
Rion menghela napas kasar."Buat perencanaan yang lebih matang, nilai investasi akan aku tambah lima kali lipat. Ini menguntungkan untuk perusahaan kalian, juga untukku,"
Benar-benar orang yang sulit diatasi memiliki perhitungan yang akurat. Tidak ingin rugi sedikitpun itulah Grimm. Sekarang Dave mungkin kini mulai mengerti bagaimana seseorang yang seusia dengannya dapat memiliki banyak saham dan aset di beberapa negara.
Menjadi komisaris di perusahaan miliknya sendiri di usia yang begitu muda. Faktor keberuntungan? Mungkin itu juga, selain kecerdasan dan pengalamannya. Bagaimana menghadapi orang seperti ini? Itulah yang ada di benak Dave saat ini, menatap ke arah Sazi yang terdiam ketakutan tanpa ekspresi.
"Aku akan mencari lokasi di pusat kota, mencari jalan membebaskan lahan..." kalimat Fredric disela.
"Aku tidak mau tau prosesnya, kerjakan perencanaan dan berikan hasilnya padaku," sinis Grimm menatap tajam, menarik paksa Sazi, untuk bangkit dari sofa.
"Kamu mau kemana!?" Dave mencoba menghentikan langkahnya, menghadangnya menuju lantai dua.
"Kamar wanita ini, kalian sudah menjualnya padaku. Aku dapat menikmatinya sepuasku..." Grimm tersenyum mengejek, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Berjalan hingga tepat berada di samping Dave,"Sazi yang memberikan tiketnya. Kamu menolaknya saat itu..." bisiknya, berjalan berlalu menarik Sazi.
Dave membulatkan matanya, melihat ke belakang. Tidak henti-hentinya menatap ke arah punggung Grimm yang menarik tangan Sazi. Benar-benar dua sosok dengan prilaku berbeda, namun menginginkan wanita yang sama. Tiket bioskop? Apa mereka satu orang? "Rion..." gumamnya menyebut nama pemuda gemuk yang selalu bertingkah bodoh.
Pemuda yang tidak akan melepaskan satu kesempatan pun untuk mendapatkan Sazi.
"Tunjukkan kamarmu..." suara Grimm yang telah berada di lantai dua, terdengar samar dari lantai satu.
Sazi tertunduk seperti akan menangis, kemudian menggeleng, bagaikan ketakutan.
"Tunjukkan kamarmu, sebelum aku semakin kasar..." sinisnya tersenyum pada wanita di hadapannya.
Kalimat bagikan ancaman yang masih dapat didengar Alexa, Dini, Dave dan Fredric yang masih terdiam di lantai satu.
Sazi terlihat semakin gemetar ketakutan, melangkah ragu, menunjuk pintu kamarnya. Grimm mencengkram lengan Sazi, menariknya secara paksa ke dalam kamar yang ditujukannya, kemudian menutup pintu dengan kencang. Terdengar bagaikan mengunci dari dalam.
Dini mengepalkan tangannya, iba memikirkan apa yang dilakukan Grimm pada putri sambungnya. Hidup lima tahun dengan Alexa dan Fredric mungkin membuat sedikit matanya terbuka. Tentang bagaimana rasanya disayangi dan memiliki keluarga saat Sazi masih hidup bersamanya.
Dave melangkah menuju lantai dua, menyelamatkan Sazi dari rasa trauma yang lebih mendalam menjadi tujuannya. Hingga kata-kata Fredric menghentikannya."Ini masalah keluarga kami, kamu hanya seorang menantu yang tidak memiliki keturunan, jangan mencoba ikut campur,"
"Aku tidak akan ikut campur..." Dave tersenyum simpul, melanjutkan langkahnya namun merubah tujuannya. Kali ini menuju kamarnya dengan Alexa. Tujuannya? Dirinya sudah cukup muak dengan pernikahannya, membuat pertunjukan besar mengakhiri segalanya.
***
"Apa Andres belum pulang?" tanya Dini pada Fredric mencemaskan kondisi psikologi Sazi.
__ADS_1
"Belum, salahmu sendiri kenapa mendorong Sazi bukan Alexa untuk mendekati Grimm!!" bentak Fredric pada istrinya.
"Alexa sudah menikah dengan Dave! Lagipula dari dulu hanya Dave yang diinginkan Alexa. Alexa tidak mungkin mau untuk berhubungan dengan..." kata-kata Dini disela.
"Ibu berani menyimpulkan sendiri!? Ibu pilih kasih, memberikan yang terbaik hanya untuk Sazi. Setelah Grimm datang langsung bermaksud menjerat mereka. Ibu tidak memikirkan pendapatku!? Aku lebih cantik dan menggoda dari Sazi. Bahkan Dave dulu dapat aku rebut dengan mudah,"
"Aku lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan Sazi!! Jika ibu tidak bermaksud mendukungku, aku akan mencari cara mendapatkan Grimm!!" ucap Alexa mulai bangkit meraih kunci mobilnya.
"Kamu sudah mempunyai Dave!!" bentak Dini pada putri sambungnya.
"Kalau sudah memangnya kenapa? Orang pacaran bisa putus. Pernikahan juga ada perceraiannya. Lagipula aku tidak menyukai pria mandul itu lagi. Kamu juga mandul kan?" kata-kata yang keluar dari mulut Alexa pergi meninggalkan Fredric yang diam tertegun.
Mandul? Satu kata yang masih disembunyikan Fredric. Alexa selalu berteriak mengatakan Dave mandul, bagaikan seorang pencuri berteriak pencuri pada orang lain.
Berobat? Diam-diam Fredric menukar vitamin yang ada di kamar putrinya dengan penyubur kandungan. Namun, kebiasaan mengkonsumsi alkohol, meminum obat kontrasepsi saat berhubungan dengan pria lain hanya untuk bersenang-senang atau mempertahankan jabatannya di perusahaan, menyebabkan obat penyubur kandungan tidak berfungsi.
Kandungan yang terlanjur rusak akibat penggunaan narkotika, alkohol serta obat kontrasepsi berlebihan. Dirinya bingung sampai saat ini, bagaimana harus menjelaskan pada Alexa tentang hasil tes kesehatan putrinya.
Tidak ingin mengecewakannya, itulah yang dilakukannya.
Dini menghela napas kasar, menatap ke arah Fredric."Tolong bujuk Grimm untuk menikahi Sazi secara resmi..." pintanya.
Dirinya hanya dapat bungkam dan tersenyum sementara waktu, sebelum surat wasiat asli ditemukan atau Sazi menjadi istri sah dari Grimm.
***
Kasar? Mungkin dianggapan semua orang, Grimm kini tengah mengikat kaki dan tangan Sazi. Mencambuknya menggunakan ikat pinggang, membuat wanita itu menjerit menangis tidak dapat melawan. Kala tubuhnya dipermainkan untuk memuaskan napsu.
"Sazi sudah..." pinta Rion dengan napas tidak teratur, kala tangan wanita itu membuka kancing kemejanya, menyentuh otot-otot dada dan perutnya.
"Aku sudah menjual keperawananku yang bernilai kurang dari 10 ribu dolar padamu. Kamu tidak ingin kita melakukannya..." bisik Sazi bergerak lebih intens, menempelkan tubuhnya pada otot dada dan perut suaminya, dengan kemeja yang telah kini terbuka sempurna.
Rion menghela napas kasar, memeluk tubuhnya."Bagaimana jika aku tidak sengaja melukai anak kita? Ini baru saja berkembang, masih rapuh..."
"Tapi jika tidak sering-sering melakukannya kamu akan berpaling. Nanti saat perutku sudah membesar, tubuhku juga akan membengkak..." kata-kata Sazi disela.
"Seperti katak..." Rion tertawa kecil,"Kamu menyukaiku yang gemuk dan bantet. Kenapa aku tidak bisa menyukaimu yang tengah mengandung kecebong,"
__ADS_1
Plak...
Sazi memukul kepala suaminya, kesal.
"Maaf, bukan kecebong. Anak yang manis begitu mirip dengan istriku yang cantik," lanjut Rion, masih mengeratkan pelukannya.
Sejenak kemudian mengurai pelukannya, memungut kemeja yang tergeletak di lantai. Kemeja yang dilepaskan istrinya, kala tengah memangut bibirnya. Saat pintu kamar dikunci olehnya dari dalam.
Rion memakai kemejanya, namun belum mengancingkannya. Meraih tea pot dan gelas diatas meja. Menuangkan air perlahan ke dalam gelas, meminumnya hingga tandas.
Sazi menelan ludahnya berkali-kali. Otot-otot yang tercetak sempurna, wajah yang rupawan. Sejak kapan si bantet bisa jadi seperti ini? Entahlah, jakun suaminya naik turun kala teguk demi teguk air memasuki tenggorokannya.
Ini benar-benar gila, apa ini karena dirinya hamil, hingga membayangkan melakukan hal mesum dengan suaminya? Tapi memang aneh dirinya benar-benar ingin, merasakan kegelisahan yang aneh.
"Rion..." ucap Sazi kembali merayu suaminya, mencoba mencium bibir Rion yang basah usai meminum air. Namun, tangan pemuda itu memegang dahi istrinya, menjauhkan wajahnya pelan.
"Sehari hanya boleh sekali..." tegas Rion yang juga menelan ludahnya sedari tadi. Menjaga anaknya yang baru berkembang adalah prioritasnya saat ini. Pria yang segera mengancingkan kemeja sendiri tidak ingin khilaf menerkam istrinya yang tengah hamil muda.
Pemuda itu menghela napas kasar duduk di tepi tempat tidur. Sejenak kemudian pandangan matanya teralih pada rak yang sedikit terbuka, menunjukan photo album yang cukup besar.
Rion meraihnya, membuka satu persatu sembari tersenyum.
"Aku cantik kan? Aku memang cantik dari kecil. Tidak sepertimu yang ditakdirkan bantet di masa muda..." tawa Sazi terdengar, mencemooh suaminya yang serba lebih sempurna darinya saat ini. Setidaknya di masa kecil dan remaja, Sazi pasti lebih dari suaminya yang dulu bantet.
"Saat kecil aku lumayan tampan..." Rion tersenyum menyombongkan dirinya.
"Tidak percaya, jika tidak ada bukti..." cibir Sazi.
Rion menghela napas kasar, mungkin Sazi tidak mengingatnya."Ada sebuah dongeng tentang seekor katak yang terjebak di tengah sungai. Seekor katak kecil yang tidak bisa berenang,"
Senyuman di wajah Sazi memudar menoleh pada suaminya."Lalu apa yang terjadi?" tanyanya.
"Katak kecil yang ketakutan duduk di atas batu tengah sungai, meminta bantuan pada anak kelinci. Meminta anak kelinci memintal akar agar dapat menariknya ke tepi sungai. Tapi sayangnya sang anak kelinci terlalu bodoh, hingga melempar akar yang dipintalnya ke air sungai tanpa mengikatnya,"
"Anak katak yang marah memanggil anak kelinci, bodoh. Membuat sang anak kelinci mengadu pada ayahnya..." ucap Rion tersenyum diselingi tawa kecil.
Sazi mulai tersenyum, dengan air mata menggenang di pelupuk matanya."Apa anak katak akhirnya selamat?"
__ADS_1
Rion mengangguk."Ayah kelinci yang menyelamatkannya. Anak katak bodoh yang tidak bisa berenang, pada akhirnya menghabiskan waktunya bermain di tengah hutan bersama anak kelinci putih, sebagai rasa terimakasihnya pada ayah kelinci,"
Bersambung