Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Hikaru


__ADS_3

🦋🦋🦋🦋 Kalau ada typo nanti aku edit🦋🦋🦋🦋


Dua orang yang hanya terdiam di dalam mobil. Benar-benar hanya terdiam, Fino menghela napasnya berkali-kali. Bingung harus bagaimana menjawab kata-kata dari wanita yang duduk di sampingnya.


Membantunya bercerai? Itu artinya harus menunjukkan diri. Jika dirinya diketahui masih hidup, nyawa Rion juga ada dalam bahaya.


"Maaf..." hanya itulah kata yang keluar dari mulutnya. Jemari tangan Fino mengepal."Tujuanku dan Rion melarikan diri, untuk menyelamatkan diri dari ibu dan suamimu,"


Margaretha terdiam sejenak menghela napas kasar,"Aku dan ibuku sudah melarikan diri. Kami juga sasaran pembunuhan, sama seperti kalian. Jika saja, Rion ada kita dapat membalikkan keadaan..."


"Maksudnya?" Fino mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Tau alasan kenapa aku sampai memiliki tiga orang putri?" ucap Margaretha menghela napas kasar,"Ini karena aku yang egois, mengikuti keegoisan Gerald dan ibuku. Mereka menginginkan keturunan anak laki-laki. Agar tidak perlu memanggil Rion yang dianggap tidak mampu untuk pulang,"


"Kamu mempunyai tiga orang anak dan juga ada Jameson. Kenapa memerlukan Rion? Dulu mungkin karena Rion menunjukkan kepandaiannya. Tapi setelah Rion menjadi bodoh dan gemuk, ibumu masih terobsesi padanya. Aneh..." cibir Fino.


"Wasiat ayahku, hanya keturunan laki-laki yang menjadi kepala keluarga. Dalam hal ini memiliki seluruh hak mengatur harta kekayaan dan seluruh rumah. Hak kepemilikan yang seharusnya dipegang Rion. Tapi saat ini sedang dipegang Leony, karena kematian Rion." Margaretha menghela napas kasar, bingung harus bagaimana.


"Anak katakku ternyata orang kaya..." suara tawa Fino terdengar, menganggap itu semua gurauan.


Namun Margaretha mengangguk serius."Menurut surat wasiat turun temurun, hanya Rion yang memenuhi syarat. Anak laki-laki dan memiliki darah keturunan keluargaku," ucapnya.


"Karena itu kamu sampai melahirkan tiga anak hanya untuk warisan?" tanya Fino, memijit pelipisnya sendiri. Dijawab dengan anggukan oleh Margaretha.


"Aku malu untuk rujuk! Semua teman-teman dan ibuku juga berkata, perasaan cinta bisa tumbuh perlahan setelah pernikahan dan mempunyai anak..." ucap Margaretha cepat.


"Hasilnya?" Fino berusaha menahan senyuman di bibirnya.


"Dasar! Kamu berani menanyakannya lagi!?Aku tau aku salah... kita rujuk ya? Makan kerupuk, kecap dan nasi lagi. Bantu aku bercerai dari Gerald..." pinta Margaretha penuh harap.


"Tidak bisa," jawaban dari Fino cepat. Katak yang telah di vonis menderita leukemia stadium awal. Serta penyakit budak cinta stadium akhir itu berusaha tidak tersenyum.

__ADS_1


Ingin rujuk? Itulah keinginan terpendam dalam hatinya. Ingin bersama Margaretha seperti dulu. Tapi menghadapi ular seperti Gerald? Apa katak sepertinya dapat melakukannya?


Pasti bisa, seekor katak bucin akan menghadapi ular yang akan memakannya. Tidak peduli halang rintangan yang menerjang, tidak akan menjadi masalah dan beban pikiran. Karena itulah cinta penderitaannya tiada akhir.


Dirinya tidak akan takut menghadapi Gerald. Tidak akan takut pada ular."Aku akan membantumu..." ucapnya kembali bimbang.


Jemari tangannya bergerak cepat mengambil handphone. Ingin menghubungi seseorang yang berada di Spanyol. Namun jemari tangannya yang hendak menghubungi Hikaru tiba-tiba gemetaran. Teringat dengan senyuman ganjil dari asisten putranya.


"Aku hubungi Rion saja..." gumam Fino ingin menghubungi putranya. Tapi terlalu gengsi, katak tua bucin yang merebut istri orang. Mungkin putranya akan membullynya.


"Tidak jadi, aku hubungi Hikaru saja..." ucap Fino masih bimbang. Mungkin harus memberanikan dirinya berhadapan dengan Hikaru kali ini.


Sementara Margaretha mengenyitkan keningnya, menatap ke arah mantan suaminya. Pria baik hati yang selalu bimbang dalam mengambil keputusan.


***


Sementara itu di tempat lain...


Tunggu dulu, sangat nyaman? Pemuda itu tidak melewatkan sedikitpun kesempatan. Jam masuk taman kanak-kanak yang hanya dari pukul 8 hingga 10 benar-benar dimanfaatkannya.


"Aku lelah..." gumam Hany merasakan Hikaru memeluk tubuhnya dari belakang tanpa penghalang. Usai berhasil menggodanya untuk kembali berhubungan layaknya suami-istri.


"Tidurlah, nanti aku akan menjemput Hiruma..." ucapnya lembut, penuh senyuman tulus.


"Pulang! Pergi! Aku tidak ingin menikah dan kembali menjadi salah satu wanita di villa-mu," pinta Hany dengan mata mulai terpejam, kelelahan usai menikmati segalanya.


Rasa cinta yang benar-benar ampuh menaklukkannya. Dirinya tidak mencintai status atau uang yang ada di saku Hikaru. Tapi mencintai sang tukang antar makanan.


Mengapa mereka harus orang yang sama? Hany tidak mengerti, takdir yang buruk baginya.


Perlahan Hikaru menyingkap selimut mencium kening, bibir dan pipinya. Segera membersihkan dirinya, kembali memakai pakaian rapi yang ada selalu ada di mobilnya. Hanya menyimpan lumayan banyak pakaian ganti. Mengingat dirinya belum menemukan tempat tinggal tetap di negara ini.

__ADS_1


Tubuh atletis dengan otot-otot perut serta dada terbentuk sempurna. Bukan otot-otot yang terlalu besar, namun sesuai proposional. Wajah rupawan pria Asia Timur, menyemprotkan parfum yang terkesan maskulin pada tubuhnya, memakai kemeja. Hingga lengkap dengan seluruh stelannya.


Berjalan keluar dari dalam kamar kost yang ditempati Hany, membawa kunci mobil, kendaraan yang pastinya tidak berharga murah.


Matanya sedikit melirik duda tetangga sebelah. Seorang pria yang mulai berfikir dengan pria berwajah Asia Timur dengan Hiruma yang bukan asli keturunan Indonesia. Apa itu ayahnya? Ayah dari Hiruma?


Hikaru melangkah mendekat, tersenyum dingin mengeluarkan aura ganjil di sekelilingnya."Aku ayah dari Hiruma, jangan coba-coba memberikan makanan tidak sehat dengan penyedap tanpa takaran lagi pada putraku. Atau saat kamu melewati jalan raya, aku akan menabrakmu berkali-kali..."


Kata-kata posesif darinya tidak menerima memiliki saingan. Pria yang menahan emosinya, bersikap manis hanya didepan Hany dan putranya.


Aslinya? Jangan ditanya lagi. Wajahnya kembali tersenyum cerah. Meninggalkan duda tetangga sebelah yang gemetar ketakutan.


Bukan aura ancaman yang main-main andrenalinnya terpacu. Pria ini benar-benar serius, insting bertahan hidupnya benar-benar bekerja.


Hany yang cantik, memberi harapan tapi sulit didekati ternyata memiliki orang yang mengerikan di sampingnya.


Matanya tidak lepas menatap ke arah Hikaru yang mulai memasuki mobil. Beberapa tetangga kost yang sebagian besar ibu-ibu dan mahasiswa melirik ke arah Hikaru. Bagaikan mencari-cari perhatian.


"Kak, tujuan mobilnya kemana? Boleh aku menumpang?" tanya seorang mahasiswi.


"Ke akhirat, kamu mau ikut? Aku sendiri yang akan mengubur mayatmu nanti...minggir...." tegas Hikaru.


Wanita itu tertunduk ketakutan, memundurkan langkahnya dengan tangan dan kaki gemetar.


Menatap mobil pemuda yang meninggalkan tempat kost murah. Guna menjemput putra tersayangnya.


Sedangkan, sang duda tetangga sebelah duduk di lantai. Berusaha meraih segelas teh dingin di atas meja dengan tangan gemetar. Namun, berakhir menumpahkan teh ke lantai.


Mengerikan? Benar-benar mengerikan, pemuda yang mulai memasang earphonenya. Usai mendapatkan panggilan dari Fino.


Mengangkat panggilan, kemudian mengenyitkan keningnya. Pemuda yang tersenyum, mendengarkan ocehan Fino dari seberang sana."Kaisar yang kaya..." gumamnya tertawa, menginjak pedal gasnya dalam-dalam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2