
"Kamu punya anak?" Rion menghela napas kasar, mengenyitkan keningnya menatap seorang anak berdarah campuran Asia Timur.
"Menunduk! Beri salam pada majikan ayah," perintah Hikaru pada putranya.
Hiruma menunduk, kemudian tersenyum."Tuan, perkenalkan namaku Hiruma..."
Rion mulai tertawa, anak yang sama kakunya dengan Hikaru. Perlahan menghela napasnya menetralkan tawanya."Tidak usah formal begitu, panggil aku paman Rion,"
"Paman..." ucap Hiruma penuh senyuman.
"Anak baik, nanti jika anakku sudah lahir, jadilah temannya..." ucap Rion berlutut, mensejajarkan tingginya dengan Hiruma. Mengacak-acak rambutnya yang memiliki poni ala potongan mangkuk.
"Tergantung..." anak itu tersenyum menyeringai, terlihat ganjil seperti ayahnya."Jika anak paman seperti ibuku, aku tidak akan mau berteman dengannya..."
"Tidak mau berteman dengannya? Anakku bahkan belum lahir. Tidak tau laki-laki atau perempuan." Rion kembali menipiskan bibir, menahan tawanya. Mendengar kata-kata jujur dari fotocopy-an asistennya.
"Jika laki-laki aku akan berteman dengannya. Jika perempuan yang malas, bodoh dan sering ditipu seperti ibuku, aku akan menjauhinya. Karena memiliki satu sumber masalah, sudah sangat menyulitkan. Apalagi ditambah dengan satu lagi..." kata-kata dari putra tunggal Hikaru.
Hikaru mengenyitkan keningnya, menatap ke arah putranya. Anak yang sok jago memilih wanita. Pemuda yang memijit pelipisnya sendiri, apa mungkin putranya akan termakan kata-katanya suatu hari nanti? Entahlah...
"Aku tidak akan menyulitkanmu, jika anakku perempuan, aku akan menjauhkannya dari pria dingin, kaku sepertimu," ucap Rion tertawa kencang, pada putra seorang Hikaru.
Hiruma hanya tersenyum. Tapi, kaku dan dingin? Apa itu karakternya? Menjauhi masalah yang sulit, karena itulah lebih baik jangan dekat-dekat dengan makhluk yang namanya wanita. Matanya menatap ke arah ayahnya, ibunya mengatakan ayahnya pernah menjadi tukang antar makanan untuk menipu ibunya, mendekatinya.
Mengapa pria sekeren ayahnya harus berpura-pura menjadi tukang antar makanan hanya untuk mendekati ibunya? Entahlah, mungkin selera ayahnya yang buruk. Walaupun anak itu merasa bersyukur dan mencintai ibu yang melahirkan dan berusaha menghidupinya selama ini.
Hiruma mencintai ibunya...
Hikaru menyentuh rambut putranya."Kamu fikir selera ayah buruk? Kita lihat setelah kamu dewasa nanti, wanita seperti apa seleramu..."
"Aku tidak akan menikah. Jika menikah, harus dengan wanita cantik dan pintar..." kata-kata dari mulut sang anak.
Rion tertawa semakin kencang, sejenak kemudian menghela napas kasar."Kalian sama saja. Ini benar-benar anakmu, sangat mirip, tanpa tes DNA pun, kalian memang sama persis..."
Sazi yang sedari tadi duduk, menuangkan air ke gelasnya. Menghela napas kasar, benar-benar fotocopy seorang Hikaru."Seperti apa ibumu? Apa dia juga selalu membawa senjata? Atau seorang ahli IT? Mungkin dokter? Pilot wanita?" tanya Sazi membayangkan seberapa keren wanita yang membuat seorang Hikaru luluh.
Pria dingin yang mengerikan. Mungkin takluk oleh seorang wanita yang teramat sangat keren. Hingga menjalin hubungan dan memiliki anak di luar nikah.
Apa model? Mungkin selebriti? Anak raja? Keturunan bangsawan? Anak pengusaha? Entahlah...
"Ibuku bertugas membersihkan..." kata-kata polos dari mulut sang anak.
"Membersihkan? Apa dia memiliki perusahaan deterjen terkenal?" tanya Sazi semakin penasaran. Dijawab dengan gelengan kepala oleh Hiruma.
"Pemegang saham di perusahaan yang memproduksi mesin cuci?" tanya wanita itu lagi, sang anak kembali menggeleng.
"Membersihkan kasus korupsi atau kejahatan? Apa dia seorang jaksa? Atau hakim? Anggota pasukan khusus rahasia, mungkin?" Sazi kembali bertanya semakin penasaran saja, seperti apa wanita yang dicintai Hikaru. Kenapa bisa tahan dengan makhluk dingin mengerikan sepertinya.
Apa mungkin wanita itu benar-benar dapat menghadapi seorang Hikaru? Pandai bela diri sehingga tidak dibunuh? Atau selalu taat tidak berani menyinggungnya, membiarkan dirinya diperlukan secara kasar oleh Hikaru.
Banyak yang ada di benak Sazi tentang hubungan asisten suaminya. Pria yang paling ditakutinya, benar-benar pria rupawan dengan senyuman ganjil yang mengerikan.
"Dia cleaning service..." kata-kata dari Hikaru membuat Sazi membisu sejenak.
Otaknya mencerna semuanya. Cleaning service? Dirinya tidak salah dengar kan? Hanya wanita biasa, bahkan seorang cleaning service? Pria rupawan, mantan bos dari pembunuh bayaran, meninggalkan posisinya, bahkan putus asa akan hidupnya, hanya karena cleaning service? Wanita biasa?
"Cleaning service? Tapi kamu...dia ..." kata-kata Sazi yang heran terhenti. Hikaru tersenyum ganjil padanya.
"Kamu juga mantan pasien rumah sakit jiwa. Kenapa Rion bisa tergila-gila padamu, menjadi budak dari wanita yang mengalami depresi?" kata-kata menusuk tapi tidak berdarah dari mulut pria itu. Tidak ada yang salah dari kata-kata Hikaru. Memang benar-benar aneh, mengapa Rion hanya mencintai Sazi?
Sazi mengenyitkan keningnya, menghela napas berkali-kali. Mulai duduk menenangkan dirinya dari kenyataan aneh di hidupnya."Bagaimana kalian bertemu dulu?" tanya Sazi semakin penasaran saja.
"Ibu bilang ayah menjadi tukang antar makanan yang setiap hari datang ke toko furniture tempat ibu bekerja di luar negeri dulu. Mereka..." kata-kata Hiruma disela.
"Itu ingatan versi ibumu. Versi ayah beda lagi. Kami pertama kali bertemu saat aku hampir tertangkap petugas kepolisian. Dia pulang dalam kondisi mabuk bersama teman kerjanya," Hikaru menghela napas kasar, kejadian yang sama sekali tidak diingat oleh kekasihnya. Saat dirinya mulai mengetahui betapa menyenangkannya menatap wajah seorang wanita.
__ADS_1
***
8 tahun yang lalu, negara lain...
Dor...dor...dor...
Suara letupan senjata terdengar menggema. Lengannya tertembak, dirinya benar-benar kesulitan untuk mencari tempat bersembunyi kali ini. Earphone masih terpasang di telinganya.
"Retas traffic light! Kacaukan lalu lintas! Agar tidak banyak polisi yang datang!" perintahnya sembari bersembunyi, melakukan baku tembak dengan petugas kepolisian.
Tidak banyak, mungkin 15 atau 20 orang tengah berusaha menangkapnya. Hikaru menggantung jaketnya, pada tongkat pel, seolah-olah dirinya masih berada di balik sudut dinding. Membuat pandangan sang polisi belum berani mendekatinya yang bersenjata.
Sedangkan Hikaru melarikan diri, hanya menggunakan celana panjang dan kemeja hitamnya saja. Berlari secepat mungkin mencari tempat yang aman. Hingga sampai pada satu-satunya tempat teraman bagi seorang pria. Toilet umum wanita...
Kondisi tengah malam, tempat yang benar-benar sepi, tidak ada seorangpun disana. Dengan cepat Hikaru memasuki salah satu bilik sempit. Bersembunyi disana, berharap batuan segera sampai.
Beberapa saat dirinya terdiam, hingga suara beberapa orang wanita terdengar. Tiga orang wanita yang terhuyung karena mabuk.
"Kamu bau..." racau teman Hany, berambut pendek.
"Kamu juga bau..." ucap Hany tertawa.
Tiga orang wanita yang tertawa dalam toilet wanita.
"Aku pulang..." racau teman Hany, yang berambut keriting.
"Mau kemana?" tanya Hany, pada temannya.
"Meniduri mantan! Perawan seperti kalian tidak akan mengerti!!" Sang wanita berambut keriting meninggalkan kedua sahabatnya di toilet.
"Aku merindukanmu Lee Minho..." racau sang wanita rambut lurus. Tertawa, kemudian tertidur di lantai toilet dekat wastafel.
"Dasar..." Hany yang juga mabuk meracau. Sedangkan Hikaru yang sedari tadi bersembunyi dalam salah satu bilik toilet menelan ludahnya. Sudah bersiap-siap dengan senjata apinya. Guna membunuh satu-satunya orang yang berada dalam toilet wanita.
Brak...
"Kamu tampan, mau jadi mantanku?" tanya Hany mengeluarkan lidahnya, membasahi bibirnya sendiri. Wanita yang benar-benar jorok tidak higienis. Bau alkohol murah, menerpa wajah Hikaru.
"Nona, kamu mabuk, jadi jika tidak ingin aku bunuh, diam dan..." kata-kata Hikaru disela.
Hany mendekatkan bibirnya, mengecup bibir Hikaru pelan."Aku tidak pernah punya pacar. Mau jadi mantanku..." tawa dari sang wanita mabuk.
"Aku akan membunuhmu!!" tegas Hikaru, mengacungkan senjata api pada kepala sang wanita mabuk. Entah kenapa, hanya sebuah ciuman singkat, membuat jantung pria berdarah dingin itu berdegup lebih cepat, dirinya benar-benar gugup saat ini. Bibir itu ditatapnya lagi, terasa berbeda, benar-benar menikmati kala bersentuhan dengan bibirnya.
"Kalau mati sampai ke surga, ciuman tadi rasanya seperti pergi ke surga. Boleh aku minta lagi..." kata-kata dari bibir Hany, tidak mempedulikan senjata api yang berada di kepalanya.
"Wanita gila!! Kamu..." kata-kata Hikaru terhenti, bibirnya kembali di bungkam. Bukan tidak dapat mendorong. Namun perasaan ini sangat nyaman.
Matanya terpejam, mengikuti mata Hany yang tertutup lebih dulu, memainkan bibir dan lidahnya. Senjata api dijatuhkannya.
Napasnya terengah-engah, bukan pertama kali dirinya berdekatan dengan wanita. Beberapa klien memberikan wanita untuk memuaskan ranjangnya. Namun, semua hanya wanita bayaran.
Wanita yang rela berbuat menjijikkan hanya demi uang. Dirinya membenci wanita-wanita itu.
Tapi, apa motif wanita mabuk ini? Entahlah...
Namun, debaran di hati yang berbeda. Wanita ini tidak takut sama sekali padanya. Tidak takut dan tidak menginginkan uangnya. Gerakan Hany yang kaku, walaupun berusaha menggerakkan lidah.
Suara kericuhan terdengar dari luar sana. Mungkin polisi sudah mulai mencarinya.
Harus bagaimana? Hingga Hikaru menghentikan ciuman mereka."Kamu benar aku adalah mantanmu. Mau melakukan hal yang menyenangkan?" tanyanya, dengan cepat Hany mengangguk.
"Buka bajumu..." perintah Hikaru.
Wanita mabuk yang menurut, penuh senyuman. Hikaru menahan tawanya, mulai menutup toilet, kemudian duduk diatasnya."Naik ke pangkuanku..." perintahnya lagi, sambil melepaskan celana panjangnya, menyisakan boxer.
__ADS_1
Lagi-lagi Hany yang tengah mabuk menurut, naik ke pangkuan Hikaru. Dengan tubuh hanya tertutupi rok serta pakaian dalam.
Hikaru melepaskan kain kecil yang menutupi area sensitif bagian atas Hany."Berteriak ah... yang kencang. Ah...ah... begitu..." perintahnya menahan tawa pada sang wanita mabuk.
Hany menurut, kebiasaan mabuk yang benar-benar aneh."Ah...ah...ah..." ucapnya, dengan cukup keras.
Hikaru mati-matian menahan tawanya. Melepaskan kancing kemeja yang dipakainya, tapi tidak sepenuhnya. Membiarkan lukanya tertutup kain kemeja hitam.
Ini benar-benar memalukan baginya. Namun jika tidak ingin tertangkap harus dilakukan olehnya."Sshh...lagi...ah...ah... terus..." racaunya dengan kencang.
Petugas kepolisian menggeledah toilet wanita. Menemukan teman Hany yang tertidur di lantai. Mulai membuka satu-persatu bilik toilet.
Suara laknat terdengar dari mulut dua insan yang tidak melakukan apapun.
"Ssshh...ah...ah...ini nikmat," itulah yang terdengar berulang-ulang, dari bibir Hikaru. Sedangkan Hany hanya berkata "Ah..." saja sesuai perintah.
Sumpah demi apapun, Hikaru benar-benar menelan harga dirinya menahan malu dengan suaranya sendiri.
Brak...
Pintu dibuka tangan anggota kepolisian yang gemetar."Maaf..." ucapnya menutup pintu dengan cepat.
Malu? Polisi itu benar-benar malu, hingga tidak menyadari wajah tengil sang ketua mafia yang tertutup punggung Hany.
Suara laknat masih terdengar dari dua insan yang sejatinya tidak melakukan apapun."Dunia sudah semakin gila! Aku harus pulang!" gumam anggota kepolisian merasakan menginginkan tubuh wanita. Akibat suara laknat dan pemandangan yang dilihatnya.
***
Sedangkan Hikaru kembali memakaikan kain kecil penutup titik sensitif bagian atas Hany.
Matanya menatap mata wanita mabuk yang ada di pangkuannya. Wanita yang duduk menghadapnya, bagaikan tengah melakukan perbuatan tidak senonoh.
"Ah...?Kamu tau kenapa aku ingin kamu mengatakan itu?" tanya Hikaru pada Hany, dijawab dengan gelengan kepala oleh sang wanita.
"Lain kali, aku akan membuatmu menjerit. Dasar bodoh..." lanjutnya, mengacak-acak rambut Hany gemas. Wanita polos yang menyenangkan baginya.
"Sayang..." panggil Hany tersenyum.
"Ingat ini, kamu pacar pertama seorang Hikaru. Tidak boleh mencintai pria lain..." kata-kata dari bibir Hikaru. Menginginkan wanita pertama yang membuatnya nyaman. Memakaikan kembali sang gadis perawan pakaiannya.
"Aku pacar Hikaru..." teriak Hany, memeluk tubuh proporsional sang pemuda. Tubuh dengan otot-otot perut dan dada yang tercetak sempurna.
"Siapa namamu?" tanya Hikaru penasaran. Namun, tidak ada jawaban, Hany sudah tertidur dalam pelukannya.
Pemuda itu merapikan pakaiannya dan pakaian Hany meninggalkan wanita itu tertidur berdua dengan temannya dalam toilet wanita.
***
Rasa penasaran menghinggapi Hikaru. Ketua mafia yang mulai menggunakan helm merah dengan merek salah satu toko makanan.
Menyamar sebagai orang biasa, untuk mendapatkan cinta dari seorang karyawati toko mebel. Dirinya benar-benar terjatuh, semakin mengenal Hany, semakin mencintainya juga. Tidak ingin kehilangannya, hingga menjalin hubungan kasih selama 2 tahun.
Tidak dapat menikahinya, cemas setiap saat dengan keselamatannya. Melakukan hubungan layaknya suami-istri? Setelah satu tahun menjalani hubungan kasih, Hikaru tidak dapat menahan dirinya. Merenggut kesucian kekasihnya, menginginkan anak darinya.
Itulah pertemuan Hikaru dengan Hany. Pertemuan aneh yang hanya diingat Hikaru. Sedangkan menurut Hany mereka pertama kali bertemu, saat Hikaru mengantar makanan ke toko mebel. Ingatan yang salah dari wanita yang mabuk pada malam itu...
***
Sazi mengenyitkan keningnya terlihat tertarik."Ayo ceritakan bagaimana salju abadi sepertimu dapat mencair..." pintanya.
"Ceritakan dulu bagaimana ciuman pertamamu..." Hikaru memutar balik keadaan.
Kali ini Rion ikut-ikutan tertarik."Ceritakan pertemuan pertamamu dengan pacarmu..."
"Aku bertemu dengannya, mengatakan...hallo...tamat..." cerita singkat dari Hikaru membuat semua orang terdiam kecewa.
__ADS_1
Bersambung