
Mata Andres sedikit melirik, terdiam seorang diri ditemani gelas berisikan Vodka. Suara musik terdengar kencang, jemari tangannya mengepal. Tempatnya berada saat ini? Lantai dua club' malam star hotel.
Adik? Sebagai kakak dirinya hanya dapat menjaga tanpa memiliki hak untuk mencegah.
Riuh suara orang-orang di lantai satu terdengar kala DJ mengubah tempo music. Belinda ada disana, hanya makan malam? Tidak hanya itu, mungkin inilah hal yang dapat disebut berkencan.
Pria yang telah terpengaruh alkohol semakin merapat pada Belinda. Merangkulnya, bahkan mencoba meraba tubuhnya. Belinda hanya tertunduk, mencoba menepis dengan gerakan tarinya. Ini bagian dari misi...
Professional? Itulah dirinya, menahan rasa risih yang teramat sangat. Tampan? Jameson memang cukup rupawan, tapi tetap saja dirinya tidak dapat melupakan kakaknya yang br*ngesek.
Mengapa pria itu harus menjadi kakaknya? Dirinya benar-benar membenci segalanya. Menikmati musik melupakan segalanya sejenak, terhanyut akan perannya.
Namun Jameson mulai berjalan ke area bar meninggalkan Belinda. Berbisik pada bar tender, sedikit melirik ke arah Belinda.
"Kemari..." pinta Jameson menarik tangannya.
Wanita itu menurut, berjalan mengikutinya ke meja bar."Ini untukmu, racikan bar tender disini rasanya lumayan," ucap Jameson menyodorkan segelas cocktail.
Belinda terlihat meminumnya. Kemudian tersenyum."Aku ingin ke toilet..."
"Jangan lama-lama..." gumam Jameson penuh senyuman, menatap kepergian Belinda.
Namun hanya sejenak, senyuman itu perlahan memudar."Jual mahal, nanti juga akan memohon," cibirnya mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, menginginkan wanita bertubuh indah yang baru ditemuinya beberapa kali.
***
Suara aliran air keran wastafel terdengar, wajah wanita itu basah. Menatap ke arah cermin. Apa yang salah? Kenapa terasa menjijikkan? Entah...
Hingga lengannya di cekal, dirinya ditarik keluar dari dalam toilet wanita."Andres!?" wanita itu membulatkan matanya.
Hanya mengikutinya itulah yang dilakukannya. Tidak mengerti dengan jemari tangan yang berisikan cincin silver yang sama dengannya.
Hingga pria itu membawanya ke dalam salah satu bilik VVIP. Memojokkannya ke tembok, mencium bibirnya secara paksa.
"Andres!!" bentak Belinda mendorong tubuh sang pemuda.
"Ini yang kamu inginkan bukan?" tanya Andres menatap ke arah seseorang yang seharusnya dijaganya bagaikan seorang adik. Air matanya mengalir, berusaha tersenyum."Aku..."
"Pulanglah," hanya satu kata yang keluar dari mulut Belinda, menatap ke arahnya.
"Tidak, aku tidak ingin pulang," ucap Andres menggeleng, memeluk tubuh Belinda dari belakang."Jika yang kamu inginkan kita berhubungan, maka kita akan berhubungan. Kita lakukan disini sekarang. Tidak aku akan menyewa kamar termahal,"
Menyakitkan? Inilah batas dimana dirinya harus berpisah dengan Belinda. Benar-benar mencintainya, bila dengan ini dirinya menjadi anak tidak berbakti biarlah...
Belinda menggeleng."Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Sudah terlalu muak..."
Pelukan Andres terlepas, pemuda itu mundur selangkah."Jaga dirimu, temukan pria baik yang dapat menjagamu,"
__ADS_1
Seperti sebelumnya air mata yang mengalir dalam senyuman. Jemari tangan yang mengepal. Sesuatu yang menyakitkan selama ini dirasakan oleh Belinda. Kini pisau itu berbalik padanya. Namun apa ini yang terbaik? Entah...
"Aku bisa jaga diri. Segeralah menikah...kakak..."ucap Belinda meninggalkan ruangan.
Andres terdiam menatap pintu yang belum tertutup sepenuhnya. Hal yang diinginkan sekaligus ditakutinya terjadi. Belinda melupakannya.
Pernah mendengar hujan saat sinar matahari menerpa? Itulah yang dirasakannya saat ini. Hujan deras kala sinar matahari terlihat.
Pria berdarah Spanyol yang berjalan menelusuri lorong. Menonggakkan kepalanya sejenak, memejamkan matanya. Bibirnya mulai tersenyum."Ibu maaf..." gumamnya.
***
Belinda berjalan mendekati meja bar, dengan langkah gontai, menatap ke arah Jameson."Kepalaku sakit, rasanya tidak nyaman. Aku pulang saja ya?"
Jameson memeluknya, merangkul pinggangnya."Aku bisa membuatmu lebih baik. Lebih merasa nyaman..." bisiknya, menggigit pelan telinga Belinda.
Senyuman menyeringai terlihat di wajah rupawannya. Pria yang juga dalam pengaruh alkohol. Seperti sudah di duga, monster itu akan menjerat Belinda, trik lama yang dilakukan. Memberi obat dosis rendah pada minuman beralkohol.
Bukan hanya sekali, entah tubuh berapa wanita yang telah dinikmati dengan cara yang sama. Kali ini mungkin akan menjadi malam yang panjang bagi mereka.
Tubuh Belinda yang terhuyung dirangkulnya, setelah membayar bartender. Membawa wanita itu berjalan menuju hotel yang terdapat di lantai dua.
Dalam lift pun pemuda itu tidak bisa diam. Memojokkan tubuh Belinda, mencium bibirnya bringas.
Ting...
Kesal? Tentu saja, namun semua tertahan. Menatap tubuh wanita rupawan berdarah Spanyol itu. Benar-benar lekuk tubuh sempurna, apa sudah ada yang menyentuhnya? Entahlah...
Pada akhirnya pintu lift terbuka menuju kamar hotel yang disewanya. Berjalan tidak sabaran, membuka pintu kamar.
"Aku malu, tolong matikan..." gumam Belinda tertunduk, terhuyung sesekali, mungkin perpaduan antara mabuk dan terpengaruh obat.
Jameson tertawa kecil ingin mencoba hal baru. Pria mabuk yang bahkan lupa untuk mengunci pintu, meraba saklar lampu. Mematikan lampu kamar...
Ruangan yang benar-benar gelap. Dua insan terbakar gairah. Helai demi helai pakaian berceceran di sana.
Bug...
Suara dua makhluk terjatuh di atas ranjang terdengar. Inikah kehebatan Belinda di atas ranjang? Entahlah...
Wanita yang menahan pergerakannya, menonggakkan kepala dalam penyatuan. Bayangan samar terlihat dari tirai yang di tembus sinar lampu perkotaan.
Sepasang insan bergerak saling memuaskan."Benar-benar profesional, ja.... ja...jangan munafik..." gumam Jameson menonggakkan kepalanya merasa dirinya terpuaskan oleh wanita yang malam ini dijeratnya.
Benar-benar bayangan tubuh yang menyatu antara seorang pemuda berambut pendek, dengan wanita berambut lurus sebahu. Wanita yang bergerak di atas tubuhnya, membuatnya menonggakkan kepala. Tidak dapat berkata-kata.
Sinar cahaya phonecell terlihat disana, menunjukkan pesan. Dengan nama pengirim Andres.
__ADS_1
'Aku menunggumu di gereja. Hanya hingga matahari terbit.'
***
Hari sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Andres menyerah, benar-benar menyerah, hingga kini mengenakan tuxedo putih seorang diri. Duduk di bangku kosong, memangku kotak berisikan gaun pengantin dan sepasang cincin.
Wajah itu terdiam tanpa ekspresi menunggu matahari terbit.
Apa yang ditunggunya? Keajaiban terakhir, jika di kehidupan ini tidak ditakdirkan. Mungkin di kehidupan yang lain dirinya akan bertemu dengannya.
Menunggu matahari terbit untuk menentukan jalan hidupnya. Kini dirinya sudah mengetahui hatinya tidak dapat dimiliki wanita lain, selain Belinda.
Sang pendeta yang dibangunkannya tengah malam mulai duduk di sampingnya.
"Dimana mempelai dan keluargamu?" tanyanya.
Andres menggeleng."Hanya ada seorang adik. Adik yang tidak ingin kumiliki..." jawaban dari Andres menatap ke arah altar.
Ibu... maaf, tidak dapat menjaganya sebagai seorang kakak. Terlalu menyakitkan bagiku, mungkin suatu saat dia akan menemukan pria yang baik. Karena itu maafkan putramu ini, karena mencintainya...
Terlalu menyakitkan, hingga aku berfikir ingin menyusulmu. Jika saat matahari terbit, aku hanya akan menjadi seorang kakak. Maka, aku memilih menjual nyawaku, yang tidak memiliki harga...
Andres terdiam, mengantar nyawanya? Organisasi menghubunginya untuk kembali. Sebuah pilihan yang dulu dengan tegas ditolaknya. Namun kini tidak...
Mungkin karena mati lebih baik, mungkin dirinya dapat berkorban untuk menyelamatkan Belinda suatu hari nanti, jika dirinya berada di pihak musuh.
Memejamkan matanya sebagai kakak yang baik...
Atau lebih tepatnya....
Pria yang ingin Belinda tetap hidup. Tidak menyadari tentang Andres sudah tidak ada di dunia lagi. Bukan sebagai kakak, perasaan melindungi dari seorang pria lemah pada wanita yang dicintainya.
Bersambung
...Maaf....Hanya satu kata di penghujung perpisahan kita.......
...Karena aku hanya seekor ikan yang merindukan laut......
...Seekor ikan yang ditakdirkan terperangkap mati, kala menyusuri arus untuk menemuimu......
...Karena itulah, aku ingin bertemu laut di kehidupan yang akan datang......
...Menikahimu kala matahari terbit. Jika tidak sekarang, aku akan menunggumu di kehidupan yang akan datang......
...Maaf, sudah mencintaimu......
Andres...
__ADS_1