Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Memalukan


__ADS_3

🍀🍀🍀🍀 Area Dewasa!! Walaupun tidak fulgar!! Bocil skip...🍀🍀🍀🍀


Lemas? Begitulah Sazi saat ini duduk di atas lantai marmer, menghela napas lega berkali-kali. Sejenak, menatap tajam ke arah suaminya yang berjalan membawa semacam lilin aroma terapi yang dapat meningkatkan hasrat ke arah balkon. Kemudian menutup pintu kaca balkon kamar hotel tersebut.


"Cuci wajahmu, lalu minum air putih yang banyak..." perintah Rion, membuka sepatu dan kaos kakinya. Mulai berbaring di atas tempat tidur.


"Kenapa kamu bisa kemari?" tanya Sazi tidak mengerti, meraih air mineral dalam ice box.


"Ibumu menaruh obat ke dalam minumanku. Aku hanya berpura-pura meminumnya, ingin mengetahui apa yang akan dilakukannya. Tapi ternyata benar-benar tipuan murahan, aku ditarik untuk menodai putrinya..." jawaban tanpa dosa dari mulut Rion menatap langit-langit kamar hotel. Bagaikan dirinya pria baik-baik yang tidak akan menodai Sazi. Walaupun kenyataannya sudah terjadi entah berapa kali.


"Dimana Andres?" Sazi menghela napas, meraih jubah mandi, hendak menghilangkan pengaruh efek lilin yang sedikit dihirupnya.


"Aku memberinya isyarat untuk pergi. IQ-ku 193, walaupun tidak dapat menyerang, tapi jika situasi berbahaya, setidaknya dapat diandalkan untuk melarikan diri," jawab Rion kembali.


Sazi memasuki kamar mandi memicingkan matanya tidak mengerti dengan tingkah laku suaminya. Pria ini tidak memanfaatkan situasi sama sekali? Benar-benar sesuatu yang aneh baginya.


Namun Rion benar-benar tidak bergerak, hanya berbaring diatas tempat tidur. Sazi masih mengintip sinis, tidak mengunci pintu kamar mandi. Berjaga-jaga jika suaminya ingin bersenang-senang dengannya di dalam kamar mandi.


Tapi hal yang benar-benar aneh, sudah cukup lama dirinya berendam di dalam bathtub. Namun, Rion tidak menyusulnya. Mengapa? Apa Rion marah? Atau suaminya bertemu wanita lain yang lebih cantik saat pesta.


Entahlah, tapi dirinya tidak boleh kehilangan pesonanya. Dokter mengatakan kandungannya cukup sehat, dirinya diijinkan melakukan hubungan layaknya suami-istri. Asalkan tidak melakukan dengan kasar, atau terlalu sering.


Rion hanya boleh melihat padanya saja. Jadi, dirinya akan menggoda suaminya kali ini, agar tidak berpaling.


***


Beberapa puluh menit berlalu, Sazi keluar dengan rambutnya yang basah. Masih mengenakan jubah mandi, memasang pose menggoda di depan pintu kamar mandi."Rion aku sudah selesai..." ucapnya dengan suara sensual yang berat.


"Em..." hanya itu jawaban dari Rion tanpa menoleh, masih fokus dengan handphone Sazi yang digunakannya untuk membaca beberapa artikel.


"Em?" Sazi berusaha tersenyum berjalan mendekati suaminya, lebih melonggarkan ikatan jubah mandinya. Hingga belahan dadanya terlihat semakin jelas.

__ADS_1


Rion menatap ke arah istrinya. Kemudian kembali berusaha fokus membaca artikel. Tangannya gemetar, jakunnya bergerak naik turun. Benar-benar sulit menahan diri disaat seperti ini.


Wanita itu mengepalkan tangannya, menurunkan harga dirinya ke dasar. Tidak ingin kehilangan perhatian suaminya sedikitpun.


"Emghh...ssshh..." suara Rion tertahan, kala istrinya duduk tepat di bawah perutnya dengan posisi yang benar-benar sensual.


"Rion..." bisik Sazi di telinganya.


"Turun, jangan menghukumku seperti ini..." pinta pemuda yang tengah merasakan sesak di celananya.


Sazi mengenyitkan keningnya tidak mengerti, suaminya tidak marah atau tergoda oleh wanita lain. Tapi kenapa tidak menggodanya?


"Ini tanggal 14, kamu sedang datang bulan. Saat kamu masih mengalami depresi, aku yang selalu mengganti pembalutmu, selama beberapa bulan. Jadi aku ingat tanggalnya dengan pasti..." jawaban dari suaminya terus terang.


Memalukan? Tentu saja, buang air besar atau pun kecil, bahkan hal seperti ini diketahui suaminya. Dapat dibayangkan olehnya, seorang pria yang belajar bagaimana cara memakaikan pembalut padanya.


"Memalukan..." Sazi turun dari tubuh suaminya. Ingin rasanya mengubur diri hidup-hidup atau sekalian bersembunyi di lubang semut.


"Memalukan?" Rion bangkit mengenyitkan keningnya, ikut duduk di tepi tempat tidur samping Sazi. Perlahan senyuman mengembang di wajah rupawannya."Kamu tidak sedang menghukum atau menggodaku? Berarti tanggal siklus bulananmu berubah?" tanya Rion dengan radar mesum yang mulai aktif.


Bibir Sazi dipangutnya agresif, sudah menahan diri sejak tadi. Menanggalkan pakaiannya sendiri tidak sabaran. Helaian pakaian teronggok di lantai.


Beberapa menit berlalu, suara ranjang berdecit terdengar. Pasangan yang terlihat saling memangut di bawah selimut putih tebal. Terlihat benar-benar gelisah, tidak menemukan titik kepuasan mereka.


Sazi menonggakan kepalanya, merasakan kenikmatan kala beberapa tanda tercipta di lehernya. Turun merambat, dengan perasaan lebih bergetar lagi. Saat bibir pemuda itu menikmati tubuhnya bergantian. Bingung harus bagaimana, meremat rambut Rion menjadi pilihannya. Mendorong kepalanya untuk bermain lebih dalam, di area sensitif bagian atas tubuhnya.


Ini sulit untuk dijelaskan olehnya, pemuda yang membuainya perlahan. Bukan tipikal orang yang kasar. Hingga dirinya tidak merasakan sama sekali. Benar-benar pelan, kala kedua pahanya dibuka di balik selimut.


"Agh..." pekik mereka bersamaan, dengan deru napas tidak teratur. Bergerak mengalun dalam ciuman hangat. Selimut masih menutupi tubuh yang telah menyatu.


Bergerak bergesekan,"Sa... Sa...Sazi... Sazi..." lirih Rion, memacu tubuhnya, menatap wajah di wanita yang dicintainya. Wanita yang menonggakkan kepalanya pasrah, menikmati segala kenikmatan yang diberikan.

__ADS_1


***


Pagi mulai menjelang, wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Rion masih berada di tempat tidur tidak seperti biasanya. Mengeratkan pelukan ke tubuhnya."Kamu sudah bangun?" tanya Rion padanya.


Sazi mengangguk."Aku harus mandi..." ucapnya tersenyum mulai bangkit, tapi Rion mencegahnya, menariknya kembali ke dalam pelukannya.


Tubuh tanpa sehelai benangpun yang tertutupi selimut tebal, kembali bersentuhan."Ini rencana ibumu, sebagai anak yang penurut, seharusnya kamu mengerjakan dengan patuh,"


"Maksudnya?" tanya Sazi tidak mengerti.


***


Di tempat lain Dave menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Menatap senyuman di wajah Dini dan Frederic pagi tadi. Mengikuti mobil mereka, hal yang dilakukannya.


Sedangkan Alexa? Entah berada dimana saat ini, menghilang usai pesta. Mungkin kembali bertemu dengan rekan sesama pebisnis, bertemu dan minum bersama. Menghilangkan rasa jenuhnya.


Dave memukul stir mobilnya, mendengar rencana Dini yang berhasil. Rencana yang baru diketahuinya. Membuat Grimm tidur dengan Sazi? Kemudian meminta pertanggungjawaban, itulah yang diucapkan Dini. Menginginkan Frederic untuk membantunya, menangkap tingkah liar dari seorang Grimm.


Grimm? Dini berani bermain-main dengan Grimm? Dave memang tidak pernah bertemu secara langsung dengan sosok Grimm. Hanya melihat sekilas, saat pesta sedang berlangsung semalam.


Namun ayah Dave pernah mengeluh tentang sosok Grimm satu tahun lalu. Tepatnya saat akan mencoba mengambil salah satu tender di Spanyol.


Pemuda yang sulit di tebak jalan fikirannya, memiliki daya intelegensi yang tinggi. Memiliki asisten pribadi yang dapat mengalahkan puluhan orang, seorang diri.


Itulah informasi tentang Grimm yang diketahui Dave.


Tangannya mengepal, bagaimana jika Sazi sudah menjadi bahan mainan ranjang dari Grimm? Pemuda yang tidak dapat dihadapi secara finansial.


Apa yang akan dilakukannya pada Sazi? Apa Sazi akan dihabisi oleh asisten Grimm?


Sedangkan, di mobil Dini dan Frederic yang melaju menuju hotel...

__ADS_1


Wanita paruh baya itu tersenyum, menemukan pria yang tepat untuk putrinya. Hanya tinggal menenangkan Sazi, yang mungkin akan menangis kala kesuciannya direnggut pria yang baru ditemuinya sekali.


Bersambung


__ADS_2