
🍀🍀🍀🍀Maaf, handphoneku sempat rusak 🍀🍀🍀🍀 Happy Reading 🍵🍵🍵🍵
Sazi berusaha tersenyum, mendapatkan perhatian yang dibelinya dengan uang. Ini hanya patung boneka manekin baginya, tanpa hati tertawa dan tersenyum. Mungkin hanya Rion yang dapat tulus kepadanya.
Percayalah Tuhan memberikan rasa kasih yang sama rata pada setiap orang. Jika ada ratusan orang yang membenci dan menghujat. Maka akan ada juga, satu orang yang rela mati untuk melindunginya. Itulah prinsip dalam diri Sazi, menjaga senyumannya tetap berada di sana. Menahan perasaan hatinya.
"Bibi, bisa kita bicara di tempat lain? Karena sepupuku tersayang yang berselingkuh selama 7 tahun di belakangku dengan Dave, menyuruhku berbicara hanya dengan pelayan..." ucap Sazi menunduk penuh sindiran.
"Jadi perceraian bukan kesalahanmu?" tanya Erika yang berpihak pada tas kulit buaya albino edisi terbatas. Membimbing opini teman-teman sesama sosialitanya, yang mulai berbisik-bisik membuat kesimpulan.
"Sazi!! Sudah jelas kamu yang sempat menggugurkan kandungan dengan pria lain, jadi Dave menceraikanmu!!" dusta Alexa tidak ingin kebohongannya terbongkar.
"Dokter kandungan mana? Di bidan mana aku menggugurkannya? Jika kamu punya bukti, aku bersedia ke meja hijau (pengadilan) menerima hukuman bersama dokter kandungan yang membantuku melakukan aborsi ilegal. Tapi kamu malah menuduh tanpa bukti..." sindir Sazi menghela napas kasar, maju selangkah ke hadapan Alexa.
"Mana aku tau kamu mengugurkannya dimana!?" Alexa mundur selangkah, merasa dipojokkan.
"Jika kamu tidak tau tempat aku melakukan aborsi. Bagaimana kamu tau aku mengugurkannya?" tanya Sazi mengintimidasi.
"Aku, aku tahu karena perutmu tidak membesar..." Alexa tertunduk gelagapan.
"Begini saja, dari pada mulutmu terus mengoceh kita pergi ke rumah sakit sekarang. Melakukan pemeriksaan aku pernah mengalami keguguran atau tidak. Jika tidak, aku bisa langsung membuat laporan tentang pencemaran nama baik," ucap Sazi tersenyum, bukan wanita polos lagi. Namun wanita mandiri yang mengetahui tidak semua orang di dunia ini jujur.
"Aku...aku... br*ngsek!!" teriak Alexa, mendorong Sazi hingga tersungkur di lantai. Kemudian, melangkah pergi.
Sazi yang terjatuh, mengelus perutnya sendiri. Berharap janin di perutnya tidak mengalami masalah. Sejenak kemudian menghela napasnya kemudian bangkit.
"Jadi yang dikatakan Alexa semua kebohongan!?" tanya Erika yang selama ini hanya mendengar cerita dari satu versi.
Sazi mengangguk."Ayo kita mencari tempat yang tenang untuk bicara..." ucapnya tersenyum.
***
Taman luar gedung, menjadi tempat mereka bicara kali ini. Jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk orang-orang yang hadir.
__ADS_1
Dua orang wanita yang duduk di tempat yang sepi. Dengan sang wanita muda terus-menerus mengelus perutnya yang rata sedari tadi.
"Tasnya, aku..." kata-kata Erika disela.
"Ini memang oleh-oleh untuk bibi. Jika bibi dapat mengatakan dimana makam ibu kandungku?" tanya Sazi, menunjukkan paperbag yang tadinya dititipkannya pada Andres.
"Jadi kamu sudah tahu?" tanya Erika menghela napas kasar.
Sazi mengangguk."Tolong, aku ingin menjadi anak yang berbakti, walaupun hanya dengan mengunjungi makamnya..."
"Ketik nomor phoncellmu," ucap Erika menyodorkan handphone miliknya.
Sazi meraihnya, menyimpan nomornya pada phoncell milik Erika. Kemudian mengembalikan phoncell wanita paruh baya itu.
Erika menghela napas kasar, usai mengirim alamat sebuah kompleks pemakaman pada Sazi."Sudah..." ucapnya.
"Terimakasih," Sazi tersenyum padanya, masih sesekali mengusap perutnya yang rata.
"Tidak tau, hanya sebuah kecurigaan, isi surat wasiat sudah dirubah pengacara. Ayahku meninggal saat aku SMU. Bibi tau kan pergaulanku saat SMU bagaimana? Aku lumayan tertutup, ayah juga lebih sering tinggal sendiri di luar negeri, tidak mengatakan tentang penyakitnya. Tidak ada kesempatan bagiku untuk menjadi anak durhaka..." ucap Sazi dengan air mata yang mengalir, bahkan di akhir napas ayahnya dirinya tidak menemani almarhum Herry. Air mata yang segera diseka olehnya tidak ingin perasaannya berdampak pada janin di perutnya.
Erika menghela napas, mulai bersimpati."Lalu tentang Dave?" tanyanya memastikan.
"Dave sudah lama menjalani hubungan dibelakangku dengan Alexa. Tapi entah kenapa menikahiku, lalu membongkar perselingkuhannya di malam pertama," jawaban darinya.
"Maaf, bibi tidak tau..." ucap Erika mulai lebih mengerti segalanya. Mengapa wanita ini dapat mengalami depresi.
"Tidak apa-apa. Aku sudah menikah lagi, dan lebih bahagia sekarang. Satu lagi, jangan katakan aku yang memberikan hadiah tas ini," pinta Sazi pada Erika.
Erika meraih paperbag, membukanya. Wanita yang membulatkan matanya, menatap keaslian sertifikat yang menyertai tas branded."Ini benar-benar asli?" gumamnya tertegun. Sazi mengangguk kemudian tersenyum, mengiyakan.
"Kamu hamil?" tanya Erika kembali curiga pada wanita yang terus menerus mengusap perutnya setelah terjatuh di ballroom.
Sazi mengangguk, kemudian berbisik."Ayahnya bukan orang sembarangan..."
__ADS_1
Erika mengenyitkan keningnya, jika dirinya tidak melihat tas di hadapannya ini, mungkin dirinya tidak akan percaya. Namun, tas asli bernilai milyaran rupiah kini benar-benar ada di hadapannya. Wanita ini tidak berbohong.
"Anak siapa?" tanya Erika penasaran, menggeser tempat duduknya. Dari awalnya berhadapan dengan Sazi, kini berada di sampingnya, mendekatkan telinganya. Mendengarkan baik-baik, anak sultan mana yang cukup gila untuk menikah dengan mantan penghuni rumah sakit jiwa.
"Grimm, namanya di dunia bisnis," bisik Sazi.
Erika membulatkan matanya, mengenyitkan keningnya. Grimm? Nama yang pernah diucapkan suaminya samar-samar, sebagai idola sang suami. Wanita paruh baya itu meraih handphonenya mencari di beberapa situs tentang pebisnis yang bernama Grimm.
Tidak ada foto, namun termasuk dalam daftar 100 orang terkaya di dunia. Wanita yang mengenyitkan keningnya dengan tangan gemetar.
Sosialita kelas dunia kini ada di sampingnya. Suaminya kaya, istrinya akan kecipratan kekayaannya bukan? Pantas saja, hanya untuk sebuah alamat dirinya mendapatkan tas bernilai tinggi.
"Bibi akan membelamu. Mereka tidak boleh menjelek-jelekkan istri seorang Grimm..." ucapnya memegang jemari tangan Sazi.
Sazi tersenyum, menghela napas kasar. Kini dirinya tahu betapa berharganya nama suaminya. Hanya dengan nama dirinya dapat mengendalikan seseorang. Pantaslah Hikaru selalu mengikuti Rion, semakin tinggi kekuasaan Rion, maka Hikaru juga akan dapat membuat orang lain tunduk dengan kata-katanya.
Termasuk kalangan pebisnis, bahkan mungkin mafia yang juga akan tunduk pada pengusaha. Istilah lainnya, the power of money.
***
Beberapa saat berlalu, alunan musik terdengar. Alexa menatap kesal dari jauh, Sazi yang tengah berbicara dengan Erika. Satu-satunya orang yang tidak menolak berbicara dengannya.
Kesal? Tentu saja hingga matanya menelisik menyadari tamu tidak diundang berada di sana. Seorang pria yang kehadirannya tidak disadari siapapun. Meminum cocktail seorang diri.
"Tuan Grimm...?" sapanya berjalan mendekat.
Rion mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar."Apa aku boleh memainkan biola? Membawakan lagu untuk wanita tercantik di pesta ini,"
Alexa tersenyum-senyum seorang diri, segera berjalan menuju tempat para musisi. Mengambil paksa salah satu biolanya. Dapat dibayangkan olehnya, Grimm akan memainkan biola diatas panggung. Menariknya bersama, menyatakan perasaannya.
Kemudian Dave datang tidak merelakan Alexa dengan kadar kecemburuan yang tinggi. Menarik dirinya, di hadapan banyak orang, kedua pemuda rupawan yang akan memperebutkan dirinya. Itulah yang ada dalam imajinasi Alexa.
Bersambung
__ADS_1