
Kali ini bukan hanya satu kelompok, kelompok lainnya juga sudah mengetahui tentang keberadaan pria dengan bayaran tertinggi.
Mungkin pilihan yang tepat bagi Rion, untuk tidak kembali ke mobil. Entah berapa orang yang telah bersembunyi akan menghadang jalannya.
Dor!!
Suara letupan senjata terdengar nyaring di tengah hutan. Seorang pemuda melempar rokoknya asal, menginjak puntungnya.
Bawahannya kini tergeletak bersimbah darah, seorang pria yang dianggap tidak becus hanya untuk menangkap seorang Rion. Apa kelebihan pria itu? Benar-benar licin bagaikan belut. Bahkan dengan ketidak hadiran Hikaru disampingnya Rion masih dapat melarikan diri dengan mudah.
Mayat bawahannya, diinjak olehnya, benar-benar sebuah tantangan untuk mendapatkan kepala dari Rion. Selalu kalah satu langkah darinya.
"Ketua..." ucap seorang pembunuh bayaran menunggu instruksi dari Bruno, ketua kelompok, pengganti Hikaru.
"Cari sampai dapat, jangan sampai didahului kelompok rendah seperti black butterfly," perintah darinya memainkan senjata api di tangannya. Kali ini Rion akan tertangkap, benar-benar tertangkap. Cukup memperlihatkan kepalanya pada Gerald, kemudian mengkremasi sisa mayatnya.
Sudah hampir sepuluh tahun dirinya mencari pemuda ini. Jejak yang menghilang bagaikan jelangkung. Tiba-tiba muncul, bahkan dirinya menutup akses jalan. Ternyata pemuda ini malah menyembunyikan diri dengan identitas Grimm selama bertahun-tahun. Berada di bawah perlindungan Hikaru.
Namun, sekarang Rion bagikan siput tanpa cangkang. Tidak memiliki perlindungan sama sekali. Terjebak dalam hutan hanya dengan perlindungan beberapa pengawal.
Ini bukanlah kota, ini hutan tidak banyak orang didalamnya. Pemuda yang tersenyum menyeringai seakan mencium bau darah dari pria yang akan dihabisinya. Membayangkan menyiksa pemuda itu hingga hembusan napas terakhirnya, menyaksikannya merintih kesakitan. Saat itulah dirinya akan melampaui Hikaru, pemuda yang terus menerus dielu-elukan oleh para petinggi dan tetua kelompok.
Kelompok hidden light, memiliki jaringan yang cukup besar. Berkembang pesat di tangan Hikaru dahulu. Namun, pemuda itu mengundurkan diri, menghilang dalam kegelapan entah apa alasannya.
Gaji besar yang diberikan Rion? Apa mungkin? Atau Rion mendoktrin Hikaru secara paksa? Entahlah, namun Hikaru adalah rival bagi Bruno. Ingin mengalahkan Hikaru dari segala sisi, itulah ambisinya.
Jemari tangannya mengepal, seperti apa sosok Rion sebenarnya hingga dapat mengendalikan seorang Hikaru? Mungkin pengusaha yang menjadikan bawahannya sebagai budak.
***
"Hachih..." Rion bersin beberapa kali, masih mengumpulkan buah belimbing untuk bekal perjalanan mereka."Petik yang banyak!!"
Seorang pria yang bahkan tidak bisa memanjat pohon. Dirinya hanya bertugas memungut buah. Sungguh luar biasa CEO yang satu ini.
Bukankah seharusnya CEO serba bisa, selalu bersikap dingin, kuat fisik dan mentalnya?Pintar, tapi sayangnya mudah dibohongi pelakor. Ber-IQ rendah khusus hanya di hadapan sang pelakor. Itulah CEO dalam novel romance, pria tanpa kelemahan, hanya lemah pada pelakor.
Tapi ini berbeda, dia bukan CEO sombong, bukan juga Ultraman. Dia hanya seorang pemuda, yang menelan ludahnya menatap belimbing penuh harap.
Dirinya benar-benar haus dan lapar, usai berjalan sejauh 5 km. Seharusnya dirinya lebih banyak berolahraga lagi. Tapi sayangnya tuntutan pekerjaan membuatnya hanya berolahraga sekedarnya, untuk menjaga otot-otot tubuhnya yang bagaikan iklan pakaian dalam pria.
"Ada 15..." gumam Rion menatap para pengawalnya yang juga menelan ludah. Bagaimanapun Rion adalah bos mereka, kalau bos mengatakan akan memakannya sendiri itu adalah titah. Keputusan mutlak.
Namun, tanpa diduga, Rion membagi empat buah untuk masing-masing dari mereka. Sedangkan dirinya hanya mengambil tiga.
"Kalian harus menembak dan berkelahi agar kita tetap hidup. Tugasku hanya berfikir, jadi tidak begitu melelahkan..." jawaban masuk akal darinya mulai memakan belimbing.
Tiga orang pengawal yang saling melirik. Memiliki kode nama G2, R06, dan T32. Mereka merupakan mantan bawahan Hikaru. Jika ditugaskan, biasanya bos mereka akan acuh tidak acuh. Tapi ini? Katak ini terlalu baik, tidak menganggap mereka perisai atau hewan peliharaan.
"Terimakasih..." ucap G2 memakan belimbing dengan cepat.
__ADS_1
"Omong-omong kalian sudah lama melayaniku. Tapi aku belum tau nama kalian. Siapa saja nama kalian?" tanya Rion, hanya memakan setengah buah belimbingnya mengingat perjalanan mereka yang masih jauh.
"Aku G2, karena peringkat kami bawahan, kami tidak memiliki hak menyebutkan nama asli. Nama asli kami sudah di hapus..." jawaban dari salah satu pengawal.
"Untuk mempermudah aku akan memanggil kalian Bagaga, Bagugu, Bagege." Kata-kata dari Rion membuat mereka terbatuk-batuk, tersedak buah belimbing.
Entah nama alien planet mana yang digunakan Rion. Bos yang hanya tersenyum, pada mereka. Mengapa Hikaru bisa bertahan dengan makhluk ini? Entahlah...
***
Malam semakin menjelang. Suara peluru beradu terdengar, perlahan Rion membuka matanya. Dirinya masih malas, benar-benar malas. Namun tempat ini begitu empuk. Apa ini punggung ayahnya?
Tapi ternyata tidak, ini adalah punggung pengawalnya. Saat kilometer ke 15 mereka sempat beristirahat untuk tidur. Tapi situasi tidak kondusif dan Rion yang tertidur bagaikan orang mati, membuat F4 itu terpaksa menggendong pimpinan mereka secara bergantian.
Dor!! Dor!!
Suara tembakan semakin nyaring terdengar."Stt...ayah hari ini minggu aku libur," racauan Rion masih setengah sadar.
"Bos bagun!" salah satu dari mereka mencoba membangunkan Rion lagi. Kita panggil saja dia Bagugu. Sedangkan yang menggendong Rion sambil berlari saat ini Bagaga.
Bagege masih setia membawa buah belimbing untuk bekal. Ini adalah harapan terakhir mereka, terjebak antara kelompok black butterfly dan hidden light yang tengah berusaha mendapatkan Rion. Ini bagaikan medan perang untuk mereka.
Dua negara yang bertempur memperebutkan sekotak peti harta karun yang tertidur nyenyak di punggung mereka. Di tempat ini entah berapa orang yang memperebutkan Rion yang tengah tertidur.
"Bagaimana ini?" gumam mereka kala menyadari, ada sorotan dari beberapa senter yang mengarah ke sungai.
"Bangunkan bos!! Dia pasti punya ide gila lainnya..." mereka bertiga mengangguk sepakat bersama.
Sang katak dilemparkan ke habitat buaya, berharap tukang tidur itu terbangun. Dan benar saja, katak pada akhirnya berenang sambil komat-kamit mengumpat penuh syukur buaya muara tidak datang untuk memangsanya.
"Kalian!!" geram Rion dengan sekujur pakaian yang basah.
"Sttt ... mereka semakin mendekati daerah sungai. Ada dua kelompok yang sedang baku tembak," kata-kata dari mulut Bagaga.
Bagege menghela napas kasar."Bagaimana sekarang?" ketiga orang itu melirik bersamaan ke arah Rion. Kaisar ada di hadapan mereka, pasti memiliki strategi penerang untuk melarikan diri bukan?
Mengingat kaisar ini berbeda dengan kaisar lainnya yang bermartabat. Kaisar di hadapan mereka memiliki kemampuan melarikan diri tiada tandingannya.
Jika Kaisar lainnya bertempur hingga titik darah penghabisan. Bahkan jika harus terkena ribuan panah sekalipun. Kaisar yang dipilih Hikaru bagaikan Sengkuni dalam serial Mahabarata. Tau kapan harus menyerang dan tau kapan harus memanfaatkan situasi untuk mundur.
"Kenapa melihatku seperti itu!? Aku sudah menggigil kedinginan! Apa kalian ingin menyerahkanku pada mereka!?" tanya Rion komat-kamit dalam kekesalannya.
Mereka bertiga menggeleng bersamaan."Kami tidak ini ingin menyerahkanmu. Tapi bantu kami ya?" pinta mereka.
Rion menghela napas kasar, melirik ke arah sinar senter dan suara tembakan yang bersahutan."Aku bisa membantu kalian. Tapi pertama-tama..." gumamnya tersenyum menyeringai.
***
Dor!! Dor!! Dor!!
__ADS_1
Suara yang saling bersautan. Darah menggenang di atas bebatuan pinggir sungai.
"Sial!!" umpat Bruno, menemukan tiga mayat yang memakai setelan jas hitam. Sedangkan tuan mereka menghilang, namun jas abu-abu terlihat disana bernoda darah.
"Ketua..." bawahan Bruno, tertunduk memberi hormat.
"Habisi black butterfly!" perintahnya meninggalkan area aliran sungai. Hal yang diduganya? Black butterfly telah menemukan Rion terlebih dahulu kemudian menghabisinya.
Perlahan Bruno melangkah. Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti.
Bagaga, Bagugu dan Bagege masih berpura-pura mati. Ketakutan? Tentu saja, mereka mengetahui betapa mengerikannya Bruno. Walaupun masih lebih menakutkan Hikaru, namun Bruno termasuk brutal membunuh tanpa ampun.
Inilah tiga marmut kecil polos harus pura-pura mati di hadapan Tirex yang lewat. Bagaga mati-matian menahan bersin dan napasnya. Jika ketahuan masih hidup, itu artinya mampus.
Mata Bagege sedikit terbuka, melirik ke arah Rion yang kembali tidur dengan tenang di bawah tumpukan dedaunan kering. Bahkan sempat-sempatnya Bruno melangkahinya.
Tepat di tempat Bruno terhenti saat ini, dibelakangnya berdiri, tubuh Rion berada di sana. Benar-benar sang kaisar yang terlalu santai. Kembali tidur tanpa beban, dengan benar-benar nyenyak.
Bruno tiba-tiba berbalik, menyipitkan matanya. Membuat Bagaga, Bagugu dan Bagege menegang. Tirex yang mengendus bebauan mangsanya.
"Perasaanku saja..." gumam Bruno kembali melangkah pergi, bersamaan dengan Rion sedikit membalik posisi tidurnya, sedikit wajahnya terlihat dalam senyuman. Bruno yang telah pergi sekitar 20 meter tidak menyadarinya.
Bagaga mulai bangkit, menyadari tidak ada lagi sinar lampu senter. Hanya suara baku tembak dari jarak jauh."Jangkrik!!" umpatnya ala iklan rokok, menatap Rion yang tertidur tersenyum-senyum sendiri. Mungkin terlalu lelah karena bermain ranjang bersama Sazi di malam sebelumnya.
"Ayo bawa dia..." Bagege mulai meraih Rion menggendong di punggungnya. Mungkin karena inilah mereka mendapatkan belimbing lebih.
***
Sementara di tempat lain, Belinda tidak begitu banyak membawa orang, hanya sekitar dua orang menyadari kelompok hidden light, tengah menghadapi black butterfly.
Tidak ceroboh? Tentu saja, menelusuri sungai, perlahan. Beberapa buaya muara terlihat menampakan diri.
"Apa mereka masih hidup?" tanya pengawal yang dibawa Belinda tidak yakin.
"Hikaru mengatakan IQ Rion 193. Tidak mudah menaklukkannya, karena itu selama masa kecil hingga remajanya tidak ada yang menyadari kecerdasannya selain ayahnya. Rion masih hidup...kita hanya harus menemukannya," jawaban dari Belinda.
Kedua orang pengawal saling melirik, tidak yakin sama sekali. Ada buaya, dua kelompok pembunuh bayaran, dan mereka hanya berempat? Bagaimana dapat bertahan hidup?
Tapi memang bagaikan keajaiban, ketiga manusia itu memang masih bernapas hingga saat ini. Berjalan di sisi lain sungai.
"G2, apa..." kata-kata Bagugu terhenti.
"Panggil saja aku Bagaga sesuai perintah. Kita akan selamat, jika setiap dalam bahaya membangunkannya..." jawaban dari Bagaga.
Ketiga orang mengangguk bersamaan, akan melempar Rion ke dalam sungai untuk membangunkannya lagi jika keadaan genting terjadi.
Apa gunanya jenius dalam bertarung jika pada akhirnya keluar dari medan perang dalam keadaan terluka. Lebih baik jenius melarikan diri, hingga saat di medan perang sebagai prajurit biasa mereka dapat menghela napas tanpa cacat fisik sedikitpun.
Rion bukan harta karun, atau mesin ATM berjalan bagi mereka. Tapi bagaikan hewan langka yang patut dilestarikan dan dilindungi. Koala yang tidur, bangun hanya untuk berfikir sejenak dan makan.
__ADS_1
Bersambung