
Sazi terdiam sejenak, tersenyum lirih."Bagaimana kelanjutan ceritanya?" tanyanya.
"Hujan sempat turun dengan lebat, ada suara petir di tengah malam. Ayah kelinci menyalakan senter, membuat bayangan dari tangannya untuk menghibur anak katak dan anak kelinci. Dua makhluk kecil yang tertawa di samping ayah kelinci, berbaring dalam tenda yang sempit," jawaban Rion tersenyum melanjutkan ceritanya.
Benar-benar cerita yang sama, semuanya serupa. Perasaan hangat yang juga sama, seharusnya dirinya menyadari lebih awal.
"Rion... maaf..." kata-kata yang terucap dari bibir Sazi mengingat masa kecil mereka. Air matanya mengalir, mengingat sang anak rupawan yang menarik ular yang menggigitnya. Kemudian tanpa ragu menghisap darah di luka bekas gigitan.
Dirinya hanya dapat menangis menyalahkan sang anak laki-laki, yang membuatkan banyak mainan untuknya. Anak laki-laki yang meninggalkannya sesaat di tengah hutan. Anak laki-laki yang juga ikut menangis sembari menghisap racun, kemudian meludahkannya di tanah.
Dia adalah Rion, bukan Dave...
Air mata Sazi mengalir."Saat kecil kamu memang tampan..." lanjutnya.
"Jadi kamu ingat? Ayahmu berkata untuk menjagamu. Karena dia seperti komet Halley yang melintasi bumi sesaat. Sedangkan aku seperti rasi bintang Orion yang selalu ada di langit..." Rion tersenyum menatap foto Harry yang terdapat di album. Pria yang dulu menyelamatkannya dari batu tengah sungai. Seorang pria yang juga mengantarkannya kembali pulang.
Sazi terdiam, menghapus air matanya, yang tidak ada hentinya mengalir. Bagaimana perasaannya? Senang, sekaligus terjebak dalam penyesalan. Andai dirinya mengetahui lebih awal...
"Karena itu, saat kamu pindah ke sekolah menengah pertama, aku mulai mengejarmu. Selalu duduk di belakangmu, ingin memastikan kamu Sazi yang sama. Tapi siapa yang akan mau berteman dengan si bantet? Karena itu aku hanya melihatmu dari jauh, Sazi yang cantik..." kata-kata dari bibir Rion, membalik album yang menunjukkan foto Sazi remaja.
Sazi tertunduk, mengalirkan air matanya tanpa mengeluarkan suara. Foto perpisahan masa sekolah menengah pertama diliriknya. Rion gemuk memang ada di sana, seseorang yang tidak dikenal, diingat atau disadari keberadaannya oleh Sazi.
"Aku bersikeras masuk ke SMU yang sama denganmu. Walaupun karena ujian masuknya, aku harus sedikit menunjukkan kemampuanku. Bekerja sepulang sekolah karena biaya masuk ke sekolah elite yang tidak sedikit. Tapi menyenangkan bisa mengikuti langkahmu. Itulah akhir cerita dari anak katak yang selalu mengikuti anak kelinci..." kata-kata akhir kisah dari Rion, menutup photo album, yang berakhir pada foto masa SMU. Foto perpisahan sekolah, dimana Rion tidak ada di sana, memutuskan pergi melarikan diri bersama Fino.
Sazi menangis semakin kencang, hingga suaminya baru menyadari tangisan istrinya."Rion! Bantet bodoh!! Kenapa tidak mengatakannya terang-terangan saat SMP!" gumam Sazi memukuli suaminya, menggunakan bantal.
"Aku...aku mana mungkin aku mengatakannya. Apa aku harus bilang, 'Hai Sazi aku temanmu dulu, kamu kenal aku kan? Kamu ingat aku kan?' Itu memalukan!! Lagi pula itu kejadian saat kita berumur 5 tahun. Mungkin kamu sudah melupakanku..." ucap Rion menjadikan tangannya sebagai perisai pukulan istrinya.
__ADS_1
Sazi tiba-tiba tersenyum, memeluknya dalam tangisan."Aku tidak mungkin lupa, karena kamu menyayangiku, sama seperti ayah yang menyayangiku..." gumamnya.
Inilah penyebab Sazi merengek untuk dijodohkan dengan Dave pada ayahnya. Seorang anak yang haus akan kasih sayang, Dini yang tidak tulus padanya, Herry yang jarang di rumah. Menemukan anak kecil yang begitu peduli padanya, anak yang wajahnya dilupakan oleh Sazi.
Berharap anak itu akan selalu menemaninya. Itulah mengapa dirinya mengejar rasa cinta dari Dave, berharap mendapatkan balasan kasih sayang yang sama. Kasih sayang yang didapatkannya dulu, dari sang anak rupawan yang cerdas.
Rupawan dan cerdas? Semua menyerupai Dave. Hingga dirinya tidak curiga sama sekali, saat Dini memperkenalkan Dave sebagai teman masa kecilnya.
Tidak mengenali atau memperhatikan Rion sama sekali, si bantet yang terbodoh di kelas. Anak rupawan yang cerdas itu, menjadi gemuk dan bodoh untuk melindungi dirinya sendiri. Berpura-pura tidak mengenali Sazi, karena malu dengan rupa fisik, citra bodoh, dan status sosialnya yang jauh lebih rendah. Hingga Rion baru berani mendekat di masa SMU mereka.
"Bantet..." Sazi menangis terisak, memukul punggung suaminya masih mendekap pemuda itu dalam pelukannya. Si anak katak yang terjebak di batu tengah sungai. Katak yang memanggilnya bodoh...
"Jangan menangis? Kalau kamu menangis, itu artinya anak kita ikut menangis..." ucap Rion menghela napas kasar, membelai rambut panjang istrinya.
Anak darinya? Kini Sazi memang telah mengandung benih dari pria yang benar-benar mencintainya. Siapa yang dapat menyangka inilah akhir dongengnya, sang anak katak dapat menikahi sang anak kelinci.
"Komet Orion akan selalu ada di langit. Karena itu jangan pernah meninggalkanku..." pinta Sazi dengan bibir yang semakin mendekat.
Rion hanya tersenyum, menarik tengkuknya. Memulai menggerakkan bibirnya. Jantungnya berdegup cepat ini sama seperti dulu. Wanita yang mampu membuatnya kehilangan akal.
Sazi yang membuatnya dapat mempertaruhkan hidupnya hanya untuk bersamanya...
Air mata Rion mengalir, disela ciumannya. Apa dirinya dapat menjaga istri dan keturunannya?
Jawabnya, tidak... semua kemungkinan sudah diperhitungkan olehnya. Dirinya belum memiliki kekuasaan finansial yang cukup. Jika tertangkap, Rion hanya dapat menyerah, membungkam mulutnya tentang keberadaan janin di perut istrinya hingga kematiannya.
Anak yang akan melanjutkan garis keturunannya. Mungkin anaknya-lah yang akan memiliki kekuasaan finansial yang cukup nantinya. Untuk memiliki segalanya dan hidup dengan tenang bersama Sazi.
__ADS_1
Benar, ini harus dilakukannya...
Mengalihkan segalanya atas nama istri dan calon anaknya. Investasi yang akan berkembang, mungkin nilai aset 15 sampai 20 tahun lagi, dapat melebihi harta Gerald.
Jika tertangkap, dirinya hanya perlu bungkam. Atau membunuh dirinya sendiri... perhitungan terburuk yang tiba-tiba terlintas.
"Aku mencintaimu dari dulu, dari awal, seharusnya aku memohon pada ayah untuk bertunangan denganmu dulu..." kata-kata dari bibir Sazi penuh senyuman, kala ciuman itu terlepas.
"Aku juga..." ucap Rion dengan bibir bergetar, berharap dirinya tidak akan pernah tertangkap.
***
Beberapa bulan yang lalu, kediaman milik Silvia...
Margaretha menghela napas kasar menatap kedua putrinya. Kedua putri yang dibanggakannya tengah tertidur, memiliki karier yang cemerlang di usia muda. Menjadi selebriti idola remaja, yang setiap gerak-geriknya diawasi kamera. Itulah kedua putrinya, Queen dan Desi...
Semenjak berhasil mengangkat nama kedua putrinya, Gerald tidak menganggap mereka benalu lagi. Memiliki penghasilan yang cukup besar dan pamor sebagai idola remaja. Harga saham perusahaan yang menanjak naik, karena kedua putrinya.
Kedua putrinya dapat hidup. Tapi tidak dengan dirinya dan Silvia. Tiga hari lagi ulang tahun Leony. Jemari tangan Margaretha mengepal, hanya membawa beberapa helai pakaian agar tidak ada yang curiga. Tanpa satupun barang berharga. Satu-satunya harapannya dan Silvia hanya menemukan Rion. Berharap Rion, putra tertuanya masih hidup. Walaupun jika bertemu dirinya masih bingung harus mengatakan apa. Maaf? Mungkin tidak akan cukup.
Margaretha membawa tasnya, meninggalkan kamar kedua putrinya. Air matanya mengalir, menatap sepasang wajah rupawan itu untuk terakhir kalinya.
"Sudah?" tanya Silvia pada putrinya, yang sudah berencana mencari tempat tinggal sementara.
Meskipun hanya harapan semu, namun jika bertemu dengan Rion, maka mereka dapat membalik keadaan. Rion yang sejatinya tidak mengetahui, seluruh rumah, aset dan perusahaan keluarga adalah miliknya.
Bersambung
__ADS_1