
🍀🍀🍀🍀 Kalau ada typo nanti aku perbaiki, night 🍀🍀🍀🍀
Rion masih membaca dengan seksama, tidak menoleh sama sekali. Menghela napasnya berkali-kali, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Sedangkan Hikaru yang berdiri di sampingnya, sedikit mengintip isi proposal yang dibaca Rion, mengenyitkan keningnya."Tidak heran perlu lebih dari lima tahun untuk lulus dari kampusnya," gumamnya masih tetap tersenyum, menatap betapa hancurnya isi kertas yang dipegang Rion."Apa kita harus membatalkan kerjasama?"
"Tidak, orang-orang kita yang akan membuat proposal perencanaannya nanti. Buat perjanjian kerjasama yang baru, atur untuk menguntungkan pihak kita..." jawaban dari Rion melonggarkan dasinya, melempar proposal di atas meja.
"Dia keluarga dari wanita yang tinggal di rumahmu kan? Kenapa sepakat untuk melanjutkan kerja sama? Dia melukai wanita yang kamu sukai! Perlu aku menyiksanya? Menyekapnya? Lalu membebaskannya setelah mejadi tidak waras?" tanya Hikaru tersenyum menyeringai, hendak melepaskan manset di pergelangan tangan jasnya.
"Tidak perlu, bisnis adalah bisnis. Kita hanya perlu mengumpulkan uang dan kekuasaan sebanyak-banyaknya. Hidup dengan tenang, tanpa cemas untuk dibunuh sewaktu-waktu," Rion meraih minuman dingin di hadapannya, sembari menatap ke arah asistennya.
"Aku lupa." Hikaru kembali tersenyum ganjil seperti biasanya. Mengenakan kembali manset di pergelangan tangannya. Menjaga sikapnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Pemuda itu mulai menghubungi seseorang untuk membuat proposal dan kontrak baru.
Bersikap profesional? Begitulah Rion, tidak mudah mendirikan sebuah usaha. Bahkan dirinya pernah, memberi sogokan untuk memenangkan tender. Sebenarnya berapa tahun yang dibutuhkan untuk mendirikan perusahaan yang kini dimilikinya?
Lebih dari 6 tahun, untuk mendirikan perusahaan miliknya sendiri. Bermain bersih? Tidak selalu, dengan bermain bersih. Grimm Ripper? Bukan hanya dirinya saja sejatinya. Mungkin Rion bagaikan otaknya, sedangkan Hikaru tubuh yang bergerak untuk menebas.
Hingga pada akhirnya Alexa kembali, melangkah duduk di hadapan Rion. Duduk menyilangkan kalinya dengan sengaja, kaki indah yang terpampang nyata didepan sang eksekutif muda. Dengan rok ketat yang tidak terlalu panjang.
Hikaru sedikit menunduk kemudian berbisik."Tidak tertarik?"
Rion mengenyitkan keningnya."Kamu tertarik?"
Pemuda itu menatap jenuh, kembali berdiri di belakang Rion. Wanita seperti ini? Mungkin hanya mainan ranjang, hadiah biasa yang diberikan padanya dulu secara gratis.
Hikaru hanya ingin tahu, apa Rion benar-benar tidak tertarik.
Senyuman terlihat di bibir Alexa, menatap ke arah Rion."Bagaimana jika kita makan malam berdua di hotel, jika kontrak ini berhasil? Aku yang traktir... bagaimana tuan Grimm (Rion)?"
"Pertama, proposal perencanaan berasal dari perusahaanku. Pembagian keuntungannya 68% berbanding 32%, mengingat kalian hanya keluar modal saja..." kata-kata yang keluar dari mulut Rion.
"Ta... tapi bukannya sudah ada dalam kesempatan pembagian keuntungan 56% berbanding 44%. Kami 56, dan perusahaanmu 44... aku..." ucap Alexa gugup.
Rion berjalan mendekatinya, berdiri di hadapannya yang tengah duduk. Perlahan membungkukkan badannya, wajah rupawan itu terpampang jelas di hadapannya. Pria yang membuatnya tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Bibirmu indah..." Rion menatap ke arah bibirnya, mengusap dengan ibu jari tangannya."Aku memerlukan proyek ini, untuk perusahaan yang aku rintis. Kamu bisa membantuku?" tanyanya.
Perasaan yang benar-benar aneh, adrenalinnya terpacu menatap ke arah pemuda ini. Benar-benar sosok berbeda dengan Dave, yang sekarang lebih terlihat membosankan baginya. Semenjak ketidak beradaan Sazi. Entah kenapa Dave tidak semenarik dulu dimatanya.
Cinderella syndrome? Mungkin sebagian prilaku itu ada padanya. Menginginkan seorang pria sempurna bagaikan pangeran tampan menjadi pasangannya. Dulu seorang Dave yang dari keluarga ternama memang sosok pangeran rupawan di matanya.
Namun sekarang? Setelah 2 setengah tahun pernikahan, status mereka setara. Bagaimana dengan tuan Grimm? Pemuda yang ada di hadapannya ini? Sosok yang benar-benar sulit dibayangkan olehnya.
"A...aku..." Alexa gelagapan, menunduk, bagaimana dirinya dapat gugup dan ragu seperti ini.
"Kamu anak pemilik perusahaan bukan? Bahkan memiliki beberapa saham di luar negeri, warisan dari pamanmu. Hanya satu kesepakatan bisnis, mungkin kita dapat menjadi, sahabat yang sangat dekat..." ucap Rion berbisik di telinga Alexa membuat tubuh wanita itu meremang.
Sangat dekat? Wanita itu terdiam sejenak, menatap ke arah Rion yang kembali duduk di kursinya. Membaca beberapa notifikasi pesan sembari tersenyum-senyum sendiri, pemuda yang menggodanya tanpa rasa bersalah sama sekali. Mungkin sekarang tengah mengirimkan pesan pada kekasihnya.
"Aku setuju dengan syarat kalian..." ucap Alexa dengan cepat tidak ingin kehilangan pemuda di hadapannya ini.
Rion mengenyitkan keningnya, kemudian tersenyum ke arah Alexa, menghentikan gerakan jarinya yang tengah berkutat dengan phoncellnya."Hikaru buatkan kontrak yang baru..."
"Baik tuan," ucap Hikaru berjalan pergi ke luar ruangan.
***
Seorang ayah sambung yang mungkin akan membunuhnya kapan saja.
Mungkin beberapa menit telah berlalu, seperti biasanya, Hikaru mengerjakan semuanya dengan cepat. Alexa saat ini telah duduk di pangkuan Rion kala Hikaru datang.
Sudah terbiasa, ini lebih mudah jika perusahaan yang bekerja sama mengirimkan wanita. Menggodanya bagaikan layangan yang ditarik, seketika mengendurkan tali seakan acuh jika sang wanita ragu untuk bekerjasama.
Alexa hendak mendekatkan bibirnya, seakan tidak peduli dengan keberadaan Hikaru. Rion menempelkan pena di bibir Alexa yang hendak menciumnya."Kita akan menjadi sahabat yang sangat dekat, tapi bantu aku..."
Wanita itu mengangguk, menandatanganinya tanpa ragu sedikitpun. Segala imajinasi terbayang dalam benaknya, kala Rion menarik dirinya ke atas pangkuannya, beberapa saat yang lalu..
Bercerai dari Dave? Menikah dengan Rion? Segalanya, termasuk diperebutkan dua orang pemuda rupawan, antara haruskah bercerai atau tidak. Pria yang benar-benar terlihat menggoda.
Pada akhirnya perjanjian itu sempurna di tandatangani Alexa juga. Dengan cepat Hikaru meraih map diatas meja, meletakkannya dalam koper.
__ADS_1
"Kita menjadi sahabat yang teramat dekat?" bisik Alexa pelan, dekat dengan telinga Rion.
"Hup... lepas!!" teriak Alexa kala kerah bagian belakang kemejanya ditarik paksa.
Senyuman ganjil di wajah Hikaru tiba-tiba memudar, raut wajah dingin yang terlihat."Waktumu sudah habis, jadwal kami sangat padat hari ini..."
"Asisten kurang ajar!! Tuan Grimm, tolong..." pintanya meminta pertolongan, kini terduduk di lantai setelah terjatuh, ditarik paksa turun dari pangkuan Rion.
Rion menghela napas kasar. Duduk dengan tenang mulai membuka laptopnya, seakan-akan tidak melihat keberadaan Alexa."Hikaru, seperti biasa lemon tea, gula low kalori.."
"Tuan Grimm?" Alexa menatap ke arahnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak dimengerti olehnya.
"Belum mengerti juga?" Hikaru mengenyitkan keningnya, tertawa kecil, sejenak kemudian tawanya menghilang."Grimm Ripper? Itu nama yang kami gunakan," geramnya, menginjak jemari tangan Alexa.
"Sa...sa... sakit..." teriak wanita yang masih duduk di lantai.
"Hikaru buang dia keluar..." ucap Rion tidak dapat konsentrasi bekerja, mendengar teriakkan Alexa.
"Dari jendela?" tanya Hikaru menunggu instruksi.
Alexa seketika membulatkan matanya menatap ke arah sang asisten. Ini lantai 15, apa orang ini sudah gila? Entahlah, tapi yang jelas tangan Alexa gemetar saat ini, menatap ke arah sang asisten.
"Dari pintu..." Rion berusaha tersenyum.
Hikaru mengenyitkan keningnya, kembali tersenyum ganjil.
***
Bug...
Alexa dilempar ke luar pintu olehnya, bagaikan seekor anak kucing liar yang tertangkap berusaha mencuri ikan asin. Dan anehnya Alexa tidak melawan, ketakutan pada sosok Hikaru.
"Ayah..." gumamnya seorang diri mulai menangis.
Bersambung
__ADS_1