
Pagi menjelang seorang pemuda terbangun dari tidurnya dalam tempat tinggal sempit yang sulit terlacak. Membersihkan dirinya, memakai celana jeans, sweater dan topi hitam.
Motor matic berwarna putih mulai dinyalakannya. Entah apa tujuannya? Bucin sejati? Mungkin itulah dia.
Walaupun wajahnya benar-benar terlihat pucat, pemuda itu tetap berusaha mengendalikan motornya. Hingga sampai di tempat tujuannya.
Rumah dengan gerbang besar di bagian depan."Aku ingin bertemu dengan Sazi..." ucapnya kala security menghentikannya.
"Namamu siapa!? Bisa tunjukkan kartu identitasmu!?" tanya sang security.
Rion mengepalkan tangannya, tertunduk sejenak. Terlalu berbahaya untuk menunjukkan kartu identitasnya."Ketinggalan..." hanya itulah jawabannya sembari tersenyum lugu, menampakan deretan gigi putihnya.
"Pulang! Ambil kartu identitasmu, baru boleh masuk. Kami hanya berjaga-jaga kalau ada barang yang hilang saat kamu datang," sang security menghela napas kasar, menatap motor matic yang dikendarai sang pemuda. Bukan dari kalangan atas, mungkin saja penipu yang berpura-pura mengenal salah satu majikannya.
Rion mengenyitkan keningnya. Pencuri? Membeli rumah inipun dirinya bisa, menghirup napas dan bersabar hanya itulah yang dilakukan sang kaisar yang divonis mengidap penyakit budak cinta stadium akhir.
Pemuda yang mulai kembali melajukan motornya, sesekali menengok ke belakang. Tidak akan menyerah? Itulah prinsipnya, menemui Sazi walaupun hanya sekali. Setelah itu pergi, kembali bersembunyi di luar negeri.
Tapi apa bisa? Dirinya benar-benar merindukan Sazi, apa dapat berpisah merelakannya?
Pemuda yang hanya menaiki motornya, berkeliling daerah perumahan. Mencari celah untuk kembali masuk.
***
Di tempat lain Dave mengenyitkan keningnya kesal. Menutup laptopnya, berlari kecil menuju mobil, usai membaca pesan dari Andres. Pedal gas diinjaknya dalam-dalam melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi.
Kesal? Tentu saja, seenaknya saja bule tengil yang entah berasal dari planet mana itu, begitu dekat dengan Sazi.
Hingga mobil berhenti di kediaman yang cukup besar. Security yang menganali mobil majikannya segera membukakan pintu. Murka? Tentu saja, harga dirinya terluka. Istilah lainnya sakit tapi tidak berdarah.
Mengetahui kedekatan psikolog dengan pasiennya itu. Berjalan cepat mencari keberadaan Andres. Dave yang sejatinya hanya pernah mencium pipi Sazi ketika SMU. Sebelum dirinya mengetahui betapa nikmatnya surga dunia yang memabukkan dari Alexa.
Cemburu? Mungkin benar, sangat benar, sagat luar biasa bukan?
__ADS_1
Jika saja Dave mengetahui si roti bantet bahkan mencium Sazi di masa SMU-nya mungkin akan lebih murka lagi.
Karena itu mungkin jika Rion tidak pergi, Dave akan menyadari perasaannya lebih awal.
Pria yang cemburu hanya dengan foto mesra Sazi dengan Andres ala remaja pacaran. Tidak menyadari si roti bantet telah berhasil menghamili Sazi.
Pada akhirnya langkah pemuda itu terhenti. Menatap ke arah Sazi yang tertunduk. Pemandangan yang lebih menjemukan lagi, seorang duda yang belasan tahun lebih tua darinya dijodohkan dengan Sazi. Sedangkan Andres berjalan menuju dapur dengan santainya, membuka isi lemari es. Memakan Jack fruit, kita sebut saja nangka.
"Dave kamu sudah pulang, kamu pasti kenal dengan Aftar(pria yang dijodohkan dengan Sazi) rencananya aku ingin menjodohkan dia dengan Sazi. Bagaimana menurutmu?" tanya Dini padanya.
Dave mengepalkan tangannya mengetahui, pria mesum, kasar yang diceraikan istrinya, itulah Aftar. Wajah memuakkan dengan rambut beruban.
"Sazi adalah bekas pasien rumah sakit jiwa. Mungkin kamu harus mengurusnya jika penyakit kejiwaannya kambuh..." kata-kata yang keluar dari mulut Dave berusaha menghentikan segalanya.
"Dave, diam..." ucap Dini dengan suara kecil.
"Apa benar?" tanya Aftar mulai menjauh dari Sazi.
"Benar, orang yang ada di dapur, sedang memakan buah adalah psikolog pribadinya. Sazi pernah mengompol, tinggal di rumah sakit jiwa, buang air besar di celana. Kamu mau mengurusnya? Tidak akan ada pria yang cukup gila untuk mengurusnya, jika penyakit kejiwaannya kambuh!!" Dave meninggikan intonasi bicaranya.
Tapi hanya Rion yang bisa setulus itu padanya. Sazi berusaha tidak tersenyum, merindukan suaminya? Tentu saja, entah dimana si katak yang terlalu memanjakannya.
Aftar menghela napas kasar."Akan aku fikirkan lagi tentang perjodohan ini. Aku pamit, sekarang sudah cukup larut..." ucapnya melangkah pergi.
"Aftar tunggu!! Sazi sudah sembuh!! Aftar!!" teriak Dini, berusaha mengejar calon menantu idamannya.
Sedangkan Sazi, masih tertunduk diam, air matanya tiba-tiba mengalir."Ka...kamu benar, tidak akan ada pria yang bersedia mengurusku..."
Dini menghentikan langkahnya, menatap tajam pada Dave."Apa yang kamu lakukan!?" bentak Thanos pada Grandong. Maaf salah, maksudnya bentak Dini pada Dave.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, jika perjodohan ini terjadi. Keluarga Aftar yang tidak mengetahui tentang penyakit kejiwaan Sazi akan menyalahkan kita. Bibi akan dirugikan..." kata-kata yang keluar dari mulut Dave mencari alasan dengan cepat.
"Keluarga Aftar tidak akan tau, kamu lihat Sazi sudah sembuh!" ucap Dini tidak kalah sengit, menatap tajam pada Dave.
__ADS_1
Andres menghela napas kasar, inilah akibatnya menamakan Jack fruit. Yang makan nangka akan terkena getahnya. Mencuci tangannya juga sulit, menghilangkan. Pemuda yang mengelap tangannya menggunakan tissue, berjalan mendekati Sazi.
"Kalau sudah, kami permisi, aku akan mengantar Sazi beristirahat..." ucapnya, membimbing Sazi untuk bangkit dari sofa.
"Tunggu!! Apa hubungan kalian!?" Dave menatap tajam padanya.
"Pasien dan psikolognya, aku adalah orang yang bekerja secara profesional. Bukan seorang suami yang masih memikirkan mantannya," jawaban dari Andres penuh senyuman.
"Kamu menyukai Sazi!? Kamu dan Alexa sudah menikah!! Cepat-cepatlah punya anak, dari pada memikirkan, putriku tersayang akan dijodohkan dengan siapa!!" sindir Dini berjalan berlalu menuju lantai dua.
Sedangkan Andres diam-diam tersenyum, merangkul Sazi menuju kamar yang terletak bersebelahan dengan kamarnya.
***
Puas? Tentu saja, wanita yang tengah mengandung itu tersenyum, sudah cukup rasanya hari ini. Berhasil menolak perjodohan. Tapi ada apa dengan Dave? Sesuatu yang terasa ganjil baginya.
Namun...
"Masa bodoh!!" teriaknya memakai piyama, membaringkan dirinya di tempat tidur, mengelus perutnya yang rata, usai memakan vitamin ibu hamil.
Perlahan matanya tertutup, tubuhnya terasa berat. Tidak menyadari hal yang terjadi, Sazi menggeliat perlahan, entah kenapa."Emgh... jangan..." ucapnya manja memejamkan matanya.
Kata-kata yang lebih buruk lagi terdengar,"Aku ingin lagi. Emmgh... Rion..." ucapnya.
Sementara seorang pemuda yang baru saja berhasil mencari jalan untuk masuk diam-diam, mengenyitkan keningnya. Melepaskan topi hitam yang dipakainya, tangannya tiba-tiba lemas, menatap istrinya yang bermimpi mesum sambil memeluk bantal guling.
Menggeliat-geliat bagaikan ulat tidak tentu arah."Akh... Rion..." entah apa yang dimimpikan wanita ini.
Tindakan bodoh? Tentu saja, kecerdasan dan hatinya yang berdebat kini singkron. Dirinya telah bertindak bodoh, kecerdasan yang kini mengejek hatinya. Bagaikan berkata,'Aku benarkan!? Begok!'
Hanya lega, dan menyesali perbuatannya. Wajah pucat yang mulai berbaring di samping Sazi, akhirnya dapat tidur dengan perasaan lega penuh senyuman.
Alasan Sazi membohonginya? Sebaiknya di fikirkan besok saja. Suhu tubuh yang perlahan menurun saat mengetahui wanita ini tetap memikirkannya. Mungkin inilah gejala ikatan batin sang ayah pada anaknya. Tidak mengetahui keberadaan sang anak, tapi merasa sakit kala berjauhan dengannya.
__ADS_1
Sudah 15 hari pemuda ini demam tinggi tidak menentu. Malam ini keringat dingin mengalir di wajah putih pucatnya yang tersenyum.
Bersambung