
Di tempat lain Fino masih terdiam di salah satu outlet miliknya. Menatap beberapa siswa senior high school yang mulai makan, tertawa berbincang bersama.
"Fino," seorang wanita tersenyum padanya, menyodorkan sekotak biskuit buatannya.
"Bawa pulang, anakku sedang berada di luar negeri," ucapnya tidak menerima pemberian sang wanita yang berusia 15 tahun lebih muda darinya itu.
Jelek? Tidak, wanita karier yang berusia 32 tahun. Berprofesi sebagai pramugari, awal pertemuan mereka? Wanita yatim-piatu yang awalnya menjadi pelanggan tetap di outlet milik Fino.
Hampir satu minggu wanita itu tidak datang. Hingga akhirnya bertemu dengan Fino secara tidak sengaja di apotik. Wanita yang sakit, hidup seorang diri. Pria yang juga sejatinya memiliki fisik yang lemah itu, iba. Hingga datang setiap hari ke apartemen sang wanita, membawakannya makanan dan obat.
Mengurus dengan baik wanita yang 15 tahun lebih muda darinya. Itulah awal dari perasaan suka Vanessa (sang pramugari), yang pacarnya pun cuek ketika dirinya sakit.
Tapi pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya, begitu peduli padanya, calon suami idamannya, itulah Fino bagi Vanessa. Hingga pada akhirnya Vanessa memutuskan hubungan dengan kekasihnya yang pengangguran, mengejar cinta Om tampan. Sudah tiga tahun perjuangannya, mendekati sang anak untuk mendapatkan cinta sang ayah, walaupun anaknya bukan seorang balita.
Mungkin jika anak Fino adalah seorang balita akan lebih mudah bagi Vanessa. Tinggal ajak rekreasi, perhatian, suapi dengan makanan, ajarkan untuk memanggil mama. Tapi sayangnya putra tunggal Fino seorang pria dewasa, bagaimana cara memangku Rion? Mengajarinya Alfabet? Mengajarinya memanggil mama?
Fino yang sulit didekati, masih mencintai mantan istrinya. Begitu setia hingga membuatnya kagum, sekaligus iri.
"Om, cintai aku om..." pinta Vanessa tiba-tiba tidak tahu malu.
Fino mengenyitkan keningnya, meraih daftar menu."Cari pria tampan yang seusia denganmu..." tegasnya memberikan daftar menu, bersiap mencatat pesanan Vanessa.
"Chicken teriaki, orange juice dan tiramisu. Satu lagi...I love you, Om masih terlihat tampan..." ucap Vanessa, mengedipkan sebelah matanya menggoda.
Pria itu menghela napas berkali-kali. Bukan hanya kali ini ada wanita yang mendekatinya, namun berakhir menyerah. Tapi wanita ini sudah tiga tahun mengejar, belum menyerah juga?
Beberapa belas menit berlalu, seorang pegawai outlet mengantarkan pesanan Vanessa. Wanita yang terus melirik ke arah Fino yang mulai berjalan hendak menunju mobilnya, yang terparkir di dekat outlet.
"Aa... perutku sakit!!" pekiknya, mengundang kepanikan orang-orang. Termasuk Fino yang mulai menoleh padanya. Kembali memasuki outlet, mengangkat tubuh Vanessa ke dalam mobilnya.
Wanita yang tersenyum dengan mata terpejam, menghirup aroma pria yang hampir menginjak usia separuh abad. Hingga mobil melaju meninggalkan outlet. Dirinya telah didudukan pada kursi penumpang bagian depan.
"Jangan berpura-pura pingsan lagi," ucap Fino yang masih duduk di kursi pengemudi.
__ADS_1
Vanessa membuka matanya."Kak Fino tau aku pura-pura pingsan, tapi masih mau mengangkatku? Lebih mesra mana? Om, Kak, atau Fino saja? Bagaimana kalau sayang!?" ucapnya antusias.
"Usiamu sudah 32 tahun, mulailah hubungan dengan pria lain. Sudah aku bilang, aku tidak bisa mencintai orang lain selain dia..." jawaban dari Fino masih fokus pada jalan raya.
"Apa aku kurang cantik? Mantan istrimu lebih cantik dariku? Lebih baik dariku? Atau dia tipikal wanita penurut? Aku akan menjadi semuanya..." Vanessa menatap intens pria dewasa yang tidak menoleh sedikitpun padanya.
Fino tersenyum kecil, berucap dengan nada suara lirih."Tidak, dimata semua orang kamu lebih cantik. Tapi dimataku, tidak ada yang lebih cantik daripada dia..."
Bucin? Mungkin itulah istilahnya, bukan dari uangnya, bukan dari acara istimewa yang dibuatnya, bukan juga dari hadiah kalung berlian. Itulah perasaan yang tumbuh dari dirinya dan sang nona muda.
Mungkin sebuah kisah cinta hangat yang dimulai dari masa SMU mereka. Tepatnya 29 tahun yang lalu, kala Rion belum hadir diantara mereka...
Wanita yang dapat membuatnya depresi hingga sempat berfikir untuk mengakhiri hidupnya dan putranya. Jemari tangannya melemas, mengingat awal dari segalanya.
"Fino?" Vanessa menyadarkan dari lamunannya.
Hingga akhirnya Fino memarkirkan mobilnya, di tempat parkir dekat taman kota. Melangkah diikuti Vanessa, tempat yang tidak begitu. Hanya di sudut-sudut tertentu terlihat hiruk-pikuk orang-orang berlalu, berlarian menghabiskan waktu dengan keluarga mereka.
Fino tersenyum, masih berjalan menghadap ke depan."Itu mudah saja, kamu bukan dia..."
Bukan dia? Dirinya mencintai Margaretha, sangat... hingga saat ditinggalkan pun perasaannya masih tetap sama. Mengetahui wanita yang dicintainya bahagia dengan pria lain, bahkan memiliki 3 orang putri darinya. Fino perlahan ikut bahagia.
Bodoh bukan? Air matanya mengalir menonggakkan kepalanya memejamkan matanya. Merasakan cahaya matahari yang menerpa kulitnya."Aku masih mencintainya..."
"Kamu harus melupakannya! Memulai kehidupan yang baru," Vanessa semakin mendekatinya.
Fino menggeleng."Aku mencintainya, hingga menjadikan putranya sebagai satu-satunya motifasi agar dapat bertahan hidup. Kondisi fisik tubuhku lemah sedari kecil,"
"Dia mendatangiku tiba-tiba mengatakan mencintaiku. Wanita sesempurna dirinya mengatakan mencintaiku? Aku berfikir itu adalah kebohongan, sebuah khayalan yang tidak akan menjadi nyata..."
"Tapi bukan sebuah imajinasi, Margaretha tidak menghilang, menggengam tanganku yang yatim-piatu menghadap kedua orang tuanya. Mengatakan dia mencintaiku..." tangisan lirih dari bibir Fino mulai terdengar, berlutut dengan kaki lemas di jalan yang cukup sepi."Aku merindukannya..." lanjutnya.
Vanessa ikut berlutut, mensejajarkan dirinya dengan Fino."Dia mengkhianatimu! Rion mengatakan semuanya dia ..."
__ADS_1
Fino menggeleng."Saat usianya 18 tahun kami sudah menikah, memiliki anak saat usianya menginjak 20 tahun. Margaretha masih terlalu muda, aku memakluminya... masih mengharapkan dia kembali..."
"Aku memang bodoh, itulah kenyataannya. Andai saja aku menunggu fikiran kami cukup dewasa untuk menikah. Dia akan..." kali ini kata-kata Fino yang disela.
"Dia akan tetap mengkhianatimu!! Sadarlah!!" teriak Vanessa pada pria di hadapannya.
Fino tertunduk, tersenyum lirih."Aku tetap masih mencintainya..."
"Agghh..." geram Vanessa, meninggalkan Fino, berusaha menenangkan dirinya. Menyerah? Belum, walaupun berusia lebih dewasa namun sulit menemukan pria seperti Fino.
Sedangkan Fino sendiri mulai bangkit, berjalan diantara lebatnya pepohonan taman kota. Pria yang usianya sudah tidak muda lagi. Tidak menginginkan apapun, hanya bertemu dengan wanita yang dicintainya sekali saja.
Walau hanya diakhir hidupnya pun tidak apa-apa. Dirinya sudah cukup bahagia. Mengapa mencintai bisa semenyakitkan ini? Itu karena cintanya yang terlalu dalam, mencintai wanita yang kini telah dimiliki pria lain.
Fino menonggakkan kepalanya, perlahan mengangkat jemari tangannya. Menghalangi cahaya matahari yang menembus celah-celah pepohonan, menyilaukan matanya.
Apa Margaretha juga merindukannya? Tidak mungkin, dirinya hanya seekor katak yang terdiam di kolam. Bukan CEO rupawan, mendominasi, impian setiap wanita kalangan atas...
Bersambung
...Jalan yang cukup panjang, guguran daun terlihat. Apa guguran daun tidak merindukan pohon tempatnya tinggal......
...Guguran daun yang bodoh, terjatuh ke atas tanah. Merindukan pohon tinggi tempatnya berasal......
...Ingin kembali berada bersamanya, walaupun hanya di akhir hidupnya......
...Permohonan yang tidak terkabul, itulah diriku daun kering yang merindukan pohon tempatnya berasal......
...Mati seorang diri di atas tanah, tanpa dapat bertemu denganmu lagi......
...Aku merindukanmu, Margaretha......
Fino...
__ADS_1