Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Maaf Dan Terimakasih


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti pagi-pagi buta tepatnya di depan star hotel. Pria dengan tuxedo putihnya berjalan cepat, menaiki lift sedangkan Belinda meretas CCTV dari dalam mobilnya. Merekayasa data rekaman semalam, rekaman dimana dirinya meninggalkan kamar Jameson. Serta menghapus data rekaman kedatangan Andres.


Rambut palsu serta baju ganti, menyerupai yang semalam dikenakan Belinda telah dibawa Andres. Menekan konde akses hingga pintu mulai terbuka.


Wanita paruh baya, terlihat tertidur dalam pelukan Jameson.


"Bangun..." Andres membangunkannya.


Wanita yang segera membuka matanya. Menyadari keadaan sekitar.


"Ini uang tutup mulut untukmu. Ganti baju dan pakai wig, kemudian keluar dari hotel. Jangan mengingat apapun soal hari ini..." ucap Andres dengan suara kecil, tidak ingin membangunkan Jameson.


Wanita itu mengangguk, meraih uang. Tanpa malu memakai baju di hadapan Andres.


Pemuda yang mengenyitkan keningnya, menatap tubuh sang tante pinggir jalan."Apa Jameson akan sadar kalau kamu bukan Belinda?" gumamnya melihat perbedaan antara gitar spanyol dan kecapi kendur.


Pernah melihat tubuh Belinda secara langsung? Tentu saja, beberapa tahun pacaran semua sudah mereka lakukan. Kecuali melakukan proses perkembangbiakan. Dimana sel telur dibuahi, organ bertemu organ pasangannya untuk menghasilkan keturunan.


"Kenapa!? Napsu!?" tanya sang kecapi kendur, maaf salah, tanya ci hua-hua, salah lagi, tanya tante cantik menggoda, tengah memakai pakaiannya.


"Istriku lebih cantik," jawaban Andres tegas.


"Aku lebih berpengalaman," sindir sang tante.


"Begini, aku sudah memiliki handphone baru dengan merek ternama masih segelan. Tidak akan tertarik pada handphone keluaran tahun 2000an yang masih menggunakan tombol, tidak ada internet dan fitur kameranya. Jadi, aku harus menjaga tenagaku untuk membuka segel dari handphone keluaran terbaru, lalu charger berulang lagi. Hingga baterainya kembung..." jawaban dari charger, maaf salah Andres.


"Ya sudah..." sang tante mengedipkan sebelah matanya. Berjalan meninggalkan kamar.


Sejenak Andres menatap kekacauan yang terjadi. Pria yang masih mendengkur terbaring di atas tempat tidur."Apa begitu enak? Tidak longgar?" tanyanya pada Jameson yang tengah tertidur.


Jemari tangan Andres mengambil kertas. Pria yang masih memakai pakaian pengantin pria itu mulai menulis. Sembari mengeluarkan suara perempuan layaknya suara istrinya.


"Sayang, maaf semalam aku terlalu liar. Aku tidak dapat menahan diri entah kenapa. Dan sekarang aku terlalu malu untuk bertemu denganmu. Tubuhmu bagaikan pahatan patung dewa Yunani. Wajahmu bagaikan Romeo, tapi aku benar-benar malu karena kejadian semalam. Maaf..." ucapnya dengan suara wanita sembari menulis, meletakkan kertas tersebut di atas meja.


"Maaf, tapi aku yang akan meniduri adikku. Kamu tidur dengan bantal saja ya?" ucap Andres, memindahkan bantal guling ke dekat tubuh Jameson. Bantal yang langsung dipeluk oleh tangan sang pemuda.


Perlahan tapi pasti, Andres melangkah pergi, menutup pintu perlahan.


***


Misi sudah berakhir, dua orang yang kini terdiam penuh rasa canggung. Mereka sudah menikah, lalu apa?

__ADS_1


Sudah lebih dari lima tahun dirinya tidak menyentuh Belinda. Terakhir kali menyentuhnya 7 tahun lalu, kala ibu dan ayah mereka tidak ada di rumah. Sang adik sekaligus kekasih rahasia yang menggodanya.


Memasuki kamarnya, membuka pakaian saling memuaskan tanpa menyatukan tubuh mereka. Berbaring tertidur di dalam selimut kala tubuh mereka telah lemas.


Hubungan terlarang antara kakak beradik tanpa hubungan darah. Kadang dirinya takut akan ketahuan. Namun Belinda adalah orang yang dicintainya dari awal. Bahkan mungkin sebelum ayah dan ibu mereka bertemu.


Kali ini terasa canggung...


"Andres..."


"Belinda..."


Ucap mereka bersamaan.


"Apa kali ini kita akan melakukannya?" tanya Belinda ragu. Seorang wanita berdarah Eropa yang masih perawan di usia 30 tahun.


Andres terdiam sejenak, menghela napas kasar kemudian mengangguk. Perjaka tanggung berusia 30 tahun, memang rekor sejati untuk pria berdarah Eropa.


"Tapi aku ingin melakukan sesuatu dulu..." lanjut Andres di hari yang hampir sore. Tempat mereka berada saat ini? Villa luar kota, tempat dengan pemandangan alam yang cukup asri. Serta udara dingin menusuk kulit.


"Apa?" tanya Belinda, pada pemuda di hadapannya.


***


Surat kecil dituliskan Andres berharap surat ini akan sampai pada ibunya yang berada di surga.'Ibu aku mencintainya, maaf hanya dapat menjaganya sebagai suami,'


Sedangkan Belinda juga ikut menulis.'Ibu, terimakasih sudah melahirkan Andres. Sebagai balasannya aku akan melahirkan cucu untukmu,'


Itulah catatan kecil yang tertulis di sana. Tangan pasangan suami istri itu sejajar di depan kolam renang. Perlahan melepaskan dua buah lampion melayang terbang tinggi ke udara.


Mata mereka menatap ke arah dua buah lampion yang bagaikan melayang menuju jutaan bintang.


Andres tersenyum, menyalakan menggunakan korek apinya beberapa lampion apung berbetuk teratai. Melepaskan satu persatu mengapung indah di atas kolam.


"Kamu yang menyiapkannya?" tanya Belinda.


Andres menggeleng."Petugas villa, tapi aku yang memesannya," jawaban tidak romantis darinya.


"Dasar..." Belinda memukul kecil tubuh Andres.


Pria yang mulai bangkit, mencengkeram pergelangan tangan Belinda."Aku hampir mati..." cibirnya.

__ADS_1


"Mati?" tanya wanita itu tidak mengerti.


Andres mengangguk."Mati karena mencintaimu. Mati karena berusaha melupakanmu..."


"Lalu?" pertanyaan dari Belinda kini.


"Aku hanya menginginkanmu. Maaf, menjadi kakak yang buruk," jawaban darinya, dengan bibir yang mendekat. Dua pasang mata yang saling menatap sayu. Napas mereka terasa di permukaan kulit wajah.


"Kamu bukan kakakku, kamu hanya Andres," bisik Belinda, mengalungkan tangannya.


Perasaan berdebar yang sama, sepasang bibir itu bersentuhan dalam keraguan. Kini setelah beberapa tahun dirinya menyerah. Air mata Andres mengalir. Apa ibunya akan memaklumi segalanya?


Mungkin dirinya akan meminta maaf padanya. Menikahi bahkan menyetubuhi adiknya. Sebuah tanggung jawab terakhir dari sang ibu. Pria yang tidak kuasa menahannya, tidak ingin kehilangan satu-satunya harta berharga baginya.


Maaf... satu kata lagi yang tertahan di bibirnya. Kata-kata yang tertuju pada ibunya dan Belinda.


Gaun putih teronggok di lantai samping kolam renang. Disusul dengan tuxedo yang lepas satu persatu.


Pintu kaca yang kini terbuka, menampakan beberapa lampion berbentuk teratai yang mengapung indah di atas kolam.


Bayangan sepasang suami istri terlihat, berciuman dengan serakah. Saling menikmati tubuh, suara lenguhan mulai terdengar. Kali ini bukan hanya saling memuaskan seperti dahulu.


Jeritan Belinda terdengar kala Andres menyatukan tubuh mereka. Jeritan yang juga keluar dari bibir Andres. Dirinya lah yang pertama, dan Belinda lah yang pertama baginya.


"Andres hentikan..." pintanya.


Andres terdiam, merapikan anak rambut istrinya. Perlahan ingin menghentikan segalanya. Namun Belinda menahannya, dengan napas tersengal-sengal, wajah yang memerah.


"Jangan pergi..." pinta Belinda lagi, hanya rasa sakit sesaat. Inilah yang diinginkannya memberikan kesuciannya pada Andres. Satu-satunya pria yang pernah menyentuhnya.


"Aku tidak akan pergi. Menjagamu dengan nyawaku..." bisik Andres, mencium bibir istrinya.


Derit tempat tidur terdengar, dirinya kehilangan kendali. Menatap Belinda menonggakkan kepalanya menikmati segalanya.


Malam dingin yang panjang, beberapa lampion masih mengapung mengeluarkan cahaya kecil. Hanya samar, bayangan samar sepasang insan menikmati dinginnya malam dalam penyatuan.


Menikmati kerinduan yang tertahan oleh kata saudara. Satu kata yang kini dilupakan, tertutup kata maaf. Beberapa kali suara kepuasan terdengar. Ingin menghadirkan malaikat kecil diantara mereka.


Malam yang diakhiri oleh sapuan lidah, yang menjelajah dalam decapan bibir kala semua otot melemas. Mengakhiri segalanya, terdiam dalam kelelahan. Tertidur hanya mendekap, sepasang saudara tidak sedarah yang tidak menginginkan ada orang lain yang hadir diantara mereka.


Angin menerbangkan sepasang lampion lain yang terbang melayang. Mengantar maaf dan terimakasih. Apakah kata itu akan terdengar hingga ke surga?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2