
Rion membuka matanya, menatap keadaan sekitarnya. Wajahnya mulai tersenyum, memungut piyamanya yang terjatuh tidak beraturan di lantai. Jemarinya kembali menyelimuti istrinya yang masih tertidur di sofa perpustakaan. Sejenis sofa yang dapat digeser dan posisi sandarannya menjadi tempat tidur kecil berukuran singgel.
Pemuda yang mulai melangkah keluar. Matanya menelisik ke setiap sudut ruangan. Ini adalah rumah yang paling dibencinya dahulu. Kini dirinya harus kembali, mengapa? Entahlah...
Mungkin karena lukisan almarhum kakeknya. Pria yang mati kala dirinya masih balita."Apa tujuanmu?" tanyanya pada lukisan seorang pemuda yang mirip dengannya.
Lukisan pemuda dengan pakaian bergaya barat. Mengingat sang kakek sudah memulai bisnisnya dari generasi sebelumnya.
***
Rion mulai membersihkan dirinya, beberapa pelayan memilihkan pakaian untuknya. Hingga beberapa menit berlalu, setelan jas telah sempurna dikenakannya."Siapkan air hangat untuk istriku, atur suhunya sebaik mungkin. Siapkan juga pakaian ganti dan sarapan untuknya..." perintah Rion, berjalan meninggalkan kamarnya.
Sang pelayan menunduk, keluar dari kamar, mulai menyiapkan air hangat di kamar mandi dekat perpustakaan.
Pemuda itu melangkah seorang diri tidak diikuti Hikaru maupun Belinda kali ini. Berjalan seorang diri, memasuki mobilnya.
Jemarinya mulai membuka tas laptopnya. Satu persatu e-mail yang masuk dibacanya. Keluar tanpa pengamanan? Sejatinya tidak, mobil beberapa pengawal mengikutinya. Menuju tepat ke kantor perusahaan.
Sang supir sedikit melirik wajah Rion dari kaca spion bagian depan. Menatap penuh senyuman ke arah majikannya. Tato kupu-kupu hitam terdapat di bagian leher sang supir. Apa yang ada di fikirannya? Entahlah, namun mobil tiba-tiba dihentikan sang supir di dekat area hutan.
"Kenapa berhenti?" Rion menghela napas kasar, menghentikan kegiatannya.
***
Sementara itu Sazi perlahan membuka matanya, dengan wajah tersenyum-senyum sendiri. Hal yang membuatnya tersenyum? Entahlah, mungkin fikirannya sudah diracuni sang anak katak.
Matanya menelisik beberapa pelayan sudah bersiap di dekatnya."Nyonya muda, tuan muda ingin kami membantu untuk membersihkan anda..."
Tidak banyak hal yang dilakukan Sazi, wanita yang berjalan menuju kamar mandi usai menyuruh pelayan keluar. Dirinya benar-benar risih, dengan cara para pelayan melayani majikannya.
Hingga aktivitas membersikan dirinya usai, memakai pakaian formal berjalan menelusuri lorong sembari memakan sandwich, sesekali memainkan phonecellnya.
Hingga Belinda datang, memakai pakaiannya. Terlihat terburu-buru, bahkan melupakan sehelai handuk yang berada di rambutnya."Sazi dimana Rion!?" tanyanya, sebagai seorang pengawal yang kehilangan majikannya. Akibat tingkah liar Andres semalam.
Sementara Andres juga baru saja keluar dari kamar hanya dengan handuk yang melingkar dari pinggang hingga lututnya, menampakan tubuh proporsionalnya dengan rambut yang basah."Sayang, Rion memberi kita libur sehari. Artinya dia peduli pada bulan madu kita yang tertunda...." bisiknya memeluk Belinda dari belakang.
Plak...
Belinda memukul tangan Andres yang melingkar di pinggangnya."Tugasmu mudah menjaga Sazi! Dia ada di hadapan kita sekarang!! Tapi tugasku adalah menjaga Rion!! Hikaru juga belum kembali sama sekali!! Kalau Rion mati aku akan dipenggal oleh Hikaru!! Kamu akan menjadi duda! Bebas mengejar wanita maupun!" geramnya.
"Rion sudah berangkat, mungkin sekitar satu jam yang lalu..." jawaban dari Sazi, menghela napas kasar.
"Sebentar..." Belinda meraih phonecellnya mencoba menghubungi pengawal yang bertugas di kantor. Sembari berjalan pergi dengan terburu-buru.
"Halo, apa Rion sudah sampai di kantor?" tanyanya kala sambungan telepon terhubung.
"Belum? Aku akan melacak keberadaannya. Kabari aku jika dia sudah sampai..." lanjut Belinda masih dengan phonecell yang melekat di telinganya. Berjalan cepat menuruni tangga, masih melupakan handuk yang melilit di rambutnya.
"Dia terlihat sibuk ya!? Memang Hikaru kemana?" tanya Sazi tidak menemukan sang jendral gila.
"Hikaru, sedang mencari istrinya. Istrinya melarikan diri lagi..." Andres menghela napas kasar.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan pacar Hikaru? Kenapa selalu melarikan diri darinya? Dan kenapa Hikaru tidak menikahinya?" tanya Sazi sambil mengunyah sandwich.
"Ini karena jika sudah terlibat dalam organisasi, bukan hanya nyawa sendiri. Tapi juga nyawa orang-orang terdekat, yang menjadi taruhannya. Hikaru tidak memiliki keluarga, ayahnya entah siapa, sedangkan ibunya seorang wanita panggilan yang menjualnya ketika bayi pada anggota mafia hanya untuk membeli kokain,"
__ADS_1
"Dia terlatih untuk membunuh sedari kecil. Tidak mencintai siapapun, tidak juga ada orang yang berani mendekatinya. Pimpinan (Hikaru) tidak pernah mempercayai orang, termasuk aku atau Belinda. Mungkin karena orang tuanya sendiri yang menjualnya demi narkotika," lanjut Andres.
"Lalu kenapa orang seperti Hany bisa dekat dengan Hikaru. Aku saja merinding berada di jarak beberapa meter dengannya?" tanya Sazi semakin penasaran saja, dengan kehidupan asisten dari suaminya.
"Aku juga tidak tau persis. Ini dimulai ketika Hikaru menangis untuk pertama kalinya. Dia tiba-tiba datang membawa seorang wanita yang berlumuran darah segar ke villa miliknya di tengah hujan deras," kata-kata dari mulut Andres dipotong oleh Sazi.
"Tunggu dulu! Kalau terluka kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja!?" tanyanya.
"Terlalu berbahaya membawanya ke rumah sakit. Itu karena kami memiliki banyak musuh. Lagipula hampir semua peralatan medis lengkap berada di villa..." Andres menghela napas kasar.
"Hampir?" Sazi mengenyitkan keningnya.
Andres mengangguk,"Kecuali alat untuk melakukan USG, atau yang berhubungan dengan kandungan. Itulah yang menjadi biang keladi semua masalah..."
***
6 tahun yang lalu...
Sarung tangan berlumuran darah di lepaskannya, mulai mengangkat teleponnya yang berdering sedari tadi. Matanya menatap ke arah pantulan wajahnya di cermin. Wajah rupawan, namun terkena cipratan darah segar.
Seorang pria yang tersenyum-senyum sendiri terlihat salah tingkah. Masih berbicara melalui sambungan teleponnya."Kamu merindukanku?" tanyanya.
"Sangat...I love you..." jawaban dari seberang sana.
"I love you too..." kata-kata dari mulut Hikaru bagaikan anak SMU yang pacaran. Ini sulit dipercaya, pria sepertinya bertingkah malu-malu tapi mau?
"Kamu sedang apa?" tanya Hany pada kekasihnya.
"Aku? Aku sedang mengantar makanan, ada banyak pelanggan hari ini. Nanti malam kita makan berdua. Biar aku yang menyuapimu..." jawabannya.
"Kamu saja," tingkah menggemaskan dari Hikaru. Terdengar menggelikan kala melihat wajahnya yang masih kotor terkena cipratan darah segar.
"Kamu saja..." ingin rasanya Hany berteriak bahagia, antara malu dan tidak rela menutup panggilan pacarnya.
"Kalau begitu aku yang tutup...muah..." tingkah yang bertambah menggemaskan lagi. Hikaru menutup panggilannya. Kemudian berbalik, mengambil tongkat baseball.
"Aku ada keperluan malam ini, jadi sebaiknya katakan informasi apa yang kamu ketahui. Jika tidak kamu akan mati disini..." ucapnya, menginjak tubuh seorang pria yang tidak berdaya.
***
Sementara itu Hany yang berada di toko furniture berteriak, mencium foto Hikaru yang menjadi wallpaper handphonenya berkali-kali. Hingga seorang teman kerjanya mendekatinya.
"Hany sebaiknya kamu putus saja dengannya, walaupun tampan. Tetap saja tukang antar makanan, gajinya kecil. Bagaimana jika kalian punya anak nanti, kamu harus membiayai anak dan suamimu juga..." rekan kerja Hany menasehati sebagai sesama perempuan.
"Dia orang yang baik, benar-benar menyayangiku. Pandai bergurau, benar-benar romantis. Karena itu aku mencintainya..." Hany tertunduk malu-malu.
"Berapa pelanggan yang mendekat kamu tolak. Bahkan anak pengusaha tas-tas branded kamu dengan tegas mengatakan sudah memiliki pacar saat dia mati-matian membawa bunga dan Lamborghini-nya mendekatimu. Sudah aku bilang, Hikaru itu pengaruh buruk, walaupun baik, tidak kaya juga percuma..." komat-kamit nasehat sahabatnya bagaikan Mbah dukun membaca mantra, sembari meminum kopi, tapi syukurlah kopinya tidak disembur.
"Kamu tidak tau, ini pertama kalinya aku punya pacar? Aku akan menjaganya dengan baik. Kamu juga sebaiknya carilah pacar," gumaman Hany penuh senyuman. Tetap setia pada Hikaru menginginkan menjalani kehidupan yang berat bersama. Sebagai sesama orang biasa. Tinggal di apartemen kecil milik Hany, memiliki beberapa anak dan hidup bahagia bersama dalam kesederhanaan, itulah impian wanita itu.
Tapi semua berubah kala malam itu Hikaru menghubunginya. Pemuda yang kini baru turun dari motor, menggunakan seragam tukang antar makanan, lengkap dengan helm merah yang menghiasi kepalanya. Membawa dua kotak makan untuk dirinya dan kekasihnya. Wajah yang tersenyum, tidak sabar untuk bertemu dengan satu-satunya tempat ternyamannya, wanita bodoh yang selalu percaya padanya.
Hal yang sering mereka lakukan? Hanya makan bersama, menonton film. Ada kalanya berhubungan badan, ingin menikahinya? Hikaru menginginkan anak darinya, hingga ketika melakukannya tidak pernah menggunakan pengaman, berharap Hany dapat mengandung benihnya. Namun tidak dapat menikahinya, tidak ingin wanita yang dicintainya ada dalam bahaya.
lorong yang panjang yang menampakan gedung sebelah terlihat. Hikaru berjalan seperti biasanya. Dengan Hany yang menunggu di depan pintu apartemen, benar-benar merindukannya.
__ADS_1
Hingga senyuman di wajah wanita itu mengembang menatap kedatangan Hikaru. Tapi ada yang aneh titik cahaya merah berada tepat menempel di samping kepala kekasihnya.
Awalnya Hany mengira itu adalah hiasan rambut, benang merah atau plastik kecil yang ada di kepala Hikaru. Tapi semua berubah, kala benda itu sedikit bergeser. Hany menyadari, itu adalah bidikan senjata api, bagaikan di film-film.
Tidak ada yang difikirannya saat ini, hanya menyelamatkan Hikaru yang berada dalam jarak 2 meter darinya.
Brak...
Senjata api dengan peredam suara, Hany memeluk tubuhnya. Mendorongnya hingga jatuh bersama.
"Apa kamu begitu merindukanku? Hingga membuatku jatuh di lantai seperti ini? Sabar, nanti kita akan bermain-main," tanya Hikaru menatap wajah Hany yang berada tepat di atas tubuhnya. Belum menyadari segalanya, hingga setetes darah mengalir dari mulut kekasihnya."Ka...kamu kenapa?" tanyanya dengan suara bergetar, mencoba bangkit dari bawah tubuh Hany yang perlahan melemah.
"Ada yang membidikmu..." racauannya memuntahkan darah. Mungkin bagian lambungnya terkena tajamnya peluru.
Hikaru menitikkan air matanya, menatap Hany yang tergeletak di lantai. Darah benar-benar mengalir dari punggung hingga perutnya.
"Ha... Hany..." ingin rasanya Hikaru menyentuhnya, hingga suara kaca jendela pecah terdengar. Tembakan ke dua dilayangkan oleh seseorang dari atap gedung seberang sana.
Hikaru mengeluarkan senjata apinya. Membidik di tengah gelapnya malam, walaupun menggunakan senjata jarak dekat.
Dor...dor...
Kedua orang yang berada di atap, ditembak tepat di bagian kepala mereka.
Untuk pertama kalinya, jemari tangannya gemetar. Menatap tubuh Hany yang bersimbah darah segar. Masih teringat jelas di benaknya, bagaimana wajah pucat wanita yang memuntahkan darahnya itu, sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
"Ha... Hany... Hany..." panggilnya dengan air mata yang mengalir. Berharap masih ada napas di tubuh yang telah melemah. Tubuh yang terasa begitu dingin, disebabkan oleh banyaknya darah segar yang keluar.
Tidak ada tempat baginya untuk tertawa lagi, jika wanita ini tidak bernapas, jika jantungnya tidak berdetak. Dengan cepat dirinya memasuki apartemen Hany, mengambil tali kecil dan syal yang biasanya tergantung di samping pintu.
Dengan putus asa, tubuh itu diangkatnya, menaiki lift. Hingga akhirnya, sampai di tempat parkir motor. Tubuh Hany yang tidak sadarkan diri diikatkannya menggunakan syal pada punggungnya. Memaksakan tangan dingin itu agar berada di pinggangnya, memeluknya dari belakang.
Motor perlahan melaju di tengah derasnya hujan. Air mengalir, melewati tubuh kekasihnya yang terasa semakin mendingin. Air dengan warna merah, bercampur darah segar.
"Bertahanlah!!" teriaknya, dengan derai air mata bercampur air hujan.
Dua tahun yang penuh kebohongan, hanya ingin bermain-main menghibur dirinya sendiri. Namun perlahan dirinya benar-benar mencintainya. Takut akan kehilangannya, menginginkan keturunan darinya, tapi tidak dapat jujur dalam mulut yang ketakutan akan kehilangannya.
"Jangan mati!! Aku tidak akan berbohong lagi!! Mengerahkan segala cara melindungimu!! Jangan mati, aku mohon..." pintanya, menggenggam jemari tangan Hany yang diikatnya dengan tali kecil agar melingkar di pinggangnya. Satu tangannya masih memegang stang motor matic menuju villa miliknya.
Tidak mempedulikan tubuhnya yang kebasahan. Hingga dirinya sampai di villa. Seorang dokter membawa Hany ke ruang perawatan.
Keadaan Hikaru benar-benar kacau saat itu, menjambak rambutnya frustasi.
Brak...
Helm merah yang biasanya dikenakannya, dilemparkan asal."Aku mohon bertahan..." gumamnya dengan suara parau, untuk pertama kalinya ada seseorang yang peduli padanya. Bahkan mengorbankan nyawanya sendiri tanpa doktrin dan ancaman, hanya karena mengasihinya.
Hingga dokter keluar dari ruangan operasi. Ruangan operasi? Fasilitas medis dalam villa memang begitu lengkap. Dikarenakan banyak anggota kelompoknya yang menjadi buronan, jika terluka dan tidak dapat ke rumah sakit. Bahkan terdapat dua orang dokter khusus yang mereka sewa tinggal di dalam villa yang cukup luas tersebut.
Peluh membasahi dahi sang dokter muda membuka maskernya, tertunduk memberi hormat, setelah keluar dari ruang operasi."Ketua, dia sedang masih dalam fase kritis. Jika dapat bertahan malam ini mungkin dapat diselamatkan, tapi wanita yang anda bawa..." Sang dokter terdiam sejenak, mungkin mengetahui hubungan Hikaru dengan wanita yang baru selesai menjalani operasi.
"Apa sebaiknya digugurkan saja..." lanjut sang dokter ragu, berucap dengan suara kecil.
"Gugurkan?" Hikaru mengenyitkan keningnya, jantungnya berdegup lebih cepat. Gugurkan? Apa Hany tengah hamil...
__ADS_1
Bersambung