Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Maaf


__ADS_3

Banyak hal yang diceritakan dan telah direncanakan dengan matang oleh kakaknya. Queen menghela napas dalam mobil yang melaju meninggalkan hotel.


Kakak yang berubah menjadi begitu rupawan. Bagaikan seekor ulat, menjadi kupu-kupu yang indah. Sudah memiliki istri? Itu sama sekali tidak diduga olehnya. Gadis itu hanya terdiam dalam mobil yang melaju.


"Apa kalian memiliki hubungan darah?" tanya Ben, hendak mengantar gadis itu pulang. Pasalnya dirinya hanya mengetahui Jameson, Leony dan Desi sebagai saudara Queen.


"Hanya satu ibu..." jawaban singkat dari Queen.


"Kamu menyukainya?" tanya Ben sedikit melirik ke arah Queen. Hanya dijawab dengan anggukan oleh gadis itu.


Ben tertunduk sejenak menghela napas kasar."Kalian memiliki hubungan darah, tidak akan dapat bersama. Lagipula kakakmu memiliki orang yang dicintainya kan?"


Wajah Queen tiba-tiba berkerut."Dasar wanita murahan!! Sialan!! Sudah menolak kakakku! Sudah bertunangan! Tapi masih juga mendekat untuk menikah dengannya! Dia lebih rendah dari wanita bayaran pinggir jalan!" teriakan gadis itu penuh angkara murka.


"Kakakmu berusaha bertahun-tahun untuk mendapatkannya. Hingga dia luluh untuk menerimanya..." kata-kata halus penuh senyuman dari bibir Ben.


Aku akan berusaha untuk mendapatkanmu. Melanggar norma dan pesan kebajikan agar kamu luluh... dengan dalih sebagai teman... itulah tekadku... batin Ben memegang erat setir, menghela napas kasar.


"Yah... tumpah..." gumam Queen berusaha mencari tissue, menatap pakaiannya yang basah akibat minuman juice kemasan.


Ben menghentikan laju mobilnya, meraih tissue basah. Jemarinya membantu membersihkan wajah Queen.


Sejenak dua pasang bola mata itu saling menatap beberapa detik.


Sungguh sial, jantung Ben berdegup cepat, menatap bibir dilapisi lip gloss tipis. Mata yang sayu, namun terlihat cerah bagaikan langit berbintang yang dapat menenggelamkannya. Ben mengalihkan pandangannya. Tekadnya menjadi ciut, melempar tissue basah kembali pada Queen."Ini bersihkan sendiri!!"


"Dasar!! Sudah aku duga kamu tipikal orang yang kasar. Mana bisa dibandingkan seujung kuku jari dengan kakakku? Kakakku tipikal orang yang lembut, baik hati, rela berkorban, penyayang..." komat-kamit mulut Queen mengomel dalam kekecewaannya. Membersihkan pakaiannya seorang diri menggunakan tissue basah.


Namun, pemuda itu menahan semua dalam senyumannya. Nomor kontak, media sosial, semua sudah dimilikinya. Dengan modal status teman, mungkin suatu saat nanti jika rajin, akan mendapatkan status sebagai pacar. Yang terpenting hati yang tulus.

__ADS_1


Bagaikan penulis yang ingin naik lencana, dan dipromosikan platform. Entah kapan akan terjadi...


***


Di tempat lain...


Mulut wanita itu terbuka, wajahnya pucat pasi. Keluarga? Dirinya hanya memiliki Sazi, ternyata hanya Sazi. Membuka mulutnya guna menerima suapan. Bibir kering menelan bubur labu.


"Grimm akan mencarikan dokter terbaik. Semoga ibu hanya sementara saja tidak dapat berjalan..." ucap Sazi, memegang jemari tangan Dini.


Tidak mencintainya? Tapi hanya Dini yang diikuti Sazi dari kecil. Seseorang yang menghabiskan waktu dengannya, ibu yang kasar? Walaupun ada pelayan atau baby sitter, status Dini masih ada di hatinya. Status yang tertutup luka menyakitkan.


Wanita di hadapannya ditatapnya, air mata Sazi mengalir tiba-tiba. Mengapa ibunya yang pemarah dapat terbaring sakit seperti ini? Tapi, kenapa air matanya mengalir untuk wanita serakah ini?


"Maaf..." Dini menangis terisak, berusaha memeluk Sazi.


"Untuk apa? Aku menyayangi ibu," tanya Sazi masih berusaha bersandiwara.


Hanya Sazi yang ada untuknya beberapa hari ini. Tidak ada Alexa atau Fredric, atau bahkan pria lainnya, wanita yang baru menyadari arti sebuah keluarga. Keluarga yang bukan hanya berdasarkan ikatan darah atau napsu dan cinta. Namun, keluarga berdasarkan kasih sayangnya.


"Benci ibu... tolong benci ibu...tapi jangan pernah berhenti memanggilku ibu. Kamu boleh mengambil semuanya. Aku tidak ingin sendirian..." lanjut Dini tidak menginginkan apapun lagi. Sebuah onggokan harta yang hampir membuat nyawanya melayang.


Sazi mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Air matanya mengalir, apa Dini kali ini tulus? Entahlah, namun seorang anak bodoh, yang tetap menginginkan rasa kasih. Itulah dirinya...


"Aku memaafkanmu..." lirihnya, ikut terisak dalam tangisan.


"Kita akan ke makam Herry dan Vallentina. Mereka dikuburkan berdampingan..." ucap Dini, memeluk Sazi lebih erat.


Sazi melonggarkan pelukannya."Tapi informasi yang aku dapatkan makam ibu ada di daerah pelosok..."

__ADS_1


Dirinya memang sempat ke alamat yang dulu didapatkannya. Namun, makam Vallentina memang tidak ditemukannya. Berdampingan dengan ayahnya? Tidak mungkin, disekitar makam ayahnya tidak ada makam dengan nama itu.


Dini menggeleng."Makam ibumu dulu memang di daerah pelosok. Ayahmu memindahkannya, agar lebih mudah mendatangi makamnya..."


"Tidak ada batu nisan dengan nama Vallentina di sekitar makam ayah, jadi..." kata-kata Sazi dipotong.


"Nama lengkap ibumu Vallery Nadya Tiffany Nara. Ayahmu sering menyingkatnya menjadi Vallentina, karena nama cantiknya terlalu panjang..." jelas Dini, mengelus rambut putri sambungnya.


"Kita akan kesana..." ucap Sazi berusaha tersenyum dalam tangisannya.


"Ibu tidak akan meminta apapun. Rumah utama dan mobil adalah milik ibu, tolong usir Fredric dan Alexa atas nama ibu. Tentang surat wasiat asli dari ayahmu, rangkap satu sudah mereka hancurkan. Sedangkan salinannya. Mungkin ada dalam lukisan cat minyak yang dikirimkan ayahmu sebelum kematiannya..." Dini mengucapkan asumsinya, menatap ke arah putri sambungnya. Hanya Sazi keluarganya saat ini, tidak memiliki apapun lagi...


***


Sazi menghela napas kasar, melangkah masuk, mendorong kursi roda yang kini diduduki Dini. Belum pulih secara total, namun Dini seakan muak menatap wajah Alexa dan Fredric di rumah tersebut.


Lukisan? Masih tersimpan di gudang rumah Rion di Spanyol. Sazi telah mengirim pesan pada salah satu karyawan kepercayaannya untuk mengirim lukisan padanya. Mungkin masih dalam proses pengiriman saat ini.


"Sazi..." Dave menuruni tangga melangkah mendekat. Namun, dengan cepat Andres menghadangnya.


"Jaga jarak! Ingat protokol kesehatan..." kata-kata konyol dari bibir pemuda berdarah Spanyol tersebut.


"Dave maaf, kemasi barang-barangmu. Karena ibuku tidak ingin berhubungan lagi dengan Alexa dan Fredric."Hanya itu kata-kata dari bibir Sazi, tersenyum ke arah sang pemuda.


"Apa maksudnya ini?" Dave mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Rumah ini atas nama ibuku dari awal. Ibuku ingin bercerai dengan paman Fredric..." jawab Sazi menghela napas kasar. Sudah cukup jenuh rasanya berurusan dengan mantan.


"Aku akan pergi, pindah ke apartemen milikku pribadi. Berpisah dengan Alexa, bisa kita kembali seperti dulu? Jika kamu hanya mengingat kenangan buruk tentang hubunganku dengan Alexa. Tolong hapus itu...Ingatlah kenangan manis masa kecil kita saat berkemah di hutan..." kata-kata manis dari bibir Dave, menginginkannya kembali, menggapai jemari tangan Sazi. Menatapnya penuh harap.

__ADS_1


Sazi menarik tangannya."Grimm... malaikat kematian yang aku temui di hutan..." kata-kata ambigu, penuh senyuman darinya.


Bersambung


__ADS_2