Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Calon Kaisar


__ADS_3

Plak...


Satu pukulan mendarat di punggungnya, membuat Hikaru hanya dapat menghela napas kasar.


"Kenapa kamu tidak bilang di sini sedang musim salju ekstrim! Suhu disini mencapai minus 15 derajat celsius!! Aku bisa mati membeku kedinginan!!" geram Rion, sudah memakai tiga lapis pakaian, namun tetap saja terasa dingin.


"Bukannya kamu sudah tau di sini musim salju, katanya berpelukan dengan Sazi akan terasa lebih hangat," kata-kata yang keluar dari mulut Hikaru masih berusaha keras tersenyum.


"Iya tapi tidak sedingin ini juga!! Ini suhu terendah..." keluhannya kembali meminum coklat hangat.


Hikaru mulai mendekat, menghela napas kasar."Mau tidak kedinginan?" tanyanya.


Dengan cepat Rion mengangguk, menatap ke arah Hikaru antusias.


"Masuk ke kamar, lepaskan pakaianmu, satukan tubuh kalian. Aku janin, seberapapun dinginnya akan terasa hangat," jawaban dari Hikaru, membuat Rion terdiam.


Pemuda itu terlalu takut untuk masuk ke kamarnya hingga sekarang. Mentalnya terasa tertekan, sebagai seorang suami itu adalah kewajibannya. Tapi sebagai seorang pria sejati tidak boleh melakukan ini. Sebelum ingatan Sazi kembali, dan dirinya melamar wanita itu secara resmi.


"Sudah malam, cepat tidur!! Jika kamu sakit dan mati, aku juga bisa mati!!" ucap Hikaru menarik majikannya menuju kamar.


Wajah Rion pucat pasi, mengingat baju laknat yang dikemas Sazi. Baju yang menunjukkan lekukan tubuh wanita secara sempurna. Bagaimana jika wanita itu memakainya? Rion menelan ludahnya sendiri. Pria normal? Itulah dirinya, seorang pejantan tangguh yang akan kesulitan menahan godaan.


"Hikaru, malam ini aku tidur denganmu ya?" pinta Rion memelas.


"Kenapa?" Hikaru mengenyitkan keningnya.


"Aku takut tidur dengannya..." Rion tertunduk.


"Takut, jadi benar-benar tidak berfungsi?" Hikaru tertawa kecil melirik celana panjang yang dikenakan Rion.


"Aku normal!! Karena itu aku ingin melakukannya saat kami sudah menikah nanti," kata-kata yang keluar dari mulut Rion masih duduk di hadapan perapian.


"Jadi malam ini kita tidur bersama?" Hikaru memastikan kata-kata majikannya.


Rion mengangguk,"Tolong aku ..." ucapnya menggenggam jemari tangan Hikaru.

__ADS_1


Pasangan sesama jenis? Itu bukanlah hubungan mereka. Namun tidur bersama, dua orang pria yang benar-benar canggung.


***


Malam semakin menjelang, Sazi sudah bersiap mengenakan pakaian laknatnya. Hidangan buatan Fino yang dihangatkan, juga telah tertata rapi di meja kamar mereka, lengkap dengan red wine yang memabukkan.


Memasukkan dirinya ke dalam selimut tebal, menahan rasa dingin. Menunggu dengan sabar kehadiran Rion.


Kecewa? Tentu saja? Kecurigaan mulai timbul di benaknya setelah beberapa minggu pernikahan mereka. Selalu menghindari untuk berhubungan. Dirinya sudah pernah menonton video dewasa lainnya, semua tidak seburuk yang dikatakan suaminya.


Hari ini Fino telah kembali, pasca mengikuti mereka ke Spanyol. Sedangkan dirinya dan Rion menetap disini, mengingat Rion yang tengah memiliki proyek kerjasama yang cukup besar. Sedangkan dirinya baru saja akan membuka galeri, serta mengikuti perkuliahan mencari gelar master of art, setara S2 seni rupa.


Menunggu? Itu yang dilakukannya, menahan rasa dingin di balik selimut tebal dengan sabar menunggu kedatangan suaminya.


"Apa dia berselingkuh dan aku hanya istri diatas kertas?" gumamnya, tidak mungkin seorang suami menolak istrinya hingga beberapa bulan setelah pernikahan.


Jemari tangan Sazi mengepal, tidak boleh ada wanita manapun yang merebut kasih sayang suaminya. Seorang wanita yang haus akan kasih sayang, itulah Sazi saat ini. Mempertahankan orang yang dicintainya? Itulah yang dilakukannya.


Namun menunggu hingga beberapa jam, tidak ada yang datang hingga matanya mulai tertutup.


Suara pintu terbuka mulai terdengar, Sazi membuka matanya dengan cepat, menghapus liurnya yang tidak sengaja menetes saat dirinya tertidur.


Pemandangan tidak lazim terlihat, Hikaru mengangkat Rion yang telah tertidur ala bridal style.


Sedangkan Sazi yang hanya mengenakan pakaian tipis, menutup tubuhnya dengan selimut, menatap tidak mengerti pada kedua orang di hadapannya.


Bug...


Tubuh Rion dijatuhkan di atas tempat tidur, dalam posisi tengkurap.


"Jaga suamimu..." kata-kata dari mulut sang asisten.


Takut? Sazi masih canggung hingga sekarang menatap pemuda yang membawa tubuh suaminya. Namun, ini harus ditanyakan olehnya."Hikaru, kamu tau kenapa Rion sampai sekarang tidak menyentuhku?" tanyanya antara ragu dan canggung.


Hikaru mengenyitkan keningnya, mulai berfikir untuk membuat alasan."Dia tidak menyukai wanita yang agresif. Semakin kamu pasif bagaikan wanita pemalu, semakin dia mencintaimu," dustanya, yang sejatinya hanya ingin membantu majikannya.

__ADS_1


Sazi terdiam sejenak, dirinya memang mungkin terlalu agresif. Bertindak pasif? Itu yang akan dilakukannya, agar Rion tetap mencintainya. Rasa trauma itu, tetap ada meskipun ingatannya menghilang.


Hikaru mulai berjalan pergi meninggalkan kamar, menutup pintu kamar majikannya. Rumah tersebut, bukan rumah yang besar, berjalan menuju kamarnya sendiri.


Hikaru, mulai membuka pakaiannya, menemani hingga Rion tertidur hanya itulah yang dilakukannya beberapa jam sebelumnya. Berjalan menuju kamar mandi, mengatur suhu shower, membiarkan tubuhnya diterpa hangatnya air. Hikaru menatap cermin besar di hadapannya, tubuh atletisnya yang basah terlihat, dengan beberapa luka.


Wajah yang sejatinya terlihat rupawan, pria yang suka berbuat seenaknya. Itulah dirinya, pemuda yang kini terdiam.


Dirinya dan Rion adalah dua sosok yang berbeda, saling bertentangan. Mungkin itulah yang menyebabkan mereka saling membutuhkan. Perlahan Hikaru keluar dari kamar mandi. Mengenakan pakaian tebal, penghangat ruangan walaupun ada, bagaikan tidak begitu banyak membantu.


Laptop dinyalakannya olehnya, tidak memiliki kemampuan untuk berbisnis. Namun, hanya untuk membuka beberapa situs, bahkan meretasnya merupakan hal yang tidak sulit untuknya.


Beberapa data masuk secara bersamaan. Semua terlihat oleh matanya, benar-benar memantau hal yang akan dilakukan Gerald. Mungkin hal yang baik, hingga berusia 18 tahun Rion berpura-pura bodoh. Jika tidak, Gerald mungkin sudah menghabisinya dari dulu.


Hikaru yang biasanya tersenyum menyeringai, terasa ganjil, kini senyuman itu mulai pudar. Gerald meletakkan nama Rion di daftar pencarian orang. Sebagai sasaran selanjutnya untuk dibunuh, dalam beberapa data pembunuh bayaran.


Sudah menyadari Rion masih hidup? Apa Gerald bermaksud akan membunuhnya?


Hikaru, menghela napas kasar, tindakan ekstrim mungkin harus dipersiapkannya dari awal. Jemari tangannya bergerak cepat mengirim beberapa e-mail pada dua orang lainnya.


'Beli beberapa persenjataan, kita akan bertemu di Spanyol. Aku punya tugas untukmu, uang akan segera aku kirimkan,' itulah isi pesan yang dikirimkannya pada dua orang lainnya.


Hikaru mengenyitkan keningnya, keluar dari beberapa situs yang dibobolnya.


Mengapa dirinya begitu peduli pada Rion? Bukan hanya kemampuan dan kecerdasannya saja. Tapi selama beberapa tahun ini, Rion memperlakukannya dengan baik. Tidak seperti pengusaha pada umumnya, yang memperlakukan orang-orang seperti dirinya bagaikan budak.


Jika pemuda ini (Rion) satu-satunya kesempatan untuknya dapat menjalani kehidupan yang normal. Maka dirinya akan mempertaruhkan segalanya untuk melindunginya.


Mungkin menemukan Rion, bagaikan orang dengan kasta rendah menemukan putra mahkota yang cerdas. Seseorang yang ingin diangkatnya menjadi kaisar, melindunginya bagaikan jenderal. Aneh bukan? Tapi tidak semua orang cerdas memiliki bakat dalam bisnis, bukan hanya IQ (Intellegentce Quitiente) yang berperan. Tapi juga SQ (Spiritual Quitiente, kecerdasan spiritual tertuju pada visi dan misi hidup) dan EQ (Emotional Quitiente, kecerdasan emosional berhubungan dengan mengendalikan emosi).


Walaupun memiliki kecerdasan yang tinggi, namun Hikaru merasa gagal saat semakin mengenal Rion. Semakin mengetahui, dan kagum, bertekad untuk mengangkatnya, hingga dapat memiliki status sosial langsung di bawahnya. Semakin tinggi seorang Rion, maka status dan perlindungan dirinya juga semakin tinggi.


Teman? Bisa dibilang Rion bukanlah temannya, lebih tepatnya saudara yang memiliki watak bersebrangan dengannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2