Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Oh Belinda


__ADS_3

"Ka...kami akan pergi..." ucap Fredric melirik ke arah putrinya yang terlihat menghubungi seseorang diam-diam dengan tangan gemetaran.


"Katakan dari tadi. Dahimu jadi tidak perlu berdarah kan?" cibir Andres tersenyum, melepaskan Fredric membiarkannya berdiri.


"Aku harus mengambil beberapa dokumen di ruang kerja sebelum pergi..." ucap Frederic mengulur waktu.


"Cepat...!!" tegas Andres, menendang punggung pria itu agar segera melangkah. Diikuti dengan langkah Alexa.


Beberapa puluh menit menunggu, pada akhirnya kedua orang itu datang namun tanpa satupun barang yang dibawanya. Hanya Alexa yang memegang pipinya dengan sebuah sapu tangan menutup lukanya, berusaha menghentikan pendarahan pada pipinya.


"Cepat pergi..." ucap Andres acuh, menikmati teh di hadapannya. Dengan Sazi dan Dini yang juga duduk di dekatnya.


"Kalian yang pergi..." kata-kata dari Fredric penuh senyuman. Bersamaan dengan suara dua mobil memasuki gerbang rumah tersebut. Mobil yang dipenuhi dengan preman bayaran.


Mungkin sekitar 15 orang, masuk ke dalam rumah tanpa ijin. Beberapa pelayan berlari ketakutan menatap orang-orang yang masuk membawa cerurit, golok, bahkan balok kayu.


"Ayah, kedua wanita itu benar-benar tidak tau diuntung! Lebih baik buat mereka digiliri lalu bunuh!" kata-kata Alexa penuh angkara murka. Masih memegangi pipinya yang terkena luka gores pisau.


"Kalian dengar perintah putriku bukan? Bunuh semua, aku akan membayar dengan bayaran tinggi. Buat seolah-olah ini perampokan..." perintah Fredric penuh senyuman, menatap ke arah Andres, yang masih meminum teh dengan tenang.


"Dan bagi pelayan, kalian juga harus bersaksi, mereka mati karena perampokan. Ikat diri kalian sendiri. Jika tidak, kalian harus mati saat ini juga..." lanjut Frederic.


Ketakutan? Tentu saja, perlindungan mereka saat ini hanya Andres. Bagaimana dapat menolong dari sekitar 15 orang pria bersenjata tajam.


"Sebaiknya aku menghubungi Hikaru..." gumam Sazi mengambil ponselnya.


Andres menggerakkan lehernya, bagaikan merenggangkan otot-ototnya yang kaku."Pernah mendengar perbedaan kasta?"


"Perbedaan kasta?" Fredric mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Pengawal kaisar dengan orang yang baru diangkat menjadi prajurit. Tubuh besar membuat bergerak lebih lambat. Terkadang bobot tubuh berotot dapat dikalahkan oleh orang yang haus darah," istilah aneh yang dikatakan Andres.


"Dasar! Anak muda yang asal bicara..." cibir Fredric.


"Aku mantan petinggi organisasi. Kasta terendah dalam organisasiku, bagaikan pasukan khusus dapat mengalahkan 13 orang pria tidak bersenjata, sekaligus. Petingginya? Tentu saja, jika hanya senjata tajam aku dapat mengalahkan 20 orang warga sipil..." Andres menelan cup cake berukuran kecilnya. Mengeluarkan sebuah senjata api.


Kenapa tidak memegang dua senjata api seperti di film-film? Karena dua senjata tidak akan akurat. Bahkan bagi penembak profesional pun sulit untuk dilakukan. Satu senjata yang mempermudah pergerakannya melumpuhkan lawan dalam jarak dekat.


"Andres... kita tunggu Hikaru..." pinta Sazi, usai menghubungi Hikaru.

__ADS_1


"Sekali-sekali aku ingin mendapatkan bonus dari suamimu. Bonus yang lebih besar, untuk menggelar pesta pernikahan, dengan pengantin wanita lain, selain Belinda..." gumamnya penuh senyuman.


Orang-orang bertato berbadan besar itu bergerak hampir bersamaan.


Dor...dor...dor... dor...


Suara tembakan terdengar dari senjata Andres. Tembakan yang benar-benar akurat. Tidak mengenai organ vital atau kepala. Namun pinggang menjadi tujuannya. Alasannya? Ingin melumpuhkan pergerakan tanpa membunuh.


Sekitar 4 orang tumbang olehnya. Permen dengan rasa kopi asli dibuka olehnya, berada di mulutnya saat ini. Mengunyah, sambil menendang orang pria berbadan besar di hadapannya.


Prang...


Suara cerurit terjatuh, Andres menginjak lengan sang pemegang senjata yang rubuh dengan tendangannya. Mematahkan tulang belikatnya sekali injakan.


Bergerak dengan cepat? Itulah kelebihannya. Hampir bersamaan menginjak lengan salah satu pria. Tangannya bergerak, memukul belakang leher salah seorang pria lainnya, pemegang golok.


Bergerak cepat, mendendang perutnya berkali-kali hingga roboh. Pria tanpa belas kasih, memperlakukan mereka bagaikan seonggok daging bersenjata.


Bagaikan bermain game, merobohkan lawan tanpa membunuhnya.


Dor...dor...dor...dor...


"Tinggal lima..." gumam Andres tersenyum, dengan tenang mengenakan sarung tangan kulitnya. Menatap lima orang yang hendak menyerang. Wajah pria berdarah Spanyol yang tersenyum puas, bagaikan tengah bermain game. Membuat lima orang preman amatir lainnya ketakutan. Nyali mereka mungkin ciut dibuatnya.


Apalagi menatap senjata api yang diisi kembali. Delapan peluru isi maksimal dari senjata api.


Satu orang dari mereka hendak menyerang dengan membabi buta.


Dor...


Sekali tembakan langsung rubuh di bawah kaki Andres. Pria yang menginjak kepala preman penuh senyuman."Sekarang mengerti istilah perbedaan kasta? Ikan salmon kecil, pemakan serangga seperti kalian, berharap dapat memakan seekor hiu. Lelucon yang bagus..."


Empat lainnya nyalinya bertambah ciut, menatap 11 orang teman mereka yang roboh bersimbah darah. Bahkan salah satu preman mengeluarkan cairan kuning berbau pesing dari celananya, akibat ketakutan.


"Aku hanya ikut-ikutan!" ucap salah satu dari mereka, menatap ikan pemangsa besar penguasa lautan, meletakkan senjatanya, melarikan diri dengan kaki gemetaran. Diikuti tiga orang lainnya.


"Kami akan pergi..." kata-kata yang akhirnya keluar dari mulut Fredric meraih koper miliknya, diikuti Alexa.


"Tunggu..." Andres menghentikan langkah ayah dan anak itu."Kunci mobil?" ucapnya menadahkan tangan.

__ADS_1


"Itu mobil kami dan..." bentakan Alexa terpotong, kala Andres berjalan mendekati mereka.


"Kalian fikir aku tuli? Semua mobil yang terparkir di garasi diwariskan atas nama Dini. Atau kalian ingin aku mengubur kalian di halaman belakang, hanya karena dua onggok besi?" tanya Andres, yang kini berada tepat di hadapan Alexa.


"Kami akan membayarmu berapapun! Lebih banyak dari yang Dini tawarkan, asalkan kamu berada di pihak kami," pinta Fredric, mengeluarkan buku cek-nya.


Andres menggeleng, kemudian tersenyum."Dini? Bukan Dini yang membayarku. Kamu fikir wanita sepertinya dapat menurunkan petinggi organisasi untuk menjadi pengawal? Diatas langit masih ada langit. Dibayar berapa pun aku tidak akan mengikuti kalian. Karena ikan pemangsa yang lebih besar dariku sedang bersembunyi di lautan dalam. Bersiap menelanku jika mengkhianatinya..."


"Kunci mobil!!" tegas Andres, menadahkan tangannya.


Antara rela dan tidak rela, Fredric menyerahkan kunci mobil yang biasa dipakainya dan Alexa. Kembali mengambil koper mereka hendak melangkah ke luar.


"Tunggu dulu..." Andres kembali membuat langkah mereka terhenti.


"Apa lagi?" geram Fredric.


"Pesan taksi online untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Kalian yang membuat kekacauan, kalian juga yang harus membersihkannya. Darah dan sisa urine mereka, aku tidak akan perhitungan. Pelayan akan membersihkannya..." ucap Andres menatap kekacauan di hadapannya. 11 orang preman yang mengalami cindera serius, akibat melawan kasta yang jauh lebih tinggi dari mereka.


"Kenapa harus kami! Kamu yang melukainya," Fredric menarik tangan putrinya guna meninggalkan kediaman.


"Mau aku laporkan ini pada kepolisian? Penyerangan menggunakan massa, ada sekitar 15 orang. Semuanya terekam dalam CCTV depan rumah. Kalian akan dipenjara cukup lama..." kata-kata dari mulut Andres yang kembali melangkah menuju sofa, duduk, guna meminum sisa tehnya.


"Kami akan menghubungi taksi online, untuk membawa mereka ke rumah sakit. Tapi ingat ini, kalian tidak memiliki pemasukan uang sama sekali. Perusahaan serta semua aset adalah milikku dan Alexa! Kalian hanya akan menjadi pengemis miskin yang berlutut di bawah kaki kami!!" kata-kata dari mulut Fredric penuh senyuman.


Tang...


Sebuah pisau belati tiba-tiba melayang, nyaris mengenai hidungnya. Berakhir tertancap di lemari pajangan.


"Jangan banyak bicara! Mood-ku sedang buruk..." Andres menatap tajam, usai melempar pisau belati yang tadinya diletakkannya di atas meja.


Ketakutan? Fredric benar-benar ketakutan saat ini. Jemarinya gemetar memesan taksi online melalui aplikasi, mungkin ikatan batin yang terhubung karena sinyal WiFi yang kuat. Pria itu meniru sang preman, mengeluarkan cairan berwarna kekuningan dari celananya, mengeluarkan bau pesing menyengat.


"Terimakasih..." ucap Sazi terharu pada Andres.


"Bayar dengan salah satu lukisanmu. Maka kita impas..." Andres tersenyum tanpa dosa, bagaikan anak kecil. Membayangkan jutaan dolar hasil menjual lukisan hasil karya Sazi.


Membeli villa di daerah yang tenang. Menikah dengan wanita dengan bentuk tubuh yang pas. Kemudian memilki banyak anak, setelah melewati malam-malam yang panas...oh Belinda... Tidak... tidak boleh, oh... wanita selain Belinda... batinnya yang sejatinya, menginginkan dan tertuju pada Belinda.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2