Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Rindu


__ADS_3

Beberapa hari berlalu...


"Emmgh... sudah aku harus berangkat," Sazi tersenyum padanya, tubuh mereka sama-sama tidak mengenakan sehelai benangpun. Pemuda yang tidak melewatkan satu kesempatan pun. Bagaikan tidak ingin ditinggalkan istrinya, namun jika ingin hidup bebas maka dirinya harus tinggal di Eropa sementara waktu mengumpulkan uang dan kekuasaan finansial.


"Masih tiga jam lagi..." bisik Rion setelah beberapa hari ini bagaikan sebuah mimpi baginya. Menjadi suami seutuhnya dari wanita yang dicintainya.


"Akh..." pekik Sazi, kala pemuda itu menyatukan tubuh mereka, menonggakkan kepalanya merasakan kenikmatan.


"Kamu menyukainya? Jangan pergi..." pinta Rion yang antara rela dan tidak melepaskan kepergian istrinya. Namun, ingin memberikan kebebasan dan kebahagiaan padanya.


"Rion..." hanya racauan memanggil namanya yang terdengar di pagi yang dingin, mendekap tubuh suami yang tengah mengguncangnya pelan.


Harapannya? Dirinya ingin segera mengandung anak dari pria yang dicintainya. Namun, hanya seminggu apa cukup? Entahlah...


Katak? Istilah itulah yang dikatakan Rion, tidak mirip sama sekali. Suaminya hanya pemuda baik hati yang mencintai dirinya. Selepas dengan rupa gemuknya ataupun wajah rupawannya yang sekarang.


Akan seperti apa anak mereka? Entahlah, mungkin cerdas dan rupawan seperti suaminya. Pemuda yang kini tengah memangut bibirnya, merasakan resah dalam kenikmatan menggerakkan inti tubuh mereka yang menyatu.


***


Pada akhirnya dirinya kini telah siap memakai pakaian hangat, menarik kopernya. Mengelus perutnya yang rata, berharap telah ada janin yang berkembang di rahimnya.


Meninggalkan rumah yang dua tahun ini ditempatinya. Suaminya tersenyum, membukakan pintu mobil untuknya.


"Cepat pulang..." pinta Rion mulai duduk di kursi pengemudi, setelah Sazi masuk.


"Aku akan pergi cukup lama. Jadi jangan nakal, jangan melirik wanita lain," Sazi mengecup pipi Rion yang mulai menyalakan mesin mobilnya.


Pemuda itu menipiskan bibir menahan senyumnya."Pria Afrika memiliki kemampuan ranjang yang lebih. Kamu pasti akan melupakan suamimu..."


"Pinggangku masih sakit sampai sekarang. Disfungsi ereksi? Jangan bercanda! Kamu sering melakukannya tanpa istirahat sedikitpun." Sazi berusaha untuk tersenyum menampakan gigi putih ala iklan Pepsodentnya, menatap wajah suaminya.


"A...aku memang dulu mengalami disfungsi ereksi," dusta Rion gelagapan.


Tangan Sazi bergerak memasuki pakaian suaminya menyentuh otot-otot dada dan perut yang ditemukannya. Dan benar saja, Rion mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, celananya mulai terlihat sesak.

__ADS_1


"Perlu aku buka?" tanya Sazi pada Rion.


Dengan cepat Rion mengangguk, sesaat kemudian menggeleng. Tidak ingin kalah berdebat dengan istrinya.


"Ayolah..." bisik Sazi menatap suaminya yang masih menyetir.


"A...aku akan memarkirkan mobil di tempat sepi. Kita..." kata-kata Rion terhenti.


"Benar kan? Kamu pejantan tangguh, yang bereaksi sekali pegang. Jangan coba-coba selingkuh selama aku pergi. Wanita Spanyol lebih pintar memuaskan di atas ranjang. Jadi..." kata-kata Sazi terhenti, Rion mengalihkan perhatiannya sekilas dari jalanan mengecup pipinya.


"Aku ingin hanya kamu yang menemani masa tuaku. Mengandung anak-anak kita nantinya. Jikapun tidak ada anak, hanya kita berdua, tidak apa-apa. Denganmu aku sudah cukup bahagia..." ucap Rion kembali konsentrasi pada jalanan yang lengang, mengingat saat ini baru pukul 3 pagi.


Sazi tersenyum, seharusnya dirinya membuat keputusan gila untuk kawin lari dengan Rion 12 tahun lalu. Mungkin kini anak mereka sudah berada di sekolah dasar. Siapa tahu hidup dengan si bantet dapat membuat dirinya sebahagia ini.


Wajah rupawan itu di tatapnya baik-baik. Benar-benar pemuda rupawan, bahkan lebih rupawan dari imajinasinya kala SMU membayangkan Rion tanpa timbunan lemak. Saat pemuda itu memainkan biola di ruangan seni. Kala tidak ada satu orangpun yang mengingat ulang tahunnya.


Inilah rupa asli yang disembunyikan roti bantet. Pemuda dengan tubuh proporsional, kulit putih, mata tajam, hidung mancung ,alis yang tegas. Benar-benar pahatan sempurna, yang membuat Sazi tiba-tiba menelan ludahnya setelah menatap suaminya beberapa saat.


"Kamu tidak ingin? Masih ada waktu satu jam, bagaimana jika kita parkir di tempat sepi dan..." Rion menoleh ke arah istrinya yang terus menatapnya.


"Kenapa berhenti..." Sazi tertegun.


Rion menariknya ke dalam pangkuannya."Masih ada waktu, jika kita buru-buru..." ucapnya mengecup pelan leher istrinya, membuat tanda keunguan disana.


"Tapi, ini di dalam...sshh..." Sazi menonggakan kepalanya, setelah dengan cepat Rion membuka beberapa kancing kemejanya. Menikmati dengan serakah secara bergantian kedua benda di hadapannya.


Hanya dapat menjambak rambutnya pelan, dirinya benar-benar dibuat menggila oleh tingkah suaminya.


Hingga roknya disingkap, pakaian dalam bagian bawahnya dilepaskan. Suara resleting celana panjang pria terdengar. Dirinya benar-benar melakukannya dalam mobil?


Rion mengarahkan untuk menyatukan tubuh mereka. Hingga pasangan suami-istri itu menonggakan kepalanya. Menikmati segalanya, kala Sazi mulai bergerak, mencari titik kepuasan. Ini benar-benar gila, masih sempat-sempatnya pemuda itu mencari kesempatan. Dan dengan bodohnya Sazi menurut, bahkan kini bergerak memuaskannya. Menjambak pelan rambutnya yang kini tengah menikmati area sensitif bagian atasnya.


Anggap saja ini bekal untuk Rion yang harus berpisah dengannya beberapa bulan. Tidak tega meninggalkan suaminya.


"Ssshh... bisa kamu tidak pergi?" pinta Rion lagi dan lagi, sesekali meringis merasakan sensasi tubuh mereka yang menyatu.

__ADS_1


Sazi hanya terdiam, menikmati segalanya, benar-benar berharap benih dari pemuda ini akan tumbuh di rahimnya. Memberi kejutan kala dirinya kembali nanti.


***


Pada akhirnya, wanita itu mulai pergi, berjalan di area bandara menarik kopernya, usai merapikan pakaiannya yang acak-acakan. Rambut pemuda itu juga terlihat tidak beraturan melambaikan tangannya padanya.


Benar-benar tidak tau situasi dan rasa malu. Sazi mencoba bersabar, dimana dirinya harus mandi? Wanita yang menghela napas kasar, mencari informasi tentang maskapai pesawat yang ditumpanginya."Ada fasilitas untuk mandi..." gumamnya penuh rasa syukur.


Tidak menyangka suaminya dapat seagresif ini. Meminta jatah berlebihan selama seminggu ini. Asalkan pulang kerja, mereka di rumah bersama, semua akan berakhir di ranjang. Alasannya? Tentu saja, perpisahannya yang harus pergi ke Afrika Selatan dengan alasan liburan sekaligus mencari inspirasi.


Mencari inspirasi? Jika saja jadwal kerja Rion untuk dua bulan ini belum diatur Hikaru. Pemuda itu mungkin akan ikut bersamanya. Wanita yang hanya dapat bersyukur dan mencari alasan agar suaminya tidak menyusulnya ke Afrika Selatan nantinya.


Bukan Afrika Selatan sebenarnya tujuan pesawat ini. Namun, Singapura, setelah itu transit kembali ke negara tempatnya berasal.


Bukan Sazi yang mudah ditindas lagi? Itulah dirinya. Semua pengalaman hidup yang pahit membuka matanya, tentang apa itu keluarga, apa itu saudara, dan apa yang dimaksud dengan rasa kasih sejati.


Mrs. R, itulah nama identitasnya sebagai salah satu seniman yang telah diakui. Nama yang tidak akan digunakannya, kini menjadi Sazi, wanita lemah yang menderita depresi. Wanita yang telah pulih setelah tinggal di desa beberapa waktu. Menjadi wanita lugu yang akan kembali bekerja di perusahaan milik almarhum Herry.


Wanita yang benar-benar cantik, dengan rambut panjang tergerai, memakai hight heels, mini dress hitam selutut tertutup, namun terlihat anggun. Menaiki taksi, akan memulai rencananya untuk memasuki rumah, langkah awalnya, mencari informasi apa saja yang sudah terjadi 5 tahun ini.


Bagaimana kabar Rion? Dirinya sudah mulai merindukan suaminya. Apa Rion akan marah jika mengetahui segalanya?


"Rion tidak akan tau, aku akan kembali sebelum dia menyadarinya..." gumamnya.


***


Tidak menyadari hal yang dilakukan suaminya."Bawa semua berkasnya kemari! Perpadat jadwal, aku ingin berlibur ke Afrika Selatan setelah ini..." ucapnya yang tengah berjalan menuju kantor CEO salah satu perusahaan, tempat dirinya menanam saham dengan jumlah yang cukup besar.


Bukan hanya perusahaan miliknya dimana dirinya menjabat sebagai komisaris. Namun ada beberapa perusahaan besar tempatnya berinvestasi dua tahun ini. Langkah kakinya diikuti Hikaru yang masih tersenyum ganjil, tiba-tiba menarik bagian belakang kerah kemeja Rion. Membuat langkah pemuda itu terhenti tiba-tiba.


"Kamu menyebutku bucin? Kamu tidak melihat betapa memalukannya tingkahmu saat ini?" tanya Hikaru mengenyitkan keningnya.


"Aku bukan bucin. Hanya suami yang sayang istri..." kata-kata tidak tau malu yang membuat Hikaru melepaskan sang anak katak. Pemuda yang berjalan penuh semangat mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2