
"Pendarahan!? Bagaimana kondisinya!?" tanya Hikaru bangkit dari tempat tidur. Mengapa ini terjadi begitu cepat!? Apa yang harus dikatakannya nanti? Anak yang dirinya inginkan, apa sudah tidak ada? Bahkan kekasihnya terbaring lemah di rumah sakit.
"Beberapa orang sudah mengawasinya," ucap sang pengawal.
Tidak banyak berfikir, Hikaru meraih kunci mobilnya. Berjalan cepat meninggalkan villa. Menginjak pedal gasnya dalam-dalam,"Sial!!" teriaknya dengan mata memerah, air mata menggenang di pelupuk matanya tertahan.
Apa ini karena dirinya? Entah apa yang harus dikatakannya pada Hany. Memberi penjelasan pun rasanya akan sulit. Dirinya yang tidak pernah memiliki pasangan, membawa seorang wanita ke villa. Rumor itu tersebar di beberapa pelayan, merambah jauh mungkin petinggi kelompok dan musuh juga mengetahuinya.
Membawa wanita secara random menjadi pilihannya. Melindungi calon anak dan kekasihnya. Tapi keguguran? Pendarahan? Apa karena Hany melihatnya dengan wanita lain?
"Sial...!!" teriakannya, Hany mencintainya karena menganggapnya sebagai pria yang hangat. Apa setelah ini dirinya tidak dicintai lagi? Banyak hal yang ada di fikiran Hikaru saat ini. Mengurung Hany dalam sangkar emas mungkin keputusan yang salah. Wanita yang terlihat lebih bahagia di apartemen kecilnya.
Mobil mulai terparkir di depan rumah sakit. Pemuda yang berjalan cepat menuju pengawal yang terdiam bagaikan kebingungan.
"Dia, dikamar nomor berapa? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana dengan janinnya?" tanya Hikaru masih mengatur napasnya.
"Ke... ketua, nona itu melarikan diri..." ucap sang pengawal tergagap.
Brak...
Satu tendangan dilayangkan Hikaru hingga sang pengawal jatuh tersungkur."Melarikan diri!? Kalian ada 25 orang!! Mengawasi seorang wanita saja tidak becus!!" teriaknya emosional, Hany benar-benar meninggalkannya kali ini. Seharusnya dirinya bertemu sekali saja dengannya menjelaskan segalanya.
"Kami hanya berdua, yang lainnya bergabung dalam pesta. Dia berpura-pura keguguran, saat kami berbagi tugas mengurus administrasi dan membelikannya makanan. Dia menyuap seorang perawat, melarikan diri dari rumah sakit..." jelas pengawal lainnya.
"Kenapa diam disini!? Cari dia!!" kata-kata bentakan dari bibir Hikaru. Jantungnya berdegup cepat kali ini ketakutan akan kehilangan satu-satunya tempat untuknya berteduh, satu satunya tempat untuknya menghapus lelah.
Dirinya kembali memasuki mobil, melajukan mobilnya dalam kecepatan rendah. Matanya menelisik, mencari wanita yang menyerupai Hany, tidak kenal menyerah dalam rasa sakit yang menghujam dadanya. Dirinya mungkin telah menyakiti Hany begitu dalam, walaupun itu untuk melindunginya.
Seorang wanita bermodel rambut yang sama dengan Hany terlihat, dengan cepat Hikaru turun dari mobil. Wanita itu ditariknya."Hany?" panggilnya.
Namun yang berbalik ternyata orang lain yang tidak dikenalnya.
"Maaf aku salah orang," ucapnya, kembali berjalan kakii. Meraih handphone di sakunya, menunjukkan foto Hany yang menjadi wallpaper handphonenya pada orang-orang di jalan raya.
Namun nihil, semua orang yang ditemuinya menggeleng, pertanda tidak mengenal Hany.
Wanita yang tengah mengandung anaknya benar-benar pergi, wanita yang benar-benar jenuh untuk mencintainya.
***
Seharusnya dirinya tinggal di kamar ini lebih awal, menemaninya, mengusap perut rata kekasihnya. Apa yang dilakukan Hany saat ini? Apa dia sudah makan? Banyak hal yang berkutat dalam fikiran Hikaru.
Duduk di tepi tempat tidur kamar Hany seorang diri. Toko furniture? Hany tidak berada di sana. Benar-benar sudah menghilang, tempatnya bersembunyi menghapus rasa lelahnya, telah jenuh untuk mencintainya.
Selembar kertas terlihat di bawah lampu tidur. Tangan Hikaru yang gemetar meraihnya.
'Jangan mencariku! Aku tidak akan mencintaimu lagi. Karena Hikaru, sang tukang antar makanan sudah tidak ada lagi. Semua hanya sebuah kebohongan. Aku tidak mengenal, maupun pernah mencintaimu...' itulah isi sepucuk surat yang tertinggal di atas meja.
Pria itu tertawa dalam tangisannya, tangannya memegang erat surat, tidak dapat menerima segalanya. Dadanya bagaikan ditikam pisau, rasa sakit yang benar terasa.
Apa ini keinginan Hany menjadi orang biasa? Setidaknya dirinya harus bertemu dengannya sekali saja untuk menjelaskan segalanya."Aku mencintaimu," gumamnya lirih.
Memilih meninggalkan segalanya, meninggalkan organisasi. Walaupun artinya nyawanya dalam bahaya, tanpa memiliki kekuatan finansial. Para petinggi kelompok tidak akan melepaskannya begitu saja, begitu juga dengan musuh-musuhnya. Semua menginginkan kepalanya, tinggal berpindah-pindah, mencari keberadaan kekasihnya yang tengah mengandung, mungkin telah melahirkan seorang diri tanpanya.
__ADS_1
Pemuda yang hanya berbekal sebuah koper berisikan dua pucuk senjata api, lengkap dengan pelurunya.
***
Saat ini...
Melarikan diri dengan pria lain? Hany tidak boleh melakukannya. Wanita itu hanya miliknya, mobil dipacunya dengan kecepatan tinggi. Datang ke tempat Hany dan Hiruma tinggal saat ini.
Dengan cepat mobil terparkir, pemuda yang memiliki paras mirip dengan putranya itu turun dari mobil, menatap sinis pada duda tetangga sebelah yang baru datang dari berjualan bakso.
"Kali ini bukan saya, anak pak lurah yang bertamu..." kata-kata dari sang tukang bakso, meminum kopi hangatnya dengan tangan gemetar. Ketakutan akan Hikaru yang dahulu mengancam akan menabraknya.
Suara tawa terdengar dari dalam tempat kost, kata-kata Rion mungkin benar, kekayaan, wajah rupawan, bukan merupakan faktor utama untuk mendapatkan hati wanita. Bahkan suara tawa Hiruma juga terdengar, dengan cepat pintu tempat kost dibukanya.
Pemandangan yang menjemukan terlihat, Hiruma bermain dengan seorang pria yang mungkin berusia 12 tahun lebih tua dari Hikaru. Pria yang benar-benar terlihat penyayang, sedangkan Hany memasukkan beberapa barang ke kopernya.
Matanya hanya tertuju pada sang pria, wajah standar dengan kulit kecoklatan sedikit keriput. Pakaian murah tanpa merek, ditambah dengan celana jeans panjang. Dirinya benar-benar tidak kalah saing, tapi dengan mudah Hiruma berada di pangkuannya saat ini memakan sosis yang dilumuri saus.
"Hiruma, kemari..." ucap Hikaru lembut.
"Paman berjanji akan membelikanku Snack di Indomaret, nanti saat perjalanan ke kampungnya. Katanya di kampung ada sapi, dan kuda, aku akan diajari menunggang kuda oleh paman. Aku boleh ikut paman ya...ayah?" pinta putranya dengan wajah polos. Sudah jelas ini sebuah konspirasi untuk menentangnya dan sialnya Hany hanya tersenyum memperlihatkan gigi putih ala iklan close up-nya.
"Perjalanan ke kampung?" Hikaru mengepalkan tangannya, masih berusaha tersenyum menahan kekesalannya.
Seorang perjaka tua yang sudah cukup matang dalam fikiran dan tindakannya. Tersenyum ke arahnya tanpa rasa bersalah."Kamu ayahnya Hiruma? Aku akan menjaga Hiruma dengan baik. Aku ingin meminta ijin darimu untuk mendekati Hany. Hubungan kalian sudah berakhir sejak lama. Jadi mohon biarkan Hany menjalin hubungan yang baru..."
Benar-benar sopan, sangat luar biasa. Entah dimana Hany menemukan makhluk tidak tau malu satu ini. Pemuda itu tersenyum."Sudah lama berakhir? Baru kemarin kita melakukannya dengan kamu yang berada di atas. Sekarang ingin melarikan diri dengan selingkuhanmu?"
Anak pak lurah, mengepalkan tangannya, pria yang tidak mudah dihadapi, ternyata ayah dari calon putra sambungnya."Kemarin Hany masih mempertimbangkan tetang Hiruma. Tapi sekarang tidak lagi, Hiruma cukup nyaman denganku. Karena itu aku mengatakan kamu hanya masa lalu bagi Hany..." anak pejabat yang menunjukkan kemampuan bicaranya. Benar-benar pria yang pantas menjadi anak seorang pejabat bukan?
Kesal? Tentu saja, Hikaru masih dapat bertoleransi, berpura-pura tersenyum."Hiruma, ayo kita pulang, bulan depan kita akan pergi ke Osaka, disana ada kepiting besar disana. Kita dapat membuat boneka salju bersama..."
Anak polos itu mulai turun dari pangkuan sang perjaka tua, berjalan menuju ayahnya membayangkan betapa besar kepiting yang dikatakan ayahnya.
"Hiruma tidak jadi ke kampung? Kita bisa membuat layangan burung yang besar dan membakar ubi juga jagung..." anak pak lurah penuh senyuman. Membuat Hiruma kembali berbalik.
"Ayah bisa membelikanmu drone, pesawat kecil yang dilengkapi kamera. Kita dapat bermain bersama-sama," Hikaru seperti tidak mau kalah membujuk putranya.
"Hanya drone? Di kampung kita bisa menangkap ikan, membuat ikan bakar pinggir sungai," sang anak pak lurah, menatap sinis.
"Putraku tidak tahan pada gigitan nyamuk, kulitnya sensitif seperti kulitku. Desa bukan tempat yang baik untuknya..." ucap Hikaru, mendekati putranya.
"Anak laki-laki yang kuat, terbiasa bermain dengan di segala tempat. Fisiknya harus dilatih..." kata-kata dari mulut sang anak pak lurah.
"Putraku cukup pandai beladiri. Jika tidak cukup juga, aku dapat mengajarinya hingga menjadi ahli beladiri tingkat nasional," Hikaru semakin panas rasanya, menatap putranya yang bimbang. Sedikit melirik ke arah Hany yang bagaikan menghindari masalah. Padahal dialah biang keladinya.
"Lepaskan Hany aku akan bisa membahagiakannya," Anak pak lurah bersungut-sungut, mulai tidak sabaran.
"Dia mencintaiku, tidak akan bisa berpaling mencintai orang lain..." kata-kata dari mulut Hikaru.
Hany terdiam benar-benar dua orang dengan tingkat percaya diri yang tinggi. Jika difikir-fikir tidak ada satupun yang diterimanya. Dirinya belum benar-benar setuju untuk kembali pada masa lalu kelam, masih ragu dan menginginkan melarikan diri sejauh-jauhnya.
Tentang anak pak lurah, dirinya hanya meminta saran tempat untuk bersembunyi. Bukan menerima perasaan atau melarikan diri bersama pria ini.
__ADS_1
Hany menghela napas kasar, dirinya tidak akan menerima perasaan pria jika belum dapat mencintainya. Mungkin dengan tinggal di desa dirinya dapat melupakan perasaannya pada Hikaru. Itulah rencananya, namun dua orang ini benar-benar memiliki kepercayaan diri tingkat tinggi.
Hal yang akan dilakukannya saat ini? Tetap berkemas, untuk kabur diam-diam tidak ingin menjadi gundik di villa milik Hikaru. Gundik? Bagi si br*ngesek itu dirinya hanya sampah bekas pakai yang sudah bosan dimainkannya.
Tujuannya kembali? Tentu saja merindukan sampahnya. Ingin menggunakannya kembali, setelah bosan akan kembali dibuangnya.
"Hiruma, ayo kita pergi..." kata-kata dari mulut Hany, membawa dua buah tas koper besar.
Dua orang yang tertegun menatap ke arah ibu dan anak itu.
"Kita berangkat sekarang?" tanya anak pak lurah tersenyum.
Hany membalas senyumannya."Tidak jadi, aku punya tujuan lain. Kita baru saling mengenal, aku tidak mungkin langsung memiliki hubungan, sebagai orang tua tunggal, aku harus lebih berhati-hati, walaupun aku aslinya genit," ucapnya tertawa."Jadi kami akan pindah ke daerah lain..."
"Kabari aku, kamu tinggal dimana. Aku akan sering-sering mengunjungi kalian..." kata-kata dari anak pak lurah penuh senyuman.
Benar-benar kisah kasih di sekolah yang membuat Hikaru kesal. Mungkin lebih baik melihat Hany tidak sengaja tidur dengan pria lain karena mabuk daripada melihatnya tersipu malu-malu pada pria di bawah standar ini.
"Kamu akan pindah ke tempatku! Jika tidak kita mungkin harus memperebutkan hak asuh Hiruma di pengadilan!" ucapnya menggendong putranya, membawa salah satu koper.
"Aku tidak mau tinggal denganmu!!" Hany berusaha merebut putranya.
Anak pak lurah, berusaha menghentikan Hikaru."Aku akan memanggil warga, ini penculikan,"
"Ayah yang merebut anaknya sendiri tidak bisa dikatakan sebagai menculik!!" tegas Hikaru.
Pada akhirnya pria itu menghela napas kasar, menurunkan putranya yang tidak melawan sedikitpun. Putra yang selalu menganggap ayahnya adalah idolanya.
Wajah lain bagaikan sisi koin diperlihatkannya. Berjalan mendekati anak pak lurah."Kamu tau kenapa kami berpisah?"
"Karena kamu berselingkuh!!" kata-kata dari mulut pemuda di hadapannya.
Hikaru menggeleng."Karena aku mengeksekusi pria yang berani mendekatinya. Mengikuti tubuhnya, mengiris dagingnya, kemudian melakukan kremasi. Agar Hany tidak dapat melihat makamnya..." bisiknya benar pendusta tingkat tinggi. Hany saat menjalin hubungan dengan sang pengantar makanan selama 2 tahun, merupakan tipikal wanita yang setia. Tidak pernah melirik pria lain sedikitpun.
Tapi mengeksekusi? Siapa yang dieksekusi Hikaru? Alasan yang mengerikan untuk memberi ancaman bukan?
Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Pria yang seakan melihat iblis di hadapannya."Ha... Hany, aku harus pulang..."
Entah dimana anak pejabat yang terlihat cerdas kini bagaikan kelinci yang ketakutan, berada tepat di bawah cakar sang raja hutan. Percayalah saat kemampuan bertahan hidupmu diuji, saat itulah kemampuan super untuk melarikan diri akan terlihat.
"Aku harus pulang..." lanjutnya dengan cepat, mengambil kunci motor, benar-benar aura membunuh yang mengerikan melarikan diri, menggunakan motor matic-nya.
"A...aku dan Hiruma juga harus pergi..." ucap Hany gelagapan. Bukan karena takut, tapi karena enggan mengikuti Hikaru.
Tapi siapa sangka, dirinya diangkat bagaikan pikulan beras."Turunkan aku!!" teriak Hany memukul-mukul punggungnya.
"Dasar nakal!! Melarikan diri dengan pria lain!!" Hikaru memukul-mukul pantat Hany berkali-kali sambil melangkah menuju mobilnya.
Hany akhirnya terdiam meringis. Tidak dapat terlepas dari tukang antar makanan. Tukang antar makanan? Tukang antar makanan adalah kekasihnya. Sedangkan pria ini hanya Hikaru si br*ngesek.
Kata-kata dari anak tidak berbakti mengiringi perjalanan mereka."Ibu memang sesekali harus dihukum. Ayah, jangan lupa kepiting besar di Osaka..."
Bersambung
__ADS_1