
Apa yang terjadi 2 tahun ini? Wanita ini telah berhasil meraih gelar pendidikan master of the art (Setara S2 seni rupa). Galeri seni yang dimilikinya semakin besar saja, menampung seniman-seniman tidak terkenal yang memiliki bakat.
Rion yang mendukung semua kebutuhan finansialnya membuatnya lebih leluasa bergerak. Kini bukan hanya di Spanyol, tapi di beberapa negara lainnya, tempat galery yang dimilikinya. Tidak menentangnya? Tentu saja, itulah yang dilakukan Hikaru. Seorang nyonya yang menghasilkan uang lebih banyak, dapat memperluas kekuasaan majikannya.
Untuk mendapatkan wanita yang dicintainya kembali hanya harus mengabdi pada orang-orang ini, menjaganya tetap hidup. Cukup pantas baginya, tidak ada yang salah dalam diri Rion dan Sazi.
Hikaru lagi-lagi memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu. Membuat ciuman majikannya terlepas.
"Aku mencintaimu, jangan cemburu lagi," pinta Rion pada Sazi.
Sazi mengangguk, merasakan jemari tangan Rion membelai rambutnya. Merasakan cinta yang tulus bagaikan tersalurkan.
Kerah belakang kemeja Rion ditarik Hikaru."Kita ada rapat, aku sudah menundanya 15 menit untukmu..." ucapnya dengan senyuman lebar, namun terasa ganjil.
"Tunda 15 menit lagi. Disini aku yang majikannya!" ucapnya menepis tangan Hikaru.
Asisten sialan itu kembali melirik ke arah Sazi, tidak melepaskan pandangannya, masih setia tersenyum ganjil.
Takut? Sampai saat ini dirinya masih takut pada sosok Hikaru, entah kenapa. Mungkin insting bertahan hidupnya."Ri... Rion sebaiknya kamu rapat dulu, aku juga harus melukis. Kita bertemu di lelang nanti malam..." ucap Sazi gelagapan.
"Kamu sudah tidak cemburu lagi?" Rion mengenyitkan keningnya, memastikan.
"Sudah, aku tidak lagi cemburu pada..." kata-kata Sazi terhenti, Rion mengecup pucuk kepalanya.
"Aku mencintaimu, akan menghasilkan banyak uang untukmu," Pemuda itu berbalik, berjalan pergi dengan senyuman mengembang, hatinya berdebar lebih cepat. Bahkan setelah sekian tahun masih tetap sama.
Sedangkan sang asisten kembali berjalan mengikuti Rion. Pria yang terus-menerus ditatap Sazi. Takut? Dirinya benar-benar merasa sesak, setiap kali Rion menunda waktu. Dirinya bagaikan diintimidasi sang asisten.
Sazi menghela napas, meminum air putih bekas Rion yang ada di meja kerja suaminya.
"Sudah tidak cemburu lagi?" tanya Belinda mendekatinya.
__ADS_1
"Masih, bentuk badanmu lebih baik daripada bentuk badanku. Rion menolak berhubungan denganku, apa karenamu? Jujur saja, apa kalian pernah tidur bersama ..." tanya Sazi protektif.
Dengan cepat Belinda menggeleng."Aku tidak menyukai good boy penghasil uang sepertinya. Aku lebih menyukai bad boy yang dapat berkelahi..."
"Bagus!! Jangan menyukai Rion!!" peringatan keras dari sang istri tidak tersentuh. Bagaimana bisa, setelah 2 tahun pernikahannya dirinya masih perawan. Apa suaminya berselingkuh? Entahlah, namun yang jelas Rion begitu menyayanginya 2 tahun ini. Situasi yang benar-benar aneh baginya.
"Aku tidak akan menyukai Rion..." Belinda hanya dapat menunjukkan senyuman dipaksakannya.
***
Udara malam terasa menusuk kulit, walaupun sedikit menghangat, mengingat saat ini pertengahan musim semi. Malam ini merupakan malam pelelangan beberapa karyanya dan beberapa seniman ternama lainnya.
Berbagai benda seni berharga berada di sana, mulai dari tembikar, lukisan, hingga aksesoris wanita yang disain khusus, kalung berlian, serta beberapa benda yang memiliki nilai sejarah.
Perlahan selama 2 tahun ini, namanya semakin dikenal. Karena dukungan penuh dari Rion, serta bakat dan kerja kerasnya.
Pada akhirnya dirinya tidak menjadi seperti yang diinginkan Dini atau Dave. Namun menjadi dirinya sendiri.
Memakai gaun panjang yang membuatnya terlihat anggun, berbagai ornamen menghiasi gaun biru dongker, warna yang kontras dengan kulit putihnya. Kalung berlian yang terangkai indah menghiasi lehernya.
Duduk di kursi khusus VVIP bersama seniman lainnya. Menatap karyanya yang mulai di lelang. Bukan hanya lelang secara langsung, namun lelang juga diadakan secara online.
Tiga orang lengkap dengan perangkat telekomunikasinya berada di sana, dengan sebuah papan kecil. Seorang pria membawa palu, duduk di podium, memperkenalkan karya-karya seni yang akan di lelang.
Acara yang hanya dihadiri kalangan atas...
Acara pembukaan, dimulai dengan sebuah guci tembikar, karya seniman yang berasal dari Prancis. Sazi hanya dapat menatap kagum, karya yang nilainya terus naik. Bahkan hingga puluhan juta dolar. Bagaimana dengan karyanya apa akan berakhir memalukan? Takut? Tentu saja, untuk pertama kalinya karyanya masuk dalam pelelangan.
Rion tidak terlihat disana, belum hadir juga. Hingga karya Sazi mulai diperkenalkan, salah satu karya terbaiknya. Aliran Ekspresionisme, dimana mengekspresikan semua yang bergejolak dalam jiwanya, lebih bersifat subyektif. Sebuah pemandangan gedung perkotaan, dengan langit berwarna biru tua, berpadu merah, keunguan. Pusaran warna yang indah, terlihat detail, dengan beberapa lampu yang menyala, serta ranting berselimut salju.
Jantungnya berdegup cepat, menatap penjelasan tentang karyanya. Hingga harga lukisan cat minyak itu mulai dibuka, dengan 100.000 dolar. Tanpa di duga olehnya, nilai yang terus naik, satu juta dolar, bahkan ada yang terus menaikan penawaran lagi hingga belasan juta dolar. Ingin menangis rasanya, karyanya di apresiasi setinggi ini.
__ADS_1
Masih teringat di benaknya, kala, lukisan yang temannya ditentukan galeri kecil tempatnya menjual karyanya dulu, hanya dihargai ratusan ribu rupiah.
Harus berhemat untuk biaya kuliahnya, mengingat Dini yang tidak pernah mendukung keputusannya mengambil jurusan seni rupa. Lebih memilih menggunakan warisan almarhum Herry, membiayai kuliah Alexa di luar negeri yang mengambil jurusan bisnis.
Ini semua karena Rion, suami yang bagaikan ibu peri baginya. Dirinya benar-benar menitikkan air mata, pada akhirnya salah satu karyanya yang dilelang terjual dengan nilai tinggi, dibeli oleh seorang kolektor asal Tiongkok.
Sedangkan Rion baru saja sampai, membawa papan kecil, memasuki ruangan dengan cepat, diikuti Hikaru. Hal yang dilakukannya? Mencemaskan Sazi, takut karya wanita itu tidak mendapatkan penawaran. Akan membelinya itulah yang hendak dilakukannya.
Namun palu telah diketuk, karya itu telah terjual, bukan dengan nilai yang rendah, namun nilai yang benar-benar tinggi. Bibir Rion tersenyum, mulai duduk, menonton acara lelang dengan tenang di kursi paling belakang.
"Sudah aku katakan, kamu tidak perlu mencemaskannya. Dia memiliki bakat, hanya memerlukan tangan yang bersedia menyokongnya..." kata-kata dari Hikaru, duduk di samping Rion.
"Dia memang pacarku..." Rion menatap kagum. Sedari sekolah menengah pertama, Sazi memang bagaikan bintang yang tidak dapat digapainya. Hanya sebuah bakat yang berawal dari sebuah goresan pensil. Kini nama wanita itu terangkat.
"Aku akan mengatur bisnis galery dan asistennya nanti. Dia harus menghasilkan lebih banyak uang, agar status sosial kalian lebih tinggi lagi," gumam Hikaru, tersenyum ke arah Sazi, yang berada jauh di kursi VVIP.
Rion mengenyitkan keningnya, menatap ke arah asistennya."Kenapa aku merasa, kami akan diperas olehmu!! Dasar, aku majikanmu! Bukan sapi perah!"
Pemuda yang memukul belakang kepala Hikaru menggunakan papan kecil yang dibawanya.
Sementara Belinda yang duduk di belakang mereka mengenyitkan keningnya ketakutan. Apa Hikaru akan membunuh Rion? Dirinya memejamkan mata sesaat tidak tega rasanya. Orang pertama yang lancang pada Hikaru.
Namun tidak ada yang terjadi...
"Aku memang bawahanmu..." Hikaru masih setia tersenyum lebar terasa ganjil.
"Tapi aku rasa tidak, kamu menganggapku sebagai adikmu kan?" tanya Rion, tetap menatap ke depan.
"Adik? Bukan, kamu kaisar yang aku pilih..."
Bersambung
__ADS_1