
Sebuah restauran ternama menjadi tujuannya dan Silvia. Mengatakan pada supir untuk menunggu di depan restauran. Hal yang terjadi sebenarnya? Margaretha dan Silvia mengganti pakainya di toilet, kemudian keluar melalui jalur belakang restauran.
Mereka sudah merencanakannya dengan baik, bahkan tempat tinggal sementara. Menghemat uang cash mereka, yang tidak seberapa.
Kontrakan kecil menjadi tujuannya, setelah turun dari mobil taksi. Margaretha menghela napas kasar, tidak lebih besar dari kost-kostan yang dulu ditempati dirinya dan Fino. Bagaimana kabarnya? Apa dia selamat? Entahlah, walaupun mungkin mayat Rion dan Fino telah menjadi belulang. Hanyut di aliran sungai tempat bus mengalami kecelakaan, namun hanya itu harapannya akan hidup yang tenang.
Harapan yang sulit digapainya, seandainya dirinya lebih sabar untuk menjalani kehidupan yang sulit bersama Fino...
Jemari tangan Margaretha mengepal air matanya mengalir. Suami yang baik? Fino sudah berusaha, walaupun dengan tubuhnya yang sakit-sakitan.
"Maaf ..." Sivia menggenggam jemari tangan putrinya, hanya satu kata itulah yang terucap dari bibirnya yang kelu. Putrinya yang saat itu masih labil, meninggalkan suami dan putranya karena kata-kata hasutan darinya.
Menjalani kehidupan di rumah yang sederhana? Mungkin itulah yang akan dilakukannya, mulai saat ini. Hingga menemukan informasi keberadaan Rion, walaupun mustahil rasanya.
Tidak membawa Queen dan Desi? Kedua putrinya telah menjadi selebriti, Gerald tidak akan membunuh mereka. Selain itu, seperti pesannya pada kedua putrinya, untuk mencari Rion diam-diam menggunakan koneksi mereka. Melarikan diri, apabila Leony berniat buruk pada mereka. Semua sudah direncanakannya dengan baik.
Margaretha menghela napas kasar, berusaha tersenyum memasuki tempat kost kecil miliknya. Mencari pekerjaan dengan nama Gigi, hanya untuk bertahan hidup. Inilah akhir dari seorang nona muda yang lebih memilih CEO sombong bagaikan tokoh pria idaman dalam novel atau komik. Menepis perasaan cinta dari pria sakit-sakitan yang benar-benar menyayanginya.
***
Gigi? Itulah identitas sementara yang dipakainya. Menjadi seorang office girl perusahaan yang tidak begitu besar baginya. Tidak begitu besar? Tentu saja, karena perusahaan keluarganya yang memiliki cabang di beberapa negara. Perusahaan terkemuka, yang diwarisi turun temurun. Hasil keringat leluhur, hingga ayahnya.
Matanya menelisik mengamati seorang karyawan baru yang menghela napas berkali-kali. Benar-benar terlihat mengantuk mengamati tumpukan berkas, wajah Margaretha mulai tersenyum, anak kandung pemilik perusahaan ini yang dibicarakan orang-orang. Mungkin seusia dengan Rion.
Apa dia sudah memiliki kekasih? Entahlah, namun terlihat menyenangkan untuk berbicara dengannya. Membagi manisan khusus, resep keluarganya dengannya. Wanita yang ternyata tengah mengandung, menawari Margaretha sebuah pekerjaan.
Sazi itulah nama majikan barunya. Wanita yang mempekerjakannya dalam apartemen elite yang kosong.
Sazi jarang menempatinya, wanita yang memberi Margaretha tumpukan berkas untuk dikerjakan. Sementara Sazi setiap datang ke apartemen hanya selalu melukis. Lukisan yang indah, terlihat tidak berharga murah.
__ADS_1
Mrs. R... itulah nama yang tertera di pojok lukisan. Nyonya R. apa itu inisial nama dari ayah anak, dalam kandungannya? Wanita yang selalu memakan manisan buatan Silvia.
Terkadang firasat aneh selalu terbesit dalam diri Margaretha.
Apartemen kini kosong, sudah sekitar dua hari Sazi tidak kembali, setelah membawa dua kotak besar manisan yang khusus dibuatkan Silvia. Jemari tangan Margaretha yang menari cepat di atas laptop terhenti, matanya sedikit melirik ke arah kanvas yang tertutup kain.
"Tidak mungkin..." gumamnya, mengingat nama inisial Sazi di pojok lukisan, Mrs. R. Tidak mungkin nyonya Rion kan? Mungkin hanya kebetulan Sazi yang tengah mengandung menyukai manisan buatan Silvia yang sejatinya memiliki citarasa hangat yang berasal dari jahe. Citarasa manis yang aneh, bukan hanya gula, tapi menggunakan rempah-rempah lain yang tidak lazim. Sesuatu yang hanya disukai almarhum ayahnya. Generasi anak laki-laki pewaris keluarganya.
Namun sejenak kemudian rasa penasaran semakin melekat pada dirinya. Jantungnya berdegup cepat, mungkin Rion masih hidup dan menikahi putri cantik dari kalangan menengah keatas.
Margaretha menggeleng-gelengkan kepalanya, menghela napas kasar mengingat rupa putranya ketika SMU. Pria gemuk yang bergerak perlahan, benar-benar lambat. Bagaikan bos-bos genit di film atau novel. Seorang Sazi menikah dengan Rion, dua kata 'tidak mungkin.'
Jika Rion masih hidup mungkin kini sudah berusia 30 tahun. Memiliki keluarga sendiri, mungkin berakhir seperti Fino yang menjadi kuli angkut, menikah dengan wanita sederhana yang tidak begitu cantik. Mungkin menantunya tonggos atau berkulit hitam? Tidak masalah, dirinya hanya harus menerimanya, berlapang dada.
Karena itulah putranya, si gemuk yang baik hati."Maaf..." gumam Margaretha berusaha tersenyum menyadari betapa pahit kehidupan putranya. Kedewasaan yang tumbuh terlambat dari seorang putri keluarga kaya. Kala orang-orang yang mencintainya telah menghilang.
***
Dengan cepat beberapa benda dimasukkannya ke dalam troli. Tidak ingin terlihat satu orangpun.
Mengantri dengan sabar di depan meja kasir. Margaretha menghela napas berkali-kali, berharap antrian segera bergerak, namun dua orang yang belanjaan tengah dihitung, berbelanja dua troli penuh sekaligus.
Seorang pria dan seorang wanita cantik, bentuk tubuh? Jangan ditanya lagi.
"Dady..." panggilnya manja menyender di lengan sang pria. Sementara Margaretha yang mengantri di belakang mereka menipiskan bibir menahan tawanya. Terlihat dari belakang hampir sebaya ternyata si pria mungkin jauh lebih tua.
Sang pria mendorong kepala sang wanita muda, kemudian bergeser berdiri sedikit menjauh darinya. Beberapa orang yang mengantri di belakang ikut-ikutan berbisik heran, menahan tawa mereka.
"Jangan begitu oppa (kakak dalam bahasa Korea). Aku akan menggantikannya di hatimu..." kata-kata Vanessa tidak tau malu, wanita yang sudah kebal untuk mengejar Fino. Duda pemilik beberapa outlet, wajah yang lumayan rupawan di usia Fino yang tidak lagi muda. Ditambah dengan sifat penyayang. Mantan istri yang benar-benar menyia-nyiakan pria sempurna. Itulah yang ada dalam hati Vanessa.
__ADS_1
Sang pramugari berwajah cantik dengan tubuh menggoda itu kembali mendekat."Kak ...malam ini aku menginap ya?"
Fino mengenyitkan keningnya, masih membelakangi Margaretha. Tidak mengetahui sang mantan yang mati-matian menahan tawanya.
"Sayang, ayo bertanggung jawab..." tanya Vanessa, berniat menggunakan keramaian orang-orang di tempat umum. Agar Fino bersedia menerimanya.
"Bertanggung jawab?" Fino mengenyitkan keningnya tertawa kecil.
Sementara orang-orang yang ada di antrian belakang mendengarkan baik-baik. Memandang Fino sebagai pria tidak bertanggungjawab.
"Bertanggung jawab, karena sudah meluluhkan hatiku. Aku akan menyayangi dan merawat anakmu dengan baik. Kita menikah ya?" pinta Vanessa.
"Anakku berumur 30 tahun. Kamu mau merawatnya bagaimana? Memakaikannya popok? Mengajarinya berjalan? Atau memandikannya? Maka kamu akan bertarung baku hantam dengan menantuku..." kata-kata dari mulut Fino yang mulai menoleh ke samping.
Tawa Margaretha yang tepat berada di belakang mereka terhenti. Tangannya tiba-tiba gemetar...
"Aku menyukaimu..." kata-kata dari Vanessa kembali menyender pada lengan Fino.
Wanita itu mengenyitkan keningnya. Fino memang saat pacaran hingga menikah tipikal katak yang setia. Maaf salah, pria yang setia, tidak pernah melirik dedemit lainnya. Tapi kini di usianya yang tidak lagi muda, ada dedemit yang mendekat.
"Kamu berselingkuh?" tanya Margaretha tiba-tiba tanpa logika sedikitpun, membuka maskernya hingga ke dagu. Memisahkan dua insan beda usia.
Sejenak kemudian Margaretha menyadari ada hal yang salah. Tertawa sendiri menutup mulutnya, kembali memakai maskernya. Dirinya benar-benar tidak berfikir sebelum bertindak."Aku salah orang!!" ucapnya cepat meletakkan belanjaannya asal. Berlari sekuat tenaga keluar dari minimarket menahan rasa malunya.
Sementara Fino terdiam, matanya menyipit menatap ke arah satu titik, pintu tempat Margaretha keluar. Katak tua, yang tiba-tiba tersenyum menyeringai.
"Itu penyihir jelek kan?" tanya Vanessa yang mengenali wajah Margaretha.
"Anak kecil, sebaiknya pulang, minum susu, kemudian tidur..." gumam Fino.
__ADS_1
Bersambung