Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Karya Terbaik


__ADS_3

Hari ini dirinya mulai duduk, dilayani oleh sang istri. Menyenangkan bukan? Tapi tunggu dulu, dilayani oleh sang istri?


"Aaaa....aaa..." Rion tersenyum menyuapinya. Mungkin karena sudah terbiasa beberapa hari ini melayani Sazi.


"Aku bisa sendiri," ucap wanita itu merebut garpu dari tangan Rion. Pemuda yang tersenyum hangat padanya.


Perlahan Sazi kembali mengunyah, menghela napas kasar. Mengapa pertunangannya dengan Dave bisa putus? Lalu mengapa bisa menikah dengan pemuda ini? Semua masih samar baginya."Bagaimana kita pertama kali bertemu? Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Lalu bagaimana dengan keluargaku dan Dave... mereka..."


"Kamu tidak bahagia bersamaku?" kata-kata yang keluar dari mulut Rion, menatap ke arahnya. Apa setelah semuanya Sazi masih mencintai Dave? Apa setelah ingatannya kembali, akan kembali meninggalkannya? Banyak pertanyaan dalam benaknya, menatap wanita di hadapannya.


Sazi menggeleng menghela napasnya, kemudian tersenyum."Aku bahagia, tapi mereka keluargaku. Entah kenapa aku tidak bisa mengingat dengan jelas... maaf..."


Pemuda itu meletakkan cangkir kopi yang hendak diminumnya, berusaha untuk tersenyum."Dave, dia melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Kita bertemu saat itu, saat dia pergi meninggalkanmu. Dia melepaskanmu dengan senyuman, untukku. Sedangkan, ibumu dia sedang berlibur ke luar negeri, memberi restu pernikahan kita dari jauh..."


Jemari tangannya mengepal, Rion menahan air matanya yang hendak mengalir. Terlalu sakit rasanya, bahkan setelah semuanya, Sazi masih mencintai mereka dari pada dirinya.


Rion melanjutkan kata-katanya."Kita pertama kali bertemu di toko alat tulis. Kamu membeli kuas dan kain kanvas, sedangkan aku membeli hadiah untuk rekan bisnisku. Kita saling bertemu dan jatuh cinta..." ucapnya menatap mata Sazi lekat.


Sazi terdiam sejenak, menghela napas kasar. Walaupun dalam ingatannya yang samar perasaannya dan Dave sudah memudar, namun dirinya-lah yang ternyata berakhir mengkhianati Dave. Merasa bersalah? Mungkin iya."Dave, apa aku sudah meminta maaf padanya? Apa dia dapat melupakanku?"


Rion tertunduk, tersenyum simpul menyadari kekalahannya dari awal."Sudah, dia juga sudah melupakanmu. Hiduplah bahagia denganku, jangan memikirkan orang lain lagi..." ucapnya meraih jemari tangan Sazi mengecupnya pelan, menahan rasa sakit akan kekalahannya.


Sazi tersenyum, menghapus mapple sirup di sudut bibir Rion dengan jarinya. Sepasang mata yang saling menatap dalam senyuman. Benar-benar suami yang baik dan menyayanginya.


Sepasang muda-mudi yang tertegun diam sejenak, saling menatap, perlahan kedua mata itu sayu. Rion mendekatkan bibirnya, dua pasang mata yang terpejam dalam diam. Sinar matahari pagi tipis yang menembus jendela, bagikan menyinari sepasang wajah yang saling mendekat.


Sepasang mata yang tertutup sempurna, bibir yang saling bersentuhan dalam keraguan. Perlahan Rion hendak melepaskan sentuhan bibir mereka. Hanya sentuhan singkat, tanpa tautan memabukkan.

__ADS_1


Mata Sazi perlahan terbuka, keningnya dikecup di bagian akhir. Bibir yang terasa dingin, sedikit lembab dengan harum aroma kopi, terkena sinar tipis matahari."Aku mencintaimu ..."


Dirinya tidak dapat mengingat pemuda ini, hanya mengingat sedikit tentang pernikahannya saja. Tapi satu yang pasti, pemuda ini benar-benar mencintainya."Aku juga..." senyuman terlihat di wajahnya, menerima kasih sayang dari Rion.


Rion hanya tersenyum padanya, kembali ingin menyuapinya. Hingga, tiga kalimat yang membuat pemuda itu bungkam, menjatuhkan garpunya.


"Entah kenapa aku tidak mengingatmu dengan jelas. Tapi aku sekarang sudah siap! Jika kamu meminta hakmu sebagai seorang suami sekarang. Ini adalah kewajibanku sebagai seorang istri..." ucap Sazi, mulai melepaskan, kancing bagian atas kemeja yang dipakainya. Walaupun tidak begitu jelas, dua benda yang belum terjamah di sana mulai terlihat.


Tangan Rion mengepal, mengumpat dalam hati berkali-kali. Kenapa kedua orang br*ngsek itu harus membuat mereka seolah-olah sudah menikah. Menelan ludahnya berkali-kali, leher yang indah, bahu dengan sedikit lekukan tulang selangka, benda yang tidak tertutup sempurna, akibat tiga kancing yang telah terbuka.


Dengan cepat pemuda itu meraih tangan Sazi, menggenggamnya erat, tangan Rion benar-benar gemetaran. Menghentikan Sazi yang tengah membuka kemejanya sendiri.


Mengapa wanita ini seberani ini? Tentu saja, karena walaupun tidak mengingat pertemuannya dengan jelas, Rion adalah suaminya. Kewajiban baginya untuk melayaninya, tidak ingin kehilangan kasih sayang dari orang yang telah mengikat janji suci dengannya.


"He... hentikan..." kata-kata yang keluar dari mulutnya, mengeluarkan keringat dingin. Ingin menerkam wanita di hadapannya, wanita yang membuatnya sanggup menelan ludah berkali-kali."A...aku harus berangkat bekerja..." ucapnya memang telah memakai setelan jas yang sebelumnya disiapkan Sazi.


Sazi tertunduk penuh rasa bersalah,"Maaf sempat menolakmu di malam pertama kita. A...aku akan menebusnya dengan cara apapun, memuaskanmu, membuatmu kelelahan, jangan membenciku..."


"Boleh kita berciuman? Benar-benar berciuman, setidaknya aku ingin terbias..." kata-kata Sazi terhenti, bibirnya tiba-tiba dibungkam. Memejamkan matanya merasakan lidah itu bermain di bibirnya tiada henti. Bagaikan kehilangan pijakannya, Rion benar-benar menguasainya hanya dengan sebuah ciuman.


Perasaan berdebar yang serupa dengan saat bersama Rion, sahabatnya yang telah tiada. Nama yang sama, apakah juga orang yang sama? Sepasang lidah yang tiba-tiba saling bermain agresif.


Deru napas yang tidak teratur. Ini harus dihentikannya, Rion melepaskan tautan mereka sejenak. Mengatur napasnya, menatap mata Sazi yang perlahan mulai terbuka."Kamu suka melukis, apa masih menyukainya? Aku akan membukakan sebuah galeri untukmu. Akan ada beberapa pameran juga, persiapkan lukisan yang indah untukku..." pintanya.


Sazi mengangguk, pria yang tidak mencibirnya karena pilihan hidupnya. Air matanya mengalir, tidak mendapatkan hujatan sama sekali, hanya karena lebih memilih pekerjaan yang terasa nyaman baginya."Terimakasih..." Sazi memeluk Rion erat.


"Aku penggemar dari semua karya lukisanmu. Kamu akan menjadi pelukis terkenal dalam waktu singkat, karena bakatmu, bukan karenaku. Jadi ..." Rion tersenyum membalas pelukannya.

__ADS_1


"Jadi?" Sazi mengenyitkan keningnya.


"Jadi, aku ada urusan bisnis selama beberapa hari. Ayahku dan beberapa pelayan akan menjagamu. Buatkan aku beberapa lukisan, kita akan pergi, menghadiri pameran di Spanyol, beberapa hari lagi. Mungkin salah satu seniman disana, dapat memanjang lukisanmu di tempat pemerannya..." jawaban darinya, tetap memeluk tubuh Sazi.


"Tapi lukisanku biasanya dijual di galeri kecil, dengan harga murah dan..." kata-kata Sazi yang melepaskan pelukannya disela.


"Tidak boleh, ini adalah istri seorang Rion yang berbakat. Kamu berani menolak permintaanku?" tanya Rion, merapikan anak rambut wanita yang dicintainya.


Sazi awalnya tertunduk, perlahan menatap ke arah Rion. Kemudian, hendak berjalan keluar kamar, terlihat bahagia."Aaaa!! Aku ikut pameran di Spanyol!! Aku akan membuat karya terbaik untuk..."


"Kiss..." kata-kata dari Rion, menghentikan langkahnya.


Tanpa diduga, Sazi berbalik, mencium bibirnya agresif. Naik ke atas tubuh Rion, duduk dengan posisi tepat berada di pangkuannya. Bagaikan pasangan yang tengah berbuat mesum.


Tapi memang benar, tubuh Rion bereaksi, napasnya tidak teratur. Merasakan bagian tubuh paling sensitifnya diduduki. Bibir mereka masih bertaut, tangan Rion berkelana di punggung Sazi, menahan kegelisahannya. Merasakan tubuh wanita yang duduk di pangkuannya, bergerak, paha yang saling bergesek membuatnya semakin sulit menahan diri.


"Aku menginginkanmu..." kalah? Rion benar-benar mengaku kalah. Tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Deru napas yang tidak teratur kembali melanjutkan ciumannya.


Dasi yang digunakan olehnya, dilepaskan Rion tidak sabaran, melemparnya ke lantai.


Hingga...


Suara pintu terbuka terdengar, Hikaru berdiri di sana, menatap mereka penuh senyuman ramah yang terasa ganjil."Tuan, sudah cukup melakukan perbuatan mesum hari ini. Perhatikan juga kesehatan anda..." ucapnya.


Pasangan yang serentak menoleh padanya, menghentikan kegiatan mereka.


"Kita harus berangkat sekarang, jika tidak akan ketinggalan pesawat..." Hikaru melihat pada jam tangan yang menempel di pergelangan tangannya tanpa merasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


Aku harus kecewa, atau bersyukur... batin Rion menatap ke arah asistennya.


Bersambung


__ADS_2