
Bandara yang cukup ramai, hiruk-pikuk yang benar-benar padat. Menjadi saksi perpisahan kedua insan. Sepasang tangan yang masih saling menggenggam, saling menatap penuh senyuman.
"Jangan nakal, aku hanya pergi selama dua minggu..." ucapnya tersenyum pada Sazi.
Sazi mengangguk, lagi-lagi hal itu yang membuatnya cemas."Maaf, aku tidak tau kamu akan melakukan perjalanan bisnis. Tau begitu seharusnya aku tidak menolak saat malam pertama kita. Tolong jangan mencari wanita lain, untuk melampiaskan..."
Rion mengangguk, mencium telapak tangannya. Mata terpejam pemuda itu benar-benar terlihat mesra, bukan punggung tangan, namun telapak tangan, perbuatan yang benar-benar tidak lazim.
Wajah Sazi memerah, menatap sang anak katak, benar-benar prilaku lembut, tidak lazim, namun manis yang didapatkannya. Hingga Sazi bertekad, dua minggu lagi, akan benar-benar memuaskan suaminya di ranjang, menyerahkan mahkotanya...
"Aku hanya dapat mencintaimu..." ucap sang pemuda rupawan padanya, merapikan anak rambut Sazi dengan jemari tangannya. Sepasang hati yang berdebar tiada henti, saling menatap tidak rela untuk berpisah.
Hikaru masih setia tersenyum ganjil, senyuman yang cerah."Kita akan ketinggalan pesawat..."
"Masa bodoh..." Rion melirik ke arahnya, masih menggenggam jemari tangan Sazi.
Mata Hikaru beralih menatap ke arah Sazi, masih pada senyumannya yang ganjil. Tidak beralih sedikitpun dari wanita itu.
Ada apa dengan senyuman anehnya? Kenapa melihat ke arahku... batin Sazi tidak mengerti.
Hingga wanita itu menghela napas kasar."Kamu harus bekerja, mengumpulkan uang untuk kita. Aku juga mencintaimu..." ucapnya, mengecup pipi Rion.
Pemuda yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya, dengan hati yang berdebar cepat tiada henti. Menyembunyikan rasa gugup dan malunya.
"Hikaru... ayo kita mencari uang..." ucapnya berbalik, berjalan meninggalkan wanita yang dicintainya. Dengan senyuman cerah, sesekali tertawa sendiri. Diikuti Hikaru, yang juga masih setia tersenyum ganjil.
Sazi melambaikan tangan, menatap punggung suaminya yang menuju area keberangkatan penumpang."Asistennya menyeramkan..." gumamnya dengan tangan gemetar, ketakutan dengan senyuman ganjil Hikaru.
***
Sazi menghela napas kasar, supir pribadi Rion mengantarnya kembali ke kediaman yang memang tidak begitu besar. Tempat yang cukup nyaman, dengan udara yang terasa bersih. Terletak di dekat sebuah danau.
Banyak hal yang ada difikirkannya, menatap kediaman tersebut. Bagiamana dirinya dapat menikah dengan Rion? Apa benar dirinya meninggalkan Dave, demi suaminya saat ini? Namun, sosok suami yang terlihat mencintainya, dan begitu menghargainya...
__ADS_1
Tapi tunggu dulu, di tempat ini juga ada ayah mertuanya. Yang mana? Bahkan Rion pergi tanpa memperkenalkan dirinya. Matanya menelisik, memasuki rumah.
Penuh kecurigaan menatap ke arah orang-orang yang berada di rumah tersebut. Seorang pria ber-jas ada di sana dengan sarung tangan putih, potongan rambut rapi, berkarisma, apa itu ayah mertuanya?
Tapi tidak, pria itu tertunduk memberi hormat padanya, mungkin seorang kepala pelayan atau supir. Kembali melangkah, menemukan pria yang memakai earphone, terlihat gagah dengan setelan jas-nya.
"Perkenalkan, ayah mertua, aku..." kata-kata Sazi disela.
"Nona muda..." pria paruh baya yang berprofesi sebagai pengawal itu menunduk memberi hormat.
Ternyata bukan itulah sosok ayah mertuanya. Lalu yang mana? Pastinya ayah mertuanya adalah sosok berkharisma, ala pengusaha yang hebat seperti almarhum Herry. Itulah imajinasi Sazi mengingat sosok Rion mungkin menyerupai ayah mertuanya. Akan canggung rasanya tinggal dengan sang ayah mertua. Sazi kembali berjalan melewati sebuah ruangan.
Suara tawa terdengar dengan jelas, pintu yang sedikit terbuka membuatnya penasaran. Perlahan sedikit didorongnya, terlihat seorang pria disana, mengenakan celana selutut dan kaos oblong, menggunakan penggaruk punggung. Sambil memakan cemilan dengan mulut penuh, menonton televisi, tertawa nyaring.
Sazi mengenyitkan keningnya, terdiam sejenak...
Pria yang tiba-tiba menoleh padanya."Kamu Sazi kan? Syukurlah kamu baik-baik saja," ucapnya berjalan mendekat, mengulurkan tangannya."Perkenalkan, aku Fino, ayahnya Rion..."
Sazi mematung terdiam, imajinasinya hancur berantakan. Bukan pria berkharisma seperti almarhum Herry. Mengingat sosok suaminya yang bagaikan keturunan bangsawan. Ternyata inilah Fino, ayah mertuanya...
Sama dengan reaksi keluaga Dave? Itulah yang ada di bayangannya. Calon ayah mertua yang acuh melihatnya, ibu mertua yang membandingkannya dengan Alexa.
Tapi ternyata tidak, pria ini tersenyum padanya."Rion, anak itu tidak pernah dekat dengan wanita, jadi terkadang dia pemalu dan canggung. Tolong jaga dia untuk paman..." ucapnya.
Dengan cepat Sazi mengangguk. Ini mungkin tidak begitu buruk, akan menjadi hari-hari yang menyenangkan baginya.
Hari pertama kepergian Rion, lebih banyak dihabiskan Sazi seorang diri. Mengingat Fino yang mengurus bisnis waralabanya, yang telah memiliki belasan outlet.
Wanita yang tengah melukis seorang diri di tepi danau. Tangannya bergerak, menari indah, di atas kanvas. Bibir itu tersenyum, tidak tertekan sama sekali. Lukisan pertamanya setelah sebagian ingatannya memudar?
Danau indah yang dipenuhi dengan daun teratai, sebuah perahu kecil ada diatasnya dengan sepasang insan disana. Menatap ke arah langit yang mulai berawan.
Mengapa? Mungkin sang anak katak telah berhasil menyelamatkan wanita yang dicintainya dari air danau yang dingin. Membawanya tinggal bersamanya di atas daun teratai. Atau mungkin sebuah kebetulan lukisan itu dibuat olehnya.
__ADS_1
Menjadi pelukis adalah impiannya, apa bisa? Namun satu-satunya orang yang tidak menghujatnya hanyalah Rion, suaminya saat ini. Hingga hari menjelang sore, lukisan indah itu rampung pada akhirnya. Bagian bawah diberi tandatangan olehnya. Dengan nama pelukis."M R... Mistress Rion (Mrs. Rion, kata lain dari nyonya Rion)..." Sazi tersenyum sendiri, tersipu malu. Menemukan nama inisial baru untuk setiap karyanya.
***
Seorang pemuda terdiam menatap ke arah derasnya air hujan. Duduk seorang diri dalam kamar hotel, jemari tangannya terangkat, meraba kaca transparan besar di hadapannya.
Bug...
Setumpuk berkas tiba-tiba ada di meja tepat di hadapannya."Baru satu hari sudah merindukannya?" tanya Hikaru tersenyum pada majikannya.
Rion mengangguk, menghela napas kasar, mulai meraih salah satu berkas.
"Bekerjalah dengan baik, agar aku mendapatkan makanan dan kehidupan yang layak..." ucap asistennya lagi.
Rion berusaha untuk tetap tersenyum menatap pemuda di hadapannya."Kenapa aku merasa seperti aku yang menjadi bawahannya?"
***
Beberapa menit berlalu, Rion masih membaca isi beberapa kontrak. Terdiam sejenak."Hikaru, bagaimana jika aku berakhir mati. Apa yang akan terjadi padamu?"
"Aku kesulitan mendapatkan pekerjaan. Walaupun kamu mengajariku menjadi asisten dan strategi dalam berbisnis. Tetap saja catatan kejahatanku akan membuatku menjadi pengangguran. Tidak ada yang tau masa depan, akan berakhir bagaimana..." jawaban dari Hikaru.
"Aku belum memberitahumu. Ayah tiriku ingin membunuhku. Dia cukup pintar dan memiliki kekuasaan lebih besar dari pada aku. Mungkin saat aku kembali nanti, aku dan ayahku hanya akan mengantar nyawa kami..." Rion kembali menatap ke arah jendela berembun, menghela napas berkali-kali. Menyadari setiap detik bisa menjadi saat kematiannya.
"Apa kamu memiliki foto ayah tirimu?" tanya Hikaru, kali ini bibir itu tidak tersenyum, terlihat dingin, mungkin murka di dalamnya.
"Ada..." Rion meraih phonecellnya, menunjukkan foto media sosial ayah sambungnya.
Apa Hikaru akan membatunya? Mungkin jika Hikaru, akan dapat membantunya ...
Hikaru meraih phonecell, matanya menatap foto itu beberapa saat.
"Bagaimana kamu bisa mengirim santet padanya?" tanya Rion tersenyum, membuat Hikaru mengembalikan phoncell Rion. Tidak dapat berkata-kata, pada pemuda ajaib di hadapannya.
__ADS_1
"Kumpulkan uang sebanyak-banyaknya..." kata-kata yang keluar dari mulut Hikaru, berusaha tersenyum, walaupun terlihat ganjil.
Bersambung