
Mantan ketua pembunuh bayaran? Siapa yang peduli, yang terpenting dirinya dan Hiruma dapat menjalani kehidupan yang normal tanpa si br*ngesek.
"Dia siapa?" tanya Sutoyo lagi, pria brewokan yang 14 tahun lebih tua dari Hany. Gerobak baksonya ada disana, diparkirkan dekat mobil yang baru dibeli Hikaru, mengingat Hikaru yang akan ada di negara ini satu bulan kedepan.
Terlihat dengan jelas perbedaan bumi dan langit. Namun, wanita bodoh ini menolaknya? Apa fikirannya mengalami gangguan?
"Hiruma sudah tidur, dia ini orang dari bank, menagih tunggakan pembayaran hutang..." ucap Hany, melepaskan bekapan tangannya dari mulut Hikaru. Kemudian tersenyum tersipu menyelipkan rambut di belakang telinganya.
"Pegawai bank?" Hikaru, berusaha tersenyum, menahan rasa kesalnya.
"Iya Pe...! Ga...! Wai...! Bank," tegas Hany penuh penekanan.
"Ini untuk Hiruma, satu lagi untukmu," ucap sang duda tetangga sebelah, tersenyum genit, hendak memberikan dua mangkuk bakso sisa dagangannya, yang diantar dengan nampan kecil.
Hikaru mengenyitkan keningnya, ini seperti putri Kaguya yang berakhir bersama kawataro (monster sungai). Atau istilah Indonesia-nya, dewi Sita yang tertarik pada Rahwana. Haruskah dirinya mengumpat?
Kesal? Tentu saja, menatap tingkah malu-malu tapi mau dari Hany. Mengapa Hany yang berselera tinggi bisa jadi serendah ini?
"Kamu tidak kembali ke Bank?" sinis Hany.
"Aku ingin bicara baik-baik denganmu, atau aku akan membawa masalah anak ini ke jalur hukum. Lihat tempat tidur yang ditempatinya, bahkan tidak ada sarung bantalnya. Apa yang dimakannya setiap hari? Aku mempunyai pencernaan yang lemah, aku yakin dia pasti sama. Apa kamu memberikan sayuran dan buah yang cukup!? Kita ke ahli gizi sekarang, lalu aku akan menggugatmu ke meja hijau..." komat-kamit mulut Hikaru yang biasanya tidak cerewet bicara, dengan langkah mendekati Hany. Membuat Hany mundur selangkah.
"Aku..." baru satu kata yang keluar dari mulut bukan janda tapi juga bukan gadis itu.
Hikaru bertambah cerewet lagi."Sehari dia makan berapa kali!? Kenapa kulitnya memerah!? Apa karena tempat tidur yang jarang kamu bersihkan!? Dasar jorok, aku sudah tau akan seperti ini. Karena itu jika tidak bisa membesarkannya dengan baik, jangan melarikan diri. Aku sudah bilang hanya untuk sementara waktu saja, kamu mengerti tidak!? IQ-mu berapa?"
__ADS_1
"Hany dia..." kata-kata yang keluar dari mulut Sutoyo yang ingin menyela, terhenti. Menatap selembar uang seratus dolar di nampannya.
"Nilainya jika dirupiahkan sekitar satu setengah juta rupiah. Ini bayaran untuk makanan tidak sehat yang masuk ke perut wanita tidak tau diri. Sebaiknya tukarkan sekarang, sebelum money changer tutup..." ucap Hikaru merogoh sakunya, memberikan selembar jimat bergambarkan tokoh revolusioner negara adidaya.
Sutoyo membulatkan matanya, benar-benar jumlah uang yang lumayan. Kembali membawa dua mangkuk bakso sisa barang dagangannya. Seolah melupakan tujuan awalnya, mendapatkan hati ibunya melalui anaknya. Wanita cantik dengan anak laki-laki manis berdarah campuran Asia Timur.
Tapi sekali lagi, money changer lebih penting saat ini. Entah siapa orang yang mengaku sebagai pegawai bank, dirinya tidak begitu peduli. Mendorong gerobaknya kembali, diparkirkan depan kamar kostnya sendiri. Diteruskan dengan berjalan kaki, guna menukar jimat yang baru didapatkannya.
Hany menipiskan bibir, menahan kekecewaannya. Matanya tiba-tiba menatap tajam ke arah Hikaru."Pergi..." ucapnya lagi.
"Tidak akan," Hikaru tersenyum, kembali menutup pintu kamar kost. Menguncinya dari dalam.
"Hikaru, pergi ya? Hiduplah dengan tenang jauh dariku..." pinta Hany memelas.
"Benar kamu mau aku pergi?" tanya Hikaru mengakat dagu Hany membuat mata mereka saling menatap.
Karena sudah lama tidak disentuh pria? Tidak, bukan karena itu, dirinya tidak memiliki pasangan hingga sekarang, karena hatinya yang ragu. Mengapa hanya si br*ngsek ini yang dapat meluluhkannya.
"Apa aku harus pergi?" tanya sang pemuda rupawan di hadapannya. Dengan wajah semakin mendekat, memposisikan dirinya bagaikan akan mencumbui bibir Hany.
"Em...kamu harus pergi," jawaban dari bibir Hany, namun dengan mata yang mulai terpejam. Bagaikan pasrah jika bibirnya ditaut.
Wanita murahan? Itulah dirinya jika sudah berhadapan dengan si br*ngsek. Tidak dapat melawan bagaikan takluk sama sekali. Mengapa dapat seperti ini?
Dirinya hanya ingin hidup sederhana, bekerja sebagai TKI di toko furniture. Memiliki kekasih tukang antar makanan langganannya. Pemuda yang selalu menampakkan senyuman cerah padanya.
__ADS_1
Kekasih tukang antar makanan? Si br*ngesek yang menipunya, bukan tukang antar makanan tapi ketua kelompok pembunuh bayaran. Seketika kehidupan tenang indahnya menjadi kacau.
Pemuda yang hanya dengan senyumannya saja dapat menaklukkannya. Dirinya benar-benar merasa bodoh, seharusnya menikah dengan anak pak lurah saja, kemudian tinggal di luar pulau. Tidak menolak lamarannya dulu dengan alasan Hiruma sulit beradaptasi.
Kini dirinya merasa bagaikan makhluk paling bodoh. Tapi perasaan ini benar-benar dirindukannya, jantungnya berdegup cepat, darahnya berdesir. Gerakan bibir yang agresif dengan bodohnya berusaha diimbanginya.
Hanya berciuman, sekali saja... batin Hany, yang sejatinya kesulitan melupakan Hikaru. Tukang antar makanan yang menjalin hubungan selama 2 tahun dengannya. Sebelum akhirnya dirinya pergi, setelah mengetahui segalanya. Setelah si br*ngsek membawa wanita lain ke kamarnya dalam villa yang cukup besar.
Pernah merasa tidak dicintai. Apa dirinya hanya salah paham? Tapi Hikaru tidak menjelaskan apapun. Hanya mengatakan ini untuk sementara waktu. Mengurungnya dengan penjagaan ketat. Dengan luka tembakan di tubuh Hany yang hampir sembuh.
Kabur dan kembali pulang, itulah yang dilakukan Hany tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun lagi.
"Hentikan..." pinta Hany, kala ciuman mengalir ke lehernya. Menonggakan kepalanya, seolah memberikan celah pada Hikaru menikmati lehernya lebih banyak lagi. Mulut yang menolak tapi tubuh menginginkan lebih.
Pemuda itu benar-benar menghentikan segalanya kali ini. Tersenyum pada Hany, kemudian melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Membaringkan tubuhnya di samping putranya."Kamu masih menyukaiku, jadi jangan mencari pria lain hanya untuk pelampiasan..." sindirnya.
Hany mengenyitkan keningnya, benar-benar pria tidak tau malu. Wanita yang tidak mengetahui seberapa mengerikannya pria yang tengah berbaring di tempat tidurnya, memeluk putranya.
Dua sosok yang berbeda namun satu orang yang sama. Hikaru si pengantar makanan dan Hikaru ketua kelompok pembunuh bayaran.
Si pengantar makanan yang kini ada di hadapannya. Bukan pria dingin yang membuatnya menunduk dan menangis. Merangkul dan berciuman dengan wanita lain, tanpa meliriknya yang terluka dalam keadaan hamil sama sekali.
Tapi mereka memang orang yang sama. Karena itu, begitu si br*ngsek penipu yang sok baik ini pergi. Dirinya akan segera pindah, bersama Hiruma. Mencari tempat tinggal baru, mungkin di perkebunan kelapa sawit, ada temannya yang menawarkan lowongan pekerjaan disana.
Mencari pacar yang bersedia menerima Hiruma kemudian hidup bahagia bagaikan truk gandeng, yang dituntun bergandengan. Dirinya benar-benar serius kali ini, bahkan kaos kaki Hikaru yang super rapi memiliki pasangan. Dirinya juga pasti memiliki pasangan, entah dimana sekarang, mungkin masih di pedalaman kebun kelapa sawit.
__ADS_1
"Kemari dan tidur, jangan memikirkan masa depan dengan pria lain. Hanya akan ada aku di masa depanmu..." sinis Hikaru yang tengah berbaring di ranjang samping putranya.
Bersambung