
🍀🍀🍀🍀 Warning!! Mengandung konten dewasa, walaupun tidak fulgar!! Yang merasa di bawah umur menyingkir!!🍀🍀🍀🍀
Sedangkan Sazi sendiri terdiam berendam ditengah bathtub. Apa Rion mencintainya? Tentu saja, akhirnya ada orang yang mencintainya. Busa lembut menutupi tubuh indahnya. Terdiam seorang diri menenangkan fikirannya.
Bau dari lilin aromaterapi tercium. Aroma lavender yang membuatnya lebih rileks. Wanita yang terdiam dengan rasa traumanya, apakah akan sama seperti malam pertamanya sebelumnya? Dave yang memutuskan untuk tidur dengan Alexa.
Air mata Sazi mengalir, terlalu takut keluar dari kamar mandi. Takut Rion tidak akan datang, takut jika semuanya adalah kepalsuan. Tidak rela jika pemuda yang menemaninya dua tahun ini harus direbut. Pemuda yang terlihat tulus kepadanya.
Hingga pada akhirnya kembali berjalan mencuci rambutnya, membilas tubuhnya di bawah derasnya shower. Mengeringkan rambutnya dengan handuk, menyisirnya pelan. Jubah mandi membalut tubuh indahnya.
Wanita yang terdiam dengan tangan gentar hendak memegang hendel pintu. Wanita yang tiba-tiba menangis terisak, takut Rion tidak akan ada di sana sama seperti Dave.
Hingga pintu menuju kamar dibukanya dengan cepat, benar saja, ruangan kosong terlihat, Rion tidak ada disana. Sazi tiba-tiba menitikkan air matanya, trauma psikologisnya bagaikan kembali hingga tidak menyadari pintu yang setengah terbuka menampakkan seorang pemuda datang membawa troli, berisikan red wine, air putih, gelas, serta makan malam untuk mereka.
"Kenapa menangis?" tanyanya, mendekati Sazi, memeluk tubuh wanita yang membelakanginya. Menyandarkan dagunya pada bahu istrinya.
Sazi menoleh, menatap Rion yang tersenyum kepadanya, wanita yang dengan cepat menyeka air matanya.
"Kamu kemana?" tanyanya memeluk tubuh Rion erat.
"Menghangatkan makanan di lemari pendingin. Kamu pasti lapar." Rion tersenyum mengurai pelukannya."Ayo kita makan," ucapnya menarik Sazi ke dalam pangkuannya.
Bahagia? Dirinya benar-benar bahagia, pemuda yang memangku tubuhnya, menyuapi makanan ke mulutnya. Tersenyum memberikan ciuman ke pipinya.
"Kamu mau mencobanya?" tanya Rion padanya, menyodorkan red wine yang hanya terisi seperempat gelas.
Sazi mengangguk meminumnya sedikit, ini untuk pertama kalinya dirinya meminum alkohol. Rasa yang cukup menyengat, namun rasa anggur yang lembut menyebar di mulutnya.
Hingga tengkuknya di tarik, Rion membersihkan sisa anggur dalam mulutnya, menggunakan lidahnya.
"Emmgh..." suaranya terdengar kala tangan pemuda itu menyusup ke balik jubah mandinya. Suara yang tertutup oleh lidah pemuda yang menikmatinya tiada henti.
Apa inikah sensasi malam pertama? Sangat nyaman, namun membuat dirinya gelisah.
__ADS_1
Prang...
Suara pecahan gelas terdengar kala tangan Sazi mulai lemas, menjatuhkan gelas minuman yang dipegangnya. Terhanyut akan sentuhan suaminya.
Ini benar-benar membuatnya merasa gila, kala bibir itu turun ke ceruk lehernya.
Sazi, tolong jangan menyesal, jangan mengingat segalanya, jangan kembali pada Dave... batin Rion putus asa.
Bibir yang mulai berpindah, turun menarik tali jubah mandi yang terbuka. Mulut dan tangannya yang tiada henti menikmati, membuai benda di hadapannya.
"Ri... Rion...shh..." gumam Sazi menjambak pelan rambutnya. Tubuhnya menggeliat, menginginkan pemuda itu lebih menenggelamkan wajahnya lagi. Ini benar-benar gila, tidak malu sama sekali.
Darahnya berdesir, pemuda yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya hingga jubah mandinya teronggok sempurna. Tubuh tanpa penghalang itu akhirnya terlihat. Tangan Sazi refleks bergerak menutupi area paling sensitif bagian atas dan bawahnya.
"Jangan malu, kamu juga akan melihat tubuhku..." pinta Rion meletakkannya di atas tempat tidur. Pemuda yang juga menarik tali jubah mandinya sendiri. Melemparkan asal, sungguh licik, pemuda itu bahkan tidak mengenakan boxernya.
Sazi terdiam tubuhnya kembali limbung kala, pemuda itu mendekapnya, mengecup pipinya, hingga bermuara di bibirnya. Lidah yang bahkan bermain di luar mulutnya.
Bibir pemuda itu kembali turun membuat beberapa tanda di lehernya. Tanda keunguan yang membuatnya meringis, menikmati segala sensasi kala tanda itu diciptakan.
"Aaggh..." suara laknat itu terdengar lagi, menenggelamkan wajah sang pemuda, menginginkan hal lebih. Entah apa itu?
Sesuatu terasa bergesek dengan area sensitifnya, membuat tubuhnya semakin gelisah. Pemuda yang tiba-tiba menatap padanya, menghentikan kegiatannya sejenak, merapikan anak rambut yang sedikit menutupi wajahnya.
"Jangan menyesal...akh..." bisik Rion kala berusaha merebut mahkota istrinya.
"Sakit... Rion hentikan..." pintanya, namun bibirnya tiba-tiba dibungkam. Membuainya untuk merasa lebih nyaman. Benar-benar menyakitkan, hingga mencengkram sprei erat. Bahkan sedikit menggigit bibir suaminya.
"Aghh..." racau Sazi menahan rasa sakit dengan napas tidak teratur kala tautan mereka terlepas.
"Setelah ini, kamu hanya milikku. Ingat ini! Kamu hanya milik seorang Rion..." bisiknya di telinga Sazi yang tengah mengatur napasnya.
Sazi hanya terdiam, merasakan perih sesuatu telah memenuhi area sensitif bagian bawahnya. Sedangkan Rion mulai menunduk mencium bahunya, menggerakkan tubuhnya perlahan.
__ADS_1
Sakit? Pada awalnya, hingga perlahan mulai berkurang. Mendekap tubuh suaminya, dirinya diguncang perlahan tidak dapat di hentikan olehnya. Tidak dipungkiri juga dinikmati olehnya.
Suara laknat yang tidak dapat dihentikan keluar dari mulutnya."Ughhh..."
"Sshh... Sazi..." Rion menyebut namanya, juga meracau terdengar menikmati entah apa yang mereka lakukan.
Tubuhnya berguncang, beberapa kali bergetar hebat ingin tumbang saking lelahnya, setiap kali getaran itu terasa. Namun pemuda itu kembali membuainya, seakan belum mencapai titik kepuasannya.
Hingga pada akhirnya racauan panjang dari Rion dan dirinya terdengar bersamaan, menandakan carian tubuh mereka menyatu sempurna. Menyemai benih kecil yang mungkin akan tumbuh dalam perut rata wanita yang dicintainya.
Rion mendekap tubuhnya, merasakan area intinya yang masih mengeluarkan benih kecil. Menikmati setiap sensasinya, begitu juga dengan Sazi, mengeratkan pelukannya, merasakan hangatnya benih-benih yang tertanam.
"Jangan pernah pergi meninggalkanku! Jangan berpaling dariku! Kita akan tinggal di Eropa, jangan pernah berfikir untuk kembali..." pintanya tidak ingin Sazi mengingat segalanya. Tidak ingin hati wanita ini goyah setelah bertemu kembali dengan Dave.
Serakah? Itulah dirinya saat ini, hanya ingin memiliki Sazi untuk dirinya sendiri.
Sazi hanya mengangguk, tidak menjawab sama sekali. Merasa nyaman dalam pelukan Rion, kala penyatuan mereka terlepas, tidur saling berhadapan penuh senyuman.
Seorang putri bangsawan yang pada akhirnya menemukan kebahagiaannya di kolam bunga teratai. Bukan istana tinggi yang megah, cukup hanya dengan kembali bertemu dengan sang katak yang menghibur hari-harinya.
"Aku mencintaimu," ucap Sazi menatap mata sang pemuda rupawan. Mencintai bukan karena rupanya saat ini. Namun, karena rasa kasihnya yang tulus.
"Aku juga... menyayangimu dari saat pertama kali bertemu denganmu. Rasa sayang yang berubah menjadi cinta..." Rion kembali mendekap tubuhnya.
Tidak melakukannya lagi? Bukan karena lelah, namun ini yang pertama untuk Sazi. Rasa sakit yang mungkin masih ada, kala dirinya terbakar napsu. Kini terdiam penuh rasa bersalah.
"Maaf jika menyakitkan..." gumam Rion.
Sazi menggeleng."Ini demi anak kita, aku yang menginginkan anak darimu..."
Malam pertama bagi Sazi? Memang menyakitkan, namun itu sepadan. Semua akan terasa tidak begitu sulit, jika melakukannya dengan pemuda ini. Pemuda yang dicintainya.
Namun, wanita yang juga tertegun, meminta maaf dalam hatinya. Dirinya harus kembali, membalas semua perbuatan mereka. Tidak menganggap sejenak, Rion telah menikah dengannya, demi sebuah dendam dan keinginan untuk mengunjungi makam ibu kandungnya.
__ADS_1
Bersambung