
Kandang kecil hewan peliharaan dibawanya, berisikan dua ekor kelinci putih kecil. Berjalan melewati beberapa pertokoan, tujuannya membeli cemilan, untuk dirinya, Hikaru dan Sazi nanti.
Jalanan yang relatif sepi dilewatinya, melangkah perlahan. Bagaikan tidak menyadari, langkahnya diikuti seseorang.
Tubuhnya telah dibidik dari atas gedung pencakar langit. Menunggu Rion berjalan menuju tempat yang dilewati sedikit orang. Teropong jarak jauh yang digunakan untuk malam hari terlihat dipergunakan dari atas gedung.
Bergerak berkelompok, untuk menghabisi sasaran bernilai tinggi. Mengatasi tingkat kegagalan, walau sekecil apapun.
Bergerak rapi, tanpa diketahui pihak kepolisian? Itulah tujuan mereka, menembak, membawa jenazah, membersihkan sisa darah. Hingga, menunjukkan mayat korbannya pada klien. Berakhir dengan kremasi tanpa jejak tubuh sedikitpun.
Benar-benar pembunuh bayaran profesional. Menyanggupi tergantung kemampuan finansial klien. Ingin dengan tubuh yang masih tersisa, maka bayarannya lebih rendah, dengan hanya menembak, merekayasa kecelakaan, atau meracuni.
Kali ini lampu traffic light penyebrangan di retas hingga membuat Rion berdiri di sana lebih lama. Menghindari pria itu berjalan ke seberang jalan yang lebih ramai.
Rion yang kemudian kembali bergerak, menuju toko furniture. Entah apa tujuannya, membeli perabot rumah tangga merek Olimpic? Apa ada merek itu di Spanyol?
Berjalan kembali ke gerai makanan yang padat dengan pembeli, menelan ludahnya, menatap aksi sang juru masak yang begitu profesional, menunjukkan atraksinya. Pemuda yang terlihat kelaparan, bagaikan seorang gelandangan yang belum makan. Tanpa memesan makanan, hanya membeli minuman di mesin minuman pinggir jalan. Siapa yang menyangka orang ini adalah pengusaha terkemuka.
Mungkin uang euro-nya sudah habis untuk membeli kelinci? Atau tertipu oleh investasi secara online? Pemuda yang hanya duduk di sana.
Para membunuh bayaran yang mengenyitkan keningnya kesal. Benar-benar sasaran yang menyebalkan, berharap pemuda itu segera kembali ke motornya yang terparkir di tempat sepi.
Hingga atraksi masak berakhir, Rion kembali bangkit bergerak menuju ke arah motornya terparkir. Beberapa orang pembunuh bayaran yang telah menunggu selama beberapa puluh menit, sembari merokok dan meminum air mineral, kembali bersemangat.
Sasaran lagi-lagi dibidik penembak jitu, orang yang bertugas memindahkan jenasah dan membersihkan sisa lokasi eksekusi juga telah bersiap.
Inilah saat yang mereka tunggu, setalah ini mengadakan pesta koktail, bermain judi di kasino, segala kesenangan hidup telah terbayang. Dor, tembak, dan bersihkan...
Tapi angan tinggal angan, kelompok pemusik jalanan membuat langkah pemuda itu kembali terhenti.
"Musisi sialan!!" umpat sang penembak jitu, yang tangannya mulai pegal untuk membidik.
"Sabar... ingat berapa uang yang akan masuk ke rekening kita," seorang pembunuh yang tengah memegang teropong jarak jauh, terlihat lebih bersabar.
Hingga kelompok musisi jalanan dengan belasan penonton hendak bubar. Para pembunuh bayaran kembali bersemangat, memasang posisi dan peralatan mereka baik-baik.
"Kalian hebat!! Aku minta beberapa lagu cover lagi..." pinta Rion memberikan sejumlah uang euro.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang pembunuh bayaran yang memegang teropong merebut senjata laras panjang dari sang penembak jitu. Hendak membidik para musisi jalanan."Brengsek!! Biar mereka mati saja!!" bentaknya yang tadinya memberi nasehat untuk bersabar.
Sang penembak jitu menghentikannya."Sabar!! Sabar adalah emas ..." kata-kata mutiara yang sejatinya adalah sindiran.
Aluna musik terdengar, Rion meletakkan kelincinya. Merekam menggunakan kamera handphonenya. Pemuda yang hanya tersenyum menikmati alunan lagu.
IQ 193? Mungkin sangat berguna di saat seperti ini. Rion sudah menyadari dirinya diikuti, melirik diam-diam di beberapa bayangan kaca etalase toko. Bertambah yakin lagi, dirinya akan dibunuh oleh kelompok profesional saat akan menyebrang jalan.
Lampu traffic light yang tidak sesuai waktu? Itulah yang menyakinkan segala kecurigaannya. Beberapa orang berpakaian biasa, tapi hanya berlalu lalang di sekitarnya.
Pemuda yang hanya tersenyum, mencari tempat dengan keramaian terpadat. Menghindari racun dengan tidak makan di restauran pinggir jalan. Benar-benar pemuda yang cukup jeli.
Pemuda yang tersenyum, bagaikan merekam musisi pinggir jalan. Sejatinya memasang kamera depan phoncellnya, bukan kamera belakang, mencari tau senjata apa saja yang akan digunakan untuk membunuhnya. Mengamati keadaan orang-orang yang berdiri di belakangnya, mengikutinya.
Hingga sinar menyilaukan dari lensa optik terlihat. Ada penembak jitu di salah satu gedung tertinggi. Pemuda yang berusaha tersenyum menggenggam phoncellnya dengan tangan gemetar. Benar-benar pembunuh profesional, bagaimana caranya melarikan diri? Itulah yang ada di fikirannya saat ini.
Pemuda yang mulai merekam, dengan mode kamera depan. Menyorot sinar yang terpantul dari lensa optik, kemudian menyorot ke arah bagian bawah gedung. Gedung dengan toko yang telah tutup di bagian bawahnya. Papan nama toko pakaian 'Aries' itulah yang tersorot.
Mengirim rekaman dari kamera phoncellnya, pada Hikaru, menunjukkan lokasi sang penembak jitu pada asistennya. Ketakutan? Tentu saja, menunda waktu kematiannya, hanya itulah yang dapat dilakukannya saat ini. Mencari tempat dengan keramaian. Tidak membuat pergerakan aneh, agar tidak ada pembunuh bayaran yang curiga.
Matanya menelisik, dirinya hanya mendapatkan kesempatan sekali saja untuk memperpanjang waktu tampil musisi jalanan ini, agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Beberapa puluh menit berlalu...
Sudah tidak sabaran lagi, sang penembak jitu memberi instruksi untuk menyeret paksa Rion ke tempat sepi, menggunakan earphone yang terpasang di telinganya. Melakukan eksekusi dengan cepat.
Beberapa orang pada akhirnya mendekatinya, menarik paksa Rion dalam perjalanannya menuju salah satu pusat keramaian. Membawanya ke gang sepi dengan mobil yang sudah bersiap di sana, akan membawa mayatnya nanti.
Salah seorang dari mereka membawa belati hendak menghabisi dari jarak dekat. Sedangkan sang penembak jitu mengunyah permen karetnya masih berada di atas gedung, menembak dari jarak jauh.
"Adios (selamat tinggal), semoga tenang di neraka..." ucap sang penembak jitu tersenyum, bersama dengan seorang rekannya yang memegang teropong dari gedung tertinggi di daerah tersebut.
Hingga kerah pakaian mereka ditarik dari belakang."Kalian sedang apa?" tanya dari seseorang yang suaranya bagaikan mereka kenali, dua orang pemuda itu menoleh ke arah belakang.
"Hikaru..." ucap mereka bersamaan.
"Kita memiliki majikan yang berbeda, majikanku orang yang ingin kalian bunuh..." ucapnya dengan senyuman yang menghilang.
__ADS_1
"Kamu mengatakan akan berhenti membunuh. Jangan bunuh kami," Sang penembak jitu terlihat ketakutan.
"Tapi aku masih bisa melempar kalian dari gedung ini. Antara cacat seumur hidup atau mati di tempat..." ucapnya menarik kerah pakaian mereka.
Berkelahi dengan Hikaru? Siapa yang berani? Hasil akan tetap sama, cidera seumur hidup atau mati.
"Aku ingin tetap hidup!! Aku akan melakukan apa saja..." ucap pemuda yang menegang teropong jarak jauh.
"Bagus, tembak tangan dan kaki teman-temanmu yang ingin membunuh majikanku dari jarak dekat. Beri instruksi pada mereka, agar tidak menyebarkan informasi keberadaan Rion pada anggota kelompok pembunuh bayaran yang lain. Jika tidak, bukan aku, tapi Belinda dan Andres yang akan mengubur mayat kalian..." kata-kata dengan aura dingin menusuk darinya.
Mereka mulai bergerak, menatap tumpukan uang yang akan lenyap. Bukan lagi membidik Rion, namun rekan-rekan mereka yang akan mengeksekusi Rion dari jarak dekat.
***
Sedangkan Rion mengenyitkan keningnya berteriak juga tidak ada gunanya. Gang pinggir jalan itu benar-benar sepi. Apa ini akhir hidupnya?
"Hikaru sialan!!" umpatnya, seharusnya dirinya mengirimkan rekaman pada pihak kepolisian saja, agar lebih cepat. Tapi setelah mengulur waktu pun sang asisten br*ngsek juga tidak terlihat menyelamatkannya.
Hingga pada akhirnya dirinya mengambil keputusan. Berimajinasi, melepaskan diri dengan cepat, mengambil tempat sampah dari besi, memukul orang yang memegang pisau, kemudian melarikan diri ke keramaian dengan cepat sembari berteriak meminta pertolongan. Mungkin akan ada luka sekali tikaman di tubuhnya. Tapi berharap saja tidak akan mengenai organ vital, agar tidak mati. Itulah imajinasinya untuk tetap bertahan hidup.
Tangannya mengepal, memberanikan diri, memulai rencana dalam imajinasinya. Bergerak dengan cepat, mengambil tempat sampah seukuran drum kecil.
Dor... dor...dor...
Wajah putih pucatnya terkena cipratan noda darah, orang-orang disekitarnya rubuh dengan luka tembakan di kaki dan tangan dan bahu mereka.
Rion menatap ke arah gedung pencakar langit tempat sang penembak jitu berada. Mengacungkan jempolnya pada Hikaru.
Sedangkan Hikaru yang melihat dari teropong jarak jauh hanya tersenyum.
"Maaf, dia dalam perlindungan Hikaru. Aku menembak kalian, agar kita semua tidak mati di sini..." instruksi yang diberikan sang penembak jitu pada rekan-rekannya yang mengalami luka tembakan di tangan dan kakinya. Tertunduk lemas, menatap mantan ketua, salah satu kelompok pembunuh bayaran terbesar.
Pemimpin yang memutuskan untuk berhenti dan menghilang selama bertahun-tahun tanpa sebab.
***
Sedangkan di tempat lain...
__ADS_1
Lukisan keluarga yang disembunyikan Rion dalam gudang dua tahun ini, dipeluk erat olehnya. Wanita yang menangis menitikkan air matanya."Dia bukan suamiku. Aku tidak memiliki siapapun..." gumamnya terisak.
Bersambung