yang belum dewasa, menepis tangan Fino yang meminta maaf, mencoba menghentikannya. Tapi terlambat, Margaretha pergi meninggalkannya dan Rion, kembali pada keluarganya.
Margaretha menganggap pernikahannya dengan Fino adalah kesalahan fatal dalam hidupnya. Mungkin titik balik untuk menemukan pria yang lebih baik, seperti kata-kata teman-teman dan ibunya.
Menganggap di kehidupan ini hanya dirinya yang menjadi pemeran utama. Suatu saat akan bertemu dengan pria yang lebih sesuai, rupa, dan status sosialnya.
Bagaikan tokoh CEO dingin dalam novel atau sinetron, kebahagiaan semu bagaikan putri raja, diucapkan seperti sugesti oleh teman-teman yang iba padanya dan ibu yang peduli padanya.
Dan benar saja, CEO dingin dan arogan seperti tokoh utama novel atau film yang didapatkannya. Pria Cassanova, yang didekati banyak wanita, impian para wanita yang mengejar rupa fisik dan kantung yang tebal.
Apa akan seromantis di novel atau film? Dimana pria tampan, kaya, arogan yang menyiksa istrinya di atas ranjang, melakukan kekerasan fisik. Lambat laun menjadi budak cinta sejati, menciptakan cinta yang tidak lekang di terjang tsunami, tetap tegar walaupun gunung meletus, menendang pelakor yang bagaikan siluman mendekat.
Fino tidak mengetahui dengan pasti bagaimana pernikahan mantan istrinya. Namun satu hal yang pasti, dirinya akan bahagia jika Margaretha bahagia.
Tidak memiliki tujuan lain, menghabiskan hidupnya di tanah kelahirannya. Menatap walaupun dari jauh wanita yang dicintainya, wanita yang tidak bisa dimiliki olehnya. Ini juga kesalahannya, andai dirinya tidak membentak Margaretha, berbicara pelan-pelan penuh canda mungkin Margaretha dapat kembali berubah, menjadi tegar seperti awal pernikahan mereka.
Fino kini telah melangkah melewati area pemeriksaan penumpang, menaiki pesawat, duduk di kursi penumpang.
Foto pernikahan tua yang telah hampir lapuk masih berada di dompetnya. Pria yang tersenyum, ingin Margaretha dapat mengunjungi pemakamannya nanti. Kala penyakit ini memburuk, hidup yang mungkin tidak akan lama.
"Aku masih mencintaimu..." gumamnya dengan air mata mengalir, mengelus foto mantan istrinya.
"Aku juga... cintai aku kak Fino..." tiba-tiba seorang pramugari tengil berada di sampingnya, mendorong troli, menyuguhkan makanan pada para penumpang.
Fino memijit pelipisnya sendiri, menendang udara kesal. Kenapa dirinya harus satu pesawat dengan wanita muda ini.
"Kita jodoh... oppa (kakak dalam bahasa Korea)," ucapnya tersenyum.
"Diam!!" teriak Fino, ingin rasanya murka.
__ADS_1
Bersambung