
Pemuda itu mulai duduk, di sofa dalam kamar Sazi. Pelayan menghidangkan buah segar yang sudah siap potong, serta 4 gelas mix juice, sesuai perintah Sazi.
Pelayan yang undur diri menutup pintu. Hikaru menghela napas kasar, mengelus rambut putranya yang tengah memakan potongan buah.
"Perusahaan tidak ada masalah, apa CEO ingin mengadakan rapat dewan direksi lagi?" tanya Rion memulai pembicaraan.
Hikaru menggeleng,"Setelah ini berakhir, jadwalmu sudah lebih padat dari sebelumnya. Aku sudah mengirimkan berkas hasil diskusi proyek baru dengan tuan Lim. Jadi tidak ada masalah tentang perusahaan..."
"Lalu?" Rion menghela napas kasar.
"Ini tentang keluargamu. Ayahmu ada di negara ini. Dia bertemu dengan ibumu, dan berjanji akan membatunya bercerai..." kata-kata dari bibir Hikaru.
Rion tertawa kecil, sembari memijit pelipisnya sendiri."Katak tua bucin. Istri orang diinginkannya juga..." geramnya, berusaha tersenyum. Anak katak tidak sadar diri, yang dulu mengejar-ngejar tunangan orang. Hingga dilempar tas ransel besar, karena mencuri ciuman pertama Sazi.
"Tapi bukan itu intinya. Ini dapat menjadi peluangmu menjatuhkan Gerald. Hidup tanpa tekanan dengan kedudukan secara finansial yang lebih tinggi. Setengah kekayaan yang dimiliki Gerald adalah milik Rion..." kata-kata penuh senyuman dari bibir Hikaru.
"Kamu ingin mengembalikan identitasku sebagai Rion!? Begitu aku menunjukkan diri, maka...dor!! Dor!! Dor!! Srash... aku mati dengan potongan tubuh berceceran. Ditambah dengan suara Dhuar... maka mayatku hangus tidak berbentuk," ucap Rion menggeleng, hal yang cukup beresiko baginya.
"Aku bisa melindungimu, jika kita benar-benar memiliki kekuatan finansial yang lebih besar dari Gerald. Rion adalah satu-satunya nama yang memenuhi kriteria surat wasiat turun temurun keluarga ibumu..." kata-kata dari bibir Hikaru, meyakinkannya.
"Aku harus menunjukkan diri sebagai Rion? Berarti harus menghadapi, anak miskin, bodoh, tidak tau diri (Jameson) dan adik perempuan bermulut ular (Leony)? Benar-benar merepotkan..." Rion memijit pelipisnya sendiri.
Hikaru mengangguk."Dua adikmu yang lain nyawanya terancam saat ini. Jika kamu tidak muncul juga, cepat atau lambat, mereka akan dibunuh setelah kariernya sebagai selebriti redup..."
Rion tertunduk sejenak, menghela napas kasar. Queen dan Desi, dua anak yang selalu ditemuinya sepulang sekolah, memberi mereka permen lollipop murah. Mereka mengakui dirinya yang gemuk dan bodoh sebagai kakak.
"Kedua adikmu dan ayahmu akan mati. Kamu tau kegilaan ayahmu jika sudah menyangkut tentang ibumu. Gerald akan menelan ayahmu. Seperti seekor ular yang menelan habis seekor katak yang berani menantangnya..." lanjut Hikaru.
"Kita bergerak!! Buat drama aku mengalami amnesia. Dan salah mengenali identitas sebagai Grimm. Siapkan semuanya..." kata-kata dari mulut Rion. Pemuda yang juga mulai bangkit, meraih earphone dan phoncellnya. Guna mengatur segalanya.
"Baik tuan..." Hikaru tersenyum ganjil. Rencana yang berjalan lebih cepat. Pria yang tetap tenang, meraih garpu menyuapi putranya.
Mengatur semuanya? Yang dimaksud Rion hanya menghubungi media. Selebihnya, mengatur persenjataan dan orang-orang yang akan melindunginya nanti. Persiapan yang mungkin sudah rampung 70%, perencanaan yang matang dari seorang Hikaru.
__ADS_1
***
Di tempat lain...
Cantik dan pintar? Itulah Leony, memegang jabatan sebagai CEO saat ini. Wanita yang menghela napas kasar, menatap dokumen yang di hadapannya."Dokumen penyatuan perusahaan?" tanyanya pada Gerald.
Gerald mengangguk."Ayah akan membantumu mengatur segalanya. Kamu dapat liburan ke luar negeri seminggu atau sebulan sekali. Tanggung jawab sebagai CEO cukup sulit. Karena itu, menyatukan perusahaan adalah solusi..."
"Terimakasih...aku jenuh setiap hari duduk di perusahaan..." ucap Leony penuh senyuman, menandatangani dokumen tanpa ragu.
"Kita akan mengadakan pesta untuk merayakan penyatuan perusahaan. Klien-klien penting akan diundang. Ayah akan menyebut namamu sebagai anak kebanggaan, sekaligus orang yang paling berjasa," Gerald tersenyum, mengusap rambut putrinya.
Leony mengangguk."Syukurlah ibu dan nenek pergi sendiri jika tidak..."
"Tenang saja, ibumu yang tidak setia dan nenekmu yang selalu menghalangi jalanmu, akan ayah singkirkan untukmu. Mereka akan ditemukan, hidup atau mati..." Pria itu mulai duduk di sofa ruang kerja putrinya. Menatap lukisan besar, kepala keluarga ini dahulu. Lukisan yang menyerupai wajah Rion kini. Lukisan almarhum suami Silvia kala muda.
Gerald melonggarkan dasinya, sebuah lukisan tidak bergerak yang bagaikan menatap semua hal yang dilakukannya."Leony, lebih baik buang lukisan ini. Seperti lukisan di rumah yang saat ini di simpan di gudang. Lebih baik pajang lukisan abstrak saja, terkesan lebih modern..."
"Iya ayah, pacarku Mark juga menyarankan hal yang sama..." ucap Leony tersenyum.
Hidup yang benar-benar sempurna, pria yang mencintainya, memperlakukannya penuh kasih, calon mertua yang menyainginya. Hingga dirinya bersedia berhubungan di luar nikah. Mengandung anak dari Mark, Leony mengelus perutnya yang rata. Bibirnya tersenyum, Mark bukalah pria pertama yang berhubungan dengannya.
Namun, kekasihnya tidak kecewa sama sekali menginginkan Leony untuk segera hamil dan menikah. Benar-benar seorang pria penyayang bukan?
Tentu saja, cantik, kaya, wanita karier. Tidak ada yang kurang dalam diri Leony. Para pria kalangan atas akan mendekat, termasuk tunangannya saat ini Mark...
Namun apa yang akan terjadi kala Rion muncul? Entahlah...
Apa tunangannya tetap akan mencintainya?
Tok...tok...tok...
Suara pintu diketuk terdengar."Masuk..." perintah Leony.
__ADS_1
Perlahan Queen dan Desi membuka pintu. Mata mereka menelisik, sang ayah masih berada di sana. Namun jemari tangan Queen gemetar, berusaha setenang mungkin, mengutarakan keinginannya.
"Kakak, ayah..."sapa Queen ragu.
"Hari ini seharusnya kamu pergi menemui anak tuan Carlos. Dia mengidolakanmu, ini untuk perusahaan juga," kata-kata dari Leony terus terang.
"Kakak!! Ben (anak Carlos) play boy! Dia bahkan pernah terang-terangan ingin menyewa kak Queen untuk berhubungan badan! Kak Queen tidak menyukainya, jadi untuk apa bertemu dengannya!?" bentak Desi, sudah cukup bersabar rasanya. Semua kesabarannya sudah habis kali ini.
"Kalian hidup dari kerja kerasku dan ayah! Kalian harusnya sadar diri! Kepentingan perusahaan yang utama! Kalau Ben ingin menikah dengan Queen itu lebih bagus! Anggap saja Ben adalah Rion, sama-sama gemuk dan jelek..." cibir Leony tersenyum di hadapan kedua adiknya.
"Kalau begitu kenapa tidak kakak saja yang menikah dengan Ben?" Queen menatap ke arah kakak dan ayahnya, menahan air mata yang hendak mengalir."Kak Rion yang seharusnya duduk di sana, diposisi kakak. Andai saja ayah tidak membunuhnya..."
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipi Queen, pipi yang memerah akibat ulah kakaknya."Tanpaku kalian tidak akan bisa hidup dan makan. Ini balasan kalian!? *njing yang menggigit tangan yang memberinya makan!?" sebuah kalimat menyakitkan dari mulut Leony. Menyama-nyamakan adiknya dengan seekor *njing.
Pipi Queen masih terasa kebas, mengepalkan tangannya dalam tangisan."Ini semua milik almarhum kakek, selanjutnya milik kak Rion sebagai generasi berikutnya. Kami tidak berhutang apa-apa padamu!"
"Ini milikku, kalian hanya menumpang hidup..." kata-kata yang terucap dari mulut Leony pada kedua adiknya.
Queen menghapus air matanya."Aku akan menyenangkan Ben. Bahkan jika harus menyerahkan keperawananku. Tapi dengan satu syarat jangan pernah menyentuh ibu dan nenek. Jika kalian menemukannya..."
"Setuju... sudah saatnya kalian sadar diri!" ucap Leony kembali duduk di kursi kebesarannya tersenyum puas.
Desi menangis terisak, tertunduk,"Kakak yang menghancurkan hidup kami. Berikutnya hidupmu akan lebih buruk lagi, harga diri yang dicabik-cabik. Memiliki pasangan layaknya ayah (Gerald)... nikahilah CEO tampan kalangan atasmu!!" teriaknya, menggema di setiap sudut ruangan.
Prang...
Gerald melempar pajangan kaca tepat mengenai punggung Desi."Sakit? Kalian tidak berguna... bahkan tidak pantas hidup..."
Ayah yang meninggikan kesempurnaan itulah Gerald. Ini sudah biasa bagi mereka, punggung Desi meneteskan darah segar, di celah-celah bajunya yang robek. Gadis yang masih menunduk dalam tangisannya.
Mengepalkan tangannya... mengapa dunia begitu tidak adil pada dirinya. Andai Rion masih hidup, dirinya dan Queen tidak perlu seperti ini, tidak akan dianggap benalu. Tidak akan diperlakukan seperti sapi perah...
__ADS_1
Bersambung