Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Kulit Buaya


__ADS_3

Andres menghela napas kasar, mengikuti Sazi di setiap langkahnya. Ruangan yang cukup besar, didesign khusus untuk pesta kelas atas. Gelas kaca indah disusun bagaikan piramida. Hidangan Buffett menawan pandangan mata.


Pemuda itu menghela napas kasar. Cukup mudah sebenarnya mengawasi Sazi, tidak banyak orang yang mengincarnya.


Tapi Rion? Pemuda ber-IQ tinggi dengan dompet yang tebal. Entah apa yang ada di fikiran anehnya hingga pergi dari Spanyol. Kembali membahayakan nyawanya hanya untuk seorang wanita.


Masih banyak wanita di dunia ini. Jika Rion mau, Hikaru dapat menyeret dan melempar wanita mana saja ke ranjang kaisarnya. Hal yang gila, jika Rion mengejar-ngejar seorang wanita hingga kemari. Apa pesona Sazi?


Tidak ada, bentuk tubuhnya kurang bagi Andres. Tidak seperti Belinda yang bagian depan dan belakangnya begitu menantang. Jika dirinya menjadi Rion, mungkin akan lebih memilih memberi perintah pada Hikaru, melempar Belinda ke ranjangnya.


Tapi dirinya bukan Rion, tunggu... kenapa Andres jadi membayangkan tubuh Belinda, berimajinasi dirinya sekaya Rion. Tidak, tidak boleh, dirinya harus segera mempunyai pacar, lalu menikahi wanita lain, selain Belinda.


Andres lagi-lagi menghela napasnya, apa sebenarnya pesona seorang Sazi. Apa yang membuat Rion begitu menyukainya?


Sedangkan, di lantai dua tempat pesta berlangsung, seorang pemuda memakai setelan jas-nya. Datang tanpa undangan, mengamati semua hal yang terjadi di lantai satu sembari meminum cocktail.


Tidak ada yang menyadari dan memperhatikannya. Pemuda rupawan yang terdiam seorang diri.


"Boleh bergabung minum bersama?" seorang wanita cantik, berpakaian elite, mendekatinya.


Sang pemuda rupawan tersenyum, menunjukkan jari manisnya, memperlihatkan cincin pernikahannya."Aku kemari dengan istriku, aku tidak ingin dia salah paham..."


"Maaf..." sang wanita tertunduk kemudian tersenyum anggun, berjalan pergi meninggalkannya.


Sang pemuda kembali fokus menatap ke arah lantai satu. Bagaikan burung elang yang hanya dapat terbang di angkasa mengintai mangsanya.


***


Sazi menghela napas, sudah diduga olehnya dirinya akan diacuhkan semua orang. Beberapa orang melirik dan mencibirnya sebagai anak durhaka yang tidak mendapatkan sedikitpun warisan dari almarhum ayahnya.

__ADS_1


Mulut Alexa yang selalu mengoceh untuk menggiring asumsi, membuat kabar buruk menyebar bagaikan kobaran api selama 5 tahun ini. Tepatnya dari saat Sazi memasuki rumah sakit jiwa.


Mengapa harus melakukannya? Bukankah saat itu Sazi yang depresi tidak akan dapat menentang Alexa?


Tentu saja karena banyak sahabat almarhum Herry iba pada Sazi, yang tidak mendapatkan warisan apapun dari ayahnya, serta diceraikan pada malam pertama. Menyalahkan Alexa dan Fredric, selaku orang yang mendapatkan segala keuntungan.


Namun, menyulut kabar buruk akan menggiring opini publik. Sebuah opini yang membesar bagaikan kenyataan. Opini apa yang dimaksud? Menyebarkan kabar, Sazi tidak pernah menaruh rasa hormat pada ayah dan ibunya. Bahkan yang merawat almarhum Herry ketika sakit hanya Alexa dan Frederic.


Opini yang benar-benar indah, ditambah sedikit bumbu. Sazi yang sering bersenang-senang dengan pria di club'malam hamil di luar nikah, kemudian ketahuan menggugurkan anaknya sendiri. Hingga Dave menceraikannya di malam pertama.


Mulut orang-orang yang mempercayai dan menyebar luaskan sebuah kebohongan bagaikan sebuah kesenangan bagi mereka. Mengetahui betapa rendahnya orang lain, tanpa menyelidiki kebenaran dari ucapan mereka.


"Tidak tau malu..."


"Kenapa dia kembali, bukannya dia sudah diusir..."


"Itu Sazi kan? Tidak seperti Alexa sepupunya yang menjadi wanita karir dengan jabatan Direktur. Dia malahan menjadi pengangguran, melukis seharian, malah yang aku dengar menjadi penghuni rumah sakit jiwa,"


Itulah kata-kata yang diucapkan orang-orang dengan berbisik. Kata-kata yang sejatinya didengarnya samar-samar. Jemari tangan wanita itu gemetar, air matanya hampir mengalir, menggengam cincin pernikahannya yang menjadi bandul kalung.


Masih ada orang yang mencintaiku, aku orang yang mulia dan berguna... dirinya meyakinkan hatinya. Rion masih ada untuknya, itulah yang membuat mentalnya dapat bertahan. Bukan seperti dulu, yang hanya memiliki Dini, Alexa, Dave dan Fredric. Mendapatkan cibiran dari orang-orang tetang jalan sebagai pelukis yang dipilihnya.


Dirinya bukan orang tidak berguna seperti yang dikatakan orang-orang disekitarnya yang mendiktenya. Untuk menjadi, apa yang mereka sebut wanita karier hebat seperti Alexa. Kejadian lima tahun lalu, kala dirinya masih menjadi pelukis di galeri kecil dengan penghasilan tidak tetap, sedangkan Alexa bekerja di perusahaan milik almarhum Herry.


Mungkin Rion bagaikan penyelamat untuk Sazi, memberikan rasa kasih dan percaya diri. Hingga dapat berkarir sesuai dengan bidangnya, tanpa memikirkan pendapat orang lain.


Berada di zona nyamannya tanpa takut akan cibiran. Wanita itu tiba-tiba tersenyum, dirinya bukan Sazi wanita yang dianggap tidak berguna, diceraikan di malam pertamanya.


Dirinya kini tetap Sazi, istri seorang Rion. Pemilik galery di beberapa negara, wanita mandiri yang dikenal sebagai pelukis muda berbakat. Itulah yang kini ada di hatinya, lebih dapat memandang tinggi dirinya sendiri. Tidak mengindahkan cibiran yang menghujatnya.

__ADS_1


Sazi berusaha tersenyum, mendekati istri seorang direktur yang telah bekerja di perusahaan ayahnya sebelum dirinya dilahirkan. Erika, itulah namanya, wanita berumur dengan pakaian modis.


"Bibi..." sapanya sedikit menunduk.


Erika menghela napas kasar, bagaikan enggan berinteraksi dengan wanita yang telah terlanjur memiliki nama buruk di kalangan sosialita ini."Bibi? Panggil aku nyonya..."


Sazi mengenyitkan keningnya, nyonya memang panggilan yang umum di luar negeri. Seperti dirinya, nyonya Rion (Mrs. Rion), tapi di Indonesia, panggilan nyonya untuk orang yang memiliki status lebih tinggi. Mungkin bagaikan pelayan pada majikannya.


Sazi menghela napas anggap saja dirinya masih tinggal di Spanyol."Nyonya Jaka Sisto Mangun Dirjo Kusumonegoro Condrodiningrat (nama suami Erika)" sapanya kembali.


Beberapa ibu-ibu sosialita disana menahan tawanya. Mengingat nama suami Erika yang begitu melestarikan kebudayaan lokal.


Erika mengenyitkan keningnya kesal."Panggil nyonya Erika!!" tegasnya.


"Tapi menurut panggilan internasional, nama panggilan nyonya atau mistress menang diikuti nama suami, bukan? Tapi jika di kebudayaan kampungan, nyonya memang diikuti nama sendiri..." kata-kata polos dari mulut Sazi, namun menusuk begitu dalam bagaikan tombak bambu dari prajurit Indonesia untuk menghadapi penjajah.


Sosialita yang sebagian besar berusia paruh baya itu tertawa. Bahkan bersorak, menertawakan Erika yang mungkin kalah beradu mulut melawan mantan pasien rumah sakit jiwa.


Erika memijit pelipisnya sendiri, berusaha bersabar dan mengalah sebelum dirinya lebih malu lagi."Panggil bibi saja..." ucapnya.


Kenapa tidak dari tadi saja ... batin Sazi berusaha tetap tersenyum.


"Bibi, kita memang tidak begitu akrab dulu saat ayah masih hidup. Jadi aku ingin mengulang semuanya..." ucapnya mengulurkan tangan.


Erika mengalihkan pandangannya seakan tidak peduli menganggap kata-kata dari Sazi adalah angin lalu.


Alexa yang melihat segalanya berjalan mendekat, ingin ikut mempermalukannya."Sazi sebaiknya kamu bicara pada pelayan saja, jika bibi Erika tidak mau bicara padamu..." sindirnya.


"Bibi Erika hanya masih kagum pada gaun yang aku kenakan, iya kan bibi?" kata-kata yang keluar dari mulut Sazi, penuh senyuman tidak tahu malu. Kemudian mendekat ke arah Erika berbisik padanya,"Bibi, aku mengunjungi Eropa beberapa bulan yang lalu. Membeli tas Chanel dengan bahan kulit buaya putih asli. Oleh-oleh khusus untuk bibi..."

__ADS_1


Erika tiba-tiba membulatkan matanya tersenyum, memeluk Sazi mencium pipi kanan dan kirinya."Sazi kamu sudah besar? Semakin cantik saja ..." kata-kata dari mulutnya seakan begitu akrab.


Bersambung


__ADS_2