Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Penguntit


__ADS_3

Mata itu terpejam tidur dengan tenang diatas sofa. Jemari tangan Margaretha menyelimutinya, membelai wajahnya.


"Menyebalkan..." gumamnya berurai air mata. Kanker darah? Mungkin karena ini Fino memberanikan diri untuk menemuinya. Karena waktu hidup pria itu mungkin tidak lama lagi.


Puluhan tahun yang sia-sia bagi Margaretha. Jemari tangannya menggenggam tangan Fino. Pria yang mulai membuka matanya, tersenyum menatap ke arah Margaretha.


"Kenapa menangis?" tanyanya penuh senyuman.


Margaretha menghapus air matanya kemudian tersenyum."Karena muak melihatmu! Kenapa kamu tidak berobat?"


Fino mulai bangkit kemudian menggeleng."Lebih menyenangkan mati didekat keluargaku, dari pada berakhir mati di meja operasi,"


"Fino, tolong hidup..." pinta Margaretha pada pria di hadapannya.


Tolong hidup? Setiap manusia akan mati membusuk di tanah, begitu juga dengan dirinya. Sakit-sakitan dari kecil? Semua membuat Fino dengan mudah merelakan segalanya.


Pria yang kini tidak memiliki apapun lagi. Hanya Margaretha dan Rion yang ada di hatinya. Pria baik hati yang tersenyum dengan bibir memutih pucat pasi."Aku tidak apa-apa, dari dulu kamu biasa mengurusku kan?"


"Maaf..." Margaretha tertunduk menangis terisak. Mengingat segalanya, kala dirinya masih mencintai Fino dan kala rasa itu memudar. Tapi mungkin rasa itu tidak pernah pudar sama sekali, hanya tertutup egonya.


"Aku mengerti, tidak pernah ada yang menginginkan seorang suami yang sakit-sakitan. Saat itu usia kita masih terlalu muda. Aku memakluminya..." kata-kata yang keluar dari mulut Fino, membelai rambutnya.


"Fino, ini salahku, kamu berobat ya? Mungkin Rion dapat mendonorkan..." kata-kata Margaretha terpotong.


Fino menggeleng."Ini kesalahanku. Aku hanya orang biasa, yang tidak tau diri menikahimu dulu. Karena itu, cintai dan ingat aku nanti..." pintanya.


Mengingatnya nanti? Kata-kata ambigu yang terucap dari bibirnya. Tidak ada yang tau batas usia manusia, satu tahun? Dua tahun? Atau mungkin dapat mati saat ini juga.


Terimakasih, memberiku kesempatan melihat wajahmu di sisa umurku yang tinggal sedikit... batin Fino masih tersenyum, jemarinya ragu, memeluk tubuh Margaretha.


"Aku sudah membuat janji dengan Rion. Kita berkumpul bersama, aku akan memperkenalkan menantu kita. Minta maaf lah pada Rion..." ucap pria itu, menghapus air mata Margaretha.


Jalinlah hubungan baik dengan putra kita. Agar saat mati nanti aku dapat pergi dengan tenang... kata-kata yang tidak terucap dari bibir putih pucat, terasa kelu.


Aneh bukan bertemu untuk berpisah? Namun itulah intinya dalam pertemuan pasti ada perpisahan. Senyuman dipaksakan bagi yang meninggalkan dan tangisan duka bagi yang ditinggalkan.


Inti dari semuanya adalah sebuah pertemuan yang indah. Pertemuan yang membuat Fino tidak dapat melupakannya. Margaretha...


***


...Daun yang telah menguning? Itulah aku......

__ADS_1


...Tubuh yang telah digerogoti hama sejak lahir......


...Mungkin hanya selembar daun kecil tidak berharga. Daun kecil yang akan jatuh, entah kapan......


...Hanya rasa syukur yang tersisa, untuk tahun-tahun berharga yang diberikan-Nya. Sebelum tubuhku membusuk, jatuh menyentuh tanah. Menatap matahari sebelum melebur dengan tanah......


Fino...


Tidak memiliki apapun termasuk ambisi, itulah dirinya. Menenggak beberapa butir obat sekaligus. Usianya saat ini 17 tahun, tapi memiliki fisik yang lemah dari saat di lahirkan.


Berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan kedua orang tuanya telah meninggal. Seorang remaja yang benar-benar hidup sendiri.


Hari guru menjadi awal segalanya. Kala siswi tercantik menyukai guru olahraganya. Guru olahraga yang mungkin berusia 6 tahun lebih tua dari mereka.


Acuh? Itulah sifat Fino, dirinya hanya berusaha tetap hidup. Bekerja sepulang sekolah, uang yang hanya cukup untuk membeli obat dan makanan. Terkadang dirinya ingin menyerah, namun terlalu enggan untuk mati. Dan terlalu segan untuk hidup.


Hingga sore tiba, sang guru honorer tersenyum, menyentuh pipi sang remaja SMU, semua terlihat oleh Fino yang berjalan melewati tangga darurat. Guru honorer yang menyentuh paha sang remaja. Memojokkannya hendak mencium bibirnya.


"Bodoh..." satu kata pelan dari pria yang mengenakan masker, batuk beberapa kali melewati tangga darurat.


Ego sang nona muda kembali, hanya karena satu hinaan dirinya melupakan cinta pertamanya yang menggebu-gebu pada sang guru olahraga."Bodoh!?" teriaknya mendorong tubuh guru olahraga. Mengejar Fino yang memakai masker.


"Margaretha, biar kakak yang menghukumnya...Kamu siswa kelas mana!? Kenapa mengatai temanmu sendiri!?" tanya sang guru olahraga honorer pada Fino. Bagaikan pahlawan yang menyelamatkan seorang wanita dari jeratan monster.


"Tutup mulutmu!! Atas apa yang kamu lihat!" ucap Margaretha, mengeluarkan tiga lembar uang pada Fino.


"Em..." Fino mengangguk, menerima uang tanpa sungkan."Aku tidak melihat apapun, hanya melihat dua ekor cicak di dinding,"


"Materialistis..." gumam Margaretha heran, pada pria yang tidak menjaga image di hadapannya.


Fino tersenyum di balik maskernya. Kemudian mengedipkan sebelah matanya."Kalian lanjutkan saja..." ucapnya memasukkan nominal uang yang cukup besar ke sakunya. Dapat di bayangkan olehnya satu kali memergoki sang nona muda sudah mendapatkan uang yang cukup untuk kebutuhan hidupnya 10 hari.


Jika memergoki Margaretha setiap saat dirinya akan menjadi jutawan dalam waktu 10 tahun.


Pria sakit-sakitan yang penuh rencana berjalan meninggalkan Margaretha dengan sang guru olahraga.


"Kita lanjutkan?" tanya sang guru.


"Pulang sekolah saja..." Margaretha tersenyum, meninggalkan cinta pertamanya. Benar-benar anak SMU yang mudah terbuai dengan wajah rupawan sang guru muda.


***

__ADS_1


Margaretha membereskan buku-bukunya dengan cepat. Kali ini berjalan seorang diri ke area belakang sekolah. Tempatnya berjanji temu dengan sang guru rupawan.


"Pak..." ucap Margaretha setelah mengetahui situasi aman.


Sang guru tersenyum."Sudah aku bilang jangan panggil bapak kalau kita berdua. Panggil kakak..."


"Aku malu..." Margaretha tertunduk, dengan wajah berseri-seri.


Jemari tangannya tiba-tiba ditarik sang guru. Dipeluk erat olehnya."Kamu cantik..." sebuah bujuk rayu mengawali segalanya.


"Kakak juga tampan..." balasan dari Margaretha, menatap wajah rupawan itu. Perlahan dua pasang mata sayu saling mendekat hendak menyatukan bibir mereka.


"Sosis! Nugget!..." iklan lewat, figuran yang tidak berarti. Pria yang memang menjual jajanan anak-anak sepulang sekolah. Tapi kenapa harus menjual ke area belakang sekolah yang sepi? Bukankah seharusnya tidak menjual di area sekolah, hampir semua siswa sudah pulang. Apa tujuan figuran ini sebenarnya?


Bibir yang hampir bersentuhan itu terhenti. Dua orang yang mengalihkan perhatiannya menatap seorang siswa membawa box besar."Kalian mau beli?" tanyanya.


Sang guru memijit pelipisnya sendiri. Tapi jika ketahuan memiliki hubungan dengan murid dirinya akan mendapatkan sangsi.


"Jangan katakan pada siapa-siapa!" ucap Margaretha kembali memberikan cuan cuma-cuma. Pria berwajah pucat itu hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian pergi...


Jangan kira ini sudah berakhir...


Hari berikutnya, jam pulang sekolah. Guru dan murid yang menjalani hubungan terlarang itu, berada di salah satu bilik toilet pria.


"Bagaimana aku tidak terus merindukanmu?," ucap sang guru muda playboy, yang begitu pandai merayu. Mendekatkan bibirnya hendak mencium bibir Margaretha.


Brak...


Pintu bilik toilet tiba-tiba terbuka, kali ini iklan cairan pembersih kloset. Yang dapat membersihkan dalam waktu singkat."Aku di hukum membersihkan toilet. Bisa kalian keluar sebentar?" tanya Fino, dengan cairan pembersih, dan sarung tangan karet. Serta seember air di tangannya.


Pasangan yang kembali menghela napas menatap pria dengan raut wajah tanpa ekspresi.


"Jangan katakan pada siapapun..." uang kembali keluar dari dompet Margaretha. Ciuman pertama yang lagi-lagi gagal.


Dan pada akhirnya guru dan murid itu bertemu di taman kota, pada malam hari yang dingin. Tubuh yang saling mendekat hendak berciuman di sisi taman kota yang gelap. Tangan sang pria telah menjalar, hendak memasuki celah pakaian Margaretha.


Lampu tiba-tiba menyala, seorang pemuda terlihat memasang lampu bohlam taman yang mati."Aku kerja sambilan memperbaiki lampu," kata-kata tidak berdosa tanpa ekspresi dari pria berwajah pucat.


Margaretha mengenyitkan keningnya kesal. Sudah ke sekian kalinya, kenapa orang ini ada dimana-mana...


Sedangkan Fino menatap ke arah mereka, seolah berkata dalam hatinya... Aku sedang butuh uang, jika tidak benar-benar membutuhkannya. Tidak mungkin aku selalu menguntit kalian yang sedang pacaran...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2