
🍀🍀🍀🍀 Maaf, real life lumayan menguras tenaga. Tapi mungkin, mulai tanggal 1, aku usahakan update 2 bab per hari 🍀🍀🍀🍀 Happy Reading 🍀🍀🍀🍀
Tubuh yang saling bersentuhan, tidak pernah puas rasanya hendak menghilangkan kegelisahannya. Hingga tautan itu perlahan terlepas dengan deru napas tidak teratur.
"Aku ingin anak darimu..." kata-kata dari mulut Sazi yang mulai menyadarkan Rion. Jemari tangannya mengepal berusaha untuk tersenyum, tidak ingin Sazi menyesal setelah ingatannya kembali sepenuhnya.
"Melakukan malam pertama? Sangat menyakitkan. Aku tidak ingin Sazi-ku kesakitan, karena itu lain kali saja," jawaban darinya, meraba pipi wanita di hadapannya.
"Ini akan dialami semua wanita, jika ingin menjadi seorang ibu. Aku sudah siap," ucap Sazi memeluk erat tubuh Rion yang tidak memakai atasan sama sekali. Bagaikan tengah mengikuti lomba panjat pinang, tidak peduli apapun, yang penting lakukan.
Bagaimana caranya? Apakah menyakitkan? Dirinya juga tidak yakin, tapi suaminya tidak boleh dilepaskan malam ini olehnya. Mungkin sudah lama Rion menahan diri, tidak pernah menyentuh dirinya sama sekali.
"Sazi..." Rion menghela napas kasar, tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Pelukan yang benar-benar kuat, apa yang sebenarnya difikirankan Sazi saat ini? Entahlah, dirinya tidak mengerti sama sekali."Tau bagaimana cara melakukannya?" tanya Rion pada wanita yang masih setia mendekapnya.
"Secara teori, ketika sel telur dibuahi oleh..." kata-kata Sazi tiba-tiba disela.
Rion menggeleng, bercerita dengan lebih sadis."Aku akan membuat tanda keunguan di tubuhmu. Tanda yang seperti orang dipukuli dengan benda tumpul, bisa dibayangkan betapa sakitnya. Satu lagi, ada orang yang pernah menyentuh ini?" tanya Rion menunjuk bagian dada Sazi.
Sazi mulai melonggarkan pelukannya, tanda keunguan memang pernah dilihatnya pada leher salah satu petugas kebersihan galeri tempatnya dulu bekerja. Apa itu akibat berhubungan layaknya suami-istri?
Perlahan Sazi menggeleng, menjawab pertanyaan Rion. Memang tidak pernah ada yang menyentuh tubuhnya, kecuali dulu si gemuk di hadapannya yang tidak tahu malu mencuri ciuman pertamanya.
"Kamu harus menyusuiku seperti seorang ibu pada bayinya. Akan terasa menyakitkan, saat itu. Belum lagi, ketika aku mulai melakukannya. Akan ada darah yang mengalir, walaupun kamu berteriak atau pun menjerit, bukannya berhenti aku akan lebih ganas lagi..." kata-kata dari Rion berusaha menakut-nakuti sang wanita polos.
Sazi melonggarkan pelukannya."Jadi sangat menyakitkan?" tanyanya dengan wajah pucat.
Rion mengangguk."Aku tidak akan bisa berhenti di tengah jalan. Semakin kamu kesakitan aku akan semakin ganas, bagaimanapun aku menyayangimu saat ini,"
Wanita itu tertunduk ragu."Tapi aku, bagaimana jika kamu memiliki hubungan dengan wanita lain?"
Pemuda itu menggeleng, kemudian tersenyum."Tidak pernah ada yang lebih berharga dari Sazi-ku. Tidak akan ada wanita lain diantara kita..."
"Benar?" tanyanya memastikan, dijawab dengan anggukan oleh Rion.
"Ayo tidur." Rion mulai mendekap tubuhnya, menarik selimut, mengecup bibirnya sekilas dalam senyuman.
Siapa yang menyangka dirinya akan bahagia hanya dengan sebuah kebohongan. Kebohongan yang dibuatnya untuk wanita yang dicintainya. Agar tetap tinggal bersama dengannya.
Hingga wanita itu menggeliat menonggakan kepalanya. Mungkin hal naluriah, jemari Sazi menyentuh otot-otot dada di hadapannya, bahkan mengusap-usapkan kepalanya disana, bagaikan anak kucing kekurangan kasih sayang.
Rion mengenyitkan keningnya, bingung? Mungkin iya, ingin dirinya menikmati malam yang dingin, meracau merasakan nikmatnya malam pertama baginya. Tapi apalah daya, daging di hadapannya hanya dapat diiris olehnya. Bagaikan mendapatkan tugas mengupas sekantung kuaci, namun tidak dapat memakannya.
"Rion, kamu tidak ingin?" tanya wanita itu memastikan.
Jangan bertanya, akh... tolong raba lebih banyak lagi... batin Rion, berusaha memasang tatapan senormal mungkin. Bagaikan serigala yang mencoba tersenyum tanpa menampakan gigi-gigi runcingnya di hadapan sang anak kucing, yang bermanja-manja mengitarinya.
"Tidak, aku tidak ingin menyakitimu. Kamu juga sudah cukup nyaman dengan ini saja bukan. Tidur saling berpelukan hanya berciuman saja, berhubungan badan adalah hal yang menyakitkan, karena itu lain kali saja..." jawaban dari Rion yang sejatinya menyakinkan dirinya sendiri agar tidak berbuat kesalahan yang akan disesali wanita di hadapannya.
__ADS_1
Sazi mengangguk, memeluk tubuh di hadapannya lebih erat membuat Rion semakin menegang. Seekor serigala yang menolak setumpuk daging di hadapannya? Itulah dirinya, mengumpat pada diri sendiri, mengapa memiliki hati yang terlalu baik.
Seharusnya dirinya belajar dari komik-komik CEO arogan yang dibacanya. Mengikat tangan gadis yang dicintainya, tidak peduli apapun, membuatnya menjerit kesakitan di tempat tidur. Melecehkan seorang gadis hingga dapat mendatangkan cinta yang tidak akan kandas di terjang tsunami, tidak akan tenggelam walaupun menabrak gunung es, tidak akan hancur walaupun dunia terbelah.
Namun, dirinya menyadari satu hal, ini adalah dunia nyata. Pelecehan hanya akan mendatangkan trauma mendalam bagi korbannya, bukan sebuah cinta yang kuat seperti dalam komik atau novel.
Karena itu dirinya hanya ingin cinta yang datang perlahan. Hati yang luluh karena perasaan nyaman, hanya itu. Tidak lebih...
Satu ciuman mendarat di bibir Sazi, hanya kecupan singkat. Mengusap pelan pucuk kepala wanita itu. Membuatnya senyaman mungkin, memejamkan matanya menyambut dinginnya hari.
***
Hingga pagi menjelang, seperti biasanya, kala Rion terbangun sarapan sederhana telah terhidang. Kali ini roti bakar, dengan parutan keju dan susu. Harum aroma kopi hangat memenuhi ruangan."Rion bangun..." tubuhnya diguncang pelan.
Pemuda itu membuka matanya, menatap wajah wanita yang dicintainya, dengan cepat mencium pipinya."Aku mencintaimu..."
Kata-kata yang terucap dari bibirnya, menggengam jemari tangan Sazi. Siapa sangka apa yang sudah dilewatkan Dave, seorang wanita yang dibuangnya bagaikan sampah. Harta yang berharga bagi Rion? Itulah Sazi.
"Aku juga..." wanita yang tersenyum, membalas kata-katanya, perlahan kedua pasang mata itu terpejam. Bibir mereka saling bertaut pelan, penuh kasih. Benar-benar merasa ingin dikasihi.
Hingga ketika tautan itu terlepas, Rion tersenyum padanya."Kita akan tinggal di Spanyol selama dua tahun, tiket, visa, pasport, akan aku siapkan. Lanjutkan pendidikanmu disana, aku ingin melihat bakatmu diakui banyak orang..."
"Terimakasih..." Sazi mendekap tubuh suaminya, satu-satunya orang yang tidak menghujatnya atas pilihan hidupnya.
***
"Ini adalah hari ulang tahunmu, jadi ucapkan keinginanmu..." Sazi tersenyum padanya menyodorkan brownies dengan isian strawberry di dalamnya. Beberapa lilin juga terlihat menyala disana.
Wajahnya tersenyum, jemari tangannya mengepal. Jadi semua tidak nyata, dirinya masih bersama Sazi saat ini. Wanita yang benar-benar peduli padanya.
Lilin yang ditiupnya penuh senyuman."Cantik..." satu kata kejujuran yang diucapkannya setelah sekian tahun. Menjadikan satu kata itu sebagai rayuan sebuah dusta. Kini dirinya baru menyadari betapa menawannya wanita yang mengasihinya.
"Aku mencintaimu..." kata-kata dari bibir Dave tersenyum padanya.
"Kamu tidak mencintaiku!! Kalian tidak mencintaiku!?" tanya Sazi tiba-tiba menjatuhkan kue yang dibawanya, berteriak histeris, menangis kemudian terdiam dalam kebisuannya.
Jemari tangan Dave gemetar, air matanya mengalir, jemari yang mendekat, terangkat hendak menghapus lukanya. Namun tangan seseorang menepisnya. Seseorang yang telah lama tiada, menatap tajam padanya.
"Jangan menyentuhnya, dia sedang mengandung anakku..." Rion gemuk yang seharusnya sudah meninggal, tersenyum menyeringai, mendekap tubuh Sazi.
"Dia istriku!! Jangan mengada-ada!!" bentak Dave pada pemuda di hadapannya.
Rion menggeleng."Itulah istrimu..." jawaban darinya, menunjuk ke arah jari manis Dave yang kini terselip cincin pernikahannya dan Alexa.
Pernikahan yang membelenggunya, bayangan Alexa tiba-tiba muncul, memeluk tubuhnya erat."Kamu mencintaiku kan? Percaya padaku, kita sudah saling mengenal sejak lama, tidak mungkin aku mengkhianatimu..." kata-kata dari bibir Alexa, kata-kata yang dahulu diucapkannya untuk menyakinkan Sazi.
"Terimakasih sudah membuangnya, memberiku kesempatan untuk memiliki anak darinya..." pemuda gemuk yang tersenyum menyeringai, mengecup bibir Sazi.
__ADS_1
Benar-benar pemandangan menjijikkan bagi Dave, mencoba menghentikannya. Namun tumbuhnya dipegangi Alexa. Kala pemuda gemuk itu berciuman dengan Sazi di hadapannya. Menautkan bibir mereka, penuh napsu.
"Agghh!!" mimpi yang benar-benar buruk, Dave terbangun dari tidurnya, dengan deru napas tidak teratur.
Apa Sazi sudah mati? Mungkin itulah yang ada dalam fikirannya. Memimpikannya hidup bersama Rion, satu-satunya pria yang dekat dengan Sazi 10 tahun lalu. Kala hubungannya dengan Alexa baru dimulai, pemuda yang telah mati di usia yang terbilang terlalu muda.
Apa Rion membawanya pergi, karena dirinya tidak menghargai Sazi? Beberapa bulan ini banyak hal telah dilakukannya di belakang Alexa dan ayah mertuanya, mencari keberadaan Sazi. Tapi tidak ada satu jejak pun ditemukannya.
Seolah-olah dirinya yang menyerahkan surat cerai ke rumah sakit 3 tahun lalu, merupakan detik-detik terakhir menatap wajah itu.
Pandangan matanya menelisik, Alexa belum pulang juga. Sudah hampir 4 bulan, wanita yang sebelumnya lebih dicintainya itu tidak pulang sama sekali.
Apa ini cinta? Dirinya bagaikan orang asing dengan Alexa saat ini.
Laci meja di samping tempat tidur dibuka olehnya. Sepasang cincin pernikahan dengan harga murah berada disana, tepatnya di dalam sebuah kotak kecil.
Selama 7 tahun dirinya membohongi Sazi, atas nama cintanya untuk Alexa. Kini dirinya merindukan perhatiannya, merindukan sinar lilin hangat saat ulang tahunnya. Merindukan hadiah-hadiah norak yang diberikannya.
Semua masih terbayang di benaknya kala, Sazi menyatakan perasaannya saat mereka berusia 14 tahun. Kata-kata yang sering tidak dimengerti olehnya, menerima perasaan sang nona muda agar lebih dibanggakan keluarganya.
Apa yang dikatakan Sazi? Sejatinya menginginkan Dave menjadi pasangannya, kembali seperti semula, mengingat dirinya. Memberikan perhatian bagi Sazi seperti kala mereka berkemah bersama di hutan, saat berusia 5 tahun. Membuatkan banyak mainan aneh untuknya.
Hal yang dikatakan Dini dan ibu Dave sebagai bagian imajinasi Sazi yang harus dituruti. Hingga Dave hanya mengangguk, tidak mengingat sama sekali tentang apa yang dikatakan putri tunggal Herry itu.
Memanfaatkannya bagaikan boneka, namun dirinya sendiri yang kini terjebak. Mencintai dan merindukan semua perhatiannya, perhatian yang bahkan tidak diberikan orang tuanya. Tertunduk seorang diri merindukannya, apa Sazi akan datang? Ini adalah hari ulang tahun Dave...
Bersambung
...Terkadang aku berfikir, apa itu cinta......
...Sesuatu yang menyakitkan kala melihatmu bersamanya? Sesuatu yang menjijikkan kala kalian saling berciuman di belakangku......
...Tidak, itu bukanlah cinta......
...Karena mencintai yang kuinginkan adalah memberi dan menerima......
...Bukan cinta yang menyakitkan, kala semua orang tidak berpihak padaku. Istana megah? Pakaian indah? Bukan itu yang aku inginkan......
...Karena aku bukanlah Cinderella, yang menginginkan kekayaan dan kebahagiaan bersama pangeran......
...Yang aku inginkan, perasaan ini berbalas, menjatuhkan diri ke dalam kolam......
...Mengais di dalam lumpur dan rimbunnya daun teratai. Menemukan kebahagiaan kecil yang hangat, dari sesuatu yang benar-benar mencintaiku......
...Walaupun itu hanya seekor katak......
...Aku sudah cukup bahagia, hanya dengan dicintai......
__ADS_1
Sazi...