Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Ayah


__ADS_3

Hiruma mulai membuka kotak bekalnya. Wajahnya tersenyum, tidak tega memakan makanan buatan ayahnya sama sekali. Ini sudah waktunya pulang, dirinya melewatkan waktu istirahatnya tanpa memakan isi kotak bekal. Hanya memandanginya.


Kotak bekal dengan Sushi, rumput laut terlihat di sekitarnya. Ada juga telur gulung dan salad buah. Bagaikan karya seni yang indah, berbeda dengan ibunya yang biasanya hanya menggoreng telur ceplok, diletakkan di atas nasi putih.


Seorang anak yang tidak tega memakan makanan buatan ayahnya sama sekali. Namun, satu hal yang tidak dimengertinya, mengapa ayahnya dapat menyukai ibunya? Wanita yang sering mengorok, jorok, bodoh dan malas. Apa kelebihan ibunya?


Hiruma menghela napas kasar, mungkin hati ibunya yang baik, selalu berusaha untuk orang-orang yang dicintainya. Tapi ibunya memang begitu bukan?


Ceroboh, sering ditipu, dan terlalu baik. Itulah kelebihan seorang Hany.


Brak...


Kotak makanan anak itu direbut, beberapa anak yang juga menunggu jemputan di area depan sekolah mengambilnya. Memakannya tanpa ragu sedikitpun.


"Kembalikan!!" ucap Hiruma kesal.


"Tidak, kamu mau apa? Mengadu pada ibumu? Dasar tidak punya ayah..." cibir temannya.


"Aku punya! Itu buatan ayahku!" bentak Hiruma, merebut kotak bekalnya. Kemudian membanting anak itu dengan sekali gerakan. Anak yang pandai bela diri sedari kecil, mewarisi kemampuan ayahnya.


Mengikuti latihan judo yang diadakan di sekitar rumahnya secara gratis. Pelatih judo yang tidak memungut bayaran padanya mengingat potensi sang anak berusia lima tahun. Potensi besar yang ditemukan sang pelatih.


"Ayah..." tangisan anak itu terdengar, mulai bangkit dengan baju yang kotor. Tidak terluka sama sekali, namun punggungnya terasa kebas, menangis sekencang-kencangnya.


Seorang pria berbadan besar datang, mencengkram lengan Hiruma."Dasar anak kecil berani berbuat kekerasan! Sudah besar mau jadi apa kamu!?" kata-kata dari bibir ayah sang anak yang dibanting Hiruma. Pria yang kini menjambak rambut anak tunggal seorang Hikaru itu.


"Dia mencuri makanan! Jika dibiarkan, sudah besar nanti akan berbuat lebih buruk," jawaban dari Hiruma, menahan sakit dari lengannya yang dicengkeram dan rambutnya yang dijambak.


"Kecil-kecil, sudah bisa menjawab..." kata-kata dari sang pria berbadan besar. Hendak memukul Hiruma, anak yang tertunduk memejamkan matanya.


Ini sudah sering terjadi, anak tanpa ayah yang diejek teman-temannya. Dirinya biasanya hanya diam, tapi ini bekal dari ayahnya? Anak itu merebut bekal yang dibuatkan ayahnya? Karena itulah dirinya membanting teman sebayanya. Berusaha mengendalikan diri untuk tidak melukainya.


Namun, ayah sang anak ingin memukulnya.


Tidak akan ada yang membelaku... batin Hiruma, memejamkan mata bersiap menerima pukulan.


"Apa kesalahan putraku?" kata-kata dari seseorang terdengar.

__ADS_1


Jemari tangan Hiruma gemetar air matanya mengalir, mendengar suara ayahnya. Untuk pertama kalinya anak laki-laki itu menangis, mengadu mendapatkan pembullyan.


"Ayah..." panggilnya, menangis sesenggukan.


Tangan pria yang ingin menampar wajah Hiruma ditahan Hikaru. Dicengkeramnya dengan kuat, menggerakkannya, mematahkan salah satu jarinya.


"Sakit...aaa...." pekik sang pria, berlutut ke tanah memegangi jarinya yang patah.


"Putraku hanya mendidik putramu. Dia tidak sengaja bertindak terlalu keras," Hikaru tersenyum menyeringai, melempar uang 5000 rupiah."Ongkos laundry pakaian putramu. Ingat ini, jika kalian mengganggu putraku sekali lagi saja. Yang berikutnya, tangan atau kakimu yang cacat permanen,"


Kata-kata menusuk penuh senyuman ganjil dari bibir Hikaru. Berjalan pergi diikuti putranya.


"Ayah keren..." kata-kata dari Hiruma, menatap kagum.


"Sstt... jangan ceritakan ini pada ibumu. Dia tidak menyukai ayah yang seperti ini ..." kata-kata dari bibir Hikaru, mengacungkan jari telunjuk pada bibirnya sendiri. Sebagai tanda dirinya ingin putranya menyimpan ini sebagai rahasia.


Hiruma mengangguk, memasuki mobil ayahnya. Pria dingin berwajah rupawan yang mirip dengan dirinya. Mata Hiruma sedikit melirik ke arah ayahnya.


"Kenapa ayah menyukai ibu?" tanya putranya penasaran.


"Tidak ada alasan untuk mencintai seseorang," jawaban dari Hikaru, pria yang pernah berpura-pura menjadi pengantar makanan dari restauran kecil hanya untuk mendekati seorang wanita. Menjadi kekasihnya selama dua tahun. Wanita yang dengan ajaibnya, menerima kekurangannya, rela ditembak hanya untuk melindungi dirinya.


Hiruma mengangguk, mengiyakan, tersenyum pada ayahnya.


***


Di tempat lain...


Dirinya harus bertindak cepat. Hanya itu yang ada di fikiran Dini saat ini. Wanita yang terlihat menghubungi seseorang, mengigit kukunya yang berwarna merah menyala.


"Jadi kamu simpan di villa lain, luar kota?" tanyanya pada sang pengacara. Sang pengacara mengiyakan, kemudian menutup panggilan sepihak.


Dini terdiam sejenak kembali berfikir tentang kemungkinan keberadaan salinan surat wasiat. Berjaga-jaga jika pengacara membohonginya.


Satu-satunya benda yang ditinggalkan almarhum Herry dari saat sakit, hanya lukisan. Apa mungkin salinan surat wasiat ada dalam lukisan? Dirinya tidak tau persis. Hanya satu hal yang pasti saat ini, mencari di villa milik Fredric.


Sudah muak rasanya, Fredric memiliki anak dengan wanita lain di belakangnya. Jemari tangan wanita itu mengepal. Mengemudikan mobilnya tengah malam meninggalkan kediamannya.

__ADS_1


Tidak menyadari satu hal, Rion mengamati pergerakan Dini dari balkon kamar Sazi."Apa yang akan dilakukannya..." gumamnya.


***


Beberapa jam perjalanan tepat pada pukul tiga pagi, mobil mulai terparkir di area sebuah villa yang terletak di luar kota. Dini menghela napas kasar, villa kosong dengan tidak satu orangpun disana yang terlihat.


Berusaha memberanikan diri? Tentu saja, Villa yang bahkan penjaganya tidak ada di dekat sana. Perlahan wanita itu melangkah, mendekati area depan villa. Lampu dinyalakannya, berjalan menelusuri villa seorang diri, menuju kamar utama.


Tak...


Lampu kamar dinyalakannya, wajah wanita itu seketika pucat pasi, mundur selangkah dengan jemari tangan gemetaran."Kalian siapa?" tanyanya.


Beberapa orang preman terlihat disana, berada dalam kamar Fredric, kamar utama di villa tersebut. Sementara sang pengacara, baru masuk melalui pintu samping.


Ketakutan? Dirinya benar-benar salah langkah kali ini.


Sang pengacara yang seusia dengannya mulai melepaskan kacamata bacanya. Menatap ke arah Dini."Sudah aku duga, kamu membawa Sazi kembali untuk memiliki segalanya. Dasar serakah..." cibir sang pengacara, tersenyum menyeringai.


"Aku, hanya merebut hak Sazi, dia ..." kata-kata dari mulut Dini yang kelu terhenti. Sang pengacara menendang tubuhnya hingga tersungkur di lantai.


"Merebut hak Sazi? Bukan karena kamu cemburu pada semua yang dimiliki Fredric dan Alexa. Kita berempat bekerjasama, mendapatkan bagian masing-masing. Kamu seharusnya bersyukur dinikahi Fredric dan memiliki rumah utama..." ucap sang pengacara mencengkram pipi Dini.


"Itu memang hakku, bukan pembagian dari kalian. Herry memang mewariskan rumah dan beberapa mobil..." kata-katanya Dini terhenti menatap senyuman aneh dari bibir pria itu.


Pria yang berjalan menuju laci samping tempat tidur kamar Fredric. Meraih beberapa lembar kertas."Siapa yang peduli..." cibirnya, menyalakan korek api.


Helai, demi helai surat wasiat itu terbakar habis. Dini hanya terdiam ketakutan, jemari tangannya gemetar. Harapannya mungkin sudah pupus, kecuali jika surat wasiat rangkap dua itu ditemukan.


Helaian kertas yang menjadi abu, jatuh ke lantai marmer."Bunuh dia ..." perintah sang pengacara meninggalkan ruangan.


Bunuh? Dirinya akan dibunuh? Air mata Dini mengalir, ketakutan seorang diri. Dengan posisi masih tersungkur di lantai. Ini karena keinginannya memiliki keluarga yang utuh.


Andai dirinya dapat membuat Herry mencintainya. Dirinya mungkin dapat menyayangi Sazi dengan tulus. Tidak membenci wajah anak itu.


Namun semua sudah terlambat, mantan suaminya, dan Fredric hanya penghianat yang berpura-pura mencintainya. Mungkin almarhum Herry memang lebih baik, tidak pernah mencintainya, namun menyayanginya sebagai ibu asuh Sazi.


"Sazi akan memiliki semuanya!! Aku berjanji, walaupun kalian membunuhku, aku akan menyeret kalian ke neraka. Membiarkan satu-satunya putriku memiliki segalanya..." kutukan Dini penuh tawa, menatap sang pengacara meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Seorang wanita yang mulai didekati beberapa preman. Memegang tangannya, bersiap untuk menghabisi nyawanya...


Bersambung


__ADS_2