
Apa yang terjadi di dalam sana? Suara yang tidak terdengar sama sekali. Hingga pintu kembali dibuka Sazi, menatap aneh ke arah Andres.
"Kenapa diam disini?" pertanyaan yang keluar dari mulut wanita itu.
"Jangan coba-coba berselingkuh, aku bisa dikebiri Hikaru jika kamu berselingkuh dengan pria la..." kata-kata Andres terhenti.
"Sazi, siapa?" tanya Rion dari dalam sana, menanyakan tentang orang yang ada di depan pintu.
"Jadi?" Wajah Andres tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi, mendengar keberadaan sang kaisar, berarti jendral gila itu juga ada disini. Orang yang paling ditakuti olehnya.
Sazi membukakan pintu lebih lebar. Terlihat Rion yang tengah memakai jubah mandi usai membersihkan dirinya, menggunakan laptop milik Sazi mengerjakan sesuatu.
Mata Andres menelisik, bukan karena wajah rupawan Rion yang terlihat dingin, menggoda. Dirinya masih normal, masih menyukai Belinda, salah maksudnya masih menyukai wanita.
Mata yang menelisik mencari keberadaan Hikaru. Berjalan tanpa mempedulikan Rion, menuju ke toilet dalam kamar Sazi. Menelan ludahnya ketakutan, membuka pintu kamar mandi bersiap akan ditendang.
Namun, tidak ada yang terjadi, kamar mandi itu kosong, Hikaru tidak berada di sana.
"Kamu pergi sendiri kemari!?" tanya Andres dengan tangan gemetar. Rion mengangguk, sembari meminum jus madu kemasan yang dibelikan istrinya.
Andres berjalan mendekatinya, ini gawat, lebih berbahaya lagi jika Rion disini."Cepat kembali ke Spanyol!!" bentak sang prajurit pada sang kaisar.
"Kamu mau aku mati di bandara? Tenang saja, hanya ini tempat teraman bagiku, di ranjang istriku..." kata-kata tidak tau malu penuh senyuman terucap dari mulutnya.
"Jadi?" tanya Andres menyakinkan asumsinya, Rion kembali menggunakan identitas paspor Rion bukan Grimm.
"Jadi aku menggunakan nama Rion. Hikaru tidak akan benar-benar mengijinkanku pulang, menyusul Sazi, karena itu aku melarikan diri," jawaban darinya dengan mata yang fokus ke laptop.
"Kamu tau berapa jumlah kelompok pembunuh bayaran yang ingin mendapatkan kepalamu?" tanya Andres berusaha tersenyum di hadapan kaisar bucin.
"Tidak ada yang perlu dicemaskan, asalkan tidak keluar dari kamar ini, maka aku akan hidup. Menunggu Hikaru akan datang membawa identitas dan paspor atas nama Grimm..." jawaban enteng dari mulut Rion.
__ADS_1
Sedangkan Andres menjambak rambutnya sendiri frustasi, menatap pemuda di hadapannya."Kamu akan mati!! Karena aku hanya seekor kucing yang melindungi kelinci dari beberapa kelompok serigala kelaparan!!"
"Hikaru mungkin baru menyadari, aku pergi kembali menyusul Sazi. Dia akan datang kemari," Rion menghela napas kasar, kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Kalau dia tidak datang, maka kamu akan mati. Istrimu akan menjadi janda!! Kemudian Dave..." kata-kata sang prajurit terhenti, menatap senyuman terpaksa di wajah sang kaisar.
"Mau mati?" tanya sang Kaisar yang menunjukkan raut wajah tidak senang. Bukan kemampuan fisik, kemampuan finansial dan keberadaan Hikaru lah yang membuat Andres gentar pada Rion.
"Aku mohon kembali ke Spanyol ya? Aku akan mengirimmu melalui jalur laut, kapal nelayan ke Malaysia. Kemudian mengikuti kontainer ke Spanyol. Aku akan mengatur segalanya..." pinta Andres memelas.
Rion menggeleng."Apa ini rumahmu? Ini rumah istriku, jadi aku berhak tinggal disini kecuali Sazi mengusirku..."
"Sazi usir dia ya? Kalau Hikaru tau aku akan mati, kalau dia tertangkap aku juga akan mati, kalau dia marah maka Hikaru akan menguburku hidup-hidup..." pinta Andres mendekat ke arah Sazi.
"Kamu tega mengusirku?" tanya Rion pada Sazi, mengundang rasa iba, menunduk, menghela napas kasar."Entah berapa orang yang ingin memenggal kepalaku di luar sana. Tapi tidak apa-apa, jika Andres memang sudah menyiapkan segalanya. Jika ini memang untuk kebaikan kalian, aku pergi..."
"Jangan pergi," Sazi menggenggam tangannya. Takut pada Hikaru, namun juga takut jika rencana Andres mengirim kembali Rion ke Spanyol sebagai imigran ilegal bermasalah.
Bagaimana jika suaminya tertangkap kepolisian luar negeri? Atau yang lebih buruk, bagaimana jika Rion tertangkap orang-orang yang menginginkan nyawanya? Takut kehilangan suami tercintanya, mengalahkan rasa takutnya pada sosok Hikaru yang akan datang dengan perasaan benar-benar kesal.
Benar-benar dua orang yang membuat kekesalan Andres berada di ubun-ubun."Cepat hubungi Hikaru!" ucapnya memijit pelipisnya sendiri.
"Rekening atas nama Grimm sudah aku gunakan. Dia mungkin sedang ada dalam pesawat bersama Belinda. Menyadari aku tidak melompat ke sungai..." kata-kata dari pemuda yang kembali mengirimkan beberapa e-mail. Memeriksa berkas perusahaan yang dikirimkan CEO perusahaan miliknya.
Andres menghela napas kasar, menatap tidak suka, penuh perasaan jengkel."Rincian tugasku hanya menjaga Sazi. Belinda yang bertugas menjagamu, jadi Sazi adalah tugas utamaku. Karena itu jangan melangkah sedikitpun keluar dari kamar,"
Rion mengangguk, terdiam sejenak."Bisa kamu mencari informasi tentang ibuku? Setelah puluhan tahun ayahku belum juga dapat melupakannya. Aku akan memenuhi isi rekeningmu, jika kamu dapat membawanya kemari,"
Jamari tangan Andres yang sudah kesal sejak tadi, mengepal. Apa dirinya akan menghajar Rion? Mungkin saja, benar-benar orang tidak tahu situasi, tidak mengenal kata malu. Berjalan mendekati Rion, senyuman tidak terlihat lagi di raut wajah Andres.
Takut? Tentu saja, Sazi mulai berdiri berada diantara Rion dan Andres. Menjadikan tubuhnya sebagai perisai yang melindungi suaminya, jika perkelahian terjadi.
__ADS_1
Andres menatap tajam ke arah Rion, penuh keseriusan."Berapa?" tanyanya, menadahkan tangan.
"Tiga bulan gajimu, bukan uang cash, tapi melalui transfer rekening..." jawaban dari Rion.
"Deal!!" Andres baru bisa tersenyum menjabat paksa tangan Rion.
Sedangkan Sazi diam tertegun mengenyitkan keningnya. Mungkin inilah yang dinamakan dikendalikan oleh uang. Perasaan yang dengan mudah dikendalikan hanya dengan aroma dari kertas yang becetakkan gambar tokoh-tokoh pahlawan. Tidak peduli mata uang negara apapun...
***
Aroma parfum khusus tanpa alkohol tercium hari ini, keadaan fisik Rion mungkin sudah pulih total. Seorang ayah yang merasa cukup sehat jika bersama calon anak dan istrinya.
Seorang calon ayah yang belum mengetahui istrinya tengah mengandung. Mengapa Sazi belum mengatakannya? Tentu saja, agar Rion tidak cemas. Tidak ingin suaminya menghalangi melakukan apapun. Ibu hamil yang merasa cukup sehat, kini tengah berusaha menggenakan gaun.
"Kamu menggodaku?" tanya Rion menatap ke arah istrinya yang tengah kesulitan menaikkan resleting gaun bagian belakangnya.
Perlahan pemuda itu mendekat, menaikan resleting gaun istrinya, menghirup aroma di pundaknya dalam-dalam."Kenapa memakai gaun jika juga akan dilepaskan..." bisiknya, membuat Sazi meremang, apalagi kala bibir dingin itu bergerak perlahan di bahunya."Ingin?" tanya Rion terdengar sensual.
Plak...
Kepala pemuda itu didorong Sazi,"Aku harus datang ke pesta pembukaan kantor cabang..."
"Memakai pakaian seperti ini!?" Rion mengenyitkan keningnya. Bukan tipikal dress tertutup, juga bukan tipikal dress terbuka. Belahan dada yang terlihat, tertutup kain brokat tipis di bagian atasnya. Dress yang sejatinya membuatnya terlihat anggun, dan cantik. Dari sanalah masalahnya."Jangan pergi..." pemuda itu mendekap Sazi lebih erat.
"Ini keinginan ibu tiriku, aku hanya mencari informasi tentang orang-orang yang mungkin mengenal Vallentina. Mungkin ada yang akan memberi tau identitas dan letak makam ibu kandungku," ucap Sazi tersenyum padanya.
"Tetap tidak boleh, bagaimana jika kamu bertemu dengan Dave!? Jika Dave melihat penampilanmu yang sekarang, maka kalian..." Rion mendekapnya lebih erat.
"Tidak akan, aku hanya menyukaimu, kamu percaya padaku kan?" tanya Sazi.
"Aku percaya padamu, tapi berikan aku satu ciuman..." bisik Rion di leher Sazi, pemuda yang tersenyum, mengucapkan kata-kata dusta.
__ADS_1
Mempercayai Sazi? Tidak akan, wanita ini hanya miliknya...
Bersambung